Jalan yang Benar

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Mu’min ayat 38-40

0
895

Kajian Tafsir: Surah Al-Mu’min ayat 38-40. Rendahnya nilai dunia dan keadaannya yang sementara, kekalnya akhirat, setiap orang akan dibalas sesuai amalnya, pentingnya memberi nasihat kepada orang lain untuk menuju jalan yang benar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (٣٨) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (٣٩) مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ (٤٠)

Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga. (Q.S. Al-Mu’min : 38-40)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālal ladzī āmana (dan orang yang beriman itu berkata), yaitu Hizqiel.

Yā qaumittabi‘ūni (“Wahai kaumku, ikutilah aku) dalam agamaku.

Ahdikum sabīlar rasyād (akan kutunjukkan jalan yang benar kepada kalian), yakni aku mengajak kalian pada kebenaran dan petunjuk.

Yā qaumi innamā hādzihil hayātud dun-yā matā‘un (wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan [sementara]), tak ubahnya perabotan rumah yang tidak akan langgeng.

Wa innal ākhirata (dan sesungguhnya akhirat itu), yakni surga.

Hiya dārul qarār (adalah negeri yang kekal), yakni tempat kediaman yang langgeng dan tak ada perubahan padanya.

Man ‘amila sayyi-atan (barangsiapa yang berbuat keburukan) dalam kemusyrikannya.

Fa lā yujzā illā mitslahā (maka tiadalah ia diberi balasan melainkan sepadan dengan keburukannya itu), yaitu neraka.

Wa man ‘amila shālihan (dan barangsiapa yang beramal saleh), yakni beramal secara ikhlas.

Miη dzakarin au uηtsā (baik laki-laki ataupun perempuan), yakni baik pria maupun wanita.

Wa huwa mu’minun (sedangkan ia adalah seorang mukmin), yakni selain itu dia juga seorang mukmin yang tulus dalam keimanannya.

Fa ulā-ika yadlkhulūnal jannata yurzaqūna (maka mereka akan masuk surga, mereka akan diberi rezeki), yakni akan diberi makan.

Fīhā (di dalamnya), yakni di dalam surga.

Bi ghairi hisāb (tanpa hisab), yakni tanpa upaya, tanpa ukuran, dan tanpa takaran.


Link untuk Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-24

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Orang yang beriman itu berkata[21], “Wahai kaumku! Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar[22].

[21] Mengulangi nasihatnya kepada kaumnya.

[22] Tidak seperti yang dikatakan Fir’aun kepada kamu, maka sesungguhnya dia tidak menunjukkan kepadamu selain kesesatan dan kesengsaraan.

  1. Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara)[23] dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal[24].

[23] Oleh karena itu, janganlah kamu tertipu sehingga kamu lupa terhadap tujuan kamu diciptakan.

[24] Oleh karena itu, seharusnya kamu mengutamakannya dan mencari jalan agar kamu dapat bahagia di sana.

  1. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh[25] baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga[26].

[25] Baik yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badan.

[26] Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan memberikan rezeki kepada mereka yang tidak dicapai oleh amal mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang yang beriman itu berkata, “Hai kaumku! Ikutilah aku) dapat dibaca Ittabi’uuni atau Ittabi’uuniy tanpa atau dengan Ya Mutakallim (aku akan menunjukkan kepada kalian jalan yang benar) penafsirannya sebagaimana yang telah lalu.
  2. (Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara) kesenangan yang bersifat sementara lenyap (dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.)
  3. (Barang siapa yang mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga) dapat dibaca Yudkhaluuna atau Yadkhuluuna (mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab) diberi rezeki yang banyak tanpa perhitungan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Orang mukmin dari kalangan keluarga Fir’aun itu berkata kepada kaumnya yang membangkang terhadap kebenaran, dan bersikap melampaui batas serta lebih memilih kehidupan dunia dan melupakan Tuhan Yang Maha Mengalahkan lagi Maha Tinggi. Untuk itu ia mengatakan kepada mereka:

Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. (Al-Mu’min: 38)

Tidak sebagaimana yang dikatakan oleh Fir’aun yang dusta, yaitu:

dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar. (Al-Mu’min: 29)

Kemudian laki-laki mukmin itu menganjurkan kepada kaumnya agar bersikap zuhud (menjauhi) keduniawian yang di masa itu lebih diprioritaskan oleh mereka ketimbang perkara akhirat, hingga keduniawian itu menghalang-halangi mereka untuk membenarkan utusan Allah Musa a.s. untuk itu ia berkata:

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara). (Al-Mu’min: 39)

Yakni sedikit lagi akan hilang dan fana; dalam waktu sebentar ia akan menyurut, kemudian lenyap.

dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah negeri yang kekal. (Al-Mu’min: 39)

Yaitu negeri yang tidak akan lenyap, tidak akan ada perpindahan lagi darinya, dan tidak akan pergi lagi menuju negeri lain; bahkan adakalanya kehidupan yang nikmat selamanya atau kehidupan neraka yang selamanya. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. (Al-Mu’min: 40)

Maksudnya, balasan yang setimpal dengan kejahatan tersebut.

Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. (Al-Mu’min: 40)

Yakni balasannya tidak tertakarkan lagi, bahkan Allah memberinya pahala yang banyak, yang tiada putus-putusnya dan tiada habis-habisnya. Hanya Allah Swt. sajalah yang memberi taufik ke jalan yang benar.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMenyeru Kepada Keselamatan
Berita berikutnyaMembuat Bangunan yang Tinggi