Manusia Adalah Memang yang Paling Banyak Membantah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Kahf ayat 54

0
393

Kajian Tafsir Surah Al-Kahf ayat 54. Pengulangan perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur’an agar diambil pelajaran, akibat tidak memperhatikan peringatan-peringatan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan bahwa di antara ciri manusia adalah memang yang paling banyak membantah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً -٥٤

Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah. (Q.S. Al-Kahf : 54)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad sharrafnā (dan sungguh Kami telah mengulang-ulang), yakni Kami telah menjelaskan.

Fī hādzal qur-āni lin nāsi (dalam Al-Qur’an ini bagi manusia), yakni bagi penduduk Mekah.

Ming kulli matsal (berbagai perumpamaan), yakni berbagai aspek janji dan ancaman, agar mereka mau mengambil pelajaran dan beriman.

Wa kānal iηsānu (dan manusia adalah), yaitu Ubay bin Khalaf al-Jumahi.

Aktsara syai-iη jadalā (makhluk yang paling banyak membantah) dalam hal kebatilan. Ada yang berpendapat, tidak ada makhluk yang lebih banyak membantah ketimbang manusia.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia[22] dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan[23]. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah[24].

[22] Untuk maslahat dan manfaat mereka.

[23] Sebagaimana yang tertera dalam surah Al Kahfi ini, belum dengan yang disebutkan dalam surah-surah yang lain. Hal ini menghendaki seseorang untuk menerima Al-Qur’an, tunduk dan taat serta tidak menentangnya. Namun kebanyakan manusia membantah yang hak setelah jelas baginya.

[24] Padahal yang demikian tidak pantas mereka lakukan, dan bukan merupakan sikap adil. Sikap itu timbul karena kezaliman dan sifat keras, bukan karena kurangnya penjelasan, hujjah dan bukti.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan) (bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan) lafal Min Kulli Matsalin berkedudukan menjadi sifat daripada lafal yang tidak disebutkan, artinya: suatu perumpamaan dari setiap jenis perumpamaan, supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya. (Dan manusia adalah makhluk) yakni orang kafir (yang paling banyak membantah) paling banyak permusuhannya dalam kebatilan; lafal Jadalan adalah Tamyiz yang dipindahkan dari Isim Kaana. Maknanya: Permusuhan yang paling banyak dilakukan oleh manusia adalah dalam hal kebatilan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menjelaskan, “Sesungguhnya Kami telah menjelaskan dan menerangkan di dalam Al-Qur’an ini berbagai perkara secara rinci, agar mereka tidak sesat dari perkara yang hak dan agar mereka tidak menyimpang dari jalan petunjuk. Akan tetapi, sekalipun dengan adanya keterangan dan penjelasan ini yang membedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil, manusia itu banyak membantah, suka menentang, dan bersikap oposisi terhadap perkara yang hak dengan mengikuti perkara yang batil, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah memperlihatkan kepadanya jalan menuju keselamatan.”

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ، أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ أَخْبَرَهُ، أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً، فَقَالَ: أَلَا تُصَلِّيَانِ؟  فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثنا. فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْتُ ذَلِكَ، وَلَمْ يَرْجع إِلَيَّ شَيْئًا، ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ [وَيَقُولُ] وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Ali ibnul Husain; Husain ibnu Ali pernah menceritakan kepadanya bahwa Ali ibnu Abu Talib pernah menceritakan kepadanya. Disebutkan bahwa pada suatu malam Rasulullah ﷺ membangunkan dia (Ali) beserta istrinya Fatimah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah kalian berdua salat (sunat)?” Saya (Ali) berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya jiwa kami berada di dalam genggaman kekuasaan Allah. Maka apabila Dia menghendaki kami bangun, tentulah kami bangun.” (Ali berkata), “Rasulullah berlalu ketika aku mengucapkan jawaban itu, tanpa menjawab perkataanku barang sepatah kata pun. Kemudian aku mendengar beliau memukul pahanya seraya membacakan firman-Nya: ‘Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah’ (Al-Kahfi: 54).”

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaAkibat Tidak Memperhatikan Peringatan-peringatan
Berita berikutnyaOrang yang Berdosa Melihat Neraka