Orang-orang yang Beruntung

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’minun ayat 102-103

0
391

Kajian Tafsir Surah Al-Mu’minun ayat 102-103. Di antara hal yang akan disaksikan ketika kematian datang, sekilas tentang kehidupan alam barzakh, peristiwa-peristiwa pada hari Kiamat dan kedahsyatannya, terputusnya hubungan nasab antara manusia, orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٢) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (١٠٣)

Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Q.S. Al-Mu’minun : 102-103)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa maη tsaqulat mawāzīnuhū (lalu barangsiapa yang berat timbangannya), yakni yang berat timbangan kebaikannya.

Fa ulā-ika humul muflihūn (maka mereka itulah orang-orang yang beruntung), yakni orang-orang yang selamat dari murka dan azab.

Wa man khaffat mawāzinuhū (dan barangsiapa yang ringan timbangannya), yakni yang ringan timbangan kebaikannya.

Fa ulā-ikal ladzīna khasirū (maka mereka itulah orang-orang yang telah merugikan), yakni yang telah menipu.

Aηfusahum fī jahannama khālidūn (dirinya sendiri; mereka kekal di dalam neraka Jahannam), yakni mereka langgeng di dalam Jahannam, tidak akan mati dan tidak akan dikeluarkan darinya.


BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-18 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [11]Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya[12], maka mereka itulah orang-orang yang beruntung[13].

[11] Pada hari kiamat ada beberapa tempat, di mana sebagiannya ada yang dahsyat dan sebagian lagi ada yang agak ringan. Di antara tempat yang dahsyat adalah pada saat disiapkan timbangan amal yang menujukkan keadilan Allah. Ketika itu, amal manusia baik atau buruk akan ditimbang.

[12] Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang beramal saleh.

[13] Karena selamatnya mereka dari neraka dan berhaknya mereka masuk ke surga serta memperoleh pujian yang baik.

  1. Dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya[14], maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam[15].

[14] Mereka ini adalah orang-orang kafir, karena kepercayaan dan amal mereka tidak dinilai oleh Allah di hari kiamat. Lihat pula surah Al Kahfi ayat 105.

[15] Orang yang kekal di neraka Jahanam adalah orang yang keburukannya meliputi dirinya, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang-orang kafir. Menurut Syaikh As Sa’diy, ia tidaklah dihisab seperti dihisabnya orang yang ditimbang kebaikan dan keburukannya, karena mereka tidak memiliki kebaikan, akan tetapi amal mereka dihitung dan dijumlahkan, lalu mereka dihadapkan kepadanya dan mengakuinya serta dipermalukan dengannya. Adapun orang yang memiliki asal keimanan, namun keburukannya lebih besar sehingga mengalahkan kebaikannya, maka ia meskipun masuk neraka, tetapi tidak kekal di sana sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash Al-Qur’an dan As Sunnah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Barang siapa yang berat timbangannya) karena amal-amal kebaikan (maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan) yakni orang-orang yang beruntung.
  2. (Dan barang siapa yang ringan timbangannya) karena dosa-dosanya (maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri) maka mereka (kekal di dalam neraka Jahanam).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. (Al Mu’minun: 102)

Yakni, barang siapa yang timbangan amal kebaikannya berat, sedangkan timbangan amal keburukannya ringan, walaupun hanya dengan satu kebaikan. Demikian menurut pendapat Ibnu Abbas.

Maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberun­tungan. (Al Mu’minun: 102)

Yakni orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang selamat dari neraka dan masuk surga. Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berhasil meraih apa yang didambakannya dan selamat dari keburukan yang dihindarinya.

Dan barang siapa yang ringan timbangannya. (Al Mu’minun: 103)

Maksudnya, berat timbangan amal buruknya, sedangkan timbangan amal kebaikannya ringan.

maka mereka- itulah orang-orang yang merugikan diri sendiri. (Al Mu’minun: 103)

Yaitu kecewa dan binasa serta kembali dengan membawa transaksi yang rugi.

وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ المُحَبَّر، حَدَّثَنَا صَالِحٌ المُرِّيّ، عَنْ ثَابِتٍ البُناني وَجَعْفَرِ بْنِ زَيْدٍ وَمَنْصُورِ بْنِ زَاذَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَرْفَعُهُ قَالَ: إِنَّ لِلَّهِ مَلَكًا مُوَكَّلًا بِالْمِيزَانِ، فَيُؤْتَى بِابْنِ آدَمَ، فَيُوقَفُ بَيْنَ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ، فَإِنْ ثَقُلَ مِيزَانُهُ نَادَى مَلَكٌ بِصَوْتٍ يُسْمِعُ الْخَلَائِقَ: سَعِدَ فُلَانٌ سَعَادَةً لَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا، وَإِنْ خَفَّ مِيزَانُهُ نَادَى مَلَكٌ بِصَوْتٍ يُسْمِعُ الْخَلَائِقَ: شَقِيَ فَلَانٌ شَقَاوَةً لَا يَسْعَدُ بَعْدَهَا أَبَدًا

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isma’il ibnu Abul Haris, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Muhabbir, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Murri, dari Sabit Al-Bannani dan Ja’far ibnu Zaid serta Mansur ibnu Zazan, dari Anas ibnu Malik yang me-rafa’-kannya, “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang ditugaskan untuk menjaga Mizan. Maka didatang­kanlah anak Adam, lalu diberdirikan di antara salah satu dari kedua neracanya. Maka jika timbangan kebaikannya berat, malaikat itu berseru dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, bahwa si Fulan telah beroleh keberuntungan yang menyebabkan dia tidak akan sengsara selama-lamanya. Jika timbangan kebaikannya ringan, maka malaikat itu berseru dengan suara yang dapat terdengar oleh semua makhluk, bahwa sesungguhnya si Fulan telah celaka yang menyebabkannya tidak akan berbahagia selama-lamanya.”

Akan tetapi, sanad hadis ini da’if. Karena sesungguhnya Daud ibnul Muhabbir orangnya daif lagi matruk (tidak terpakai hadisnya).

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Al Mu’minun: 103)

Yakni menetap di dalam neraka Jahannam untuk selama-lamanya dan tidak akan dikeluarkan darinya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaDalam Keadaan Muram dengan Bibir yang Cacat
Berita berikutnyaTidak Ada Lagi Pertalian Keluarga