Bidadari yang Dipelihara di Dalam Kemah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ar-Rahman, ayat 72-78

0
1262

Kajian Tafsir: Surah Ar-Rahman, ayat 72-78, Rincian kenikmatan yang akan diperoleh kaum mukmin. Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah dan pujian bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala terhadap hal tersebut. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢)  فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٣) لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٧٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٥) مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ (٧٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٧)

Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahman : 72-77)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Hūrun (bidadari-bidadari cantik jelita) lagi putih bersih.

Maqshūratun (yang dipingit), yakni yang dijaga untuk suami mereka.

Fil khiyām (di dalam rumah), yakni di dalam paviliun rumah yang luas.

Fa bi ayyi ālā-i rabbikumā tukadz-dzibān (maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan).

Lam yathmits-hunna (yang tidak pernah disentuh), yakni yang tidak pernah disetubuhi. Menurut yang lain, tidak pernah diperoleh.

Iηsung qablahum (oleh manusia sebelum mereka), yakni sebelum suami mereka (di surga).

Wa lā jānn (dan tidak pula oleh jin), yakni sebelum suami mereka.

Fa bi ayyi ālā-i rabbikumā tukadz-dzibān (maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan).

Muttaki-īna (mereka bertelekan), yakni duduk-duduk dengan nyaman.

‘Alā rafrafin (pada bantal-bantal), yakni di atas tempat-tempat duduk. Menurut yang lain, di atas padang rumput.

Khudlriw wa ‘abqariyyin (berwarna hijau dan permadani-permadani), yakni permadani-permadani beludru yang beraneka warna.

Hisān (yang indah).

Fa bi ayyi ālā-i rabbikumā tukadz-dzibān (maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan).


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz ke-27


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah[15].

[15] Bidadari itu tertahan dalam kemah-kemah mutiara; yang telah mempersiapkan diri mereka untuk suami mereka, namun hal itu tidaklah menafikan mereka untuk keluar ke kebun-kebun dan taman-taman surga sebagaimana kebiasaan putri-putri raja dan wanita-wanita yang dipingit.

  1. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  2. Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.
  3. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  4. Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah[16].

[16] Orang-orang yang mendapatkan kedua surga yang kedua ini tempat sandaran mereka adalah rafraf (permadani) hijau, yaitu permadani yang berada di atas majlis-majlis (tempat duduk) yang tinggi yang menjadi tambahan terhadap majlis (tempat duduk) mereka. Dengan demikian, majlis tersebut memiliki rafrafah (permadani) di atas majlis mereka sehingga semakin indah dan bagus. Adapun ‘abqariy sebagai nisbat kepada setiap yang ditenun dengan tenunan yang indah dan mewah, oleh karenanya, disifati dengan keindahan yang menyeluruh karena bagus buatannya, indah dilihat serta halus disentuh. Kedua surga ini bukanlah surga yang sebelumnya sebagaimana disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.” Selain itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menyifatkan dua surga yang pertama dengan beberapa sifat yang tidak disifatkan kepada dua surga yang setelahnya. Pada dua surga yang pertama Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar,” sedangkan pada kedua surga setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.” Sudah menjadi maklum, bahwa keduanya berbeda, yang satu mengalir, sedangkan yang satu lagi memancar. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan.” Dan Dia tidak berfirman demikian pada surga yang kedua. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” Sedangkan pada dua surga yang kedua (setelahnya), Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” Sudah menjadi maklum adanya perbedaan di antara keduanya.

Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Dan Dia tidak berfirman demikian, pada dua surga setelahnya, maka hal ini menunjukkan bahwa hal itu sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat ihsan.

Di samping itu, didahulukan kedua surga yang pertama daripada yang kedua menunjukkan keutamaan yang pertama.

Berdasarkan sisi-sisi di atas dapat diketahui kelebihan dua surga yang pertama daripada dua surga yang kedua, dan bahwa kedua surga yang pertama itu dipetuntukkan kepada orang-orang yang didekatkan dari kalangan para nabi, para shiddiqin dan hamba-hamba pilihan Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang saleh, sedangkan pada kedua surga yang kedua disiapkan untuk kaum mukmin pada umumnya. Di semua surga itu terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia, di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa dan indah dipandang mata, penduduknya benar-benar santai, ridha, tenang, dan mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, bahkan masing-masing dari mereka tidak melihat bahwa orang lain lebih bagus darinya dan lebih tinggi kenikmatannya darinya.

  1. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

.

