Benar-benar dalam Berbeda-beda Pendapat

Tafsir Al-Qur’an: Surah Adz-Dzaariyat ayat 7-9

0
712

Kajian Tafsir: Surah Adz-Dzaariyat ayat 7-9. Sikap kaum musyrik terhadap adanya kebangkitan. Mereka benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ (٧) إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ (٨) يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ (٩)

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. sungguh, kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat. dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Q.S. Adz-Dzaariyat : 7-9)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Was samā-i dzātil hubuk (demi langit yang mempunyai jalan-jalan). Ini merupakan Sumpah (Allah) lainnya. Dia bersumpah dengan langit dzātil hubuk (yang mempunyai jalan-jalan), yakni yang mempunyai keelokan, keindahan, simetris dan jalan-jalan. Ada yang berpendapat, yang mempunyai bintang-bintang, matahari, dan bulan. Ada pula yang berpendapat, dzātil hubuk (yang mempunyai jalan-jalan) seperti jalan-jalan (alur) di atas air yang diterpa angin, atau seperti jalan-jalan (alur) di atas pasir yang disapu angin, atau seperti jalan-jalan (alur) pada rambut yang kriting, atau seperti jalan-jalan (alur) pada baju besi. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud adalah langit ke tujuh. Allah Ta‘ala Bersumpah dengannya.

Innakum (sesungguhnya kalian), hai penduduk Mekah!

La fī qaulim mukhtalif (benar-benar dalam perkataan yang berbeda-beda), yakni ada yang membenarkan Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an serta ada pula yang mendustakan keduanya.

Yu’faku ‘anhu (dipalingkan darinya), yakni dipalingkan dari Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Man ufik (orang yang dipalingkan), yakni orang yang benar-benar telah dipalingkan dari kebenaran dan petunjuk. Mereka adalah al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi, Abu Jahl bin Hisyam, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf, Munabbih bin al-Hajajj, dan Nabih bin al-Hajjaj. Mereka telah berupaya memalingkan orang-orang dari Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an dengan jalan kebohongan dan penipuan. Semoga Allah Ta‘ala Melaknat mereka semua.


Link untuk Kajian Tafsir Juz Ke-26

Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Demi langit yang mempunyai jalan-jalan[6],

[6] Maksudnya adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet.

  1. sungguh, kamu[7] benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat[8],

[7] Wahai orang-orang yang mendustakan Nabi Muhammad ﷺ.

[8] Maksudnya kaum musyrikin berbeda pendapat tentang Muhammad ﷺ dan Al-Quran. Di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa Beliau adalah penyair, ada pula yang mengatakan bahwa Beliau pesihir, ada pula yang mengataan bahwa Beliau seorang dukun, dan ada pula yang mengatakan bahwa Beliau sebagai orang gila. Sedangkan terhadap Al-Qur’an, mereka menyebutnya sebagai syair, sihir atau perdukunan.

Pendapat mereka yang berbeda-beda terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan Al Qur’an menunjukkan bahwa mereka berada dalam keraguan dan kebimbangan, dan bahwa apa yang mereka pegang adalah batil. Sebaliknya, kebenaran (Al-Qur’an) yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ, yang satu dengan yang lain saling membenarkan, tidak berbeda dan tidak bertentangan. Hal ini menunjukkan kebenarannya dan bahwa ia berasal dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Terj. An Nisaa’: 82)

  1. dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan[9].

