Hari Ketika Orang-orang Zalim Menggigit Dua Jarinya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Furqaan ayat 27-29

0
554

Kajian Tafsir Surah Al-Furqaan ayat 27-29. Penyesalan karena tidak mengikuti Rasulullah ﷺ, pada hari ketika orang-orang zalim menggigit dua jarinya, dan pentingnya memilih teman yang baik. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا (٢٧) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا (٢٨) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا (٢٩)

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya), seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia. (Q.S. Al-Furqaan : 27-29)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa yauma ya‘adl-dluzh zhālimu (dan pada hari [ketika] orang yang zalim menggigit), yakni ketika orang kafir menggigit. Orang tersebut adalah ‘Uqbah bin Abi Mu‘ith.

‘Alā yadaihi (kedua tangannya), yakni jemari tangannya.

Yaqūlu yā laitanittakhadztu ma‘ar rasūli sabīlā (seraya berkata, “Duhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul), yakni andai saja dahulu aku tetap memeluk agama Rasulullah ﷺ

Yā wailatā laitanī lam attakhidz fulānan khalīlā (duhai celakalah aku, kiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan sebagai sahabat karib), yakni kiranya dahulu aku tidak menjalin persahabatan dengan Ubay bin Khalaf al-Jumahi dalam urusan agama.

Laqad adlallanī ‘anidz dzikri (sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan), yakni dari tauhid dan ketaatan.

Ba‘da idz jā-anī (ketika ia datang kepadaku), yakni ketika Nabi Muhammad ﷺ datang kepadaku menyampaikan tauhid.

Wa kānasy syaithānu lil iηsāni khadzūlā (dan adalah setan tidak mau menolong manusia) ketika manusia membutuhkannya.


BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-19 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [18]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya[19] (menyesali perbuatannya), seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul[20].”

[18] Disebutkan dalam Ad Durrul Mantsur juz 5 hal. 68, bahwa Ibnu Mardawaih dan Abu Nu’aim dalam Ad Dalaa’il meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Abu Mu’aith biasa duduk bersama Nabi ﷺ di Mekah dan tidak menyakitinya. Ia adalah orang yang santun. Oleh karenanya sebagian orang-orang Quraisy apabila duduk bersamanya menyakitinya. Abu Mu’aith memiliki seorang teman yang sedang berada di Syam, lalu orang-orang Quraisy mengatakan, “Abu Mu’aith telah pindah agama,” lalu kawannya datang pada malam hari dari Syam dan bertanya kepada istrinya, “Sudah sampai di mana Muhammad berbuat?” Istrinya berkata, “Perkaranya sudah lebih parah.” Ia bertanya lagi, “Apa yang dilakukan kawanku Abu Mu’aith?” Istrinya menjawab, “Ia telah pindah agama.” Maka semalaman Ia (kawan Abu Mu’aith) merasa gelisah. Ketika tiba pagi harinya, Abu Mu’aith datang lalu mengucapkan salam kepadanya, tetapi salamnya tidak dijawab, maka Abu Mu’aith berkata, “Mengapa engkau tidak menjawab salamku?” Ia menjawab, “Bagaimana aku akan menjawab salammu padahal engkau telah pindah agama?” Ia berkata, “Apakah orang-orang Quraisy berkata seperti itu?” Ia menjawab, “Ya.” Ia bertanya, ”Kalau begitu perbuatan apa yang dapat mengobati dada mereka?” Ia menjawab, “Engkau datangi dia (Muhammad ﷺ) lalu engkau ludahi wajahnya dan engkau caci-maki dengan cacian yang yang terburuk yang engkau ketahui.” Maka Abu Mu’aith melakukannya, namun Nabi ﷺ tidak bersikap apa-apa selain mengusap mukanya dari air liur, lalu Beliau menoleh kepadanya sambil berkata, “Jika aku mendapati kamu berada di luar pegunungan Mekah, aku akan memenggal lehermu dengan cara ditahan.” Ketika tiba perang Badar dan kawan-kawannya berangkat, maka ia (Abu Mu’aith) enggan untuk berangkat, lalu kawan-kawannya berkata, “Keluarlah bersama kami.” Ia berkata, “Sungguhnya orang ini (Yakni Nabi Muhammad ﷺ) telah berjanji kepadaku jika mendapatiku berada di luar pegunungan Mekah akan memenggal leherku dengan cara ditahan.” Mereka berkata, “Engkau akan memperoleh unta merah, (tenang saja) dia tidak akan mendapatkan kamu jika kekalahan menimpanya.” Maka ia keluar bersama mereka, dan ketika Allah mengalahkan kaum musyrik dan untanya jatuh ke tanah lumpur di beberapa jalan (di gunung), maka Rasulullah ﷺ menangkapnya dalam 70 orang Quraisy, lalu Abu Mu’aith datang kepada Beliau dan bersabda, “Engkau akan bunuh aku di tengah-tengah mereka ini?” Beliau menjawab, “Ya, karena engkau telah meludahi wajahku.” Maka Allah menurunkan ayat tentang Abu Mu’aith, “Wa yauma ya’addhuzh zhaalimu ‘alaa yadaihi…dst. sampai ayat, “Wa kaanasy syaithaanu lil insaani khadzuulaa.” Syaikh Muqbil berkata, “Kami masih tidak berani menghukumi (kedudukan haditsnya) karena As Suyuthiy rahimahullah agak mudah (menshahihkan).”

