Apakah Mempunyai Ilmu Tentang yang Gaib?

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Najm ayat 33-37

0
694

Kajian Tafsir:  Surah An-Najm ayat 33-37, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mencela orang-orang yang berpaling dari ketaatan terhadap-Nya. Apakah orang yang menggenggamkan tangannya dan tidak mau berinfak serta memutuskan kebajikannya mempunyai ilmu tentang yang gaib? Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى (٣٥) أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (٣٦) وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (٣٧)

Apakah dia mempunyai ilmu tentang yang gaib, sehingga dia dapat melihat(nya)? Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa? Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Q.S.  An-Najm : 35-37)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A ‘iηdahū ‘ilmul ghaibi (apakah ia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib), yakni tentang Lauh Mahfuzh.

Fa huwa yarā (sehingga ia mengetahui) perbuatannya terdapat padanya (Lauh Mahfuzh) seperti yang telah dia lakukan. Ayat ini turun sekaitan dengan ‘Utsman bin ‘Affan, seorang shahabat yang banyak berinfak dan bersedekah kepada shahabat-shahabat Nabi ﷺ. Pada suatu saat ‘Abdullah bin Sa‘d bin Abi Sarh menemuinya seraya berkata, “Saya lihat Anda menginfakkan banyak harta kepada orang-orang. Saya khawatir kalau-kalau Anda tidak punya apa-apa lagi.” Mendengar penuturan itu ‘Utsman menjawab, “Aku mempunyai banyak dosa dan kesalahan. Aku ingin menutupi dosa dan kesalahan tersebut seraya memperoleh rida Rabb.” ‘Abdullah berkata, “Berikan tali kekang untamu kepadaku, nanti segala dosa dan kesalahanmu akan kupikul di dunia dan akhirat.” Kemudian ‘Utsman menyerahkan tali kekang unta miliknya serta mengurangi infak dan sedekahnya, sehingga turunlah ayat tersebut berkaitan dengannya.

Am lam yunabba’ (ataukah belum diberitakan kepadanya), yakni belum dikabarkan kepadanya dalam Al-Qur’an.

Bimā fī shuhufi mūsā (apa yang ada dalam suhuf Musa), yakni dalam Taurat.

Wa ibrāhīma (dan Ibrahim), yakni suhuf Ibrahim a.s..

Alladzī waffā (yang telah menyempurnakan), yakni Ibrahim a.s yang telah menyampaikan risalah-risalah Rabb-nya serta mengamalkan Perintah-Nya. Ada yang menyatakan, (yang telah menyempurnakan) mimpinya.


Di sini Link untuk Kajian Tafsir Juz ke-27

Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Apakah dia mempunyai ilmu tentang yang gaib[14], sehingga dia dapat melihat(nya)?

[14] Sehingga dia menyangka, bahwa ada orang lain yang memikul azab yang ditanggungnya. Atau maksudnya, apakah ia mengetahui yang gaib, lalu dia memberitahukannya atau dia berkata mengada-ada terhadap Allah, bersikap berani dengan menggabung antara bersikap buruk dan mentazkiyah dirinya. Sudah menjadi maklum, bahwa dia tidak memiliki pengetahuan terhadap yang gaib, dan bahwa jika ia mengaku mengetahuinya, tetapi berita-berita yang qath’i yang termasuk perkara gaib yang diberitahukan kepada Nabi ﷺ ternyata tidak seperti yang dinyatakannya, dan hal ini menunjukkan kebatilannya.   

  1. Ataukah belum diberitakan (kepadanya)[15] apa yang ada dalam lembaran- lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa?

[15] Yakni kepada orang yang mengaku itu.

  1. Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji[16]?,

[16] Atau maksudnya, melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya. Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. (Terj. Al Baqarah: 124) Ujian terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diantaranya adalah membangun Ka’bah, membersihkan ka’bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia mengetahui) sebagiannya, yaitu bahwa seseorang dapat menanggung azab akhirat yang diterima oleh orang lain? Jawabannya tentu saja tidak. Orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Walid ibnu Mughirah atau lainnya. Jumlah kalimat A’indahuu merupakan Maf’ul kedua dari lafal Ra-ayta, yang maknanya Akhbirnii, yakni ceritakanlah kepada-Ku.
  2. (Ataukah) yakni sebenarnya (belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa) yaitu lembaran-lembaran kitab Taurat atau lembaran-lembaran kitab suci sebelumnya.
  3. (Dan) lembaran-lembaran (Ibrahim yang selalu memenuhi janji) maksudnya Nabi Ibrahim itu selalu menepati apa yang diperintahkan kepadanya,, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan lengkap.” (Q.S. Al-Baqarah, 124) Kemudian pengertian yang terkandung di dalam lafal Maa pada ayat sebelumnya, dijelaskan oleh firman berikutnya,

