Berpegang kepada ‘Aqidah yang Batil

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ahqaf, Ayat 6-8

0
959

Kajian Tafsir: Surah Al-Ahqaf, Ayat 6-8. Batilnya keyakinan syirk, pengingkaran kaum musyrik kepada kebenaran dan mereka berpegang kepada ‘aqidah yang batil. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (٦) وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (٧) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٨)

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya. Dan apabila mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata ketika kebenaran itu datang kepada mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.” Bahkan mereka berkata, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al-Qur’an).” Katakanlah, “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tidak kuasa sedikit pun menghindarkan aku dari (azab) Allah. Dia lebih tahu apa yang kamu percakapkan tentang Al-Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idzā husyiran nāsu (dan ketika manusia dikumpulkan) pada hari kiamat.

Kānū lahum a‘dā-an (berhala-berhala itu pun menjadi musuh mereka), yakni musuh orang-orang yang menyembahnya.

Wa kānū bi ‘ibādatihim kāfirīn (dan berhala-berhala itu mengingkari pula penyembahan terhadap mereka), yakni menolak penyembahan orang-orang yang menyembahnya.

Wa idzā tutlā ‘alaihim (dan apabila dibacakan kepada mereka), yakni kepada orang-orang kafir Mekah.

Āyātunā (Ayat-ayat Kami), yakni Al-Qur’an.

Bayyinātin (yang jelas), yakni yang gamblang, berkenaan dengan perintah dan larangan.

Qālal ladzīna kafarū (berkatalah orang-orang yang kafir), yakni orang-orang kafir Mekah.

Lil haqqi (kepada kebenaran), yakni kepada Al-Qur’an.

Lammā jā-ahum (ketika ia datang kepada mereka), yakni ketika Nabi Muhammad ﷺ datang membawa kebenaran kepada mereka.

Hādzā sihrum mubīn (“Ini adalah sihir yang nyata”), yakni kebohongan yang jelas.

Am yaqūlūna (atau mereka mengatakan), yakni bahkan mereka mengatakan.

Iftarāh (“Dia telah mengada-adakannya”), yakni Muhammad telah mereka-reka Al-Qur’an sesuai dengan keinginan dirinya.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Iniftaraituhū (“Jika aku mengada-adakannya), yakni jika aku mereka-reka Al-Qur’an sesuai keinginanku, sebagaimana yang kalian katakan.

Fa lā tamlikūna lī (maka tiadalah kalian memiliki kekuasaan untuk [menolong] aku), yakni kalian tidak akan sanggup (menolong) aku.

Minallāhi (dari Allah), yakni dari Azab Allah.

Syai-ā, huwa a‘lamu bi mā tufīdlūna fīh (sedikit pun. Dia lebih mengetahui apa yang kalian percakapkan tentang Al-Qur’an itu), yakni kebohongan yang kalian berbincangkan tentang Al-Qur’an.

Kafā bihī (cukuplah Dia), yakni cukuplah Allah Ta‘ala.

Syahīdam bainī wa bainakum (sebagai saksi antara aku dan kalian) bahwasanya aku adalah Rasul-Nya dan Al-Qur’an adalah Firman-Nya.

Wa huwal ghafūru (dan Dia-lah Yang Maha Pengampun) kepada siapa pun yang bertobat di antara kalian.

Ar-rahīm (lagi Maha Penyayang”) kepada orang-orang yang wafat dalam keadaan bertobat.


Link untuk Kajian Tafsir Juz Ke-26

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.
  2. Dan apabila mereka[13] dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas[14], orang-orang yang kafir berkata ketika kebenaran itu datang kepada mereka, “Ini adalah sihir yang nyata[15].

[13] Orang-orang yang mendustakan itu.

[14] Yang tidak menyisakan keraguan, namun ternyata tidak memberikan kebaikan bagi mereka, bahkan hanya menegakkan hujjah dan mereka malah berkata yang keluar dari kedustaan mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.”

[15] Ini merupakan pemutarbalikkan hakikat, dimana hal ini hanya laris di kalangan orang-orang yang lemah akal, karena antara kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ dengan sihir terdapat perbedaan dan pertentangan yang jauh sebagaimana jauhnya langit dan bumi. Oleh karena itu, bagaimana mungkin kebenaran yang tinggi dan menjulang ke langit, diperkuat oleh dalil-dalil baik yang ada di cakrawala dan oleh apa yang ada pada diri manusia, diakui oleh orang-orang yang berpandangan tajam dan berakal cerdas kemudian sama dengan sihir yang merupakan kebatilan, dimana ia tidak muncul kecuali dari orang yang sesat, zalim, berjiwa kotor dan beramal buruk?

  1. Bahkan mereka berkata, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al-Qur’an)[16].” Katakanlah, “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tidak kuasa sedikit pun menghindarkan aku dari (azab) Allah[17]. Dia lebih tahu apa yang kamu percakapkan tentang Al-Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antara aku dan kamu[18]. Dia Maha Pengampun[19] lagi Maha Penyayang[20].

[16] Yakni berasal dari dirinya, bukan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

[17] Yakni jika Dia mengazabku, karena Dia Mahakuasa terhadapku.