[9] Dari hidayah atau dari beriman dalam ilmu Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Demi langit yang mempunyai jalan-jalan) lafal Al Hubuk adalah bentuk jamak dari Habiikah, sama halnya dengan lafal Thariiqah yang bentuk jamaknya Thuruq, yakni sejak ia diciptakan mempunyai jalan-jalan, sebagaimana jalan di padang pasir.
  2. (Sesungguhnya kalian) hai penduduk Mekah terhadap Nabi ﷺ dan Al-Qur’an (benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat) terkadang mengatakannya sebagai penyair, dan terkadang penyihir, dan terkadang peramal, dan terhadap Al-Qur’an terkadang mereka mengatakannya sebagai syair; terkadang sebagai sihir dan terkadang dianggap sebagai ramalan.
  3. (Dipalingkan) dijauhkan (daripadanya) dari Nabi ﷺ dan Al-Qur’an; maksudnya dipalingkan dari beriman kepadanya (orang yang dipalingkan) dari jalan petunjuk, menurut ilmu Allah swt.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. (Adz-Dzariyat: 7)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah langit yang mempunyai keindahan, kemegahan, dan kerapian. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Abu Saleh, As-Saddi, Qatadah, Atiyyah Al-Aufi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan lain-lainnya.

Ad-Dahhak dan Al-Minhal ibnu Amr serta selain keduanya mengatakan bahwa perihalnya sama dengan bergelombang atau beriaknya air, pasir, dan tanam-tanaman manakala diterpa oleh angin; maka sebagian darinya membentuk alur dengan sebagian yang lain alur demi alur, dan inilah yang dimaksud dengan al-hubuk.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari seorang lelaki sahabat Nabi ﷺ, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمُ الْكَذَّابَ الْمُضِلَّ، وَإِنَّ رَأْسَهُ مِنْ وَرَائِهِ حُبُك حُبُك يَعْنِي بِالْحُبُكِ: الْجُعُودَةَ

Sesungguhnya di belakang kalian akan ada seorang pendusta lagi penyesat, dan sesungguhnya (rambut) kepalanya dari belakang (kelihatan) berombak-ombak. Yakni keriting.

Abu Saleh mengatakan, artinya yang mempunyai ikatan yang erat. Dan menurut Khasif, zatul hubuk artinya yang mempunyai kerapian. Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zatul hubuk adalah yang mempunyai ikatan dengan bintang-bintang.

Qatadah telah meriwayatkan dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ma’dan ibnu Abu Talhah, dari Amr Al-Bakkali, dari Abdullah ibnu Amr r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. (Adz-Dzariyat: 7) Yakni langit yang ketujuh, seakan-akan hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dimaksudkan adalah langit yang padanya terdapat bintang-bintang yang tetap (tidak bergerak), yang menurut kebanyakan ulama ahli falak berada di cakrawala yang kedelapan di atas cakrawala yang ketujuh; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Semua pendapat yang disebutkan di atas merujuk kepada satu hal, yaitu menggambarkan tentang keindahan dan kemegahannya, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa termasuk keindahan langit ialah ketinggiannya, pemandangannya yang transparan, kokoh bangunannya, luas cakrawalanya, lagi kelihatan cantik dalam kemegahannya dihiasi dengan bintang-bintang yang tetap dan yang beredar, serta dihiasi dengan matahari, rembulan, dan bintang-bintang yang bercahaya gemerlapan.

Firman Allah Swt.:

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat. (Adz-Dzariyat: 8)

Yaitu sesungguhnya kalian hai orang-orang musyrik yang mendustakan rasul-rasul- benar-benar dalam keadaan berselisih, kacau, tidak rukun, dan tidak bersatu.

Menurut Qatadah, makna ayat ini ialah bahwa sesungguhnya kalian benar-benar berada dalam kekacauan pendapat antara membenarkan dan mendustakan Al-Qur’an.

dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9)

Yakni sesungguhnya yang termakan hanyalah orang yang memang dirinya ditakdirkan sesat. Mengingat yang dikatakan adalah hal yang batil, dan yang termakan olehnya hanyalah orang yang memang ditakdirkan sesat lagi tidak punya pengertian. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ إِلا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ

Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala-nyala. (Ash-Shaffat: 161-163)

Ibnu Abbas r.a. dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9) Yakni disesatkan darinya orang yang disesatkan.

Mujahid mengatakan: dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9) Yakni dijauhkan darinya orang yang dijauhkan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa dipalingkan dari Al-Qur’an orang yang mendustakannya.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaTerkutuklah Orang-orang yang Banyak Berdusta
Berita berikutnyaPembalasan Adalah Benar dan Pasti Terjadi