Kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya’ ayat 76-77

0
542

Kajian Tafsir Surah Al-Anbiya’ ayat 76-77. Kisah Nabi Nuh ‘alaihis salam bersama kaumnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (٧٦) وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (٧٧

Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa. Kami perkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami menolongnya dari orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (Q.S. Al-Anbiya’ : 76-77)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa nūhan (dan [ingatlah] Nuh) yang telah Kami muliakan pula dengan kenabian.

Idz nādā (tatkala dia berdoa), yakni tatkala dia berdoa kepada Rabb-nya untuk membinasakan kaumnya.

Ming qablu (sebelum itu), yakni sebelum Luth a.s.

Fastajabnā lahū (lalu Kami mengabulkannya), yakni mengabulkan doanya.

Fa najjaināhu wa ahlahū (maka Kami menyelamatkan dia dan pengikutnya), yakni dan orang-orang yang beriman kepadanya.

Minal karbil ‘azhīm (dari bencana besar), yakni penenggelaman.

Wa nasharnāhu minal qaumi (dan Kami telah menolongnya dari kaum). Menurut satu pendapat, Kami telah menyelamatkannya dari kaum.

Alladzīna kadz-dzabū bi āyātinā (yang mendustakan ayat-ayat Kami), yakni mendustakan Kitab dan Rasul Kami, Nuh a.s.

Innahum kānū qauma sauin (sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat) dalam kekafiran mereka.

Fa aghraqnāhum ajma‘īn (karena itu Kami menenggelamkan mereka semua) dengan badai.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-17 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan (ingatlah kisah) Nuh[5], sebelum itu[6] ketika dia berdoa[7]. Kami perkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya[8] dari bencana yang besar[9].

[5] Yakni ingatlah tentang Nuh dan keadaannya yang sungguh terpuji.

[6] Yakni Sebelum Ibrahim dan Luth.

[7] Setelah Beliau berdakwah di tengah-tengah mereka mengajak beribadah kepada Allah dan melarang berbuat syirk selama 950 tahun. Beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, di malam dan siang hari. Namun ketika Beliau melihat bahwa nasehat dan peringatan tidak bermanfaat bagi mereka, maka Beliau mendoakan kebinasaan kaumnya (lihat surat Nuh: 26-27), maka Allah mengabulkan doa Beliau, Allah menyelamatkan Beliau dan para pengikutnya dalam kapal, dan menjadikan keturunan merekalah yang tetap hidup.

[8] Dalam perahu besar yang dibuat Nuh ‘alaihis salam.

[9] Yaitu penenggelaman kaumnya.

  1. Dan Kami menolongnya dari orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) ingatlah kisah (Nuh) kalimat yang sesudahnya merupakan Badal atau kata ganti daripadanya (ketika dia berdoa) yakni berdoa bagi kebinasaan kaumnya, sebagaimana yang disitir oleh ayat lain, yaitu firman-Nya, “Ya Rabbku! Janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Q.S. Nuh, 26). (sebelum itu) sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Luth (dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya) beserta orang-orang yang ada di dalam bahteranya (dari bencana yang besar) dari bencana tenggelam dan permusuhan kaumnya yang mendustakannya.
  2. (Dan Kami telah menolongnya) Kami pelihara dia (dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami) yang menunjukkan kerasulannya, hingga mereka tidak dapat menimpakan keburukan kepadanya (Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang perkenaan-Nya kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya (yaitu Nuh a.s.) saat Nuh berdoa memohon kepada-Nya untuk kebinasaan kaumnya karena telah mendustakannya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

Maka dia mengadu kepada Tuhannya, bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu, tolonglah (aku). (Al-Qamar: 10)

Dan ucapan Nuh yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الأرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلا فَاجِرًا كَفَّارًا

Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh: 26-27)

Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:

ketika dia berdoa sebelum itu, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya. (Al-Anbiya: 76)

Yang dimaksud dengan ahlihi ialah orang-orang yang beriman kepadanya, seperti yang dijelaskan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ

dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Hud: 40)

Adapun firman Allah Swt.:

dari bencana yang besar. (Al-Anbiya: 76)

Yakni dari kesengsaraan, pendustaan, dan gangguan; karena sesungguhnya Nabi Nuh tinggal di kalangan kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun seraya menyeru mereka untuk menyembah Allah Swt. Akan tetapi, tidak ada yang beriman dari mereka kecuali hanya sedikit orang saja. Mereka juga selalu menimpakan gangguan yang menyakitkan kepada.Nuh, dan saling mewasiatkan kepada generasi pelanjut mereka, generasi demi generasi untuk bersikap menentang Nuh.

Firman Allah Swt.:

Dan Kami telah menolongnya dari kaum. (Al-Anbiya: 77)

Maksudnya, Kami selamatkan dia dan tolong dia dengan membebaskannya dari kaum.

yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (Al-Anbiya: 77)

Yakni Allah membinasakan mereka secara menyeluruh, sehingga tiada seorang manusia pun dari kalangan mereka yang hidup di bumi ini, sesuai dengan apa yang didoakan oleh nabi mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKetika Memberikan Keputusan Mengenai Ladang
Berita berikutnyaKisah Nabi Luth ‘Alaihis Salam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here