Kebaikan dan Kemuliaan Terhadap Ibu-Bapak yang Ada di Dalam Hati

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 25

0
272

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 25. Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam hati, yakni kebaikan dan kemuliaan terhadap ibu-bapak yang ada di dalam hati. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِن تَكُونُواْ صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلأَوَّابِينَ غَفُوراً -٢٥

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat. (Q.S. Al-Israa’ : 25)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Rabbukum a‘lamu bimā fī nufūsikum (Rabb kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian), yakni kebaikan dan kemuliaan terhadap ibu-bapak yang ada di dalam hati kalian.

Iη takūnū shālihīna (jika kalian orang-orang yang saleh), yakni orang-orang yang berbakti kepada ibu-bapak.

Fa innahū kāna lil awwābīna (maka sesungguhnya Dia, terhadap orang-orang yang bertobat), yakni terhadap orang-orang yang kembali dari dosa.

Ghafūrā (Maha Pengampun), yakni Maha Pemberi maaf. Ayat ini diturunkan berhubungan dengan Sa‘d bin Abi Waqqash.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu[32]; jika kamu orang yang baik[33], maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat[34].

[32] Berupa menyembunyikan rasa berbakti atau tidak, dan perkara yang baik atau yang buruk. Dia tidak memperhatikan rupamu, akan tetapi memperhatikan hati dan amalmu.

[33] Yakni taat kepada Allah, atau harapanmu adalah keridhaan Allah serta perhatianmu tertuju kepada hal yang dapat mendekatkan dirimu kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan memasukkanmu ke dalam surga-Nya.

[34] Yakni orang yang banyak kembali kepada Allah di setiap waktu. Dia mengampuni sikap kurang mereka dalam memenuhi hak kedua orang tua, seperti sikap kurang sabar, dsb. yang timbul dari tabi’at kemanusiaan. Demikian pula mengampuni perkara-perkara kurang baik yang terkadang timbul selama tidak terus menerus.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Rabb kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian) apa yang terpendam di dalamnya berupa perasaan berbakti dan menyakiti (jika kalian orang-orang yang baik) taat kepada Allah (maka sesungguhnya Dia kepada orang-orang yang bertobat) orang-orang yang kembali kepada Allah dengan berbuat taat kepada-Nya (Maha Pengampun) terhadap apa yang telah mereka lakukan sehubungan dengan hak-hak kedua orang tua, yaitu berupa perbuatan yang menyakitkan lalu dengan segera mereka bertobat dan tidak akan berbuat yang menyakitkan lagi kepada keduanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna ayat ini menyangkut perihal seorang lelaki yang membuat kesalahan terhadap kedua orang tuanya, sedangkan dalam hatinya dia beranggapan tidak berdosa. Menurut riwayat yang lain, tiada yang dia inginkan dengan perbuatannya itu melainkan hanya kebaikan belaka. Maka Allah Swt. berfirman:

Tuhan kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian, jika kalian orang yang haik. (Al-Isra: 25)

Firman Allah Swt.:

Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat. (Al-Isra: 25)

Qatadah mengatakan bahwa makna awwabin ialah orang-orang yang taat, ahli salat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang yang selalu bertasbih. Dan menurut riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas, orang-orang yang taat lagi berbuat baik.

Sebagian di antara mereka (ulama) mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengerjakan salat di antara salat Magrib dan Isya.

Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang gemar mengerjakan salat duha.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa’id, dari Sa’id ibnul Musayyab sehubungan dengan firman-Nya: maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat. (Al-Isra: 25) Yakni orang-orang yang mengerjakan dosa, lalu bertobat, kemudian mengerjakan dosa lagi dan bertobat pula sesudahnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Assauri, dan Ma’mar, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Ibnul Musayyab. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Al-Lais dan Ibnu Jarir dari Ibnul Musayyab.

Ata ibnu Yasar dan Sa’id ibnu Jubair serta Mujahid mengatakan, mereka adalah orang-orang yang kembali mengerjakan kebaikan.

Mujahid telah meriwayatkan dari Ubaid ibnu Umair sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah seseorang yang bila mengingat dosa-dosanya di tempat yang sepi, maka ia memohon ampun kepada Allah dari dosa-dosanya. Mujahid berpendapat sama dengan pendapat ini.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Maslamah dari Amr ibnu Dinar, dari Ubaid ibnu Umar sehubungan dengan firman-Nya: Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (Al-Isra: 25) Ia beranggapan bahwa al-awwab artinya orang-orang yang memelihara dirinya (dari perbuatan dosa) lagi selalu mengatakan, “Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa yang aku lakukan di majelisku ini.”

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang paling utama sehubungan dengan makna ayat ini ialah pendapat orang yang mengatakan bahwa al-awwab ialah orang yang bertobat dari dosanya, lagi meninggalkan perbuatan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan, dan meninggalkan semua yang dibenci oleh Allah, lalu mengerjakan apa yang disukai dan diridai-Nya.

Pendapat inilah yang benar, karena lafaz al-awwab berakar dari al-aub yang artinya kembali. Dikatakan Aba Fulanun (si Fulan telah kembali/bertobat). Dan dalam firman Allah Swt. disebutkan:

Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka. (Al-Gasyiyah: 25)

Di dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila kembali dari perjalannya selalu mengucapkan doa berikut:

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

Kami kembali dengan selamat seraya bertobat lagi menyembah-(Nya) dan hanya kepada Tuhanlah kami memuji.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPentingnya Berinfak dan Peringatan Terhadap Sikap Boros
Berita berikutnyaPerbaikan Penggunaan Tanda Baca