Orang yang Lemah Imannya dalam Menghadapi Cobaan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-‘Ankabut ayat 10

0
551

Kajian Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 10. Sikap orang yang lemah imannya dalam menghadapi cobaan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ (١٠)

Dan di antara manusia ada sebagian yang berkata, “Kami beriman kepada Allah,” Tetapi apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksaan Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? (Q.S. Al-‘Ankabut : 10)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa minan nāsi (dan di antara manusia), yaitu ‘Ayyasy bin Abi Rabi‘ah al-Makhzumi.

May yaqūlū āmannā billāhi (ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah”), yakni kami membenarkan tauhidullah.

Fa idzā ūdziya fillāhi (namun, apabila ia disakiti [karena keimanannya] kepada Allah itu), yakni disiksa karena memeluk agama Allah.

Ja‘ala fitnatan nāsi (ia menganggap siksaan manusia itu), yakni menganggap siksaan cambuk manusia itu.

Ka ‘adzābillāh (sebagai azab Allah) di dalam neraka yang langgeng, sehingga akhirnya ia pun kufur dan kembali pada agamanya yang dulu.

Wa la iη jā-a nashrum mir rabbika (dan sungguh jika pertolongan dari Rabb-mu datang), yaitu pembebasan kota Mekah.

La yaqūlunna (niscaya mereka berkata), yakni ‘Ayyasy dan kawan-kawannya.

Innā kunnā ma‘akum (“Sesungguhnya kami bersama kalian”), yakni memeluk agama kalian.

A wa laisallāhu bi a‘lama bimā fish shudūril ‘ālamīn (dan bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua makhluk), yakni kebaikan dan keburukan yang ada di dalam hari semua makhluk.


BACA JUGA  Kajian Tafsir Juz Ke-20 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [21]Dan di antara manusia ada sebagian yang berkata, “Kami beriman kepada Allah,” Tetapi apabila dia disakiti[22] (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksaan Allah[23]. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu[24], niscaya mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu[25].” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia[26]?

[21] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa Dia harus menguji orang yang mengaku beriman agar tampa jelas siapa yang benar imannya dan siapa yang dusta, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjelaskan, bahwa di antara manusia ada segolongan orang yang tidak sabar terhadap ujian dan tidak kokoh menghadapi sedikit kegoncangan.

[22] Seperti dipukul, diambil hartanya dan dicela, maka ia murtad dari agamanya dan kembali kepada kebatilan.

[23] Maksudnya, orang itu takut kepada penganiayaan manusia terhadapnya karena imannya, seperti takutnya kepada azab Allah, sehingga ia tinggalkan imannya itu.

[24] Seperti kemenangan sehingga memperoleh ghanimah (harta rampasan perang).

[25] Yakni, oleh karena itu sertakanlah kami dalam ghanimah. Karena hal itu sesuai selera hawa nafsunya. Orang seperti ini sama seperti yang disebutkan dalam surah Al-Hajj: 11, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

[26] Apakah keimanan atau kemunafikan yang bersemayam dalam dirinya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Di antara manusia ada orang yang berkata, “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti, -karena beriman kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu) yakni perlakuan mereka yang menyakitkan kepada dirinya (sebagai azab Allah) yaitu ketakutannya terhadap siksaan mereka disamakan seperti takut kepada azab Allah. Sehingga akhirnya dia mau menuruti kemauan mereka, lalu ia menjadi orang yang munafik. (Dan sungguh jika) huruf Lam pada lafal la in menunjukkan makna sumpah (datang pertolongan) kepada orang-orang Mukmin (dari Rabbmu) lalu orang-orang Mukmin memperoleh banyak ganimah (mereka pasti akan berkata) Lafal Layaqulunna dibuang daripadanya Nun alamat Rafa’, karena jika dibiarkan, maka akan berturut-turutlah huruf Nun, sehingga jadilah Layaqulunna yang pada asalnya adalah Layaqulunanna, dan dibuang daripadanya Wawu Dhamir jamak bukan karena sebab bertemunya dua huruf yang disukunkan. (“Sesungguhnya kami adalah beserta kalian”) dalam hal iman, karena itu maka ajaklah kami bersama-sama mendapat bagian ganimah itu. Maka Allah swt. berfirman (Bukankah Allah lebih mengetahui) yakni mengetahui (apa yang ada dalam dada semua manusia?) yakni apa yang ada di dalam hati mereka, apakah keimanan ataukah kemunafikan? Memang benar Allah lebih mengetahui.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang sifat-sifat kaum yang mendustakan (Allah dan Rasul-Nya), yaitu mereka yang lisannya mengakui beriman, padahal iman tidak berakar dalam dada mereka. Bahwa apabila cobaan dan ujian di dunia menimpa mereka, maka mereka berkeyakinan bahwa hal tersebut merupakan azab Allah kepada mereka, karenanya mereka murtad dari Islam. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang berkata, “Kami beriman kepada Allah, ” maka apabila ia disakiti (karena beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. (Al-‘Ankabut: 10)

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan fitnah manusia ialah bila orang yang bersangkutan murtad dari agamanya karena disakiti sebab keimanannya kepada Allah. Hal yang sama dikatakan oleh ulama Salaf lainnya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. (Al-Hajj: 11)

sampai dengan firman-Nya:

ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (Al-Hajj: 12)

Kemudian disebutkan oleh firman-Nya:

Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, “Sesungguhnya kami adalah besertamu.” (Al-‘Ankabut: 10)

Yaitu jika datang pertolongan dalam waktu yang dekat dari Tuhanmu dan kemenangan serta ganimah yang banyak, hai Muhammad, tentulah mereka mengatakan kepadamu, “Sesungguhnya kami adalah besertamu,” yakni saudara-saudara seagamamu. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan), mereka berkata, “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin. (An-Nisa: 141)

Maka Allah menjawab mereka melalui firman-Nya:

فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al-Maidah: 52)

Allah Swt. menceritakan perihal mereka melalui surat Al-‘Ankabut ini, yaitu melalui firman-Nya: Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, “Sesungguhnya kamu adalah besertamu.” (Al-‘Ankabut: 10)

Adapun firman Allah Swt.:

Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia. (Al-‘Ankabut: 10)

Maksudnya, bukankah Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka dan semua yang disembunyikan di dalam perasaan mereka, sekalipun mereka menampakkan kepada kalian sikap setuju?

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaSifat Orang-orang Munafik dan Orang-orang Kafir
Berita berikutnyaBatasan Taat kepada Orang Tua