Penghalang dari Mentadabburi Al-Qur’an

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 45-46

0
451

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 45-46. Hijab atau penghalang dari mentadabburi Al-Qur’an dan syubhat mereka seputar Al-Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَاباً مَّسْتُوراً -٤٥- وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُوراً -٤٦

Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur’an, Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, mereka berpaling ke belakang (karena benci), (Q.S. Al-Israa’ : 45-46)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idzā qara’tal qur-āna (dan apabila kamu membaca Al-Qur’an) di Mekah.

Ja‘alnā bainaka wa bainal ladzīna lā yu’minūna bil ākhirati (Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat), yakni yang tidak beriman pada adanya kebangkitan sesudah mati. Mereka adalah Abu Jahl dan kawan-kawannya.

Hijābam mastūrā (tabir yang tak terlihat), yakni yang tertutup.

Wa ja‘alnā ‘alā qulūbihim akinnatan (dan Kami adakan pada hati mereka penutup), yakni penyekat.

Ay yafqahūhu (supaya mereka tidak dapat memahaminya), yakni supaya mereka tidak dapat memahami kebenaran.

Wa fī ādzānihim waqrā (dan penyumbat pada telinga mereka), yakni ketulian.

Wa idzā dzakarta rabbaka fil qur-āni wahdahū (dan apabila kamu menyebut Rabb-mu saja dalam Al-Qur’an), dengan mengucapkan lā ilāha illallāh.

Wallau ‘alā adbārihim (mereka berpaling ke belakang), yakni mereka kembali kepada berhala-berhala mereka dan lebih memilih untuk menyembah tuhan-tuhan mereka.

Nufūrā (merasa tidak senang), yakni dan menjauhi ucapanmu.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [10]Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur’an[11], Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat[12] antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,

[10] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan hukuman-Nya kepada orang-orang yang mendustakan kebenaran; yang menolak dan berpaling daripadanya, bahwa Dia menghalangi mereka dari beriman.

[11] Yang di dalamnya mengandung nasehat, peringatan, petunjuk, kebaikan dan ilmu yang banyak.

[12] Yang menutupi mereka dari memahaminya dan dari tunduk kepada seruannya.

  1. Dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an[13], mereka berpaling ke belakang (karena benci)[14],

[13] Yang mengajak untuk mentauhidkan-Nya dan melarang dari perbuatan syirk.

[14] Dan lebih sukanya mereka kepada kebatilan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (Az Zumar: 45)

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apabila kalian membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup rapat) artinya Kami menjadikan penutup yang rapat bagimu dari mereka sehingga mereka tidak dapat melihatmu. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang musyrik yang hendak membunuh Nabi ﷺ.
  2. (Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka) yakni penutup-penutup (agar mereka tidak dapat memahaminya) yakni Al-Qur’an; oleh karenanya mereka tidak dapat mengerti tentang isinya (dan di telinga mereka sumbatan) menyumbat sehingga mereka tidak dapat mendengarkannya (Dan apabila kamu menyebut Rabbmu saja dalam Al-Qur’an niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya) kebencian mereka terhadap-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad ﷺ: Dan apabila kamu membaca. (Al-Isra: 45) hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik itu akan Al-Qur’an, maka Kami jadikan dinding penghalang antara kamu dan mereka.

Menurut Qatadah dan Ibnu Zaid, yang dimaksud dengan hijaban masturan ialah berupa penutup yang menutupi hati mereka. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ

Mereka berkata, “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutup) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding.” (Fushshilat: 5)

yakni dinding yang menghalang-halangi apa yang kamu ucapkan untuk dapat sampai kepada kami.

Firman Allah Swt.:

Suatu dinding yang tertutup. (Al-Isra: 45)

