Perumpamaan Orang-orang yang Celaka

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yaasiin ayat 8-9

0
653

Kajian Tafsir Surah Yaasiin ayat 8-9. Pernyataan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala bahwa Muhammad ﷺ itu benar-benar seorang rasul, tugas Beliau ﷺ, peringatan hanya bermanfaat bagi orang yang takut kepada Allah, sikap kaum musyrik terhadap Beliau ﷺ dan perumpamaan orang-orang yang celaka dalam hal mencapai petunjuk. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (٨) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ (٩)

Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Q.S. Yaasiin : 8-9)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innā ja‘alnā fī a‘nāqihim (sesungguhnya Kami telah memasang pada leher-leher mereka), yakni pada tangan kanan mereka.

Aghlālan (belenggu) dari besi.

Fa hiya (lalu ia [diangkat]), yakni terbelenggu dan tertahan.

Ilal adzqāni (hingga ke dagu), yakni ke janggut.

Fa hum muqmahūn (karena itu mereka pun tertengadah), yakni terbelenggu. Menurut satu pendapat, Kami telah memadukan tangan kanan dan dagu mereka, saat mereka hendak melempari Nabi Muhammad ﷺ yang tengah shalat dengan batu; fa hum muqmahūn (karena itu mereka pun tertengadah), yakni terbelenggu dan tertahan dari segala kebaikan.

Wa ja‘alnā mim baina aidīhim (dan Kami adakan dari hadapan mereka), yakni dari persoalan akhirat.

Saddan (dinding), yakni penghalang.

Wa min khalfihim (dan dari belakang mereka juga), yakni dari persoalan dunia.

Saddan (dinding), yakni penghalang.

Fa aghsyaināhum (kemudian Kami tutup mereka), yakni Kami tutup mati hati mereka.

Fa hum lā yubshirūn (karena itu mereka tidak dapat melihat) kebenaran dan petunjuk. Menurut pendapat yang lain, wa ja‘alnā mim baina aidīhim saddan . (dan Kami Adakan dari hadapan mereka dinding), yakni tirai, saat mereka hendak melempari Nabi Muhammad ﷺ yang tengah shalat dengan batu. Sehingga mereka tidak dapat melihat Nabi Muhammad ﷺ; wa min khalfihim saddan (dan dari belakang mereka juga dinding), yakni tirai, sehingga mereka tidak dapat melihat shahabat-shahabat beliau; fa aghsyaināhum (kemudian Kami tutup mereka), yakni Kami tutup penglihatan mereka; fa hum lā yubshirūn (karena itu mereka tidak dapat melihat) dan tidak dapat menyakiti Nabi Muhammad ﷺ.


BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-22 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [9]Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah[10].

[9] Menurut Syaikh As Sa’diy, selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan penghalang yang menghalangi masuknya iman ke dalam hati mereka.

[10] Yakni mengangkat kepalanya dan tidak sanggup menundukkannya. Menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini merupakan tamtsil (perumpamaan) yang maksudnya adalah bahwa mereka tidak mau tunduk beriman.

  1. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat[11].

[11] Ayat ini juga menurut sebagian ahli tafsir merupakan tamtsil yang menunjukkan tertutupnya jalan bagi mereka untuk beriman.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka) tangan mereka disatukan dengan leher mereka dalam satu belenggu, karena pengertian lafal Al-Ghillu ialah mengikatkan kedua tangan ke leher (lalu tangan mereka) yaitu tangan-tangan mereka diangkat dan disatukan (ke dagu) mereka, lafal Adzqaan bentuk jamak dari lafal Dzaqanun yaitu tempat tumbuh janggut (maka karena itu mereka tertengadah) kepala mereka terangkat dan tidak dapat ditundukkan. Ini merupakan tamtsil, yang dimaksud ialah mereka tidak mau taat untuk beriman, dan mereka sama sekali tidak mau menundukkan kepalanya dalam arti kata tidak mau beriman.
  2. (Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding) lafal Saddan dalam dua tempat tadi boleh dibaca Suddan (dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.) Ini merupakan tamtsil yang menggambarkan tertutupnya jalan iman bagi mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami menjadikan perumpamaan mereka yang telah dipastikan oleh Kami sebagai orang-orang yang celaka dalam hal mencapai petunjuk, sama dengan orang yang lehernya dibelenggu, lalu kedua tangannya disatukan dengan lehernya dalam belenggu itu sehingga kepalanya terangkat dan tidak dapat berbuat sesuatu apa pun.” Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8)

Al-muqmah artinya orang yang terangkat kepalanya, seperti yang dikatakan oleh Ummu Zari’ dalam ucapannya, “Saya minum dengan menengadahkan kepala,” maksudnya dia minum hingga kenyang dengan menengadahkan kepalanya agar air mudah masuk dan menyegarkan. Dan sudah dianggap cukup hanya menyebut ‘belenggu pada leher’ tanpa menyebut ‘kedua tangan’, sekalipun pada kenyataannya kedua tangan pun dibelenggu pula menjadi satu dengan leher. Sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam perkataan seorang penyair, yaitu:

فَمَا أدْري إذَا يَمَّمْتُ أرْضًا … أُرِيدُ الخَيْرَ أَيُّهُمَا يَليني …

أالْخَيْرُ الَّذِي أنَا أبْتَغيه … أَمِ الشَّرّ الَّذِي لَا يَأتَليني …

Aku mengetahui bila menuju suatu tempat untuk mencari kebaikan, manakah di antara keduanya (baik atau buruk) yang akan kuperoleh.

