Tercatat dalam Buku-buku Catatan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Qamar ayat 51-55

0
645

Kajian Tafsir: Surah Al-Qamar ayat 51-55, Balasan orang-orang yang bertakwa dan balasan orang-orang yang berdosa dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (٥١) وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (٥٢) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ (٥٣) إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (٥٤) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (٥٥)

Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu (kekafirannya). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis. Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. (Q.S. Al-Qamar : 51-55)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa la qad ahlaknā asy-yā‘akum (dan sungguh Kami telah membinasakan orang-orang yang serupa dengan kalian), yakni pemeluk agama kalian dan orang-orang yang serupa dengan kalian, wahai penduduk Mekah!

Fa hal mim muddakir (maka adakah orang yang mau ingat), yakni adakah orang yang mau mengambil pelajaran berkenaan dengan tindakan yang Dia timpakan terhadap mereka, sehingga ia mau meninggalkan kemaksiatan?

Wa kullu syai-iη fa‘alūhu (dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat) dalam kemusyrikan kepada Allah Ta‘ala, berupa kemaksiatan dan kekasaran terhadap para nabi.

Fiz zubur (ada dalam kitab-kitab catatan), yakni termaktub dalam kitab-kitab catatan. Ada yang mengatakan, ada dalam Lauh Mahfuzh. Ayat ini pun diturunkan berhubungan dengan ahli qadar.

Wa kullu shaghīriw wa kabīrin (dan segala yang kecil dan yang besar itu), yakni kebaikan dan keburukan.

Mustathar (tertulis), yakni termaktub dalam Lauh Mahfuzh. Ayat ini juga diturunkan berhubungan dengan ahli qadar yang mengingkari hal tersebut.

Innal muttaqīna (sesungguhnya orang-orang yang bertakwa), yakni orang-orang yang menjauhi kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan keji.

Fī jannātin (berada di dalam surga-surga), yakni taman-taman.

Wa nahar (dan sungai-sungai), yakni sungai-sungai yang banyak. Menurut satu pendapat, di dalam taman-taman yang luas.

Fī maq‘adi shidqin (di tempat duduk yang benar), yakni di negeri yang mulia, negeri surgawi.

‘Iηda malīkin (di sisi Maharaja) yang menguasai mereka.

Muqtadir (Yang Maha Berkuasa), yakni Yang Maha Berkuasa memberikan pahala dan siksa kepada hamba-hamba-Nya.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz ke-27


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu (kekafirannya). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran[13]?

[13] Sehingga dia mengetahui bahwa Sunnatullah pada generasi terdahulu maupun yang akan datang adalah sama dan bahwa hikmah-Nya sebagaimana menghendaki untuk membinasakan orang-orang yang buruk itu, maka sama pula kepada mereka yang buruk yang serupa dengan generasi sebelum mereka.

  1. Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan[14]

[14] Maksudnya buku-buku catatan yang terdapat di tangan Malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia.

  1. Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis[15].

[15] Dalam Al-Lauhul Mahfuzh. Inilah hakikat qadha’ dan qadar, yakni segala sesuatu telah diketahui oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala, telah ditulis-Nya di sisi-Nya dalam Al-Lauhul Mahfuzh, telah diciptakan-Nya, dan telah dikehendaki-Nya, sehingga apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Apa yang akan menimpa seseorang, maka tidak akan melesat, dan apa yang tidak akan menimpanya, maka tidak akan mengenainya.

  1. Sungguh, orang-orang yang bertakwa[16] berada dalam taman-taman dan sungai-sungai[17],

[16] Kepada Allah, dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; yang menjaga dirinya dari syirk dan maksiat.

[17] Yakni mereka berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan yang di dalamnya terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia, berupa pohon-pohon yang berbuah, sungai-sungai yang mengalir, istana-istana yang tinggi, tempat-tempat yang indah, makanan dan minuman yang lezat, taman-taman yang menarik, keridhaan Allah dan memperoleh kedekatan dengan-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.”

