Kerasulan dan Al-Qur’an

Tafsir Al-Qur’an: Surah Az-Zukhruf ayat 30-32

0
1156

Kajian Tafsir: Surah Az-Zukhruf ayat 30-32. Protes terhadap kerasulan Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an, juga penjelasan terhadap kerendahan dunia di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ وَإِنَّا بِهِ كَافِرُونَ (٣٠) وَقَالُوا لَوْلا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ (٣١) أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٣٢)

Tetapi ketika kebenaran (Al-Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami mengingkarinya. Dan mereka juga berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu (di antara) dua negeri ini (Mekah dan Thaif)?” Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Q.S. Az-Zukhruf : 30-32)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lammā jā-ahumul haqqu (dan ketika kebenaran itu datang kepada mereka), yakni Al-Kitab dan rasul.

Qālū hādzā (berkatalah mereka, “Ini), yakni Al-Kitab ini.

Sihrun (adalah sihir), yakni kebohongan.

Wa innā bihī kafirūn (dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang kafir kepadanya”), yakni orang-orang yang kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa qālū (dan mereka berkata), yakni orang-orang kafir Mekah, al-Walid dan kawan-kawannya, berkata ….

Lau lā nuzzila hādzāl qur-ānu ‘alā rajulim minal qaryataini ‘azhīm (mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini), yakni kepada seorang yang besar (kedudukannya), seperti al-Walid bin al-Mughirah dan Abu Mas‘ud ats-Tsaqafi yang masing-masing berasal dari Mekah dan Thaif.

A hum yaqsimūna rahmata rabbik (apakah mereka yang membagi-bagikan Rahmat Rabb-mu), yakni membagi-bagikan Kenabian dan Kitab Rabb-mu kepada orang yang mereka kehendaki.

Nahnu qasamnā bainahum ma‘īsyatahum (Kami-lah yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan mereka) berupa anak dan kekayaan.

Fil hayātid dun-yā wa rafa‘na ba‘dlahum fauqa ba‘dliη darajātin (dalam kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat), yakni beberapa keutamaan dalam hal kekayaan dan anak.

Li yattakhidza ba‘dluhum ba‘dlaη sukhriyyā (agar sebagian mereka dapat mempekerjakan sebagian lainnya), yakni mempekerjakan sebagai pelayan dan budak.

Wa rahmatu rabbika (dan rahmat Rabb-mu), yakni kenabian dan kitab. Menurut yang lain, surga bagi kaum Mukminin.

Khairum mimmā yajma‘ūn (lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan), yakni daripada kekayaan dan kesenangan yang dikumpulkan oleh orang-orang kafir di dunia.


Link untuk Kajian Tafsir Al Qur’an Juz Ke-25

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Tetapi ketika kebenaran (Al-Qur’an)[12] itu datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami mengingkarinya[13].

[12] Dimana kebenaran itu mengharuskan orang yang memiliki akal meskipun kurang sempurna untuk menerima dan tunduk kepadanya.

[13] Ini merupakan penentangan yang paling keras, dimana mereka tidak hanya berpaling dan mengingkari, bahkan mereka belum puas sampai mencacatkan kebenaran dan memperburuk citranya dan menganggapnya sebagai sihir yang tidak dilakukan kecuali oleh orang yang paling buruk dan paling besar kedustaannya, dan yang membuat mereka begitu adalah karena sikap melampaui batas mereka karena Allah telah menganugerahkan kesenangan kepada mereka dan nenek moyang mereka.

  1. Dan mereka juga berkata[14], “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu (di antara) dua negeri ini (Mekah dan Thaif)[15]?”

[14] Memberikan usulan berdasarkan akal mereka yang rusak.

[15] Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad ﷺ, karena menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu hendaklah seorang yang kaya raya dan berpengaruh.

