Pentingnya Istiqamah di Atas Agama

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ahqaf ayat 11-14

0
737

Kajian Tafsir: Surah Al-Ahqaf ayat 11-14. Menetapkan kerasulan Muhammad ﷺ, tugas Beliau ﷺ adalah menyampaikan, pembenaran kitab-kitab samawi terhadap kerasulan Beliau ﷺ dan pentingnya istiqamah di atas agama. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ (١١) وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ (١٢) إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٣) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤)

Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya (Al-Qur’an) itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.” Dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan (Al-Qur’an) ini adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Ahqaf : 11-14)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālal ladzīna kafarū (dan orang-orang kafir berkata), yaitu Asad, Ghathafan, dan Hanzhalah.

Lil ladzīna āmanū (kepada orang-orang yang beriman), yakni kepada Juhainah, Mazinah, dan Aslam.

Lau kāna khairan (“Sekiranya hal itu baik), yakni sekiranya yang dikatakan Muhammad itu baik dan benar.

Mā sabaqūnā ilaih (tentulah mereka tidak akan mendahului kami [beriman] kepadanya”), yakni Juhainah, Mazinah, dan Aslam tidak akan mendahului kami (beriman) kepadanya.

Wa idz lam yahtadū bihī (dan karena mereka tidak memperoleh petunjuk dengannya), yakni karena Asad dan Ghathafan tidak beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Fa sayaqūlūna hādzā ifkung qadīm (maka mereka akan berkata, “Ini adalah kebohongan yang lama”), yakni Al-Qur’an ini merupakan kebohongan yang sudah lama.

Wa ming qablihī (dan sebelumnya), yakni sebelum Al-Qur’an.

Kitābu mūsā (ada kitab Musa), yaitu Taurat.

Imāman (sebagai petunjuk) yang senantiasa diikuti.

Wa rahmah (dan rahmat) dari azab bagi siapa pun yang mengimaninya. Akan tetapi, mereka tidak mengimaninya dan tidak pula mengikutinya.

Wa hādzā kitābun (dan ini adalah kitab), yakni Al-Qur’an ini adalah kitab.

Mushaddiqun (yang membenarkan), yakni yang sesuai dengan Taurat dalam hal tauhid serta sifat dan gambaran Nabi Muhammad ﷺ.

Lisānan ‘arabiyyan (dalam bahasa Arab), yakni yang diungkapkan dalam bahasa Arab.

Li yuηdzira (untuk memberikan peringatan), yakni untuk menakut-nakuti.

Alladzīna zhalamū (kepada orang-orang zalim), yakni orang-orang musyrik.

Wa busyrā lil muhsinīn (serta kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik), yakni bagi kaum mukminin berupa surga.

Innal ladzīna qālū rabbunallāhu (sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami adalah Allah), yakni yang mengesakan Allah Ta‘ala.

Tsummastaqāmū (kemudian mereka tetap teguh) dalam menjalankan berbagai kewajiban dari Allah Ta‘ala seraya menjauhi berbagai kemaksiatan, serta tidak melakukan akal-akalan seperti seekor rubah.

Fa lā khaufun ‘alaihim (maka tidak ada kekhawatiran atas mereka) terhadap azab yang siap menghadang mereka.

Wa lā hum yahzanūn (dan tidak pula mereka akan bersedih hati) oleh apa yang mereka tinggalkan. Ada yang mengemukakan, fa lā khaufun ‘alaihim (maka tidak ada kekhawatiran atas mereka) ketika ahli neraka merasa ketakutan; wa lā hum yahzanūn (dan tidak pula mereka akan bersedih hati) tatkala yang lainnya berdukacita.

Ulā-ika ash-hābul jannati khālidīna fīhā (mereka adalah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya), yakni langgeng di dalam surga. Mereka tidak akan mati dan tidak pula akan dikeluarkan dari dalamnya.

Jazā-am bimā kānū ya‘malūn (sebagai balasan atas apa yang dahulu mereka perbuat) dan mereka katakan ketika di dunia.


Link untuk Kajian Tafsir Juz Ke-26

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan orang-orang yang kafir berkata[29] kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya (Al-Qur’an)[30] itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya[31]. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.”[32]

[29] Menolak kebenaran lagi menentangnya.

[30] Ada pula yang menafsirkan dengan “beriman.”

[31] Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan, kalau sekiranya Al-Qur’an ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka itu, yaitu orang-orang miskin dan lemah seperti Bilal, ‘Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan lain-lain. Padahal siapakah yang lebih bersih jiwanya dan sempurna akalnya daripada orang-orang mukmin itu? Ucapan yang muncul dari mereka ini, mereka maksudkan untuk menghibur diri mereka seperti halnya orang yang tidak mendapatkan sesuatu lalu segera mencelanya.

[32] Ini sebab mereka berkata seperti itu, yakni karena mereka tidak mendapat petunjuk dari Al-Qur’an ini dan kehilangan pemberian yang paling besar serta harapan yang paling agung, maka mereka berkata bahwa Al-Qur’an adalah dusta, padahal ia adalah kebenaran yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya; yang sesuai dengan kitab-kitab samawi (dari langit), khususnya kitab samawi yang paling lengkap dan paling utama setelah Al-Qur’an yaitu Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi Bani Israil sehingga mereka memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.

  1. Dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan (Al-Qur’an) ini adalah kitab yang membenarkannya[33] dalam bahasa Arab[34] untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim[35] dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik[36].

