Menguatkan Keesaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 21-23

0
345

Kajian Tafsir Surah Al-Anbiya ayat 21-23. Menguatkan keesaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الأرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ (٢١) لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (٢٢) لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ (٢٣)

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan. Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya. (Q.S. Al-Anbiya : 21-23)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Amittakhadzū (apakah mereka mengambil), yakni apakah penduduk Mekah menyembah.

Ālihatam minal ardli hum yuηsyirūn (tuhan-tuhan di bumi yang dapat menghidupkan). Menurut satu pendapat, yang dapat menciptakan.

Lau kāna fīhimā ālihatun (seandainya pada keduanya ada tuhan-tuhan), yakni seandainya di langit dan bumi ada tuhan.

Illallāhu la fasadatā (selain Allah, niscaya keduanya telah rusak), yakni niscaya para penghuni langit dan bumi telah binasa.

Fa subhānallāhi rabbil ‘arsyi (maka Maha Suci Allah, Rabb Arasy), yakni Rabb singgasana.

‘Ammā yashifūn (dari apa yang mereka sifatkan), yakni dari ucapan mereka bahwa Allah mempunyai anak dan sekutu.

Lā yus-alu ‘ammā yaf‘alu (Dia tidak akan ditanyai tentang apa pun yang diperbuat-Nya), yakni Allah Ta‘ala tidak akan ditanya tentang apa pun yang Dia katakan, Dia titahkan, dan Dia lakukan.

Wa hum yus-alūn (sedangkan mereka akan ditanyai), yakni sedangkan semua hamba akan ditanya tentang segala sesuatu yang mereka katakan dan mereka lakukan.  


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-17 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [1]Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi[2], yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)[3]?

[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan sempurnanya kekuasaan-Nya, kebesaran-Nya dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya, Dia mengingkari orang-orang bmusyrik yang mengambil tuhan-tuhan dari bumi yang keadaannya sangat lemah dan tidak memiliki kemampuan.

[2] Seperti dari batu, emas, perak, dsb.

[3] Mereka tidak akan sanggup menghidupkannya. Oleh karena itu, Allah yang mampu menghidupkan sesuatu yang telah mati, Dialah yang berhak disembah.

  1. Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa[4]. Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka[5] sifatkan[6].

[4] Yakni tidak akan tersusun rapi seperti yang kita saksikan, karena adanya keengganan dari pihak yang lain sebagaimana ketika ada dua penguasa yang sama-sama berkuasa dalam satu wilayah, tentu wilayah itu tidak akan teratur, di mana yang satu ingin seperti ini, sedangkan yang satu lagi ingin seperti itu. Dalam ayat lain disebutkan, “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” (terj. Al Mu’minun: 91)

[5] Yakni orang-orang kafir.

[6] Seperti menyifati-Nya dengan memiliki anak dan istri serta memiliki sekutu. Maha Suci Allah dari sifat itu.

  1. Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan[7], tetapi merekalah yang akan ditanya[8].

[7] Karena keagungan-Nya, keperkasaan-Nya dan sempurnanya kekuasaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang sanggup menghalangi-Nya atau menentang-Nya, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Demikian pula karena sempurnanya hikmah (kebijaksanaan)-Nya dan karena Dia telah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dia juga tidak ditanya, karena ciptaan-Nya tidak ada cacatnya.

[8] Tentang apa yang mereka katakan dan kerjakan, karena kelemahan mereka, butuhnya mereka, dan karena mereka adalah hamba.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah) makna lafal Am di sini sama dengan lafal Bal, artinya akan tetapi. Sedangkan Hamzah Istifhamnya menunjukkan makna ingkar (mereka mengambil tuhan-tuhan) yang diadakan (dari bumi) seperti dari batu, emas dan perak (yang mereka) yakni tuhan-tuhan itu (dapat menghidupkan) orang-orang yang telah mati? Tentu saja tidak dapat; bukanlah Tuhan melainkan yang dapat menghidupkan orang-orang yang mati.
  2. (Sekiranya ada pada keduanya) di langit dan di bumi (tuhan-tuhan selain Allah tentulah keduanya itu telah rusak binasa) maksudnya akan menyimpang daripada tatanan biasanya sebagaimana yang kita saksikan sekarang, hal itu disebabkan adanya persaingan di antara dua kekuasaan yang satu sama lain tiada bersesuaian, yang satu mempunyai ketentuan sendiri dan yang lainnya demikian pula. (Maka Maha Suci) yakni sucilah (Allah Rabb) Pencipta (Arasy) yakni singgasana atau Al Kursi (daripada apa yang mereka sifatkan) dari apa yang disifatkan oleh orang-orang kafir terhadap Allah swt. seperti mempunyai sekutu dan lain sebagainya.
  3. (Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai) tentang perbuatan-perbuatan mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. mengingkari perbuatan orang-orang yang menjadikan tuhan-tuhan selain-Nya sebagai sesembahan mereka:

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? (Al-Anbiya: 21)

Yakni apakah tuhan-tuhan sembahan mereka itu dapat menghidupkan orang-orang mati dan membangkitkan mereka dari tanah? Tentu saja mereka tidak akan mampu melakukan sesuatu pun dari itu. Maka mengapa mereka menjadikannya sebagai tandingan Allah yang mereka sembah-sembah di samping-Nya.

Kemudian Allah Swt. memberitahukan bahwa seandainya ada tuhan-tuhan lain selain Allah, tentulah langit dan bumi ini akan rusak. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. (Al-Anbiya: 22)

Ayat ini semakna dengan firman-Nya:

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (Al-Mu’minun: 91)

Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:

Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arasy daripada apa yang mereka sifatkan. (Al-Anbiya: 22)

Yaitu Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan, bahwa Allah beranak atau bersekutu. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang dibuat-buat oleh mereka dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Firman Allah Swt.:

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya: 23)

Yakni Dialah Yang memutuskan, tiada yang mempertanyakan tentang keputusan-Nya dan tiada seorang pun yang dapat menolak keputusan-Nya karena keagungan, kebesaran, ilmu, hikmah, keadilan, dan belas kasihan-Nya.

dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya: 23)

Maksudnya, Dialah yang akan menanyai makhluk-Nya tentang apa yang telah mereka perbuat. Semakna dengan firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Al-Hijr: 92-93)

Sama pula dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ

sedangkan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya. (Al-Mu’minun: 88)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMenyeru Manusia untuk Menyembah Allah Semata
Berita berikutnyaMalaikat-malaikat Senantiasa Bertasbih Malam dan Siang