Kalau sekiranya mereka mengetahui hakikat laki-laki sejati dan sifat yang dengannya diketahui tingginya kedudukan seseorang di sisi Allah maupun di sisi makhluk-Nya, tentu mereka akan mengetahui, bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib adalah laki-laki yang paling besar kedudukannya, paling tinggi kemuliaannya, paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya, paling tajam dan kuat pendapatnya, paling sempurna akhlaknya, paling luas kasih sayangnya, paling banyak memberikan petunjuk dan paling takwa kepada-Nya. Beliau adalah laki-laki yang paling sempurna, laki-laki nomor satu di dunia; diakui oleh kawan maupun lawan. Oleh karena itu, hanya orang yang dungu saja yang tidak mengakui keutamaan dan kemuliaan Beliau, yaitu orang-orang yang berdoa dan beribadah kepada sesuatu yang lebih lemah dari dirinya, seperti patung, berhala, batu, pohon, dsb. yang tidak dapat menimpakan bahaya dan tidak dapat memberikan manfaat, tidak dapat memberi dan menghalangi, bahkan menjadi beban bagi penyembahnya, perlu diurusnya dan dijaga. Bukankah ini menunjukkan kebodohannya dan tidak dapat menimbang sesuatu secara adil dan tepat?

  1. [16]Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu[17]? [18]Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia[19], dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain[20]. Dan rahmat Tuhanmu[21] lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan[22].

[16] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman membantah usulan mereka.

[17] Maksudnya, apakah mereka yang menyimpan rahmat Tuhanmu (seperti kenabian, dsb.) dan di tangan mereka hak mengaturnya, sehingga mereka memberikan kenabian dan kerasulan kepada orang yang mereka kehendaki dan mencegahnya dari orang yang mereka kehendaki.

[18] Jika penghidupan manusia dan rezeki mereka di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Dia yang membagikannya di antara hamba-hamba-Nya, Dia yang melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya kepada siapa yang Dia kehendaki sesuai kebijaksanaan-Nya, maka rahmat agama; dimana yang paling tinggi adalah kenabian dan kerasulan lebih patut berada di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sehingga Dialah yang paling tahu dimanakah Dia menaruh risalah-Nya. Dari sini diketahui, bahwa usulah mereka gugur dengan sendirinya, dan bahwa mengatur segala urusan baik yang terkait dengan agama maupun dunia adalah di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja. Hal ini untuk menundukkan mereka dari sisi kesalahan mereka dalam memberikan usulan yang bukan di tangan mereka urusan tentang hal itu, bahkan hal itu sebenarnya sikap zalim mereka dan penolakan terhadap yang hak.

[19] Yakni oleh karena itu, Kami jadikan sebagian mereka sebagai orang kaya dan sebagian lagi sebagai orang miskin.

[20] Dalam ayat ini terdapat pengingat dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala terhadap hikmah mengapa Dia melebihkan sebagian hamba di atas sebagian yang lain di dunia, yaitu agar sebagian dapat dimanfaatkan oleh orang lain dengan mendapat upah. Jika seandainya manusia semuanya sama kaya, dan sebagiannya tidak membutuhkan yang lain, maka tentu banyak maslahat mereka yang hilang.

[21] Yaitu surga.

[22] Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa nikmat agama jauh lebih baik daripada nikmat dunia.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan tatkala kebenaran itu datang kepada mereka) yakni Al-Qur’an (mereka berkata, “Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.”)
  2. (Dan mereka berkata, “Mengapa tidak) kenapa tidak (diturunkan Al-Qur’an ini kepada seorang besar dari) kalangan penduduk (da negeri) yakni Mekah dan Madinah, maksudnya dari salah satu antara keduanya (yang besar ini?”) yang dimaksud oleh mereka adalah Al Walid Ibnu Mughirah di Mekah, atau Urwah ibnu Mas’ud Ats Tsaqafi di Thaif.
  3. (Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu?) yang dimaksud dengan rahmat adalah kenabian (Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia) maka Kami jadikan sebagian dari mereka kaya dan sebagian lainnya miskin (dan Kami telah meninggikan sebagian mereka) dengan diberi kekayaan (atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan) golongan orang-orang yang berkecukupan (sebagian yang lain) atas golongan orang-orang yang miskin (sebagai pekerja) maksudnya, pekerja berupah; huruf Ya di sini menunjukkan makna Nasab, dan menurut suatu qiraat lafal Sukhriyyan dibaca Sikhriyyan yaitu dengan dikasrahkan huruf Sin-nya (Dan rahmat Rabbmu) yakni surga Rabbmu (lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan) di dunia.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

Dan tatkala kebenaran (Al-Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.” (Az-Zukhruf: 30)

Mereka sombong, mengingkarinya dan menolak perkara yang hak itu dengan segala upaya karena kafir, dengki, dan kelewat batas.

