Nabi Musa Dipungut oleh Keluarga Fir’aun

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qashash ayat 8-9

0
667

Kajian Tafsir Surah Al-Qashash ayat 8-9. Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dihanyutkan ke sungai Nil yang kemudian dipungut oleh keluarga Fir’aun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨) وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)

Maka dia dipungut oleh keluarga Fir’aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir’aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir’aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari. (Q.S. Al-Qashash : 8-9)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Faltaqathahū (maka dipungutlah dia), yakni diangkatlah dia.

Ālu fir‘auna (oleh keluarga Fir‘aun), yakni diangkatlah dia oleh para pelayan Fir‘aun dari atas air di antara pepohonan, lalu mereka membawanya kepada istri Fir‘aun.

Li yakūna lahum ‘aduwwan (agar dia menjadi musuh bagi mereka) setelah mengemban risalah kepada mereka.

Wa hazanā (dan kesedihan) lantaran hilangnya kerajaan mereka.

Inna fir‘auna wa hāmāna wa junūdahumā kānū khāthi-īn (sesungguhnya Fir‘aun, Haman, serta bala tentaranya adalah termasuk orang-orang yang bersalah), yakni termasuk orang-orang yang musyrik.

Wa qālatimra-atu fir‘aunu (dan berkatalah istri Fir‘aun), yaitu ‘Asiyah binti Muzahim, yang juga bibi nabi Musa.

Qurratu ‘ainil lī (“[Dia] adalah penyejuk mata bagiku), yakni anak ini adalah penyejuk mata bagiku.

Wa lak (dan bagimu), hai Fir‘aun.

Lā taqtulūhu ‘asā ay yaηfa‘anā (janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita) dalam (menyelesikan) pekerjaan kita.

Au nattakhidzahū waladan (atau kita ambil dia sebagai anak), yakni atau mengadopsinya.

Wa hum lā yasy‘urūn (sedangkan mereka tidak menyadari”), yakni sementara Bani Israil tidak mengetahui bahwa dia itu bukan keturunan kita. Menurut pendapat yang lain, sementara Bani Israil tidak menyadari bahwa kebinasaan mereka berada pada kedua tangannya.


BACA JUGA  Kajian Tafsir Juz Ke-20 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka dia dipungut oleh keluarga Fir’aun[15] agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka[16]. Sungguh, Fir’aun dan Haman[17] bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah[18].

[15] Mereka memungut peti itu, lalu membawanya dan menaruhnya di hadapan Fir’aun, lalu dikeluarkanlah bayi Musa dari peti itu.

[16] Yakni agar akibat dari memungutnya adalah ia menjadi musuh mereka dan membuat mereka sedih karena sikap waspada dari mereka jika kerajaannya digulingkan tidaklah mengangkat takdir, dan karena orang yang mereka khawatirkan itu -tanpa mereka sadari- ternyata tumbuh besar di bawah asuhan mereka. Di samping itu, mereka sebenarnya tidak ingin memungut bayi itu. Jika kita perhatikan peristiwa ini, kita akan menemukan di dalamnya berbagai maslahat bagi Bani Israil, menyingkirkan beban berat yang menimpa mereka selama ini, mencegah tindak penganiayaan yang sebelumnya menimpa mereka, dsb. karena Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk pembesar di kerajaan Fir’aun. Maka dari itu, tentu adanya pembelaan terhadap hak bangsa yang lemah ini (Bani Israil), sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam sendiri memiliki niat yang luhur dan semangat yang membara. Oleh karena itulah, sampai ada di antara bangsa yang lemah ini seorang yang berani menentang bangsa yang sombong itu (kaum Fir’aun). Ini merupakan awal kemenangan, karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala termasuk sunnah-Nya yang berlaku adalah mengadakan perkara secara bertahap, tidak sekaligus.

[17] Haman adalah mentri Fir’aun.

[18] Oleh karena itulah, Allah ingin memberikan hukuman kepada mereka.

  1. Dan istri Fir’aun[19] berkata[20], “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya[21], mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak[22],” sedang mereka tidak menyadari[23].

[19] Ia bernama Asiyah binti Muzahim.

[20] Ketika Fir’aun dan orang-orang dekatnya hendak membunuhnya.

[21] Maka mereka pun menataatinya.

[22] Yakni, ia bisa menjadi pelayan kita yang membantu urusan kita atau kita tinggikan kedudukannya menjadi anak angkat kita yang kita muliakan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menakdirkannya, bahwa ia (Musa) ternyata bermanfaat bagi istri Fir’aun. Ketika Musa menjadi penyejuk matanya dan ia mencintainya sekali sehingga seperti anak kandungnya, sampai pada usia dewasa dan Allah mengangkatnya menjadi nabi dan rasul, ternyata ia segera masuk Islam dan beriman kepada Musa radhiyallahu ‘anha.