[18] Oleh karena itu, kalau aku berani mengada-ada terhadap-Nya, tentu Dia bertindak keras terhadapku dan menghukumku dengan hukuman yang dilihat semua orang. Selanjutnya, Beliau mengajak mereka bertobat terhadap hal yang muncul dari mereka berupa menentang yang hak dan memusuhinya, yaitu pada kata-kata, “Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[19] Bagi orang yang bertobat.

[20] Sehingga Dia tidak segera menghukum mereka. Oleh karena itu, bertobatlah kalian kepadanya dan berhentilah dari apa yang kalian kerjakan selama ini, niscaya Dia akan mengampuni dosamu dan merahmatimu; Dia akan memberimu taufiq kepada kebaikan dan membalasmu dengan pahala yang besar.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sesembahan-sesembahan itu) berhala-berhala itu (terhadap mereka) yang menyembahnya (menjadi musuh mereka dan sesembahan-sesembahan itu terhadap penyembahan) para penyembahnya (ingkar) menyangkalnya.
  2. (Dan apabila dibacakan kepada mereka) kepada penduduk Mekah (ayat-ayat Kami) yakni Al-Qur’an (yang menjelaskan) atau yang jelas keadaannya (berkatalah orang-orang yang ingkar) di antara mereka (kepada kebenaran) kepada Al-Qur’an (ketika kebenaran itu datang kepada mereka, “Ini adalah sihir yang nyata”) jelas sihirnya.
  3. (Bahkan) lafal Am di sini mempunyai makna sama dengan lafal Bal dan Hamzah yang menunjukkan makna ingkar (mereka mengatakan, “Dia telah mengada-adakannya”) maksudnya, Al-Qur’an itu. (Katakanlah, “Jika aku mengada-adakannya) umpamanya (maka kalian tiada mempunyai kuasa mempertahankan aku dari Allah) dari azab-Nya (barang sedikit pun) artinya, kalian tidak akan mampu menolak azab-Nya daripada diriku, jika Dia mengazab aku (Dia lebih mengetahui apa-apa yang kalian percakapkan tentangnya) tentang Al-Qur’an itu. (Cukuplah Dia) Yang Maha Tinggi (menjadi saksi antaraku dan antara kalian dan Dialah Yang Maha Pengampun) kepada orang yang bertobat (lagi Maha Penyayang”) kepada orang yang bertobat kepada-Nya; karena itu Dia tidak menyegerakan azab-Nya kepada mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (Al-Ahqaf: 6)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا كَلا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka, sekali-kali tidak Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam: 81-82)

Yakni berhala-berhala yang mereka puja-puja itu akan mengkhianati mereka di saat-saat mereka sangat memerlukan pertolongannya. Al-Khalil alias Nabi Ibrahim a.s. telah mengatakan, seperti yang disitir oleh firman Allah Swt:

إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sesungguhnya berhala-behala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada para penolong bagimu. (Al-‘Ankabut:25)

Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang musyrik dalam kekafiran dan keingkaran mereka, bahwa apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang menerangkan yakni yang jelas, terang, dan gamblang-mereka mengatakan:

Ini adalah sihir yang nyata. (Al-Ahqaf: 7)

Yakni sihir yang jelas, padahal mereka dusta dan mengada-ada, dan mereka sesat lagi kafir.

Bahkan mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al-Qur’an).” (Al-Ahqaf: 8)

Yang mereka maksudkan dengan dia adalah Muhammad ﷺ bahwa Al-Qur’an itu adalah buatan Muhammad. Maka Allah Swt. berfirman:

Katakanlah, “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. (Al-Ahqaf: 8)

Yakni seandainya aku berdusta terhadap-Nya dan mengaku-aku bahwa Dia telah mengutusku, padahal kenyataannya tidaklah demikian, tentulah Dia menghukumku dengan hukuman yang amat keras. Dan tiada seorang penduduk bumi pun, tidak pula kalian atau selain kalian yang dapat melindungiku dari azab-Nya. Semakna dengan apa yang telah disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا إِلا بَلاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالاتِهِ

Katakanlah, “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya.” Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. (Al-Jin: 22-23)

Dan firman Allah Swt.:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ. لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ. ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ. فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (Al-Haqqah: 44-47)

Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya dalam surat ini:

Katakanlah, “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al-Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu. (Al-Ahqaf: 8)

Ini merupakan ancaman yang ditujukan kepada mereka dan peringatan yang amat keras lagi menakutkan.

Firman Allah Swt.:

Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Ahqaf:8)

Makna ayat ini mengandung anjuran bagi mereka untuk segera bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Yakni sekalipun dengan sikap kalian yang demikian itu, jika kalian kembali kejalan-Nya dan bertobat kepada-Nya niscaya Dia menerima tobat kalian dan memaafkan, mengampuni kalian serta merahmati kalian. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا. قُلْ أَنزلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan mereka berkata, “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu diminta supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah “Al-Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) Yang Maha mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 5-6)

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaTugas Kerasulan Muhammad ﷺ
Berita berikutnyaTuhan yang Memiliki Keperkasaan