Semua Makhluk Memerlukan Pertolongan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 79

0
535

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 79. (Sebelumnya: di sini ….) Semua makhluk memerlukan pertolongan. Dalam pembahasan terdahulu dalam hadis Ubay ibnu Ka’b mengenai bacaan Al-Qur’an yang terdiri atas tujuh dialek disebutkan bahwa di akhir hadis tersebut dikatakan:

فَقُلْتُ: اللَّهُمَّ، اغْفِرْ لِأُمَّتِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّتِي، وَأَخَّرْتُ الثَّالِثَةَ لِيَوْمٍ يَرْغَبُ إِلَيَّ فِيهِ الْخَلْقُ، حَتَّى إبراهيم عليه السلام

Maka aku berdoa, “Ya Allah, berilah ampun kepada umatku. Ya Allah, berilah ampun kepada umatku, ” dan aku tangguhkan permintaan yang ketiga buat suatu hari yang di hari itu semua makhluk memerlukan pertolonganku hingga Nabi Ibrahim a.s.

Hadis Anas ibnu Malik.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبة، حَدَّثَنَا قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُلْهَمُونَ ذَلِكَ فَيَقُولُونَ: لَوِ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا، فَأَرَاحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا. فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ: يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ، وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ، فَاشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا. فَيَقُولُ لَهُمْ آدَمُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ، وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ الَّذِي أَصَابَ، فَيَسْتَحْيِي رَبَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، مِنْ ذَلِكَ، وَيَقُولُ: وَلَكِنِ ائْتُوا نُوحًا، فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ. فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ، وَيَذْكُرُ خَطِيئَةَ سُؤَالَهُ رَبَّهُ مَا لَيْسَ لَهُ بِهِ عِلْمٌ، فَيَسْتَحْيِي رَبَّهُ مِنْ ذَلِكَ، وَلَكِنِ ائْتُوا إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَ الرَّحْمَنِ. فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ، وَلَكِنِ ائْتُوا مُوسَى، عَبْدًا كَلَّمَهُ اللَّهُ، وَأَعْطَاهُ التَّوْرَاةَ. فَيَأْتُونَ مُوسَى فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ، وَيَذْكُرُ لَهُمُ النَّفْسَ الَّتِي قَتَلَ بِغَيْرِ نَفْسٍ فَيَسْتَحْيِي رَبَّهُ مِنْ ذَلِكَ، وَلَكِنِ ائْتُوا عِيسَى عَبْدَ اللَّهِ وَرَسُولَهُ، وَكَلِمَتَهُ وَرُوحَهُ، فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ، وَلَكِنِ ائْتُوا مُحَمَّدًا عَبْدًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي”. قَالَ الْحَسَنُ هَذَا الْحَرْفُ: فَأَقُومُ فَأَمْشِي بَيْنَ سِماطين مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. قَالَ أَنَسٌ: حَتَّى أَسْتَأْذِنَ عَلَى رَبِّي، فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي وَقَعْتُ لَهُ أَوْ: خَرَرْتُ سَاجِدًا لِرَبِّي، فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَدَعَنِي. قَالَ: ثُمَّ يُقَالُ: ارْفَعْ مُحَمَّدُ، قُلْ يُسْمَعْ، وَاشْفَعْ تَشَفَّعْ، وَسَلْ تُعْطَهُ. فَأَرْفَعُ رَأْسِي، فَأَحْمَدُهُ بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنيه، ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا، فَأُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ: ثُمَّ أَعُودُ  إِلَيْهِ الثَّانِيَةَ، فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي وَقَعْتُ أَوْ: خَرَرْتُ سَاجِدًا لِرَبِّي، فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَدَعَنِي. ثُمَّ يُقَالُ: ارْفَعْ مُحَمَّدُ، قُلْ يُسْمَعْ، وَسَلْ تُعْطَهُ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ. فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُهُ بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنيه، ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا، فَأُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ، ثُمَّ أَعُودُ فِي الثَّالِثَةِ؛ فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي وَقَعْتُ أَوْ: خَرَرْتُ سَاجِدًا لِرَبِّي، فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَدَعَنِي، ثُمَّ يُقَالُ: ارْفَعْ مُحَمَّدُ، قُلْ يُسْمَعْ، وَسَلْ تُعْطَهُ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ. فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُهُ بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنيه ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا فَأُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ. ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا بَقِيَ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ. فَحَدَّثَنَا أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيْرَةً، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّة ثُمَّ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Arubah, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: bahwa pada hari kiamat orang-orang mukmin berkumpul setelah mereka mengalami penderitaan tersebut. Lalu mereka berkata, “Sebaiknya kita meminta syafaat kepada Tuhan, agar Dia membebaskan kita dari tempat yang penuh dengan penderitaan ini.” Maka mereka datang kepada Adam dan berkata, “Hai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya sendiri, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, serta Allah telah mengajarkan kepadamu nama segala sesuatu. Maka mohonkanlah syafaat buat kami kepada Tuhanmu agar Dia membebaskan kita dari tempat kita ini.” Nabi Adam menjawab mereka, “Saya bukanlah orang yang kalian harapkan”, lalu Adam menyebutkan dosa yang pernah dilakukannya, sehingga ia merasa malu kepada Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia untuk meminta syafaat itu. Lalu ia berkata, “Sebaiknya kalian datang kepada Nuh, karena dia adalah rasul yang mula-mula diutus oleh Allah untuk penduduk bumi.” Maka mereka datang kepada Nabi Nuh, lalu ia menjawab, “Saya bukanlah orang yang dapat kalian harapkan,” kemudian Nabi Nuh menyebutkan suatu kesalahan, yaitu ia pernah meminta kepada Tuhan sesuatu yang tiada pengetahuan baginya tentang hal ifu, sehingga ia merasa malu kepada Tuhan untuk meminta syafaat yang mereka minta itu. Dan Nuh a.s. mengatakan, “Sebaiknya kalian pergi kepada Nabi Ibrahim a.s., kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah.” Mereka datang kepada Nabi Ibrahim a.s. tetapi Nabi Ibrahim a.s. menjawab, “Saya bukanlah orang yang kalian maksudkan. Sebaiknya datanglah kalian kepada Musa, seorang hamba yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah dan Allah telah memberinya kitab Taurat.” Mereka datang kepada Musa, tetapi Musa menjawab, “Saya bukanlah orang yang kalian maksudkan,” lalu Musa menyebutkan bahwa ia pernah membunuh seseorang tanpa mendapat balasan qisas, sehingga ia merasa malu kepada Tuhan untuk meminta syafaat yang mereka kehendaki itu. Dan ia mengatakan, “Sebaiknya datanglah kalian kepada Isa, hamba dan Rasul Allah, serta kalimah dan roh-Nya.” Mereka datang kepada Isa, tetapi Isa berkata, “Saya bukanlah orang yang kalian maksudkan. Sebaiknya datanglah kamu kepada Muhammad, seorang hamba yang telah diberi ampun oleh Allah Swt. atas semua dosanya yang terdahulu dan yang kemudian.” Mereka datang kepadaku menurut Al-Hasan terjadi perubahan dalam ungkapan hadis, lalu aku bangkit dan berjalan di antara dua barisan kaum mukmin. Anas melanjutkan kisahnya sehingga aku menghadap kepada Tuhan dan meminta izin untuk bersua dengan-Nya. Manakala aku melihat Tuhanku, maka aku menjatuhkan diri (menyungkur) bersujud kepada Tuhanku, dan Tuhanku membiarkan diriku dalam keadaan seperti itu selama apa yang Dia kehendaki. Kemudian Allah Swt. berfirman, “Hai Muhammad, angkatlah mukamu. Katakanlah, perkataanmu didengar. Dan mintalah syafaat, kamu diberi izin untuk memberi syafaat. Dan mintalah, pasti kamu diberi apa yang kamu minta!” Maka aku mengangkat mukaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Lalu aku memberi syafaat, dan Allah memberikan batasan jumlah tertentu kepadaku, maka aku masukkan mereka ke dalam surga. Kemudian aku kembali kepada-Nya untuk kedua kalinya; dan apabila aku melihat-Nya, maka aku menjatuhkan diri atau menyungkur bersujud kepada-Nya, dan Dia membiarkan diriku dalam keadaan demikian selama apa yang dikehendaki-Nya. Lalu Allah Swt. berfirman, “Angkatlah mukamu, hai Muhammad. Katakanlah, perkataanmu pasti didengar. Mintalah, permintaanmu pasti dikabulkan. Dan mintalah syafaat, engkau akan diberi izin untuk memberi syafaat!” Maka aku mengangkat mukaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Kemudian aku memberi syafaat, dan Dia memberikan batasan kepadaku jumlah tertentu, lalu aku masukkan mereka ke dalam surga. Kemudian aku kembali kepada-Nya untuk ketiga kalinya; dan manakala aku melihat-Nya, maka aku menjatuhkan diri atau menyungkur ber-sujud kepada-Nya. Dia membiarkan diriku dalam keadaan seperti itu selama apa yang Dia kehendaki. Sesudah itu Allah Swt. berfirman, “Hai Muhammad, angkatlah mukamu. Katakanlah, perkataanmu pasti di dengar. Mintalah, permintaanmu pasti diberikan. Dan mintalah syafaat, tentulah kamu diberi izin untuk memberi syafaat!” Maka aku mengangkat mukaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Kemudian saya memberikan syafaat, dan Dia memberikan batasan sejumlah orang tertentu kepadaku, maka aku masukkan mereka ke dalam surga. Selanjutnya aku kembali kepada-Nya untuk keempat kalinya dan mengatakan kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, tiada yang tersisa lagi selain orang-orang yang ditahan di dalam neraka oleh Al-Qur’an.” Sahabat Anas telah menceritakan kepada kami bahwa Nabi bersabda: Maka dikeluarkanlah dari neraka orang yang pernah mengucapkan “Tidak ada Tuhan selain Allah”, dan di dalam hatinya terdapat sedikit kebaikan seberat biji gandum. Kemudian dikeluarkan pula dari neraka orang yang pernah mengucapkan “Tidak ada Tuhan selain Allah”, sedangkan di dalam hatinya ‘ terdapat sedikit kebaikan sebesar biji jewawut. Kemudian dikeluarkan pula dari neraka orang yang pernah mengucapkan “Tidak ada Tuhan selain Allah”, sedangkan di dalam hatinya terdapat sedikit kebaikan sebesar semut yang paling kecil.