Jangan Membunuh Anak-anakmu Karena Takut Miskin!

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 31

0
211

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 31. Membersihkan masyarakat muslim dari perbuatan hina dan munkar; jangan membunuh anak-anakmu karena takut miskin! Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً -٣١

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu suatu dosa yang besar. (Q.S. Al-Israa’ : 31)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lā taqtulū aulādakum (dan janganlah membunuh anak-anak kalian). Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kebiasaan Bani Khuza‘ah yang suka mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka. Kemudian Allah Ta‘ala melarang tindakan tersebut dengan Firman-Nya,

“wa lā taqtulū aulādakum“. Yakni janganlah mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan kalian.

Khasy-yata imlāq (karena takut miskin), yakni karena takut terhina dan menjadi fakir.

Nahnu narzuquhum (Kami-lah yang memberi mereka rezeki), yakni memberi anak-anak perempuan kalian rezeki.

Wa iyyākum, inna qatlahum (dan juga kalian. Sesungguhnya membunuh mereka), yakni mengubur mereka.

Kānā khith-ang kabīrā (adalah dosa besar), yakni dosa yang berat hukumannya.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin[15]. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu suatu dosa yang besar[16].

[15] Hal ini termasuk rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia lebih sayang kepada mereka daripada ibu-bapak mereka. Dia melarang orang tua membunuh anaknya karena takut miskin, dan Dia menjanjikan akan memberi rezeki.

[16] Karena hal itu menandakan sudah hilangnya rasa kasihan dalam hatinya, dan lagi anak-anak mereka sama sekali tidak memiliki kesalahan dan dosa.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian) dengan menguburnya hidup-hidup (karena takut) merasa ngeri (kemiskinan) menjadi melarat (Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu kesalahan) dosa (yang besar) teramat besar.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada orang tua kepada anaknya, karena Dia melarang membunuh anak-anak; dan dalam kesempatan yang lain Allah memerintahkan kepada orang tua agar memberikan warisannya kepada anak-anaknya. Di masa Jahiliah orang-orang tidak memberikan warisan kepada anak-anak perempuannya, bahkan ada kalanya seseorang membunuh anak perempuannya agar tidak berat bebannya. Karena itulah maka Allah Swt. melarang perbuatan itu melalui firman-Nya:

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. (Al-Isra: 31)

Yakni takut berakibat jatuh miskin di masa mendatang. Karena itulah dalam firman selanjutnya diprioritaskan penyebutan tentang rezeki anak-anak mereka. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. (Al-Isra: 31)

Dengan kata lain, khitab dalam ayat ini ditujukan kepada orang yang mampu, yakni Kamilah yang memberi rezeki mereka dan juga rezeki kalian. Lain halnya dengan apa yang disebutkan di dalam surat Al-An’am, khitab-nya ditujukan kepada orang miskin. Allah Swt. telah berfirman:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka. (Al-An’am: 151)

Adapun firman Allah Swt.:

Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Al-Isra: 31)

Maksudnya, perbuatan dosa besar. Sebagian ulama membacanya khata-an kabiran, tetapi maknanya sama.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ.

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ”. قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

“Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Rasulullah menjawab: Bila kamu mengadakan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan kamu. Ia bertanya lagi, “Kemudian dosa apa lagi?” Rasulullah menjawab: Bila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu. Ia bertanya lagi, “Kemudian dosa apa lagi?” Rasulullah menjawab: Bila kamu berbuat zina dengan istri tetanggamu.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaJanganlah Mendekati Zina!
Berita berikutnyaPentingnya Berinfak