Rasulullah ﷺ Itu Suri Teladan yang Baik

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ahzaab ayat 21-22

0
689

Kajian Tafsir Surah Al-Ahzaab ayat 21-22. Rasulullah ﷺ itu suri teladan yang baik dan penjelasan tentang kejujuran kaum mukmin serta teguhnya mereka di atas kebenaran. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١) وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (٢٢)

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka. (Q.S. Al-Ahzaab : 21-22)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun hasanatun (sungguh telah ada bagi kalian pada Rasulullah teladan yang baik), yakni sunnah yang baik dan ikutan yang saleh untuk duduk bersama beliau di Khandaq.

Li mang kāna yarjullāha ([yaitu] bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah), yakni bagi orang yang mengharapkan kemuliaan dari Allah Ta‘ala dan pahala-Nya. Ada yang mengatakan, bagi orang yang takut kepada Allah Ta‘ala.

Wal yaumil ākhira (dan hari akhirat), yakni dan takut terhadap azab akhirat.

Wa dzakarallāha katsīrā (serta banyak mengingat Allah) dengan lisan dan qalbunya. Selanjutnya Allah Ta‘ala mengungkapkan sifat kaum mukminin yang ikhlas, Dia berfirman:

Wa lammā ra-al mu’minūna (dan tatkala orang-orang mukmin melihat), yakni orang-orang mukmin yang ikhlas melihat.

Al-ahzāba (golongan-golongan yang bersekutu itu), yakni orang-orang kafir Mekah: Abu Sufyan dan komplotannya.

Qālū hādzā mā wa‘adanallāhu wa rasūluhū (berkatalah mereka, “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”) beberapa hari yang lalu.

Wa shadaqallāhu wa rasūluhū (dan benarlah Allah dan Rasul-Nya) dalam janji tersebut. Nabi ﷺ telah menjanjikan kepada mereka bahwa golongan yang bersekutu itu akan datang sembilan atau sepuluh hari lagi.

Wa mā zādahum (dan tiadalah hal itu menambah mereka), yakni melihat orang-orang kafir.

Illā īmānan (kecuali keimanan), yakni kecuali keyakinan akan Firman Allah Ta‘ala dan sabda Rasul-Nya.

Wa taslīmā (dan kepasrahan), yakni ketundukan terhadap perintah Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.


BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-21 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu[1] (yaitu) [2]bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat[3] dan dia banyak menyebut Allah.

[1] Beliau berani berperang dan terjun ke dalam kancah pertempuran, lalu mengapa kamu kikir mengorbankan jiwamu untuk sesuatu yang Rasulullah ﷺ saja berani mengorbankannya? Maka ikutilah Beliau dalam hal ini dan dalam hal lainnya. Para ahli ushul berdalil dengan ayat ini tentang kehujjahan perbuatan Rasulullah ﷺ. Demikian pula, bahwa hukum asalnya, umat Beliau mengikuti juga dalam hal hukum, kecuali ada dalil syar’i yang mengkhususkan untuk Beliau.

[2] Yang beruswah (meneladani) Beliau dan diberi taufik kepadanya hanyalah orang yang berharap rahmat Allah dan kedatangan hari Akhir, di mana iman yang ada padanya, rasa takutnya kepada Allah, berharapnya kepada pahala-Nya serta takut kepada siksa-Nya mendorongnya untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[3] Ada yang mengartikan, bagi orang yang takut kepada Allah dan hari akhir.

  1. [4]Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya[5] kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya[6].” Dan yang demikian itu menambah keimanan[7] dan keislaman mereka[8].

[4] Setelah Allah menyebutkan keadaan kaum munafik ketika takut, Dia menyebutkan keadaan kaum mukmin.

[5] Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu ialah kemenangan setelah mengalami kesusahan atau ujian dan pertolongan-Nya.

[6] Dalam berjanji. Karena kami menyaksikan apa yang Dia beritakan kepada kami.

[7] Dalam hati mereka.

[8] Yakni ketundukan kepada perintah-Nya.

Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tentang kaum munafik yang berjanji kepada Allah untuk tidak mundur, tetapi ternyata mereka mengingkari janjinya, maka pada ayat selanjutnya Allah menyebutkan tentang kaum mukmin, di mana mereka memenuhi janjinya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya dengan orang-orang yang selain mereka.
  2. (Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu) yang terdiri dari orang-orang kafir (mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.”) Yakni cobaan dan pertolongan dari Allah. (Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya) tentang yang dijanjikannya. (Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka) (kecuali iman) percaya mereka akan janji Allah (dan ketundukan) kepada perintah-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah ﷺ dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya. Karena itulah Allah Swt. memerintahkan kepada kaum mukmin agar meniru sikap Nabi ﷺ dalam Perang Ahzab, yaitu dalam hal kesabaran, keteguhan hati, kesiagaan, dan perjuangannya, serta tetap menanti jalan keluar dari Allah Swt. Semoga salawat dan salam-Nya terlimpahkan kepada beliau sampai hari kiamat.

Melalui ayat ini Allah Swt. berfirman kepada orang-orang yang merasa khawatir, gelisah, dan guncang dalam menghadapi urusan mereka dalam Perang Ahzab:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Al-Ahzab: 21)

Yakni mengapa kalian tidak meniru dan mengikuti jejak sifat-sifatnya? Dalam firman selanjutnya disebutkan:

(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab: 21)

Selanjutnya Allah Swt. menyebutkan perihal hamba-hamba-Nya yang beriman yang membenarkan janji Allah kepada mereka, yang pada akhirnya Allah akan menjadikan kesudahan yang baik di dunia dan akhirat bagi mereka. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. (Al-Ahzab: 22)

Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah, ayat inilah yang dimaksudkan oleh Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah melalui firman-Nya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214)

Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita, yakni cobaan dan ujian yang berakhir dengan kemenangan yang dekat. Karena itu, dalam firman berikutnya disebutkan:

Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. (Al-Ahzab: 22)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzab: 22)

Hal ini menunjukkan bertambahnya iman dan kekuatan mereka bila dibandingkan dengan orang lain dan keadaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian besar para imam yang mengatakan bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang. Hal ini telah kami tetapkan di dalam permulaan Syarah Imam Bukhari.

Makna firman Allah Swt.: Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka. (Al-Ahzab: 22) Yakni kesempitan, keadaan gawat, dan situasi yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka. kecuali iman dan ketundukan. (Al-Ahzab: 22) Maksudnya, iman kepada Allah, tunduk kepada perintah-perintah-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMenepati Apa yang Telah Mereka Janjikan kepada Allah
Berita berikutnyaBagi Orang-orang yang Menghalang-halangi