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Syu’bah dengan sanad yang sama.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui Affan, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas dengan teks yang cukup panjang.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ مَيْمُونٍ أَبُو الْخَطَّابِ الْأَنْصَارِيُّ، عَنِ النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنِّي لَقَائِمٌ أَنْتَظِرُ أُمَّتِي تَعْبُرُ الصِّرَاطَ، إِذْ جَاءَنِي عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: هَذِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَدْ جَاءَتْكَ يَا مُحَمَّدُ يَسْأَلُونَ أَوْ قَالَ: يَجْتَمِعُونَ إِلَيْكَ -ويَدْعُون اللَّهَ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ جَمِيعِ الْأُمَمِ إِلَى حَيْثُ يَشَاءُ اللَّهُ، لِغَمِّ مَا هُمْ فِيهِ، فَالْخَلْقُ مُلجَمون بِالْعَرَقِ، فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَهُوَ عَلَيْهِ كالزكْمَة، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيَغْشَاهُ الْمَوْتُ، فَقَالَ: انْتَظِرْ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَيْكَ. فَذَهَبَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَلَقِيَ مَا لَمْ يَلْقَ مَلَك مُصْطَفًى وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ. فَأَوْحَى اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، إِلَى جِبْرِيلَ: أَنِ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، وَقُلْ لَهُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَسَلْ تُعطَه، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ. فشفَعتُ فِي أُمَّتِي: أَنْ أُخْرِجَ مِنْ كُلِّ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ إِنْسَانًا وَاحِدًا. فَمَا زِلْتُ أَتَرَدَّدُ إِلَى رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، فَلَا أَقْوَمُ مِنْهُ مَقَامًا إِلَّا شُفِّعْتُ، حَتَّى أَعْطَانِي اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ، أَنْ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَدْخِلْ [مِنْ أُمَّتِكَ] مِنْ خَلْقِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَوْمًا وَاحِدًا مُخْلِصًا وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Harb ibnu Maimun Abul Khattab Al-Ansari; dari An-Nadr ibnu Anas, dari Anas yang menceritakan, Nabi ﷺ pernah bercerita kepadanya: bahwa sesungguhnya Nabi benar-benar sedang berdiri menunggu umatnya yang sedang menyeberangi sirat. Tiba-tiba datanglah Nabi Isa kepadanya dan mengatakan, “Sesungguhnya nabi-nabi ini datang kepadamu, wahai Muhammad, untuk meminta tolong kepadamu atau berkumpul kepadamu. Mereka memohon kepada Allah agar Dia memberikan keputusan peradilan-Nya di antara sesama umat menurut apa yang dikehendaki-Nya karena kesusahan yang sedang mereka alami. Semua makhluk tenggelam di dalam keringatnya; orang mukmin terendam oleh keringatnya sampai batas telinganya, adapun orang kafir diliputi oleh kematian (yakni tenggelam seluruhnya).” Maka Nabi bersabda, “Tunggulah saya hingga saya kembali lagi kepadamu.” Lalu Nabi pergi dan berdiri di bawah ‘ Arasy, maka Nabi menjumpai hal-hal yang belum pernah dijumpai oleh malaikat yang terpilih dan belum pernah (pula) oleh seorang nabi yang diutus. Lalu Allah Swt. berfirman kepada Malaikat Jibril, “Pergilah kamu kepada Muhammad dan katakanlah kepadanya agar dia mengangkat kepalanya. Suruhlah dia agar meminta, pasti diberi; dan mintalah syafaat, pasti diberi izin untuk memberikan syafaat.” Maka aku (Nabi ) memberikan syafaat kepada umatku, yaitu dengan mengeluarkan seseorang dari setiap sembilan puluh sembilan orang di antara mereka. Saya terus-menerus bolatebalik menghadap kepada Tuhan, dan tidak sekali-kali saya menghadap kepada-Nya melainkan diberi izin memberi syafaat, sehingga pada akhirnya Allah Swt. berfirman kepada saya sebagai karunia dari-Nya: Hai Muhammad, masukkanlah (ke dalam surga) semua umatmu yang diciptakan oleh Allah Swt., yaitu orang-orang yang di suatu hari telah bersaksi dengan tulus ikhlas bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan ia mati dalam keadaan berpegang kepada kalimah ini.

Hadis Buraidah r.a.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْرَائِيلَ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ حَصِيرة، عَنِ ابْنِ بُرَيْدة، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى مُعَاوِيَةَ، فَإِذَا رَجُلٌ يَتَكَلَّمُ، فَقَالَ بُرَيْدَةُ: يَا مُعَاوِيَةُ، تَأْذَنُ لِي فِي الْكَلَامِ؟ فَقَالَ: نَعَمْ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ يَتَكَلَّمُ بِمِثْلِ مَا قَالَ الْآخَرُ فَقَالَ بُرَيْدَةُ: سمعتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنِّي لَأَرْجُوَ أَنْ أُشَفَّعَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَدَدَ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ وَمَدَرَةٍ. قَالَ: فَتَرْجُوهَا أَنْتَ يَا مُعَاوِيَةُ، وَلَا يَرْجُوهَا عَلِيٌّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؟

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Israil, dari Al-Haris ibnu Hadirah, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa ia pernah menghadap Mu’awiyah, tiba-tiba ia menjumpai seseorang sedang berbicara, maka Buraidah berkata, “Hai Mu’awiyah, bolehkah saya ikut bicara?” Mu’awiyah menjawab, “Ya.” Mu’awiyah menduga bahwa Buraidah pasti akan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh lelaki itu. Lalu Buraidah berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku berharap akan memberi syafaat di hari kiamat kepada orang-orang yang jumlahnya sama banyaknya dengan semua pohon dan rumah yang ada di muka bumi. Buraidah berkata, “Sekarang berharaplah engkau, hai Mu’awiyah, untuk mendapat syafaat itu, karena Ali r.a. tidak mengharapkannya.”