Apakah kebaikan yang menjadi tujuanku yang akan kuperoleh ataukah keburukan yang tidak kuinginkan yang akan kuperoleh.

Dalam bait pertama hanya disebutkan kebaikan, tanpa menyebutkan keburukan, dan sudah cukup dimengerti dari konteks kalimatnya. Demikian pula halnya pengertian dalam ayat ini, mengingat belenggu itu hanya dipakai untuk mengikat kedua tangan bersama dengan leher, maka dianggap cukup hanya dengan menyebutkan leher saja tanpa kedua tangan, karena pengertiannya sudah termasuk di dalamnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8) Bahwa ayat ini semakna dengan ayat lain yang mengatakan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu. (Al-Isra: 29) Yakni tangan mereka terikat ke leher mereka sebagai kata kiasan yang menunjukkan bahwa tangan mereka tidak mau diulurkan untuk memberi kebaikan.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8) Mereka menengadahkan kepalanya, sedangkan tangan mereka diletakkan di mulut mereka dan mereka terbelenggu tidak mendapatkan kebaikan apa pun.

Firman Allah Swt.:

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding. (Yasin: 9)

Menurut Mujahid, dinding itu menutupi mereka dari kebenaran sehingga mereka kebingungan, yang menurut Qatadah disebutkan berada dalam kesesatan.

Firman Allah Swt.:

dan kami tutup (mata) mereka. (Yasin: 9)

Yakni Kami tutup mata mereka dari kebenaran.

sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9)

Maksudnya, tidak dapat mengambil manfaat dari kebaikan dan tidak mendapat petunjuk untuk menempuh jalan kebaikan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah diriwayatkan seterusnya dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan “فَأَعْشَيْنَاهُمْ” dengan memakai huruf ‘ain bukan gin, berasal dari akar kata al-asya yang artinya suatu penyakit yang mengenai mata.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa Allah Swt. menjadikan dinding ini antara mereka dan Islam serta iman, karenanya mereka tidak dapat menembusnya. Lalu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam membaca firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)

Kemudian ia mengatakan bahwa orang yang telah dicegah oleh Allah Swt. pasti tidak mampu.

Ikrimah mengatakan, bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Sekiranya aku melihat Muhammad, sungguh aku akan melakukan anu dan anu.” Maka turunlah firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka (Yasin: 8) sampai dengan firman-Nya: sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9). Ikrimah melanjutkan, bahwa mereka mengatakan, “Inilah Muhammad.” Tetapi Abu Jahal bertanya, Mana dia, mana dia?” Ternyata dia tidak dapat melihatnya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ziad dari Muhammad ibnu Ka’b yang mengatakan, bahwa Abu Jahal pernah berkata saat mereka sedang duduk, “Sesungguhnya Muhammad mengira bahwa jika kalian mengikutinya, pastilah kalian akan menjadi raja-raja. Dan apabila kalian telah mati, maka kelak akan dibangkitkan hidup kembali sesudah mati kalian, lalu kalian akan mendapatkan taman-taman surga yang lebih baik daripada taman-taman negeri Yordan. Dan jika kalian menentangnya, maka kalian akan disembelih olehnya (yakni dibunuh), kemudian kalian dibangkitkan sesudah mati kalian dan kalian akan mendapat neraka tempat kalian disiksa di dalamnya. Lalu Rasulullah ﷺ saat itu keluar menyambut mereka, sedangkan di tangan beliau ﷺ terdapat segenggam pasir, dan Allah Swt. telah menutup pandangan mereka dari Nabi ﷺ maka Nabi ﷺ menaburkan pasir itu di atas kepala mereka seraya membaca firman-Nya Ya sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. (Yasin: 1-2) sampai dengan firman-Nya: Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9); Sedangkan Rasulullah ﷺ pergi menunaikan keperluannya, dan mereka semalaman mengincar keluarnya Nabi ﷺ di depan pintu rumahnya, sehingga keluarlah seseorang sesudah itu dari pintu yang dipakai keluar oleh Nabi ﷺ dari rumah beliau ﷺ lalu orang itu bertanya keheranan, “Sedang apa kalian di sini?” Mereka menjawab, “Kami sedang menunggu Muhammad.” Orang tersebut menjawab, “Dia telah keluar melalui kalian, dan tiada seorang pun dari kalian, melainkan Nabi ﷺ telah meletakkan pasir di atas kepalanya, lalu beliau pergi menuju ke tempat keperluannya.” Maka tiap-tiap orang dari mereka menepiskan debu dari kepalanya. Ikrimah melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya sampai kepada Nabi ﷺ perkataan Abu Jahal tersebut. Maka beliau bersabda:

وَأَنَا أَقُولُ ذَلِكَ: إِنَّ لَهُمْ مِنِّي لَذَبْحًا، وَإِنَّهُ أَحَدُهُمْ

Dan aku akan menegaskan hal tersebut, bahwa sesungguhnya aku akan membunuh mereka dan sesungguhnya aku benar-benar akan menghukum mereka

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaPeringatan
Berita berikutnyaBenar-benar Seorang Rasul