[33] Yakni membenarkan kitab-kitab yang terdahulu, ia (Al-Qur’an) menjadi saksi terhadap kebenaran kitab-kitab itu dan ia (Al-Qur’an) dibenarkan pula oleh kitab-kitab sebelumnya.

[34] Agar mudah diterima dan mudah dipelajari.

[35] Yang menzalimi diri mereka dengan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan jika mereka tetap terus di atasnya, yaitu diberi peringatan dengan azab yang buruk.

[36] Baik dalam beribadah kepada Tuhan mereka maupun dalam memberikan manfaat kepada manusia, yaitu diberi kabar gembira dengan pahala yang banyak, di dunia dan akhirat.

  1. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah[37], tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati[38].

[37] Istiqamah ialah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal saleh.

[38] Yakni mereka yang mengakui Tuhan mereka, menyaksikan keesaan-Nya dan menaati-Nya serta konsisten di atasnya selama mereka masih hidup, maka tidak ada kekhawatiran atas mereka terhadap keburukan yang ada di hadapan mereka dan tidak pula mereka bersedih hati terhadap yang mereka tinggalkan di belakang mereka.

  1. Mereka itulah para penghuni surga[39], kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan[40].

[39] Mereka tidak ingin pindah darinya dan mencari gantinya. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar (ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka). Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Amin Yaa Rabbal ‘alamiin.

[40] Berupa iman yang menghendaki amal saleh dan istiqamah di atasnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sebelumnya) sebelum Al-Qur’an (telah ada kitab Musa) kitab Taurat (sebagai petunjuk dan rahmat) bagi orang-orang yang beriman kepadanya; lafal Imaaman dan Rahmatan keduanya merupakan Hal. (Dan ini) yaitu Alquran (adalah Kitab yang membenarkan) kitab-kitab sebelumnya (dalam bahasa Arab) menjadi Hal dari Dhamir yang terkandung di dalam lafal Mushaddiquun (untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang lalim) yakni orang-orang musyrik Mekah (dan) dia adalah (memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik) yakni orang-orang yang beriman.
  2. (Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka beristiqamah) atau menetapi ketaatan (maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita.)
  3. (Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya) lafal Khaalidiina Fiihaa menjadi Hal atau kata keterangan keadaan (sebagai balasan) menjadi Mashdar yang dinashabkan oleh Fi’ilnya yang diperkirakan keberadaannya, yaitu lafal Yujzauna; artinya: mereka diberi pahala sebagai balasan (atas apa yang telah mereka kerjakan.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Kalau sekiranya dia (Al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.” (Al-Ahqaf: 11)

Yakni mereka mengatakan tentang orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an bahwa sekiranya Al-Qur’an itu baik, tentulah mereka tidak akan mendahului kami dalam beriman kepadanya. Yang mereka maksudkan adalah Bilal, Ammar, Suhaib, dan Khabbab serta orang-orang mukmin lainnya yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang mukmin yang lemah dan masih menjadi budak.

Tidaklah mereka berpendapat demikian, melainkan mereka mempunyai keyakinan bahwa diri mereka mempunyai kedudukan di mata Allah dan diperhatikan oleh-Nya. Mereka berpandangan keliru dalam hal ini dan jelas parah kekeliruannya, karena disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا

Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian lain (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Al-An’am: 53)

Yakni mereka merasa heran mengapa orang-orang seperti itu mendapat petunjuk, sedangkan diri mereka tidak. Karena itulah disebutkan oleh firman berikutnya:

Kalau sekiranya dia (Al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. (Al-Ahqaf: 11)

Adapun golongan ahli sunnah wal jamaah mengatakan tentang semua perbuatan dan ucapan yang tidak terbukti bersumber dari para sahabat berarti hal itu adalah bid’ah. Karena sesungguhnya seandainya hal itu baik, tentulah mereka mendahului kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya tiada suatu perkara kebaikan pun yang mereka biarkan melainkan mereka (para sahabat) bersegera mengerjakannya

Firman Allah Swt.:

Dan Karena  mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, ‘Ini adalah dusta yang lama.” (Al-Ahqaf. 11)

Yakni apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu adalah dusta yang lama. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa Al-Quran itu dikutip dan orang-orang dahulu. Mereka mendiskreditkan Al-Qur’an dan orang-orang yang beriman kepadanya. Hal inilah yang dinamakan sifat takabur yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya yang mengatakan:

بَطَرُ الْحَقِّ، وغَمْط النَّاسِ

Menentang perkara yang hak (benar) dan meremehkan orang.

kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa. (Al-Ahqaf: 12)

Yakni kitab Taurat.

sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya. (Al-Ahqaf: 12)

Maksudnya, membenarkan kitab-kitab yang telah mendahuluinya.

dalam bahasa Arab. (Al-Ahqaf: 12)

Yakni bahasa yang fasih, terang, dan jelas.

untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ahqaf: 12)

Al-Qur’an itu mengandung peringatan buat orang-orang kafir dan berita gembira buat orang-orang mukmin.

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan  ” Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah. (Al-Anqaf: 13)

Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam tafsir surat Ha Mim Sajdah.

Firman Allah Swt.:

maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-Ahqaf: 13)

dalam menghadapi masa depan mereka.

dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al-Ahqaf: 13)

terhadap masa lalu mereka.

Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf: 14)

Yakm amal-amal perbuatan yang dahulu telah mereka kerjakan yang menyebabkan mereka memperoleh rahmat Allah yang terlimpahkan kepada mereka.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPentingnya Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Berita berikutnyaPembenaran Kitab-kitab Samawi Terhadap Kerasulan