Hadis ibnu Mas’ud.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَارِمُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ البُنَاني، عَنْ عُثْمَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ وَالْأَسْوَدِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: جَاءَ ابْنَا مُلَيْكَة إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَا إِنَّ أمَّنا [كَانَتْ] تُكْرِمُ الزَّوْجَ، وَتَعْطِفُ عَلَى الْوَلَدِ قَالَ: وَذَكَرَ الضَّيْفَ غَيْرَ أَنَّهَا كَانَتْ وَأَدَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ؟ فَقَالَ: أُمُّكُمَا فِي النَّارِ. قَالَ: فَأَدْبَرَا وَالسُّوءُ يُرَى فِي وُجُوهِهِمَا، فَأُمِرَ بِهِمَا فَرُدَّا، فَرَجَعَا وَالسُّرُورُ يُرَى فِي وُجُوهِهِمَا؛ رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ قَدْ حَدَثَ شَيْءٌ، فَقَالَ: أُمِّي مَعَ أُمِّكُمَا. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُنَافِقِينَ: وَمَا يُغْنِي هَذَا عَنْ أُمِّهِ شَيْئًا! وَنَحْنُ نَطَأُ عَقِبَيْهِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ وَلَمْ أَرَ رَجُلًا قَطُّ أَكْثَرَ سُؤَالًا مِنْهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ وَعَدَكَ رَبُّكَ فِيهَا أَوْ فِيهِمَا؟. قَالَ: فَظَنَّ أَنَّهُ مِنْ شَيْءٍ قَدْ سَمِعَهُ، فَقَالَ: مَا شَاءَ اللَّهُ رَبِّي وَمَا أَطْمَعَنِي فِيهِ، وَإِنِّي لَأَقُومُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فقالَ الْأَنْصَارِيُّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا ذَاكَ المقام المحمود؟ قال: ذاك إذا جِيءَ بِكُمْ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا فَيَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُكْسَى إِبْرَاهِيمُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَيَقُولُ: اكْسُوا خَلِيلِي. فَيُؤْتَى بِرَيْطَتَيْنِ بَيْضَاوَيْنِ، فَيَلْبَسُهُمَا ثُمَّ يُقْعِدُهُ مُسْتَقْبِلَ الْعَرْشِ، ثُمَّ أُوتَى بِكِسْوَتِي فَأَلْبَسُهَا، فَأَقُومُ عَنْ يَمِينِهِ مَقَامًا لَا يَقُومُهُ أَحَدٌ، فَيَغْبِطُنِي فِيهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ. وَيُفْتَحُ نَهْرٌ مِنَ الْكَوْثَرِ إِلَى الْحَوْضِ. فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: إِنَّهُ مَا جَرَى مَاءٌ قَطُّ إِلَّا عَلَى حَالٍ أَوْ رَضْرَاضٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَالُهُ الْمِسْكُ، وَرَضْرَاضُهُ التُّوم. قَالَ الْمُنَافِقُ: لَمْ أَسْمَعْ كَالْيَوْمِ. قلَّما جَرَى مَاءٌ قَطُّ عَلَى حَالٍ أَوْ رَضْرَاضٍ، إِلَّا كَانَ لَهُ نَبْتَةٌ. فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ لَهُ نَبْتٌ؟ قَالَ “نَعَمْ، قُضْبَانُ الذَّهَبِ. قَالَ الْمُنَافِقُ: لَمْ أَسْمَعْ كَالْيَوْمِ، فَإِنَّهُ قَلَّمَا يَنْبُتُ قَضِيبٌ إِلَّا أَوْرَقَ، وَإِلَّا كَانَ لَهُ ثَمَرٌ! قَالَ الْأَنْصَارِيُّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ لَهُ ثَمَرَةٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، أَلْوَانُ الْجَوْهَرِ، وَمَاؤُهُ أَشَدَّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهُ شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ بَعْدَهُ، وَمَنْ حُرِمَهُ لَمْ يَرْوَ بَعْدَهُ


