Perintah Bertasbih pada Sebagian Malam

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ath-Thuur, Ayat 48-49

0
822

Kajian Tafsir: Surah Ath-Thuur, Ayat 48-49, Arahan kepada Rasulullah ﷺ untuk bersabar dalam memikul beban dakwah sampai datang pertolongan Allah dan perintah bertasbih pada sebagian malam dan pada waktu fajar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ (٤٩)

Dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar). (Q.S. Ath-Thuur : 48-49)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa minal laili (dan pada sebagian malam), yakni hingga mulai malam dan setelah masuk waktu malam.

Fa sabbihhu (bertasbihlah kepada-Nya), yakni shalatlah kepada-Nya, yaitu shalat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.

Wa idbāran nujūm (dan pada waktu bintang-bintang terbenam), yakni dua rakaat shalat Subuh.


Di sini Link untuk Kajian Tafsir Juz ke-27

Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [41]dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya[42] dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar)[43].

[41] Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga memerintahkan Rasul-Nya ﷺ agar dapat bersabar dengan berdzikr dan beribadah.

[42] Ada yang menafsirkan dengan shalat di waktu Maghrib dan Isya serta di waktu Fajar (shalat Subuh). Dalam ayat ini terdapat perintah untuk Qiyamullail .

[43] Ada yang menafsirkan dengan waktu Fajar (shalat Subuh).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan pada beberapa saat di malam hari bertasbih pulalah) pengertian bertasbih di sini adalah tasbih hakiki yaitu membaca, ‘Subhaanallaah Wa bihamdihii’ (dan di waktu terbenam bintang-bintang) lafal Idbaar adalah bentuk Mashdar, yakni setelah bintang-bintang itu terbenam maka bertasbih pulalah kamu. Atau lakukanlah salat Isya’ain yaitu Magrib dan Isya, pada

pengertian yang pertama, dan pada pengertian yang kedua adalah salat fajar; menurut pendapat lain salat Subuh.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari. (Ath-Thur: 49)

Yakni berzikirlah dan sembahlah Dia melalui bacaan Al-Qur’an dan salat di tengah malam. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al-Isra: 79)

Adapun firman Allah Swt.:

dan di waktu terbenamnya bintang-bintang (di waktu fajar). (Ath-Thur: 49)

Dalam hadis Ibnu Abbas r.a. telah disebutkan bahwa shalat yang dimaksud ada dua rakaat yang dikerjakan sebelum shalat Subuh, karena sesungguhnya kedua rakaat tersebut dianjurkan untuk dilakukan seiring dengan terbenamnya bintang-bintang.

Ibnu Sailan telah meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’,

لَا تَدَعُوهما، وَإِنْ طَرَدَتْكُمُ الْخَيْلُ

“Janganlah kamu meninggalkan kedua rakaat shalat sunat tersebut sekalipun kamu dikejar oleh pasukan berkuda.”

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

Dan sehubungan dengan hadis ini ada yang diriwayatkan dari sebagian murid Imam Ahmad yang mengatakan bahwa kedua rakaat itu wajib, tetapi riwayat tersebut daif, karena ada hadis yang mengatakan:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ. قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا ؟ قَالَ: لَا إِلَّا أَنَّ تَطَوَّعَ

“Shalat lima waktu untuk sehari semalamnya.” Ditanyakan, “Apakah ada shalat lain yang diwajibkan atas diriku?” Nabi menjawab, “Tidak ada, terkecuali jika engkau mengerjakan shalat tambahan (sunat).”

Telah dibuktikan melalui kitab Sahihain, dari Siti Aisyah r.a. suatu hadis yang menyebutkan bahwa Aisyah r.a. pernah mengatakan, “Tiada suatu salat sunat pun yang lebih giat dilakukan oleh Rasulullah ﷺ selain dari shalat sunat subuh.” Di dalam hadis Imam Muslim disebutkan:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua rakaat (sunat subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Demikian akhir surah Ath-Thuur. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPersesuaian yang Menakjubkan Pada Wahyu Ilahi
Berita berikutnyaBersabar dalam Memikul Beban Dakwah