Dan mereka berkata. (Az-Zukhruf: 31)

dengan nada mengkritik Allah Swt. yang telah menurunkannya.

Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? (Az-Zukhruf: 31)

Alangkah baiknya jika Al-Qur’an ini diturunkan kepada seorang lelaki yang dipandang besar lagi terkemuka menurut pandangan mereka dari salah satu dua kota ini. Mereka bermaksud kota Mekah dan kota Taif. Demikianlah menurut Ibnu Abbas r.a, Ikrimah, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Zaid. Dan bukan hanya seorang dari kalangan mereka telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lelaki itu adalah Al-Walid ibnul Mugirah dan Urwah ibnu Mas’ud As-Saqafi.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, Ad-Dahhak, dan As-Saddi, bahwa yang mereka maksudkan adalah Al-Walid ibnul Mugirah dan Mas’ud ibnu Amr As-Saqafi. Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang mereka maksudkan adalah Umair ibnu Amr ibnu Mas’ud As-Saqafi. Dan menurut riwayat lain yang juga bersumber dari Mujahid, yang mereka maksudkan adalah Atabah ibnu Rabi’ah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang dimaksud adalah dua orang lelaki yang sewenang-wenang dari kalangan Quraisy. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang mereka maksudkan adalah Al-Walid ibnul Mugirah dan Habib ibnu Amr ibnu Umair As-Saqafi. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa yang mereka maksudkan adalah Atabah ibnu Rabi’ah dari Mekah, dan Ibnu Abdu Yalil dari Taif. As-Saddi mengatakan, yang mereka maksudkan adalah Al-Walid ibnul Mugirah dan Kinanah ibnu Amr ibnu Umair As-Saqafi.

Pada garis besarnya yang mereka maksudkan adalah seorang lelaki besar dari salah satu di antara kedua kota tersebut, siapa pun dia.

Maka Allah Swt. berfirman, menjawab kritikan ini:

Apakah mereka membagi-bagi rahmat Tuhanmu? (Az-Zukhruf: 32)

Yakni urusan ini bukanlah mereka yang menentukannya, melainkan hanyalah Allah Swt. Allah lebih mengetahui di manakah Dia meletakkan risalah-Nya. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali Dia menurunkan Al-Qur’an ini melainkan kepada makhluk yang paling suci hati dan jiwanya, serta paling mulia dan paling suci rumah dan keturunannya.

Kemudian Allah Swt. menjelaskan bahwa Dia telah membeda-bedakan di antara makhluk-Nya dalam membagikan pemberian-Nya kepada mereka berupa harta, rezeki, akal, dan pengertian serta pemberian lainnya yang menjadi kekuatan lahir dan batin bagi mereka. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. (Az-Zukhruf: 32). hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Swt.:

agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain sebagai pekerja. (Az-Zukhruf: 32)

Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah agar sebagian dari mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, karena yang lemah memerlukan yang kuat dan begitu pula sebaliknya. Demikianlah menurut pendapat Qatadah dan lain-lainnya. Qatadah dan Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah agar sebagian dari mereka dapat menguasai sebagian yang lain; pendapat ini semakna dengan pendapat di atas. Kemudian Allah Swt. berfirman:

Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (Az-Zukhruf: 32)

Artinya, rahmat Allah kepada makhluk-Nya lebih baik bagi mereka daripada harta benda dan kesenangan duniawi yang ada di tangan mereka.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKeduniawian yang Fana dan Pasti Lenyap
Berita berikutnyaKeteguhan Nabi Ibrahim di Atas Kalimat Tauhid