Mereka Menyungkur Atas Muka Mereka Sambil Bersujud

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 107-109

0
487

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 107-109. Beberapa perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ آمِنُواْ بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُواْ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّداً -١٠٧- وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولاً -١٠٨- وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعاً -١٠٩

Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur wajah, bersujud,” dan mereka berkata, “Maha Suci Tuhan Kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk. (Q.S. Al-Israa’ : 107-109)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Āminū bihī (“Berimanlah kalian kepadanya), yakni kepada Al-Qur’an.

Au lā tu’minū (atau tidak usah beriman [sama saja bagi Allah]”). Ungkapan ini merupakan ancaman bagi mereka.

Innal ladzīna ūtul ‘ilma (sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan), yakni yang dikaruniai pengetahuan tentang Taurat berkenaan dengan sifat dan gambaran Nabi Muhammad ﷺ.

Ming qablihī (sebelumnya), yakni sebelum turunnya Al-Qur’an.

Idzā yutlā ‘alaihim (bila ia dibacakan kepada mereka), yakni Al-Qur’an.

Yakhirrūna lil adzqāni (mereka menyungkur atas dagu-dagu mereka), yakni atas wajah-wajah mereka.

Sujjadā (sambil bersujud), yakni mereka bersujud kepada Allah Ta‘ala.

Wa yaqūlūna subhāna rabbinā (dan mereka berkata, “Maha Suci Rabb kami), yakni mereka mensucikan Allah Ta‘ala dari memiliki anak dan sekutu.

Ing kāna wa‘du rabbina (sesungguhnya janji Rabb kami), yakni berkenaan dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.

La maf‘ūlā (pasti dipenuhi), yakni pasti benar-benar terjadi.

Wa yakhirrūna lil adzqāni (dan mereka menyungkur atas dagu-dagu mereka), yakni untuk bersujud.

Yabkūna (sambil menangis) ketika bersujud.

Wa yazīduhum khusyū‘ā (dan mereka bertambah khusyuk) dan tawaduk.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad)[15], “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman[16] (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur wajah, bersujud[17],”

[15] Kepada orang yang mendustakan dan berpaling darinya.

[16] Sebagai ancaman terhadap mereka; karena sesungguhnya Allah tidak butuh kepada mereka dan mereka pun tidak dapat merugikan-Nya, bahkan akibat dari sikap mereka itu kembalinya menimpa mereka, dan lagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala memiliki hamba-hamba selain mereka, yaitu orang-orang yang diberi oleh Allah ilmu yang bermanfaat sebagaimana disebutkan pada lanjutan ayatnya.

[17] Mereka itu adalah Ahli Kitab yang beriman.

  1. dan mereka berkata, “Maha Suci Tuhan Kami[18]; sungguh, janji Tuhan kami[19] pasti dipenuhi.”

[18] Yakni Maha Suci Dia dari mengingkari janji, atau Maha Suci Dia dari segala yang dinisbatkan orang-orang musyrik kepada-Nya.

[19] Dengan akan menurunkan Al-Qur’an dan akan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Atau maksudnya, bahwa janji-Nya dengan akan membangkitkan manusia dan memberikan balasan.

  1. Dan mereka menyungkur wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk[20].

[20] Mereka ini seperti halnya Abdullah bin Salam dan Ahli Kitab lainnya yang beriman sewaktu Nabi Muhammad ﷺ hidup atau setelahnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah) kepada orang-orang kafir Mekah (“Berimanlah kalian kepadanya atau tidak usah beriman) ungkapan ini dimaksud sebagai ancaman buat mereka (Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya) sebelum diturunkan Alquran mereka adalah orang-orang yang beriman dari kalangan ahli kitab (apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.”)
  2. (Dan mereka berkata, “Maha Suci Rabb kami) dimaksud memahasucikan Dia dari ingkar janji (sesungguhnya) lafal in di sini adalah bentuk takhfif dari inaa (janji Rabb kami) untuk menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad ﷺ (pasti dipenuhi.”)
  3. (Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis) diathafkan seraya diberi tambahan sifat (dan mereka makin bertambah) berkat Al-Qur’an (kekhusyuannya) merendahkan dirinya kepada Allah swt.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Berimanlah kalian atau tidak beriman. (Al-Isra: 107)

Yakni sama saja, kalian beriman kepada Al-Qur’an atau tidak beriman, Al-Qur’an itu tetap merupakan suatu perkara yang hak yang diturunkan oleh Allah yang telah diisyaratkan di masa-masa dahulu melalui kitab-kitab-Nya yang Dia turunkan kepada para rasul terdahulu. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya. (Al-Isra: 107)

Yakni dari kalangan orang-orang saleh Ahli Kitab, yaitu mereka yang berpegangan kepada kitab sucinya dan menegakkannya serta tidak mengubah dan tidak menggantinya dengan yang lain.

Apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (Al-Isra: 107)

A’zqan adalah bentuk jamak dari lafaz zaqan yang artinya bagian bawah wajah, maksudnya ialah muka.

Mereka bersujud kepada Allah Swt. sebagai rasa syukur mereka atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka, karena Allah telah menjadikan mereka orang yang paling berhak untuk mengikuti Rasul ﷺ yang telah diturunkan kepadanya kitab Al-Qur’an, jika mereka menjumpai masanya. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Maha Suci Tuhan kami. (Al-Isra: 108)

Yaitu sebagai ungkapan pengagungan dan penghormatan mereka kepada kekuasaan Allah Yang Mahasempurna. Dia tidak akan mengingkari janji yang telah diikrarkan-Nya melalui para nabi terdahulu, dan Dia akan mengutus Nabi Muhammad ﷺ. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. (Al-Isra: 108)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis. (Al-Isra: 109)

Mereka lakukan hal itu sebagai ungkapan rasa rendah diri mereka kepada Allah Swt. dan iman serta percaya mereka kepada Kitab dan Rasul-Nya.

Dan mereka bertambah khusyuk. (Al-Isra: 109)

Yakni mereka bertambah iman dan berserah diri kepada-Nya, seperti makna yang terkandung di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya. (Muhammad: 17)

Firman Allah Swt.;

Dan mereka menyungkur. (Al-Isra: 109)

ayat ini merupakan ‘ataf sifat kepada sifat lainnya, bukan ‘ataf sujud kepada sujud, perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:

إلَى المَلك القَرْم وَابْنِ الهُمام … وَلَيْث الكَتِيبَة في المُزْدَحَمْ …

Kepada Raja Qarm dan Ibnul Hammam, singa dalam medan pertempuran.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Artikulli paraprakAllah Subhaanahu wa Ta’aala Memiliki Al-Asmaa’ul Husna
Artikulli tjetërTurunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur