Berlomba untuk Mengejar Surga

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ash-Shaaffaat ayat 54-60

0
542

Kajian Tafsir Surah Ash-Shaaffaat ayat 54-60. Pentingnya memilih teman yang baik, menjauhi teman yang buruk dan perlombaan yang terbaik; yaitu berlomba untuk mengejar surga. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ (٥٤) فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ (٥٥) قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ (٥٦) وَلَوْلا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ (٥٧) أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ (٥٨) إِلا مَوْتَتَنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (٥٩) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٦٠)

Dia berkata, “Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka dia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).” Maka apakah kita tidak akan mati? Kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?” Sungguh, ini benar-benar kemenangan yang agung.  (Q.S. Ash-Shaffat : 54-60)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qāla (dia berkata) kepada saudara-saudaranya yang ada di dalam surga.

Hal aηtum muththali‘ūn (“Apakah kalian mau meninjau [temanku itu]”), yakni yang ada di dalam neraka, agar kalian bisa melihat kondisinya?

Faththala‘a (kemudian dia pun meninjaunya), yakni dia sendiri.

Fa ra-āhu (maka dia melihat temannya itu), yakni melihat saudaranya yang kafir.

Fī sawā-il jahīm (berada di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala).

Qāla tallāhi ing kitta (dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu hampir), yakni sesungguhnya kamu hampir dan memang bermaksud.

La turdīn (mencelakakan aku), yakni menyesatkan aku dari agama dan membinasakan aku, andai saja aku mematuhimu.

Wa lau lā ni‘matu rabbī (dan kalaulah bukan karena nikmat Rabb-ku), yakni Karunia Rabb-ku berupa keimanan dan perlindungan-Nya dari kekafiran.

La kuηtu minal muhdlarīn (niscaya aku pun termasuk orang-orang yang diseret), yakni termasuk orang yang diazab bersama kamu di dalam neraka. Kemudian terdengarlah seorang penyeru mengumumkan, “Wahai penghuni surga, al-maut telah disembelih, karena itu tidak ada lagi kematian.” Kemudian dia berkata kepada saudara-saudaranya:

A fa mā nahnu bi mayyitīn (maka apakah kita tidak akan mati) setelah al-maut itu disembelih?

Illā mautatanal ūlā (kecuali kematian kita yang pertama saja), yakni sesudah kematian kita di dunia. Si penyeru berkata kepada mereka, “Ya, benar.” Kemudian terdengar lagi si penyeru mengumumkan, “Hai penghuni neraka! Neraka telah ditutup. Tak akan ada lagi yang masuk ke dalamnya, dan yang bisa keluar darinya.” Lalu dia berkata kepada saudara-saudaranya:

Wa mā nahnu bi mu‘adzdzabīn (dan kita tidak akan diazab) di dalam neraka setelah neraka itu ditutup.

Inna hādzā la huwal fauzul ‘azhīm (sesungguhnya ini benar-benar merupakan kemenangan yang besar), yakni keberhasilan yang gemilang. Kami berhasil meraih surga dengan segala kenikmatannya, dan kami juga selamat dari neraka dan segala kengerianya. Itulah kisah dua orang bersaudara yang Dikemukakan Allah Ta‘ala dalam surah al-Kahf. Salah seorang di antara mereka seorang Mukmin, yaitu Yahudza, dan yang lainnya seorang kafir yaitu Abu Quthrus.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dia berkata, “Maukah kamu meninjau (temanku itu)[15]?”

[15] Yakni untuk melihatnya. Zahir ayat ini adalah, bahwa saudara-saudaranya akhirnya bersama-sama pergi mengikutinya untuk meninjau dan melihat orang yang diceritakannya itu.

  1. Maka dia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala[16].

[16] Dan azab telah meliputinya. Ya Allah masukkanlah kami ke dalam surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke dalam surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke dalam surga dan jauhkanlah kami dari neraka.

  1. Dia berkata[17], “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku[18],

[17] Sambil mencela keadaan kawannya dan sambil bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang menyelelamatkannya dari tipu daya kawannya.

[18] Dengan melemparkan berbagai syubhat kepadaku agar aku mengikutimu.

  1. Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku[19] pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).”

[19] Yang mengokohkanku di atas Islam.

  1. [20]Maka apakah kita tidak akan mati?

[20] Penghuni surga selanjutnya berkata dalam bentuk pertanyaan seperti yang disebutkan dalam ayat di atas; menyampaikan kata-kata gembiranya atas nikmat Allah sambil menyebut-nyebut nikmat-Nya kepadanya karena hidupnya yang kekal dan selamat dari azab, di mana kandungannya adalah untuk menguatkan dan mengokohkan.

