“Wahai Api! Jadilah Kamu Dingin dan Penyelamat bagi Ibrahim.”

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya’ ayat 69-70

0
423

Kajian Tafsir Surah Al-Anbiya’ ayat 69-70. Penyelamatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (٦٩) وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ (٧٠)

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. (Q.S. Al-Anbiya’ : 69-70)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qulnā yā nāru kūnī bardan (Kami berfirman, “Hai api, jadilah dingin), yakni jadilah panasmu itu dingin.

Wa salāman (dan jadilah keselamatan), yakni dingin yang menyelamatkan.

‘Alā ibrāhīm (bagi Ibrahim”). Dan andai Allah Ta‘ala tidak mengatakan sa lāman (jadilah keselamatan), sudah barang tentu Ibrahim dapat mati karena kedinginan.

Wa arādū bihī kaidan (dan mereka bermaksud mencelakai Ibrahim), yakni hendak melakukan pembalasan.

Fa ja‘alnāhumul akhsarīn (tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi), yakni orang-orang yang paling hina.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-17 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim[14],”

[14] Oleh karena itu, Nabi Ibrahim alaihis salam tidak terbakar, selain tali pengikatnya saja, panasnya hilang sedangkan cahayanya tetap.

  1. Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim[15], maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi[16].

[15] Yaitu ketika mereka sepakat untuk membakarnya.

[16] Di dunia dan akhirat. Sebaliknya kekasih-Nya dan para pengikutnya, merekalah orang-orang yang beruntung.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kami berfirman, “Hai api! Menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”) maka api itu tidak membakarnya selain pada tali-tali pengikatnya saja dan lenyaplah panas api itu, yang tinggal hanyalah cahayanya saja, hal ini berkat perintah Allah, ‘Salaaman’ yakni menjadi keselamatan bagi Ibrahim, akhirnya Nabi Ibrahim selamat dari kematian karena api itu dingin.
  2. (Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim) yaitu dengan membakarnya (maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi) di dalam tujuan mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam nyala api, malaikat penjaga hujan berkata, “Bilamana aku diperintahkan untuk menurunkan hujan, aku akan menurunkannya.” Akan tetapi, perintah Allah lebih cepat daripada perintah malaikat itu. Allah berfirman:

Hai api,, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. (Al-Anbiya: 69)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa tiada suatu apa pun di bumi ini melainkan pasti padam.

Ka’bul Ahbar mengatakan, tiada seorang pun pada hari itu yang menggunakan api (karena api tidak panas), dan api tidak membakar kecuali hanya tali-tali yang mengikat tubuh Nabi Ibrahim a.s.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari seorang syekh, dari Ali ibnu Abu Talib sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya: 69 ) Yaitu api tidak membahayakannya.

Ibnu Abbas dan Abul Aliyah mengatakan bahwa seandainya Allah tidak berfirman: dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim. (Al-Anbiya: 69 ) tentulah dinginnya api itu akan menyakiti Ibrahim.

Juwaibir telah meriwayatkan dari Ad-Dahhak, sehubungan dengan makna firman-Nya: menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya: 69) Mereka membuat tumpukan kayu yang sangat besar, lalu dinyalakan api padanya dari semua sisinya; tetapi api tidak membakar tubuhnya barang sedikit pun hingga Allah memadamkannya.

Mereka menceritakan pula bahwa Jibril ada bersama dengan Ibrahim seraya mengusapi keringat dari wajah Ibrahim, tiada sesuatu pun yang mengenai tubuh Ibrahim kecuali hanya keringat itu.

As-Saddi mengatakan, Nabi Ibrahim di dalam api itu ditemani oleh malaikat penjaga awan.

Ali ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Khalid, dari Al-Minhal ibnu Amr yang mengatakan, “Saya pernah mendengar kisah Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam nyala api, bahwa ia berada dalam api itu selama kurang lebih lima puluh atau empat puluh hari. Ibrahim mengatakan, “Tiada suatu hari atau suatu malam pun yang lebih menyenangkan bagiku selain saat-saat aku berada di dalam api. Aku menginginkan jika semua kehidupanku seperti ketika aku berada di dalam api itu.”

Abu Zar’ah ibnu Amr ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui Abu Hurairah yang mengatakan bahwa sesungguhnya kalimat yang paling indah yang pernah dikatakan oleh ayah Nabi Ibrahim ialah perkataannya saat diperlihatkan kepadanya keadaan Ibrahim di dalam api. Ia melihat Ibrahim sedang mengusap keningnya, lalu ayah Ibrahim berkata, “Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, hai Ibrahim.”

Qatadah mengatakan bahwa pada hari itu tiada suatu hewan pun yang datang, melainkan berupaya memadamkan api agar tidak membakar Nabi Ibrahim, terkecuali tokek. Az-Zuhri mengatakan, Nabi ﷺ memerintahkan agar tokek dibunuh dan beliau memberinya nama fuwaisiq.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ ابْنُ أَخِي ابْنِ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي عَمِّي، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ قَالَ: حَدَّثَتْنِي مَوْلَاةُ الْفَاكِهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ الْمَخْزُومِيِّ قَالَتْ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَيْتُ فِي بَيْتِهَا رُمْحًا. فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مَا تَصْنَعِينَ بِهَذَا الرُّمْحِ؟ فَقَالَتْ: نَقْتُلُ بِهِ هَذِهِ الْأَوْزَاغَ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، لَمْ يَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا تُطْفِئُ النَّارَ، غَيْرَ الوَزَغ، فَإِنَّهُ كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ”، فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِهِ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah anak saudara Ibnu Wahb, bahwa telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Hazm; Nafi’ pernah menceritakan kepadanya bahwa budak perempuan Al-Fakih ibnul Mugirah Al-Makhzumi pernah bercerita kepadanya, bahwa ia masuk ke dalam rumah Siti Aisyah, lalu ia melihat sebuah tombak di dalam rumahnya itu. Maka ia bertanya, “Wahai Ummul Mu’minin, untuk apakah tombak ini?” Siti Aisyah menjawab, “Saya gunakan untuk membunuh tokek-tokek ini, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Bahwa sesungguhnya Ibrahim saat dilemparkan ke dalam nyala api, tiada seekor hewan melata pun melainkan berupaya memadamkan api itu, selain tokek, karena sesungguhnya tokek meniup api itu agar membakar Ibrahim. Maka Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya?”

Firman Allah Swt.:

mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang merugi. (Al-Anbiya: 70)

Yakni orang-orang yang terkalahkan lagi terhina, sebab mereka bermaksud membuat makar terhadap Nabi Allah (Ibrahim a.s.). Maka Allah membalas makar mereka dan menyelamatkan Ibrahim dari api itu. Saat itu kalahlah mereka.

Atiyyah Al-Aufi mengatakan bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam nyala api, dan raja mereka datang untuk menyaksikannya, maka terjatuhlah percikan api mengenai jempolnya sehingga percikan api itu membakarnya habis, seperti bulu yang terbakar oleh api.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPenjelasan Nikmat-nikmat Allah
Berita berikutnyaBagaimana Kaumnya Berusaha Membakarnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here