Permintaan Mukjizat kepada Rasulullah ﷺ

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 92-93

0
552

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 92-93. Beberapa permintaan mukjizat kepada Rasulullah ﷺ. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاء كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفاً أَوْ تَأْتِيَ بِاللّهِ وَالْمَلآئِكَةِ قَبِيلاً -٩٢- أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِّن زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاء وَلَن نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَاباً نَّقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إَلاَّ بَشَراً رَّسُولاً -٩٣

Atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana engkau katakan, atau (sebelum) engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau engkau mempunyai sebuah rumah (terbuat) dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca. “Katakanlah (Muhammad), “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”  (Q.S. Al-Israa’ : 92-93)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Au tusqithas samā-a kamā za‘amta ‘alainā kisafan (atau kamu menjatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana anggapan kamu), yakni menjadi kepingan-kepingan azab.

Au ta’tiya billāhi wal malā-ikati qabīlā (atau kamu mendatangkan Allah dan malaikat-malaikat sebagai penjamin), yakni sebagai saksi atas ucapanmu.

Au yakūna laka baitum miη zukhrufin au tarqā fis samā’ (atau kamu memiliki rumah dari emas dan perak atau kamu naik ke langit), yakni kamu naik ke langit lalu kembali sambil membawa malaikat yang akan menjadi saksi bahwa kamu adalah Rasul Allah Yang diutus kepada kami.

Wa lan nu’mina li ruqiyyika (dan kami sama sekali tidak akan mempercayai naiknya kamu itu), yakni naiknya kamu ke langit.

Hattā tunazzila ‘alainā kitāban (hingga kamu menurunkan kepada kami sebuah kitab), yakni kitab dari Allah Untuk kami.

Naqra-uh (yang dapat kami baca”), dan di dalamnya menjelaskan bahwa kamu adalah Rasul Allah Yang diutus kepada kami.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Subhānahū rabbī (“Maha Suci Rabb-ku), yakni aku mensucikan Rabb-ku dari memiliki anak dan sekutu.

Hal kuηtu illā basyarar rasūlā (bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul”), yakni aku ini hanyalah seorang manusia yang menjadi rasul sebagaimana para rasul lainnnya.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana engkau katakan, atau (sebelum) engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan muka dengan kami.
  2. Atau engkau mempunyai sebuah rumah (terbuat) dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca[18].” [19]Katakanlah (Muhammad), “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul[20]?”

[18] Yang di dalamnya terdapat ayat yang membenarkanmu.

[19] Oleh karena semua ini merupakan sikap menyusahkan diri dan hendak mengalahkan serta ucapan orang yang paling dungu dan paling zalim yang maksudnya menolak kebenaran, dan merupakan sikap kurang adab terhadap Allah serta menuntut kepada Rasulullah ﷺ untuk mendatangkan mukjizat, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Beliau untuk mentasbihkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala; yakni mensucikan-Nya dari apa yang mereka katakan, dan Maha Suci Dia jika hukum-hukum dan ayat-ayat-Nya mengikuti hawa nafsu dan pandangan mereka yang rusak.

[20] Sebagaimana rasul-rasul yang lain, di mana mereka tidak mampu mendatangkan mukjizat kecuali dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana kamu katakan) yakni hancur berkeping-keping (atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.) secara berhadap-hadapan dan terang-terangan dengan kami sehingga kami dapat melihat mereka.
  2. (Atau kamu mempunyai rumah dari emas) logam mulia (atau kamu memanjat) naik (ke langit) dengan memakai tangga (Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu) seandainya kamu dapat menaiki langit (hingga kamu turunkan atas kami) dari langit itu (sebuah kitab) yang di dalamnya tertera tulisan yang membenarkanmu (yang kami baca.” Katakanlah) kepada mereka! (“Maha Suci Rabbku) ungkapan rasa takjub (bukankah) tidak lain (aku ini hanyalah manusia yang menjadi rasul.”) sama halnya dengan rasul-rasul yang lain sedangkan mereka tidak dapat mendatangkan suatu mukjizat pun melainkan dengan seizin Allah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt. :

Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan. (Al-Isra: 92)

Yakni engkau telah mengancam kami bahwa kelak di hari kiamat langit akan berbelah, lemah, dan bergayutan pinggir-pinggirnya. Maka segerakanlah terjadinya peristiwa itu di dunia ini, dan runtuhkanlah langit berkeping-keping atas kami. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ الْآيَةَ

Ya Allah jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit. (Al-Anfal: 32), hingga akhir ayat.