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Arim ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hakam Al-Bannani, dari Usman, dari Ibrahim, dari Akjamah dan Al-Aswad, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa dua orang anak Mulaikah datang menghadap Nabi . Lalu keduanya berkata, “Sesungguhnya ibu kami sangat menghormati suaminya dan kasih sayang kepada anak-anaknya.” Disebutkan pula bahwa ibunya suka menghormati tamu, hanya saja ia pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya di masa Jahiliyah (dan ibunya telah mati di masa Jahiliyah). Maka Nabi bersabda: Ibumu berdua berada di dalam neraka. Lalu keduanya pergi dengan wajah yang muram penuh duka, kemudian Nabi memerintahkan agar keduanya kembali. Maka kembalilah keduanya, sedangkan wajah keduanya kelihatan gembira karena berhaiap bahwa sesuatu telah terjadi perubahan (terhadap nasib ibu mereka). Nabi bersabda: Ibuku bersama-sama dengan ibu kamu berdua. Maka berkatalah seorang lelaki dari kaum munafik, “Orang ini (maksudnya Nabi ) tidak dapat memberi manfaat (pertolongan syafaat) kepada ibunya sendiri barang sedikit pun,” sedangkan kami menginjak kedua telapak kakinya (agar diam). Maka berkatalah seorang lelaki dari kalangan Ansar yang menurut Buraidah belum pernah melihat seseorang yang lebih banyak bertanya selain dari dia, “Wahai Rasulullah, apakah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu sesuatu sehingga engkau dapat menolong wanita itu atau kedua orang itu?” Buraidah menduga bahwa sabda Nabi berikut pernah ia dengar sebelumnya, yaitu: Apa yang dikehendaki oleh Allah Tuhanku (pasti terjadi). Alangkah inginnya aku untuk mendapatkannya, sesungguhnya aku pada hari kiamat berdiri di tempat yang terpuji. Orang Ansar itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kedudukan yang terpuji itu?” Nabi bersabda, “Yang demikian itu terjadi di saat kalian telah dihadapkan dalam keadaan telanjang, tak beralas kaki, serta tidak berkhitan. Maka orang yang mula-mula diberi pakaian ialah Ibrahim a.s. Allah berfirman, ‘Berilah kekasih-Ku pakaian!’ Maka didatangkanlah dua lapis jubah putih, lalu dipakaikan kepadanya. Kemudian Ibrahim a.s. didudukkan di tempat yang menghadap ke arah ‘Arasy. Lalu didatangkanlah pakaianku dan aku memakainya, lalu aku berdiri di sebelah kanan Ibrahim a.s., yaitu di suatu tempat yang tiada seorang pun berani mendudukinya; sehingga semua orang yang terdahulu dan yang kemudian iri melihatku duduk di tempat itu (yakni menginginkannya).” Kemudian dibukalah bagi mereka aliran Sungai Al-Kausar (salah satu sungai surga) hingga membentuk telaga. Orang munafik itu berkata, “Sesungguhnya air itu tidak dapat mengalir kecuali di atas tanah atau batu kerikil.” Rasulullah menjawab, “Tanahnya adalah minyak kesturi dan batu kerikilnya adalah mutiara.” Orang munafik itu berkata lagi, “Saya belum pernah mendengar hal seperti hari ini. Sesungguhnya jarang sekali air mengalir di atas tanah atau batu kerikil, melainkan pasti ada tumbuh-tumbuhannya.” Maka bertanyalah lelaki dari kalangan Ansar itu, “Wahai Rasulullah, apakah di pinggir sungai itu ada tumbuh-tumbuhannya?” Rasulullah menjawab, “Ya, batangnya dari emas.” Orang munafik itu berkata, “Saya belum pernah mendengar hal seperti hari ini. Sesungguhnya jarang sekali ada batang pohon tumbuh, melainkan ada dedaunannya dan pasti ada buahnya.” Maka lelaki Ansar itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pohonnya ada buahnya?” Nabi bersabda: Ya, buah-buahannya adalah intan berlian yang beraneka warna, dan airnya lebih putih daripada susu serta rasanya lebih manis daripada madu. Barang siapa yang meminum sekali minum darinya, tentu tidak akan haus lagi sesudahnya; dan barangsiapa yang tidak dapat meminumnya, tentulah dia merasa kehausan terus sesudahnya.

(Selanjutnya: di sini …)


 

Berita sebelumyaYa Tuhanku, Masukkan Aku ke Tempat Masuk yang Benar
Berita berikutnyaTempat yang Terpuji