Mastur adalah bentuk maf’ul, tetapi bermakna fa’il, yakni satir (tertutup). Perihalnya sama dengan lafaz maimun dan masy-um; yang pertama bermakna yamin, dan yang kedua bermakna sya-im karena berasal dari yumnun dan syu-mun. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah yang tersembunyi dari pandangan mata, sehingga mata tidak dapat melihatnya. Dan selain dari itu menjadi penghalang antara mereka dan hidayah. Pendapat yang terakhir ini dipilih sebagai pendapat yang kuat oleh Ibnu Jarir.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Harawi Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-Walid ibnu Kasir, dari Yazid ibnu Tadris, dari Asma binti Abu Bakar r.a. yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan (yaitu firman-Nya): Binasalah kedua tangan Abu Lahab. (Al-Lahab: 1) Datanglah Al-Aura ibnu Jamil (istri Abu Lahab) dengan membawa lesung seraya memaki-maki dan mengatakan, “Kami datang, atau kami menolak (Abu Musa ragu dalam kalimat ini), kami tidak mau mengikuti agamanya, kami tentang perintahnya.” Saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama Abu Bakar yang ada di sampingnya. Lalu Abu bakar berkata kepada Nabi ﷺ, “Istri Abu Lahab datang, dan saya merasa khawatir bila ia melihat engkau,.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Dia tidak akan dapat melihat diriku.” Lalu Nabi ﷺ membaca ayat Al-Qur’an yang melindungi dirinya dari wanita itu. Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup. (Al-Isra: 45) Lalu Ummu Jamil tiba di tempat Abu Bakar sambil berdiri bertolak pinggang, tetapi ia tidak melihat Nabi ﷺ. Ia berkata, “Hai Abu Bakar, saya dengar temanmu menghinaku.” Abu Bakar r.a. menjawab, “Tidak, beliau tidak menghinamu.” Maka Ummu Jamil pergi seraya berkata, “Semua orang Ouraisy mengetahui bahwa aku adalah anak perempuan pemimpin mereka.”

Firman Allah Swt.:

Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka. (Al-Isra: 46)

Akinnah bentuk jamak dari kinan, artinya selaput yang menutupi hati.

Agar mereka tidak dapat memahaminya (Al-Isra: 46)

Yakni agar mereka tidak dapat memahami Al Qur’an.

Dan sumbatan di telinga mereka. (Al-Isra: 46)

Yaitu sumbatan yang menghalang-halangi mereka dapat mendengar Al-Qur’an dengan pendengaran yang dapat memberikan manfaat dan hidayah kepada mereka.

Firman Allah Swt.:

Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an. (Al-Isra: 46)

Artinya, bilamana kamu esakan nama Tuhanmu dalam bacaan Al-Qur’anmu dan kamu katakan, “Tidak ada Tuhan selain Allah.”

Niscaya mereka berpaling. (Al-Isra: 46)

Nufur adalah bentuk jamak dari nafir (berpaling). Perihalnya sama dengan qu’ud, bentuk jamak dari qa’id. Tetapi boleh dikatakan bahwa ia adalah bentuk masdar yang bersandar bukan dari fi’il-nya.

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat. (Az-Zumar: 45), hingga akhir ayat.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an. (Al-Isra: 46), hingga akhir ayat. Bahwa manakala kaum muslim mengucapkan kalimah “Tidak ada Tuhan selain Allah”, maka orang-orang musyrik memprotesnya dan kalimat itu terasa berat oleh mereka, kemudian iblis dan bala tentaranya membantu mereka. Akan tetapi, Allah membelanya dan tetap melancarkannya, meninggikannya, menolongnya serta memenangkannya atas orang-orang yang menentangnya. Sesungguhnya kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang bila dijadikan pegangan oleh orang yang sedang berseteru, tentulah dia akan beruntung; dan barang siapa berperang demi membelanya, tentulah dia mendapat pertolongan dari Allah. Saat itu yang mengenal kalimah tersebut hanyalah kaum muslim penduduk kawasan Jazirah Arabia yang dapat ditempuh oleh seorang pengendara hanya dalam beberapa malam saja. Sedangkan semua manusia di masa itu tenggelam di dalam, kegelapannya, mereka tidak mengenalnya dan tidak pula mengakuinya.

Pendapat lain tentang ayat tersebut Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu Muhammad Az-Zari’, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnul Musayyab alias Abu Raja Al-Kalbi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Malik, dari Abul Jauza, dari ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (Al-Isra: 46) Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah setan-setan.

Tetapi pendapat ini garib sekali, karena sesungguhnya sudah jelas bahwa setan-setan itu apabila dibacakan Al-Qur’an atau diserukan azan atau zikrullah, mereka lari terbirit-birit.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMenjadi Sesat
Berita berikutnyaKalimat Ikhlas