Di Bumi Itu Ada Buah, Pohon, dan Bunga

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ar-Rahman. Ayat 1-13

0
605

Kajian Tafsir: Surah Ar-Rahman. Ayat 1-13. Ayat-ayat Allah begitu banyak; baik di langit, di bumi maupun pada penciptaan manusia. Di bumi itu ada buah-buahan, pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.  Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأكْمَامِ (١١) وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ (١٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣)

Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S.  Ar-Rahman : 11-13)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fīhā (di dalamnya), yakni di bumi.

Fākihatun (terdapat buah-buahan), yakni aneka macam buah-buahan.

Wan nakhlu (dan pohon kurma), yakni aneka macam pohon kurma.

Dzātul akmām (yang memiliki seludang mayang), yakni selubung dan pemalut mayang. Ada pun yang belum jatuh, ia disebut kimmun (jamaknya akmām).

Wal habbu (dan biji-bijian), yakni semua biji-bijian.

Dzul ‘ashfi war raihān (yang memiliki daun dan rezeki), yakni bulir dan buah.

Fa bi ayyi ālā-i rabbikumā tukadz-dzibān (maka Nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan), wahai jin dan manusia. Kalian mengingkarinya dengan mengatakan bahwa hal itu bukan dari Allah Ta‘ala. Demikianlah (penafsiran) semua Firman Allah “fa bi ayyi ālā-i rabbikumā tukadz-dzibān” yang terdapat dalam surah ini.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz ke-27


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],

[12] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebutkan berbagai makanan pokok yang mereka sangat butuhkan.

[13] Yang dapat dinikmati oleh hamba, seperti buah anggur, buah tin, buah delima, buah apel, dan lain-lain.

[14] Yakni yang mempunyai wadah yang terbelah dari tangkai-tangkai yang keluar sedikit demi sedikit sehingga menjadi sempurna sehingga menjadi makanan yang dimakan dan disimpan, dipakai bekal oleh musafir serta sebagai makanan yang lezat bagi mereka.

  1. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].

[15] Seperti gandum, beras dsb.

[16] Bisa juga maksud ‘raihaan’ adalah semua rezeki yang dimakan manusia.

  1. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]

[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sekian nikmat-nikmat-Nya yang dapat dilihat oleh mata dan dipikirkan oleh hati, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala mentaqrir mereka (membuat mereka (jin dan manusia) mengakuinya) dengan firman-Nya di atas.

Sungguh bagus jawaban jin ketika Nabi ﷺ membacakan kepada mereka surah ini, dimana Beliau tidak membacakan ayat, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” kecuali mereka mengatakan, “Tidak ada satu pun dari nikmat-nikmat Engkau wahai Tuhan kami yang kami dustakan. Maka untuk-Mulah segala puji.” Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang hamba, yakni ketika disebutkan kepada mereka nikmat-nikmat Allah, maka ia mengakuinya dan mensyukurinya serta memuji Allah Ta’ala terhadapnya.

[18] Pertanyaan di sini adalah untuk mengokohkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma) yang ditanam dan dipelihara (yang mempunyai kelopak mayang) memiliki kelopak-kelopak di bagian atasnya.
  2. (Dan biji-bijian) seperti gandum dan jawawut (yang berbulir) yang ada merangnya (dan daun-daunan yang harum baunya) wangi baunya.
  3. (Maka manakah nikmat-nikmat) atau karunia-karunia (Rabb kamu berdua) hai manusia dan jin (yang kamu dustakan?) ayat ini disebutkan di dalam surah ini sebanyak tiga puluh satu kali. Istifham atau kata tanya yang terdapat dalam ayat ini mengandung makna taqrir atau menetapkan, demikian itu karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Hakim melalui Jabir r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami surah Ar Rahman hingga selesai.

Kemudian beliau bersabda, “Mengapa kalian ini diam saja?” Sungguh jin lebih baik jawabannya daripada kalian. Karena sesungguhnya tiada sekali-kali aku bacakan kepada mereka ayat ini, “Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar Rahman, 13) melainkan mereka menjawabnya, “Wahai Rabb kami, tiada satu pun nikmat-Mu yang kami dustakan, bagi-Mu segala puji.”

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’aala:

di bumi itu ada buah-buahan. (Ar-Rahman: 11)

Yakni yang berbagai macam warna, rasa, dan baunya.

dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. (Ar-Rahman: 11)

Lafaz an-nakhl disebutkan secara tersendiri karena manfaat yang ada padanya, yakni buahnya baik dalam keadaan basah maupun kering.

