Terbelahlah Lautan Itu

Tafsir Al-Qur’an: Surah Asy-Syu’araa ayat 60-63

0
386

Kajian Tafsir Surah Asy-Syu’araa ayat 60-63. Pembinasaan Fir’aun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala mewahyukan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam untuk memukul laut itu dengan tongkatnya, maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dia berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ (٦٠) فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (٦١) قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (٦٢) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (٦٣)

Lalu Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit. Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.” Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. (Q.S. Asy-Syu’araa : 60-63)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa atba‘ūhum musyriqīn (maka mereka [Fir‘aun dan tentaranya] dapat menyusul mereka pada saat matahari terbit), yakni ketika matahari terbit.

Fa lammā tarā-a (maka tatkala sudah saling melihat), tatkala sudah muncul.

Al-jam‘āni (kedua kelompok itu), yakni kelompok Musa a.s. dan kelompok Fir‘aun.

Qāla ash-hābu mūsā innā la mudrakūn (berkatalah para pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”), yakni mereka menyusul kita, hai Musa!

Qāla (dia berkata), yakni Musa a.s.

Kallā (“Sekali-kali tidak), yakni sungguh mereka tidak akan dapat menyusul kita.

Inna ma‘iya rabbī sa yahdīn (sesungguhnya bersamaku ada Rabb-ku. Nanti Dia akan memberi petunjuk kepadaku”), yakni yang akan menyelamatkan aku dan menunjukkan jalan kepadaku.

Fa auhainā ilā mūsā anidlrib bi ‘āshākal bahr (kemudian Kami mewahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu”), lalu Musa a.s. pun memukulnya.

Faηfalaqa (maka terbelahlah laut itu) dan menjadi dua belas jalan.

Fa kāna kullu firqin (dan adalah tiap-tiap belahan), yakni setiap jalan.

Kath thaudil ‘azhīm (seperti gunung yang besar).


BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-19 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Lalu Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit.
  2. Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.”
  3. Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
  4. Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu[10], dan setiap belahan seperti gunung yang besar.

[10] Menjadi 12 belahan, lalu Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya masuk melewatinya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka di waktu matahari terbit) yakni di waktu pagi.
  2. (Maka setelah kedua golongan itu saling melihat) masing-masing pihak telah melihat pihak yang lainnya (berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan terkejar”) oleh pasukan Firaun, kita tidak akan mampu menghadapi mereka, karena kita tidak mempunyai kekuatan.
  3. (Berkatalah) Nabi Musa, (“Sekali-kali tidak akan tersusul) kita tidak akan tersusul oleh mereka (sesungguhnya Rabbku besertaku) pertolongan-Nya selalu menyertaiku (kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”) jalan yang menuju keselamatan.
  4. Allah berfirman, (“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu’) maka Nabi Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. (Maka terbelahlah lautan itu) membentuk dua belas jalan (tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar) di antara dua gunung terdapat jalan yang akan dilalui oleh mereka; sehingga disebutkan bahwa pelana hewan-hewan kendaraan mereka sedikit pun tidak terkena basah, dan tidak pula kecipratan air.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Sebagian ulama tafsir yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa Fir’aun keluar dengan diiringi oleh iringan yang besar terdiri dari. sejumlah besar orang-orang kerajaannya, yaitu para ahli musyawarahnya, para patih, para hulubalang, para pembesar kerajaan, dan bala tentaranya. Adapun mengenai kisah yang disebutkan oleh kebanyakan kisah Israiliyat yang menyebutkan bahwa Fir’aun berangkat dengan membawa sejuta enam ratus pasukan berkudanya; yang seratus ribunya antara lain terdiri dari kuda yang hitam, maka kisah ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya. Ka’bul Ahbar mengatakan bahwa di antara pasukan itu terdapat pasukan yang berkuda hitam, jumlah mereka delapan ratus ribu orang; pendapat ini pun masih perlu dipertimbangkan kebenarannya. Yang jelas kisah tersebut hanyalah kisah Israiliyat yang dilebih-lebihkan. Allah Swt. Yang Maha Mengetahui kebenarannya.

Apa yang dapat dijadikan pegangan adalah kisah yang diberitakan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak menyebutkan bilangan mereka karena tidak ada faedahnya, yang jelas mereka keluar seluruhnya (mengejar Musa dan Bani Israil).

Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. (Asy-Syu’ara’: 60)

Yakni Fir’aun dan pasukannya berhasil mengejar mereka (dan mereka kelihatan) di waktu matahari terbit.

