Bersegera dalam Mengerjakan Kebaikan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Anbiya ayat 90

0
411

Kajian Tafsir Surah Al-Anbiya ayat 90. Kisah Nabi Zakariyya dan Nabi Yahya a.s. Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (٩٠)

Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.  (Q.S. Al-Anbiya’ : 90)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fastajabnā lahū (maka Kami mengabulkannya), yakni mengabulkan doanya.

Wa wahabnā lahū yahyā (dan Kami menganugerahkan Yahya kepadanya) sebagai anak yang saleh.

Wa ashlahnā lahū zaujah (serta menjadikan istrinya [bisa mengandung] untuknya) seorang anak.

Innahum (sesungguhnya mereka), yakni para nabi. Menurut yang lain, Zakariyya a.s. dan Yahya a.s.

Kānū yusāri‘ūna fil khairāti (adalah orang-orang yang senantiasa bersegera dalam [mengerjakan] kebaikan-kebaikan), yakni senantiasa bersegera dalam menjalankan berbagai ketaatan.

Wa yad‘ūnanā raghabaw wa rahabā (dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas), yakni berdoa ini dan itu. Mereka senantiasa beribadah kepada Kami dengan harapan mendapat surga serta takut oleh neraka.

Wa kānū lanā khāsyi‘īn (dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami), yakni orang-orang yang merendahkan diri dan taat kepada Kami.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-17 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung[11]. [12]Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan[13] dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas[14]. Dan mereka orang-orang yang khusyu’ kepada Kami[15].

[11] Setelah sebelumnya mandul berkat doa Zakaria. Inilah di antara pentingnya mencari teman hidup yang saleh agar mendapatkan pula kebaikannya.

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan para nabi dan rasul secara sendiri-sendiri, maka Allah puji mereka secara umum.

[13] Yakni ketaatan. Mereka segera melakukannya pada waktu-waktu yang utama, menyempurnakannya dan tidak meninggalkan satu keutamaan pun yang mampu dilakukan kecuali dilakukannya serta memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

[14] Maksudnya, mereka meminta kepada Allah dalam hal yang yang diinginkan yang terkait dengan maslahat dunia dan akhirat, serta berlindung kepada-Nya dari sesuatu yang tidak diinginkan yang ada di dunia dan akhirat. Mereka berharap dan cemas, tidak lalai dan tidak mengulur-ulur. Menurut Ats Tsauri, maksud dengan harap dan cemas adalah, bahwa mereka mengharapkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi-Nya dan takut terhadap azab di sisi-Nya.

[15] Dalam ibadahnya. Hal ini karena tingginya ma’rifat (pengenalan) mereka terhadap Tuhan mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka Kami memperkenankan doanya) yakni seruannya itu (dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya) sebagai anaknya (dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung) sehingga dapat melahirkan anak, padahal sebelumnya ia mandul.

(Sesungguhnya mereka) para Nabi yang telah disebutkan tadi (adalah orang-orang yang selalu bersegera) mereka selalu bergegas-gegas (di dalam kebaikan-kebaikan) mengerjakan amal-amal ketaatan (dan mereka berdoa kepada Kami dengan mengharapkan) rahmat Kami (dan takut) kepada azab Kami. (Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami) yakni merendahkan diri dan patuh di dalam beribadah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. (Al-Anbiya: 90)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa istri Zakaria sebelum itu mandul, tidak dapat beranak. Setelah Zakaria berdoa memohon agar dikaruniai anak, maka mengandunglah ia.

Abdur Rahman ibnu Mahdi telah meriwayatkan dari Talhah ibnu Amr, dari Ata, bahwa lisan (lidah) istri Zakaria panjang, lalu Allah memperbaikinya.

Menurut riwayat yang lain, pada tubuhnya terdapat sesuatu cela, lalu diperbaiki oleh Allah. Hal yang sama telah dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka’b dan As-Saddi. Tetapi pendapat yang paling kuat adalah yang disebutkan pertama tadi.

Firman Allah Swt.: .

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik. (Al-Anbiya: 90)

Yaitu gemar mengerjakan amal-amal yang mendekatkan diri kepada Allah dan amal-amal ketaatan.

dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. (Al-Anbiya: 90)

As-Sauri mengatakan, maksudnya yaitu berharap atas pahala yang ada di sisi Kami dan cemas (takut) terhadap siksa yang ada di sisi Kami.

Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Al-Anbiya: 90)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna khasyi’in adalah orang-orang yang membenarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah Swt.

Mujahid mengatakan, orang-orang yang benar-benar beriman.

Abul ‘Aliyah mengatakan orang-orang yang takut.

Abu Sinan mengatakan bahwa al-khusyuk adalah rasa takut yang melekat dalam hati dan tidak pernah lenyap darinya selamanya.

Dan dari Mujahid disebutkan pula, bahwa makna khasyi’in adalah orang-orang yang merendahkan dirinya.

Al-Hasan, Qatadah dan Ad-Dahhak mengatakan bahwa khasyi’in artinya orang-orang yang merendahkan dirinya kepada Allah Swt. Masing-masing dari pendapat-pendapat tersebut beraneka ragam satu sama lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ishaq, dari Abdullah Al-Qurasyi, dari Abdullah ibnu Hakim yang mengatakan, bahwa Khalifah Abu bakar berkhotbah kepada kami. Dalam khotbahnya ia mengatakan, “Amma Ba’du. Sesungguhnya aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan memuji-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Dan berharap dengan cemaslah kalian seraya merendahkan diri dalam memohon kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah memuji Zakaria dan ahli baitnya melalui firman-Nya: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk pada Kami.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKisah Maryam yang Memelihara Kehormatannya
Berita berikutnyaDoa Nabi Zakaria Agar Memperoleh Keturunan