Dan yang dimaksud dengan al-akmam menurut Ibnu Juraij, dari Ibnu Abbas, artinya kelopak mayang. Hal yang sama telah dikatakan oleh banyak ulama tafsir; itulah yang dimaksud dengan akmam. yaitu kelopak mayang yang terbelah mengeluarkan ketan dan buah kurma, yang pada mulanya bernama busr, kemudian rutab, selanjutnya menjadi masak dan sempurna kemasakannya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ali As-Sairafi, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnul Haris At-Ta-ifi, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Kaisar Romawi berkirim surat kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, yang isinya sebagai berikut:

Melalui surat ini kuberitahukan kepada tuan bahwa utusanku telah tiba darimu, mereka mengira bahwa di kalangan kalian terdapat sebuah pohon yang kelihatannya tidak mengandung suatu kebaikan pun. Pada mulanya mengeluarkan kelopak mayangnya yang seperti daun telinga keledai, lalu mayang itu terbuka mengeluarkan benih buah-buahnya yang kelihatan seperti mutiara. Lalu menjadi hijau seperti permata zamrud yang hijau, setelah itu tampak memerah sehingga seperti batu yaqut yang merah. Lalu masaklah ia, dan buahnya sangat lezat rasanya; bila buah itu kering, maka dapat dijadikan sebagai makanan pokok bagi orang yang mukim dan dapat dijadikan bekal bagi musafir. Jika utusan-utusanku itu berkata sejujurnya kepadaku, maka aku berpendapat bahwa pohon itu tiada lain kecuali salah satu dari pohon surga.

Maka Umar ibnul Khattab membalas suratnya yang isinya sebagai berikut; Dari hamba Allah Umar ibnul Khattab Amirul Mu’minin, ditujukan kepada Kaisar Romawi. Sesungguhnya para utusanmu itu berkata sebenarnya kepadamu, pohon ini memang ada di kalangan kami, yaitu pohon yang sama seperti pohon yang ditumbuhkan oleh Allah untuk Maryam ketika dia melahirkan putranya Isa. Maka bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau menjadikan Isa sebagai Tuhan selain Allah, karena sesungguhnya,

مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah ia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Ali Imran: 59-60)

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan al-akmam ialah sabutnya yang berada di leher pohon kurma, ini menurut Al-Hasan dan Qatadah.

Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. (Ar-Rahman: 12)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: Dan biji-bijian yang berkulit. (Ar-Rahman: 12) ialah biji-bijian yang ada daunnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-‘asf artinya daun tanaman yang hijau, yang telah dipotong bagian atasnya; itulah yang dinamakan asf bila ia telah mengering. Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah. Ad-Dahhak, dan Abu Malik, bahwa yang dimaksud dengan ‘asf ‘ialah dedaunannya yang telah kering.

Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan raihan ialah dedaunannya.

Lain halnya dengan Al-Hasan, ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan raihan ialah bau-bauan yang harum seperti yang kalian kenakan. Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan raihan ialah tanaman yang hijau.

Makna yang dimaksud hanya Allah Yang Maha Mengetahui, ialah bahwa yang dimaksud dengan biji-bijian ialah seperti gandum, jewawut, dan lain sebagainya yang mempunyai bulir dan daun-daunan yang melilit pada batangnya.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan al-‘asf ialah dedaunan yang muda, seperti sayuran; dan yang dimaksud dengan raihan ialah dedaunan yang telah tua dan membungkus biji-bijian yang menjadi buahnya, seperti pengertian yang terdapat di dalam perkataan Zaid ibnu Amr ibnu Nufail dalam kasidahnya yang terkenal, yaitu:

وَقُولا لَهُ: مَنْ يُنْبِتُ الحَبَّ فِي الثَّرى … فَيُصْبِحَ مِنْهُ البقلُ يَهْتَزُّ رابيا? …

وَيُخْرجَ منْه حَبَّه في رُؤوسه? … فَفي ذَاكَ آياتٌ لِمَنْ كَانَ وَاعِيَا

Katakanlah olehmu berdua kepadanya, “Siapakah yang menumbuhkan biji-bijian di tanah, lalu tumbuh menjadi hijau dan merekah menjadi besar.

Dan keluarlah darinya biji-bijian di bagian atasnya?” Di dalam hal tersebut terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang menyadarinya.

Firman Allah Swt.:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13)

Yakni nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, hai dua jenis makhluk, jin dan manusia yang kalian dustakan? Demikianlah menurut pendapat Mujahid dan ulama lainnya, yang hal ini ditunjukkan oleh pengertian yang terkandung pada konteks sesudahnya. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa nikmat-nikmat Tuhanmu tampak jelas pada kalian dan kalian diliputi olehnya hingga kalian tidak dapat mengingkarinya atau tidak mengakuinya. Dan kami hanya dapat mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh jin yang beriman kepada-Nya, “Ya Allah, tiada sesuatu pun dari nikmat-nikmat-Mu yang kami ingkari, maka bagi-Mulah segala puji.”

Disebutkan bahwa Ibnu Abbas selalu menjawabnya dengan ucapan berikut, “Tidak, lalu yang manakah, wahai Tuhanku?” Dengan kata lain. dapat disebutkan bahwa kami tidak mendustakan sesuatu pun darinya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Abul Aswad, dari Urwah, dari Asma binti Abu Bakar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ia dengar dalam salatnya membaca satu rukun Al-Qur’an sebelum diperintahkan untuk menyerukan dakwahnya secara terang-terangan, sedangkan orang-orang musyrik mendengarkannya, yaitu firman Allah Swt.: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.