Hal yang sama pernah dimintakan oleh kaum Nabi Syu’aib kepada nabi mereka, seperti yang disitir oleh Allah Swt. dari perkataan mereka melalui firman-Nya:

أَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (Asy-Syu’ara: 187)

Maka Allah mengazab mereka di hari yang penuh dengan awan, sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar. Lain halnya dengan Nabi pembawa rahmat yang juga Nabi Tobat yang diutus oleh Allah sebagai rahmat buat semesta alam, maka ia memohon kepada Tuhannya agar Dia menangguhkan mereka, dengan harapan mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang mau menyembaji-Nya dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Dan memang harapan itu menjadi kenyataan, karena sesungguhnya dari mereka lahirlah orang-orang yang masuk Islam, lalu berbuat baik dalam Islamnya; sehingga Abdullah ibnu Abu Umayyah yang disebutkan di atas mengikuti Nabi ﷺ dan mengucapkan kata-kata tersebut kepadanya, pada akhirnya ia masuk Islam juga dengan sempurna dan bertobat kepada Allah Swt.

Firman Allah Swt.:

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas. (Al-Isra: 93)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna zukhruf ialah emas. Hal yang sama disebutkan di dalam qiraat sahabat Abdullah ibnu Mas’ud, ia membacanya dengan bacaan berikut: “Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas”, dengan menyebutkan lafaz Zahab sebagai ganti dari zukhruf.

Atau kamu naik ke langit. (Al-Isra: 93)

Maksudnya, kamu naik ke langit dengan memakai tangga itu, sedangkan kami menyaksikannya.

Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca. (Al-Isra: 93)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kitab yang tercatat di dalam lembaran-lembarannya buat tiap-tiap orang dari kami, misalnya tertera di dalamnya bahwa ini adalah surat dari Allah buat si anu atau si Fulan, kemudian pada keesokkan harinya surat tersebut telah ada di atas kepalanya.

Firman Allah Swt.:

Katakanlah, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (Al-Isra: 93)

Allah Mahasuci lagi Mahatinggi, tidaklah pantas bila ada seseorang berani mengatur di hadapan-Nya sesuatu urusan yang menjadi hak mutlak kekuasaan Allah di kerajaan-Nya. Bahkan Dia adalah Maha Memperbuat apa yang dikehendaki-Nya; jika Dia menghendakinya, tentulah Dia memperkenankan apa yang kalian minta itu. Dan jika Dia tidak menghendakinya, tentulah Dia tidak memperkenankannya bagi kalian. Tiada seorang pun yang dapat mengatur Allah Swt. dalam urusan-Nya, dan aku ini tiada lain hanyalah seorang utusan kepada kalian yang diperintahkan untuk menyampaikan risalah-risalah Tuhanku dan memberi nasihat kepada kalian. Hal itu telah aku lakukan, sedangkan urusan yang kalian minta itu terserah kepada Allah Swt.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحر، عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَرَضَ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، فَقُلْتُ: لَا يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا، وَأَجُوعُ يَوْمًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ -فَإِذَا جُعت تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ayub, dari Ubadillah ibnu Zajar, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Tuhanku pernah menawarkan kepadaku bahwa Dia akan menjadikan lembah Mekkah emas buatku, maka aku berkata, “Tidak wahai Tuhanku, tetapi berilah aku kenyang sehari dan lapar sehari atau dengan kalimat yang semakna. Apabila aku lapar, maka aku memohon kepada-Mu dengan merendahkan diri dan berzikir menyebut-Mu; dan apabila aku merasa kenyang, maka aku akan memuji dan bersyukur kepada-Mu.

Imam Turmuzi meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhud dari Suwaid ibnu Nasr, dari Ibnul Mubarak dengan sanad yang sama. Dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, karena Ali ibnu Yazid berpredikat daif dalam periwayatan hadis.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaTidak Ada Sesuatu yang Menghalangi Manusia untuk Beriman
Berita berikutnyaPermintaan Mukjizat