[19] Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya, berupa syirk, kufur dan mendustakan para rasul.

[20] Dengan beriman kepadanya, membenarkannya dan mengikutinya.

  1. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan[21] itu teman akrab(ku).

[21] Yang dimaksud dengan si fulan, adalah setan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia. Yakni mengapa aku malah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, paling baik dan paling lembut kepadaku (Nabi Muhammad ﷺ), dan aku malah berteman dengan musuhku yang tidak memberiku manfaat apa-apa selain kecelakaan, kerugian, kehinaan dan kebinasaan.

  1. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku[22]. Dan setan memang pengkhianat manusia[23].

[22] Yaitu menghalangiku beriman kepadanya dengan menghias kesesatan dan memperjelek kebenaran dengan tipuan dan bujukannya.

[23] Yakni yang menelantarkannya ketika manusia sedang kesulitan. Hal ini sebagaimana yang pidato setan kepada semua pengikutnya ketika urusan telah diselesaikan dan Allah telah menghisab makhluk-Nya:

Dan berkatalah setan ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Terj. Ibrahim: 22)

Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperhatikan dirinya, apakah tertipu oleh setan atau tidak? Demikian pula memanfaatkan kesempatan hidup di dunia, mengisinya dengan iman dan amal saleh sebelum tiba hari di mana tidak ada lagi kesempatan, yang ada adalah pembalasan terhadap amal.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim) orang musyrik, yaitu Uqbah bin Mu’ith yang pernah membaca dua kalimat syahadat, kemudian ia menjadi murtad demi mengambil hati Ubay bin Khalaf (menggigit dua tangannya) karena menyesal dan kecewa, di hari kiamat (seraya berkata, “Aduhai!) huruf Ya menunjukkan makna penyesalan (Kiranya dahulu aku mengambil bersama Rasul) yakni Nabi Muhammad (jalan) petunjuk.
  2. (Kecelakaan besar bagiku) huruf Alif dari lafal Yaa Wailataa merupakan pergantian Ya Idhafah, asalnya adalah Yaa Wailatii maknanya alangkah binasanya aku (kiranya aku dahulu tidak menjadikan si Polan itu) yakni Ubay bin Khalaf yang dijilatnya tadi (teman akrab).
  3. (Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan) Al-Qur’an (sesudah peringatan itu datang kepadaku”) karena dialah yang menjadikan aku murtad dan tidak beriman lagi kepada Al-Qur’an. Kemudian Allah berfirman, (“Dan adalah setan itu terhadap manusia) yang kafir (selalu membuat kecewa.”) karena ia akan meninggalkannya begitu saja, cuci tangan bilamana manusia tertimpa malapetaka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya. (Al-Furqan: 27), hingga akhir ayat.

Allah Swt. menceritakan tentang penyesalan orang yang zalim, yaitu orang yang menyimpang dari hidayah Rasulullah ﷺ dan tidak mempercayai kebenaran yang disampaikan olehnya dari sisi Allah, yang tiada keraguan di dalamnya. Lalu ia menempuh jalan lain, bukan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ. Maka pada hari kiamat nanti dia akan menyesal, yaitu di hari yang tiada gunanya lagi penyesalan, lalu ia menggigit kedua tangannya sebagai ekspresi dari kekecewaan dan penyesalannya. Sekalipun latar belakang turunnya ayat ini berkenaan dengan Uqbah ibnu Abu Mu’it atau lainnya dari kalangan orang-orang yang celaka, tetapi maknanya bersifat umum mencakup semua orang yang zalim, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka. (Al-Ahzab: 66), hingga akhir ayat berikutnya.

Setiap orang yang zalim kelak di hari kiamat akan menyesal dengan penyesalan yang sangat, dan ia akan menggigit kedua tangannya seraya berkata seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). (Al-Furqan: 27-28)

karena si Fulan memalingkannya dari jalan petunjuk, lalu membawanya ke jalan kesesatan, jalannya orang-orang yang menyeru kepada kesesatan, baik dia adalah Umayyah ibnu Khalaf atau saudara lelakinya (yaitu Ubay ibnu Khalaf) dan lain-lainnya.

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. (Al-Furqan: 29)

Yakni sesudah Al-Qur’an sampai kepadanya.

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 29)

Yaitu menyesatkannya dan memalingkannya dari jalan yang hak, lalu membawa dan merayunya ke jalan kebatilan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaBagi Setiap Nabi, Ada Musuh dari Orang-orang yang Berdosa
Berita berikutnyaKerajaan yang Hak pada Hari Itu Adalah Milik Allah