  1. Kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?”
  2. [21]Sungguh, ini benar-benar kemenangan yang agung.

[21] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kenikmatan di surga dan menyifatinya dengan sifat-sifat yang indah, memujinya dan membuat manusia rindu kepadanya serta mendorong untuk beramal, maka Dia berfirman, “Sungguh, ini benar-benar kemenangan yang agung.” Yakni dengannya semua kebaikan diperoleh, demikian pula apa saja yang diinginkan oleh jiwa, dan dengannya semua yang dikhawatirkan serta hal yang tidak diinginkan terhindar. Oleh karena itu, kemenangan apa lagi yang lebih agung daripadanya? Bukankah ia merupakan puncak cita-cita dan akhir dari tujuan, di mana Tuhan Pencipta langit dan bumi telah menaruh rasa ridha kepada mereka, dan mereka pun bergembira karena dekat dengan-Nya, merasakan nikmat dengan mengenal-Nya dan merasa senang melihat-Nya serta bergembira karena mendengar firman-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Berkata pulalah ia) yaitu penghuni surga yang mengatakan demikian kepada temannya (‘Maukah kamu melihat keadaan temanku itu?'”) maksudnya bersama-sama untuk melihat apa yang dialami temannya di dalam neraka? Temannya menjawab, “Tidak mau.”
  2. (Maka ia meninjaunya) yakni orang yang mengatakan demikian itu dari sebagian jendela surga (lalu ia melihat temannya itu) yaitu temannya yang ingkar kepada adanya hari berbangkit itu (di tengah-tengah neraka menyala-nyala) berada di tengah-tengah neraka Jahim.
  3. (Ia berkata pula) dengan nada mengejek, (“Demi Allah, sesungguhnya) lafal In di sini adalah bentuk Takhfif dari Inna (kamu benar-benar hampir) kamu hampir saja (mencelakakanku) membinasakan aku melalui penyesatanmu itu.
  4. (Jika tidak karena nikmat Rabbku) atas diriku yaitu berupa iman (pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret) bersamamu ke dalam neraka. Dan penduduk surga berkata,
  5. (Maka apakah kita tidak akan mati.)
  6. (Melainkan hanya kematian kita yang pertama) yakni kematian kita di dunia (dan kita tidak akan disiksa di akhirat ini?”) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna menetapkan kenikmatan yang mereka rasakan dan sebagai ungkapan rasa syukur mereka atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada diri mereka, yaitu mereka dijadikan hidup abadi dengan penuh kenikmatan dan tidak disiksa untuk selama-lamanya.
  7. (Sesungguhnya ini) yakni apa yang Aku jelaskan mengenai keadaan penduduk surga (benar-benar kemenangan yang besar.)

BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-23  utuk ayat lainnya

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Berkata pulalah ia, “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” (Ash-Shaffat: 54)

Yakni menengoknya.

Kalimat ini dikatakan oleh orang mukmin kepada teman-temannya sesama penghuni surga.

Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. (Ash-Shaffat: 54)

Ibnu Abbas r.a. Sa’id ibnu Jubair, Khulaid Al-Asri, Qatadah, As-Saddi, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah berada di tengah-tengah neraka Jahim.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, makna yang dimaksud ialah berada di tengah-tengah neraka seakan-akan rupanya seperti bintang yang menyala-nyala (karena terbakar api neraka).

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa orang mukmin itu menengok temannya, maka ia melihat batok-batok kepala teman-teman kafirnya yang ada di neraka mendidih.

Telah diceritakan pula kepada kami bahwa Ka’bul Ahbar pernah mengatakan, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat jendela pengintai. Apabila seorang ahli surga hendak melihat keadaan musuhnya di neraka, maka ia melongokkan pandangannya melalui jendela itu ke arah neraka. Karena itu, makin bertambahlah rasa syukurnya.”

Ia berkata (pula), “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku.(Ash-Shaffat: 56)

Orang mukmin berkata kepada orang kafir (yang ada di dalam neraka), “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakan diriku sekiranya aku menuruti kehendakmu.”

Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 57)

Yakni sekiranya bukan karena karunia dari Allah, tentulah aku menjadi orang yang senasib denganmu berada di tengah-tengah neraka Jahim, tempat kamu berada dan diseret bersamamu ke dalam azab neraka. Tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya kepadaku, maka Dia memberiku petunjuk kepada iman dan membimbingku ke jalan mengesakan Dia.

وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk kepada kami. (Al-A’raf: 43)

Adapun firman Allah Swt.:

Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)

Ini merupakan kata-kata dari orang mukmin yang merasa kagum dengan pemberian Allah kepada dirinya berupa kehidupan yang kekal di dalam surga dan bertempat di tempat yang terhormat tanpa mati dan tanpa azab. Karena itu, disebutkan oleh firman Allah Swt. selanjutnya:

Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar (Ash-Shaffat: 60)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya kepada penduduk surga: (Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Tur: 19) Bahwa yang dimaksud dengan Hani-an ialah tidak akan mati lagi di dalam surga. Dan saat itu berkatalah penghuni surga, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka mengetahui bahwa pemutus semua kenikmatan adalah maut. Karena itu, mereka mengatakan: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59). Lalu dikatakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan mati lagi. Maka mereka menjawab: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. (Ash-Shaffat: 60)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKemenangan Diraih dengan Berusaha
Berita berikutnyaPentingnya Memilih Teman yang Baik