[23] Akibat yang akan mereka alami. Hal ini termasuk kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka ia dipungut) berikut petinya pada keesokan harinya (oleh keluarga) yakni pembantu-pembantu (Firaun) lalu peti itu diletakkan di hadapan Firaun dan Musa dikeluarkan dari dalam peti, di kala itu Musa sedang mengisap jempolnya dari jempol itu keluar air susu (yang akibatnya dia bagi mereka akan menjadi) pada akhirnya Musa akan menjadi (musuh) kelak akan membunuh kaum laki-laki mereka (dan kesedihan) karena akan menindas kaum wanita mereka. Lafal Hazanan di sini bermakna Isim Fa’il karena diambil dari lafal Hazinahu yang semakna dengan lafal Ahzanahu. (Sesungguhnya Firaun dan Haman) pembantu Firaun (beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah). Lafal Khathi-ina berasal dari Al Khathi-ah, artinya orang-orang yang durhaka, maka mereka dihukum oleh perbuatannya sendiri.
  2. (Dan istri Firaun berkata) di kala Firaun beserta para pembantunya sudah bersiap-siap akan membunuh bayi itu, “Ia adalah (biji mata bagiku dan bagimu, janganlah kalian membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”) akhirnya mereka menuruti kemauan istri Firaun itu (sedangkan mereka tiada menyadari) akibat dari perkara mereka dengan bayi itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. (Al-Qashash: 8), hingga akhir ayat.

Muhammad ibnu Ishaq dan lain-lainnya mengatakan bahwa huruf lam dalam ayat ini mengandung makna aqibah (akibat), bukan lam ta’lil (penyebab) karena mereka tidak berniat untuk mencari musuh dan kesedihan dengan memungut bayi itu. Tidak diragukan lagi bahwa makna lahiriah lafaz memang menunjukkan pengertian itu. Tetapi jika ditinjau dari segi konteksnya, sesungguhnya lam tersebut tetap bermakna ta’lil, dengan pengertian bahwa Allah Swt. telah menetapkan mereka memungutnya sebagai musuh dan kesedihan bagi mereka, sehingga pengertiannya lebih kuat dalam membatalkan sikap hati-hati mereka terhadapnya. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (Al-Qashash: 8)

Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnu Abdul Aziz bahwa ia menulis sepucuk surat kepada suatu kaum dari kalangan golongan Qadariyah untuk menyanggah kedustaan mereka terhadap keputusan Allah dan takdir-Nya yang telah berada di dalam pengetahuan-Nya yang terdahulu pasti akan terlaksana, yaitu tentang masalah Musa menurut pengetahuan Allah yang terdahulu ditetapkan sebagai musuh dan kesedihan bagi Fir’aun. Allah telah berfirman: dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. (Al-Qashash: 6) Kalian telah mengatakan bahwa seandainya Allah menghendaki, bisa saja Fir’aun menjadi penolong dan pendukung Musa. Padahal Allah Swt. telah berfirman: yang akhirnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. (Al-Qashash: 8)

Firman Allah Swt.:

Dan berkatalah istri Fir’aun, “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.” (Al-Qashash: 9), hingga akhir ayat.

Ketika Fir’aun melihat bayi itu, hampir saja ia membunuhnya karena merasa takut bahwa bayi itu dari kalangan kaum Bani Israil, seandainya saja tidak ada Asiah istrinya yang menentangnya dan melindungi bayi itu serta meminta kepadanya agar mengasihaninya.

Asiah binti Muzahim mengatakan, seperti yang disitir oleh firman-Nya: (Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. (Al-Qashash: 9) Maka Fir’aun menjawab, “Itu adalah bagimu, tetapi bagiku tidak.” Dan memang kejadiannya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Asiah, Allah memberinya petunjuk melalui Musa, sedangkan Fir’aun dibinasakan oleh Allah melalui Musa. Dalam surat Taha yang terdahulu telah disebutkan kisah ini dengan panjang lebar melalui riwayat Ibnu Abbas secara marfu’ yang ada pada Imam Nasai dan lain-lainnya.

Firman Allah Swt.:

mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita. (Al-Qashash: 9)

Dan memang apa yang diharapkannya itu berhasil baginya, Allah memberinya petunjuk melalui Musa dan menempatkannya di surga berkat petunjuk Musa.

Firman Allah Swt.:

atau kita ambil ia menjadi anak. (Al-Qashash: 9)

Asiah bermaksud menjadikan Musa sebagai anak angkatnya karena ia tidak mempunyai anak dari Fir’aun.

Firman Allah Swt.:

sedangkan mereka tidak menyadari. (Al-Qashash: 9)

Yakni mereka tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah melalui penemuan (pemungutan) mereka terhadap Musa, padahal di dalamnya terkandung hikmah yang besar dan hujah yang pasti.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaHati Ibu Musa Menjadi Kosong
Berita berikutnyaNabi Musa Dihanyutkan ke Sungai Nil