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat. (Asy-Syu’ara’: 61)

Maksudnya, masing-masing dari kedua golongan itu dapat melihat yang lainnya.

berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (Asy-Syu’ara’: 61)

Demikian itu karena perjalanan mereka sampai di tepi pantai laut, yaitu Laut Merah. Di hadapan mereka terbentang laut yang luas, sedangkan di belakang mereka kelihatan Fir’aun dan bala tentaranya mengejar mereka. Karena itulah mereka mengatakan:

“Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu’ara’: 61 -62)

Yakni tiada sesuatu pun dari hal yang kalian khawatirkan akan menimpa kalian, karena sesungguhnya Allah Swt. Dialah yang telah memerintahkanku untuk berjalan ke arah ini bersama kalian, sedangkan Dia tidak akan mengingkari janji-(Nya).

Saat itu Harun a.s. berada di barisan paling depan bersama Yusya’ ibnu Nun, dan orang-orang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun serta Musa berada di barisan tengah. Sebagian kalangan ulama tafsir yang bukan hanya seorang menyebutkan bahwa saat itu kaum Bani Israil berhenti, mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Lalu Yusya’ ibnu Nun atau orang-orang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun berkata kepada Musa a.s., “Hai Nabi Allah, apakah Tuhanmu memerintahkanmu berjalan ke tempat ini?” Musa menjawab, “Ya.” Maka Fir’aun dan pasukannya bertambah dekat, dan jaraknya hanya tinggal sedikit sampai kepada mereka. Pada saat itulah Allah memerintahkan kepada nabi-Nya (yaitu Musa a.s.) agar memukul laut dengan tongkatnya. Maka Musa memukul laut itu dengan tongkatnya seraya berkata, “Terbelahlah kamu dengan seizin Allah!”

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kamlal -walid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hamzah ibnu Yusuf, dari Abdullah ibnu Salam, bahwa setelah Musa sampai di tepi laut, berkatalah ia, “Wahai Tuhan yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, wahai Tuhan Yang menciptakan segala sesuatu, wahai Tuhan Yang Kekal sesudah segala sesuatu (tiada), jadikanlah jalan keluar bagi kami.” Maka Allah memerintahkan kepadanya melalui firman-Nya: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu! (Asy-Syu’ara’: 63)

Qatadah mengatakan bahwa pada malam itu Allah memerintahkan kepada laut tersebut (seraya berfirman), “Apabila Musa memukulmu dengan tongkatnya, maka dengarkanlah ucapannya dan taatilah perintahnya.” Maka pada malam itu laut tersebut bergetar semalaman, tanpa mengetahui dari sisi mana Musa akan memukulnya.

Setelah Musa sampai ke tepi pantai, berkatalah kepadanya pelayannya (yaitu Yusya’ ibnu Nun), “Wahai Nabi Allah, apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu?” Musa menjawab, “Tuhan telah memerintahkan kepadaku agar memukul laut dengan tongkatku ini.” Yusya’ ibnu Nun berkata, “Kalau begitu, cepat pukullah.”

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada laut. Menurut riwayat yang sampai kepadaku, bahwasanya apabila Musa memukulmu dengan tongkatnya, maka terbelahlah kamu untuknya. Maka semalaman laut itu bergetar, dan sebagian darinya memukul sebagian yang lain karena takut kepada Allah Swt. serta menunggu apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. Allah mewahyukan kepada Musa melalui firman-Nya: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu! (Asy-Syu’ara’: 63) Maka Musa memukulnya dengan tongkatnya yang berisikan kekuasaan dari Allah’ yang telah diberikan kepadanya, dan laut itu terbelah. Menurut kisah yang diceritakan oleh bukan hanya seorang, Musa datang ke laut dan memanggilnya dengan nama kunyah, seraya berkata, “Terbelahlah kamu, hai Abu Khalid, dengan seizin Allah!”

Firman Allah Swt.:

Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy-Syu’ara’: 63)

Yakni seperti bukit yang besar-besar. Demikianlah menurut Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b, Ad-Dahhak, Qatadah, dan lain-lainnya.

Menurut Ata Al-Khurrasani, yang dimaksud dengan At-Taud ialah celah yang ada di antara dua bukit.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa laut itu membentuk dua belas jalan, masing-masing jalan untuk tiap kabilah.

As-Saddi menambahkan bahwa pada tiap jalan terdapat lubang-lubang sehingga sebagian dari mereka dapat melihat sebagian yang lainnya, sedangkan air laut berdiri tegak seperti halnya tembok. Allah juga mengirimkan angin ke dasar laut, lalu meniupnya sehingga dasar laut kering seperti permukaan bumi.

Allah Swt. berfirman:

فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلا تَخْشَى

maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam). (Taha:77)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPertolongan dan Kemenangan bagi Hamba-hamba-Nya
Berita berikutnyaPembinasaan Fir’aun dan Kaumnya