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia mengetahui? (An-Najm: 35)

Yakni apakah orang yang menggenggamkan tangannya dan tidak mau berinfak serta memutuskan kebajikannya mengetahui tentang yang gaib, bahwa kelak apa yang ada di tangannya bakal habis, yang karenanya dia menggenggamkan tangannya tidak mau berbuat kebajikan, maka apakah dia melihat akibat itu dengan mata kepalanya sendiri? Yakni pada kenyataannya tidaklah demikian. Sesungguhnya dia menggenggamkan tangannya dari sedekah berbuat kebajikan dan memberikan santunan (derma) serta silaturahmi hanyalah semata-mata karena kekikiran dirinya.

Untuk itulah maka disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda memerintahkan kepada Bilal r.a. yang menjadi bendaharanya:

أَنْفِقْ بِلَالًا وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا

Belanjakanlah, hai Bilal, janganlah kamu takut kehabisan demi karena Tuhan Yang mempunyai ‘Arasy.

Dan disebutkan dalam firman Allah Swt.:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba’:39) ‘

Adapun firman Allah Swt.:

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (An-Najm: 36-37)

Sa’id ibnu Jubair dan As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu menyampaikan semua apa yang diperintahkan kepadanya.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. selalu menunaikan apa yang diperintahkan Allah kepadanya untuk disampaikan.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya.

Qatadah mengatakan, Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu menunaikan ketaatannya kepada Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada makhluk-Nya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan pengertiannya mencakup semua yang telah disebutkan di atas. Pengertian ini diperkuat pula dengan firman Allah Swt. yang mengatakan:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (Al-Baqarah: 124)

Maka Ibrahim mengerjakan semua perintah itu dan meninggalkan semua larangan serta menyampaikan risalah dengan lengkap dan sempurna. Oleh karenanya maka dia berhak menjadi pemimpin bagi seluruh manusia yang patut dijadikan panutan dalam semua keadaan, perbuatan, dan ucapannya. Allah Swt. telah berfirman pula:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif ” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An-Nahl: 123)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abu Iyas Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang menceritakan bahwa

تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى} قَالَ: أَتَدْرِي مَا وَفَّى؟  قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: وَفَّى عَمَلَ يَوْمِهِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ

Rasulullah membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (An-Najm: 37) Lalu Rasulullah bertanya. ”Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan menyempurnakan janji?” Aku (Abu Umamah r.a.) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah bersabda: Menunaikan pekerjaan sehari-harinya dengan mengerjakan shalat empat rakaat di permulaan siang hari.

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui Ja’far ibnuz Zubair, sedangkan Ja’far orangnya daif.

Imam Turmuzi mengatakan di dalam kitab Jami’-nya, telah menceritakan kepada kami Ja’far As-Samnani, telah menceritakan kepada kami Abu Misar, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Yahya ibnu Sa’d, dari Khalid ibnu Ma’dan, dari Jubair ibnu Nafir, dari Abu Darda dan Abu Zar, dari Rasulullah ﷺ, dari Allah Swt. yang telah berfirman:

ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، أَكفِكَ آخِرَهُ

Hai anak Adam, shalatlah karena Aku sebanyak empat rakaat pada permulaan siang hari (mu), niscaya Aku memberikan kecukupan kepadamu di akhir siang hari (mu).

Ibnu Abu Hatim rahimahullah mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Asad ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Zaban ibnu Fayid, dari Sahl ibnu Mu’az ibnu Anas, dari ayahnya, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ لِمَ سَمَّى اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَهُ الَّذِي وَفَّى؟ إِنَّهُ كَانَ يقول كلما أصبح وأمسى: فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُون

Maukah aku ceritakan kepada kalian mengapa Allah menamakan Ibrahim dengan sebutan ‘kekasih-Nya’ yang selalu menyempurnakan janji? Sesungguhnya dia setiap pagi hari dan petang hari selalu mengucapkan, “Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada di petang hari dan waktu subuh ” (Ar-Rum: 17)

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui Abu Kuraib, dari Rasyidin ibnu Sa’d, dari Zaban dengan sanad yang sama.

Wallahu a’lam dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaTidak Akan Memikul Dosa Orang Lain
Berita berikutnyaAllah Mencela yang Berpaling dari Ketaatan