Pemisah Antara Dua Laut

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naml ayat 61

0
908

Kajian Tafsir Surah An-Naml ayat 61. Bukti-bukti keesaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala di alam semesta. Yang telah menjadikan bumi, sungai-sungai,  gunung-gunung,  dan Allah menjadikan suatu pemisah antara dua laut. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٦١)

Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. An-Naml : 61)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Ammaη ja‘alal ardla qarāran (atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat menetap), yakni sebagai tempat tinggal.

Wa ja‘ala khilālahā aηhāran (dan menjadikan sungai-sungai di sela-selanya), yakni menjadikan sungai-sungai di tengah-tengah bumi.

Wa ja‘ala lahā (dan menjadikan untuknya), yakni untuk bumi.

Rawāsiya (gunung-gunung) yang kokoh sebagai pasaknya.

Wa ja‘ala bainal bahraini (dan menjadikan antara dua laut) yang tawar dan asin.

Hājizā (suatu pemisah), yakni suatu penghalang, sehingga tidak bercampur.

A ilāhum ma‘allāh (adakah tuhan [lain] beserta Allah), yakni adakah tuhan lain yang mampu melakukan hal itu, selain Allah Ta‘ala?

Bal aktsaruhum lā ya‘lamūn (sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui), yakni tidak membenarkan hal tersebut.


BACA JUGA  Kajian Tafsir Juz Ke-20 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [12]Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam[13], yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya[14], yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut[15]? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain) [16]? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui[17].

[12] Apakah berhala dan patung yang memiliki kekurangan dari berbagai sisi, tidak mampu berbuat, memberi rezeki, memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan madharrat itu lebih baik?

[13] Manusia dapat berdiam di atasnya, membuat tempat tinggal, mengolah tanah, membangun dan lain-lain.

[14] Sehingga manusia memperoleh manfaat darinya. Mereka dapat menyirami tanaman dan pepohonan mereka, memberi minum hewan ternak mereka dan lain-lain.

[15] Yang dimaksud dua laut di sini ialah laut yang asin dan sungai yang besar yang bermuara ke laut. sungai yang tawar itu setelah sampai di muara tidak langsung menjadi asin.

[16] Yang melakukan hal itu sehingga Allah disekutukan.

[17] Sehingga mereka menyekutukan Allah karena ikut-ikutan. Padahal jika mereka mengetahui dengan sebenarnya, maka mereka tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam) sehingga ia tidak menggoncangkan penduduknya (dan yang menjadikan di celah-celahnya) yakni di antara celah-celahnya (sungai-sungai dan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkannya) sebagai pengokoh Bumi (dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut) antara air tawar dan air asin, satu sama lainnya tidak bercampur baur. (Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Bahkan sebenarnya kebanyakan dari mereka tidak mengetahui) keesaaan-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam. (An-Naml: 61)

Yakni tempat menetap yang kokoh, tenang, tidak bergerak serta tidak bergoyang mengguncangkan penduduknya, tidak pula menggetarkan mereka. Karena sesungguhnya andaikata bumi selalu berguncang dan bergetar, tentulah tidak akan enak hidup di bumi dan tidak layak untuk kehidupan. Bahkan tidaklah demikian Allah menjadikan bumi sebagai karunia dan rahmat-Nya menghampar lagi tetap, tidak bergetar dan tidak bergerak. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap. (Al-Mu-min: 64)

Adapun firman Allah Swt.:

dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya. (An-Naml: 61)

Yaitu Dialah yang menjadikan sungai-sungai di bumi yang airnya tawar lagi baik, sungai-sungai itu membelah di celah-celahnya, lalu mengalirkannya di bumi, ada yang besar dan yang kecil; ada yang ke timur dan yang ke barat; dan ada yang ke selatan atau ada yang ke utara, sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya di berbagai belahan bumi, karena Allah telah menyebarkan mereka di muka bumi dan memudahkan bagi mereka jalan rezekinya menurut apa yang mereka perlukan.

dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya. (An-Naml: 61)

Yakni gunung-gunung yang tinggi-tinggi, mengokohkan bumi dan menetapkannya agar tidak mengguncangkan kalian.

dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut. (An-Naml: 61)

Maksudnya, menjadikan suatu pemisah antara air tawar dan air asin, yang mencegah keduanya bercampur agar yang ini tidak tercemari oleh yang itu, begitu pula sebaliknya (seperti di muara sungai Pent.). Sesungguhnya hikmah Allah (sunnatullah)-lah yang menetapkan agar masing-masing dari kedua jenis air itu tetap pada fungsinya. Menurut istilah Al-Qur’an, laut yang berasa manis airnya (yakni tawar) adalah sungai-sungai yang mengalir di berbagai daerah yang diduduki oleh manusia. Fungsi dan kegunaan air tersebut berasa tawar agar dapat dijadikan sebagai air minum bagi makhluk hidup, juga sebagai pengairan buat tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang berbuah dan pohon-pohon lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan laut yang berasa asin airnya ialah lautan yang mengelilingi berbagai benua dari segala penjuru. Airnya diciptakan berasa asin agar tidak mencemari udara dengan baunya seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) yang ini tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (Al-Furqan: 53)

Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An-Naml: 61)

Yaitu yang menjadikan itu semua, menurut pendapat yang pertama Menurut pendapat yang kedua yakni yang patut disembah. Kedua pendapat itu benar, masing-masingnya saling berkaitan dengan yang lain.

Bahkan (sebenarnya) sebagian besar dari mereka tidak mengetahui (An-Naml: 61)

Karena mereka menyembah selain-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaAllah Yang Memperkenankan Doa
Berita berikutnyaKebun-kebun yang Memiliki Panorama yang Indah