  1. di tempat yang disenangi[18] di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

[18] Maksudnya tempat yang penuh kebahagiaan, yang jauh dari hiruk-pikuk dan perbuatan-perbuatan dosa. Anda tidak perlu bertanya lagi tentang apa yang diberikan Tuhan mereka kepada mereka berupa kemurahan-Nya, ihsan-Nya dan nikmat-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka dan tidak menghalangi kita memperolehnya karena keburukan yang ada pada diri kta. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Aamiin Yaa Mujiibas Saa’iliin.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kalian) dalam kekafirannya dari umat-umat terdahulu. (Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna perintah yakni, ingatlah kalian dan ambillah hal ini sebagai pelajaran buat kalian!
  2. (Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat) apa yang telah dikerjakan oleh semua hamba-hamba Allah telah tercatat (di dalam buku-buku) catatan amal perbuatan.
  3. (Dan segala urusan yang kecil maupun besar) berupa dosa atau amal perbuatan (adalah tertulis) tercatat di Lauh Mahfuzh.
  4. (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam surga-surga) taman-taman (dan sungai-sungai makna yang dimaksud adalah jenisnya. Menurut suatu qiraat lafal Nahar dibaca Nuhur dalam bentuk jamak, yang wazannya sama dengan lafal Asadun bila dijamakkan menjadi Usudun. Makna yang dimaksud ialah, bahwa mereka meminum dari sungai-sungai surge itu air, susu, madu dan khamar.
  5. (Di tempat yang benar) di majelis yang benar, karena tidak ada perkataan yang tidak berguna dan tidak pula ada perkataan yang berdosa di dalamnya; pengertian Maq’ad di sini adalah ditinjau dari segi jenisnya. Menurut qiraat yang lain lafal Maq’ad dibaca dalam bentuk jamak yaitu Maqaa’id. Makna yang dimaksud ialah bahwa ahli surga itu berada di dalam majelis-majelis surga dalam keadaan bebas dari perkataan yang tidak ada gunanya dan bebas pula dari hal-hal yang berdosa, keadaan mereka berbeda dengan keadaan majelis-majelis di dunia. Karena sesungguhnya majelis-majelis di dunia itu jarang sekali bebas dari hal-hal tersebut. Lafal ayat ini berkedudukan sebagai Khabar yang kedua, dan lafal Shidqin menjadi Badal dari lafal Shaadiqin, yakni Badal Ba’dh atau lainnya (di sisi Yang Maha Raja) merupakan perumpamaan yang mengandung makna

Mubalaghah, yakni Maha Raja Yang Maha Perkasa lagi Maha Luas (lagi Maha Berkuasa) tiada sesuatu pun yang melemahkan-Nya, Dia adalah Allah swt. Lafal ‘Inda menunjukkan isyarat yang mengandung makna derajat dan kedudukan mereka yang dekat di sisi-Nya, sebagai anugerah dari Allah swt. kepada para penghuni surga.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. (Al-Qamar: 51)

Yaitu orang-orang yang semisal dengan kamu dari kalangan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul.

Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 51)

Yakni adakah orang yang mengambil pelajaran dari kehinaan yang telah ditimpakan oleh Allah Swt. terhadap mereka dan azab yang telah ditakdirkan oleh Allah terhadap mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. (Saba: 54)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. (Al-Qatnar: 52)

Artinya, telah tercatat atas mereka di dalam kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat.

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar. (Al-Qamar ‘ 53)

dari amal perbuatan mereka.

adalah tertulis. (Al-Qamar: 53)

Yakni telah terhimpunkan di dalam kitab catatan amal mereka dan telah digariskan dalam lembaran-lembaran mereka, tanpa ada yang terlewatkan; baik yang besar maupun yang kecil, semuanya telah ada di dalamnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Muslim ibnu Banik; ia telah mendengar Amir ibnu Abdullah ibnuz Zubair mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Auf ibnul Haris anak lelaki saudara lelaki ibunya Siti Aisyah, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

يَا عَائِشَةُ، إِيَّاكِ ومُحَقِّرات الذُّنُوبِ، فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا

Hai Aisyah, janganlah kamu melakukan dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya pelakunya tetap akan dituntut oleh Allah.

Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Sa’id ibnu Muslim ibnu Banik Al-Madani yang dinilai siqah oleh Ahmad,

Ibnu Mu-in, dan Abu Hatim serta lain-lainnya. Al-Hafiz Ibnu Asakir telah meriwayatkan hadis ini dalam biografi Sa’id ibnu Muslim melalui jalur lain. Kemudian Sa’id mengatakan bahwa lalu ia menceritakan hadis ini kepada Amir ibnu Hisyam, maka Amir berkata kepadanya, “Celakalah engkau, hai Sa’id ibnu Muslim. Sesungguhnya telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnul Mugirah, bahwa ia pernah melakukan suatu perbuatan dosa, lalu ia menganggap remeh dosanya itu, maka pada malam harinya ia bermimpi didatangi oleh seseorang yang mengatakan kepadanya, ‘Hai Sulaiman,

لَا تَحْقِرنَّ مِنَ الذنوبِ صَغِيرا … إِنَّ الصَّغير غَدًا يَعُودُ كَبِيرَا …

إِنَّ الصَّغِيرَ وَلَوْ تَقَادَمَ عَهْدُهُ … عِنْدَ الْإِلَهِ مُسَطَّرٌ تَسْطِيرَا …

فَازْجُرْ هَوَاكَ عَنِ الْبَطَالَةِ لَا تَكُنْ … صَعْبَ الْقِيَادِ وَشَمِّرَنْ تَشْمِيرَا …

إِنَّ المُحِبَّ إِذَا أَحَبَّ إلههُ … طَارَ الْفُؤَادُ وأُلْهِم التَّفْكِيرَا …

فَاسْأَلْ هِدَايَتَكَ الْإِلَهَ بِنِيَّة … فَكَفَى بِرَبّكَ هَادِيًا وَنَصِيرَا

Jangan sekali-kali kamu meremehkan dosa-dosa kecil, sesungguhnya dosa kecil itu di kemudian hari akan menjadi besar.

Dan sesungguhnya dosa kecil itu sekalipun telah berlalu masanya, di sisi Tuhan tetap tercatat dengan lengkap.

Maka kekanglah hawa nafsumu, jangan segan-segan melakukannya, janganlah kamu menjadi orang yang sulit mengendalikan diri, dan bersiagalah dengan penuh kewaspadaan.

Sesungguhnya orang yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Tuhannya, maka hatinya akan bersih dan diberi ilham untuk dapat berpikir.

Maka mintalah kepada Tuhan agar dirimu mendapat petunjuk, dengan permintaan yang ikhlas, maka cukuplah bagimu Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong (mu).

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai. (Al-Qamar: 54)

Berbeda dengan keadaan yang dialami oleh orang-orang yang celaka karena kesesatan dan kegilaan mereka, akhirnya mereka diseret dengan muka di bawah ke dalam neraka disertai dengan cemoohan kecaman dan makian.

Firman Allah Swt.:

di tempat yang disenangi. (Al-Qamar: 55)

Yaitu di rumah kemuliaan Allah dengan memperoleh rida, karunia, dan anugerah-Nya serta kebaj ikan-Nya yang amat berlimpah.

di sisi Tuhan Yang Berkuasa. (Al-Qamar: 55)

Yakni di sisi Tuhan Yang Maha Besar Yang menciptakan segala sesuatu dan Yang menentukan ukuran-ukurannya. Dia Maha Kuasa atas semua yang dikehendaki-Nya dari apa yang diinginkan dan yang diperlukan oleh makhluk-Nya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Amr ibnu Aus, dari Abdullah ibnu Amr yang menyampaikannya dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

المقسطون عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ: الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا

Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi Kanan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan di hadapan-Nya merupakan sebelah kanan orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan apa yang dikuasakan kepada mereka.

Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini secara tunggal, juga Imam Nasai melalui Sufyan ibnu Uyaynah berikut dengan sanadnya dengan lafaz yang semisal.

Demikian akhir surah Al-Qamar. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaAr-Rahman Yang Telah Mengajarkan Al-Qur’an
Berita berikutnyaMenciptakan Segala Sesuatu Menurut Ukuran