Tafsir Jalalain

  1. (Bidadari-bidadari itu-sangat jelita) mata mereka sangat jelita (mereka dipingit) tertutup (di dalam kemah-kemah) yang terbuat dari permata yang dilubangi, keadaan mereka diserupakan dengan gadis-gadis yang dipingit di dalam kemahnya.
  2. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  3. (Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka) sebelum oleh suami-suami mereka (dan tidak pula oleh jin).
  4. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  5. (Mereka bersandarkan) suami-suami mereka bertelekan; I’rab lafal ayat ini sama dengan sebelumnya (pada bantal-bantal yang hijau) merupakan bentuk jamak dari lafal Rafrafatun, artinya permadani atau bantal (dan bergelarkan pada permadani-permadani yang indah) merupakan bentuk jamak dari lafal ‘Abqariyyah, artinya permadani.
  6. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman selanjutnya:

(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. (Ar-Rahman: 72)

Sedangkan dalam kedua surga yang pertama disebutkan oleh firman-Nya:

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. (Ar-Rahman: 56)

Dan tidak diragukan lagi bahwa wanita yang menundukkan pandangannya dengan penuh ketaatan dan kesadaran lebih utama daripada wanita yang menundukkan pandangannya dengan paksa, walaupun semuanya bercadar.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdullah Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Jabir, dari Al-Qasim ibnu Abu Buzzah, dari Abu Ubaid, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa sesungguhnya bagi setiap orang muslim, seorang bidadari dan bagi seorang bidadari ada kemahnya tersendiri, dan bagi tiap kemah ada empat buah pintunya yang setiap harinya ada hadiah yang masuk melaluinya, kiriman, dan penghormatan untuk yang menghuninya. Padahal sebelum itu tidak diperlukan lagi adanya hiburan, tidak memerlukan lagi keinginan, dan tidak memerlukan lagi wewangian serta dupa. Kecantikan bidadari itu sama dengan mutiara yang tersimpan.

Sehubungan dengan firman-Nya:

dalam rumah. (Ar-Rahman: 72)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna. telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdussamad, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Qais, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ، عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أهلٌ مَا يَرون الْآخَرِينَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya di dalam surga terdapat kemah (rumah) yang terbuat dari mutiara yang dilubangi, besarnya sama dengan jarak enam puluh mil, pada tiap-tiap sudut kemah itu ada penghuninya (penghuninya yakni para bidadari) yang satu sama lainnya tidak saling melihat, dan orang-orang mukmin berkeliling menggilir mereka.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula melalui hadis Abu Imran dengan sanad yang sama, dan disebutkan bahwa luas kemah itu adalah tiga puluh mil.

Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui hadis Abu Imran dengan sanad yang sama yang teksnya berbunyi seperti berikut:

إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا ستون ميلا لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلٌ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ، فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا

Sesungguhnya bagi seorang mukmin ada sebuah kemah di dalam surga terbuat dari sebuah mutiara yang dilubangi, panjangnya enam puluh mil, di dalamnya ia mempunyai banyak istri yang ia gillir, mereka dan sebagian dari mereka tidak dapat melihat sebagian yang lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, telah menceritakan kepadaku Khulaid Al-Asri, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa kemah (di dalam surga) itu terbuat dari sebuah mutiara, yang padanya terdapat tujuh buah pintu terbuat dari intan.

Telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Abu Fatimah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Hisyam, dari Muhammad ibnul Musanna, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt.:  (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit di dalam kemah-kemah. (Ar-Rahman: 72) Yakni kemah dari mutiara, di dalam surga terdapat kemah dari sebuah mutiara, dan satu buah mutiara besarnya sama dengan empat farsakh persegi, padanya terdapat empat ribu buah pintu terbuat dari emas.

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa Darij alias Abus Samah pernah menceritakan kepadanya dari Abul Hais’am, dari Abu Sa’id, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً الَّذِي لَهُ ثَمَانُونَ أَلْفَ خَادِمٍ، وَاثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ زَوْجَةً، وَتُنْصَبُ لَهُ قُبَّةٌ مِنْ لُؤْلُؤٍ وَزَبَرْجَدٍ وَيَاقُوتٍ، كَمَا بَيْنَ الْجَابِيَةِ وَصَنْعَاءَ

Rumah yang paling sederhana bagi penduduk surga adalah rumah yang mempunyai delapan puluh ribu pelayan, tujuh puluh dua orang istri, dan dibuatkan baginya sebuah kubah (kemah) dari mutiara, zabarjad, dan yaqut yang besarnya sama dengan jarak antara Al-Jabiyah dan San ‘a.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Amr ibnul Haris dengan sanad yang sama.

Firman Allah Swt.:

Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. (Ar-Rahman: 74)

Tafsir ayat ini telah disebutkan sebelumnya karena mempunyai makna yang sama, hanya saja pada gambaran yang pertama ditambahkan oleh firman-Nya mengenai sifat bidadari-bidadari itu, bahwa mereka:

Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 58-59)

Adapun firman Allah Swt.:

Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. (Ar-Rahman: 76)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan rafraf’ ialah seprei-seprei.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya, yaitu seprei (cover).

Al-Ala ibnu Zaid mengatakan bahwa rafraf ialah kain seprei atau cover untuk melapisi dipan dalam bentuk yang menjuntai.

Asim Al-Juhdari telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau. (Ar-Rahman: 76) Yakni bantal-bantal.

Pendapat ini dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumber darinya.

Abu Daud At-Tayalisi telah meriwayatkan dari Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau (Ar-Rahman: 76) Bahwa yang dimaksud dengan rafraf ialah taman-taman surga.

Firman Allah Swt.:

dan permadani-permadani yang indah. (Ar-Rahman: 76)

Ibnu Abbas, Qatadah, Ad-Dahhak, dan As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah permadani-permadani. Menurut Sa’id ibnu Jubair, artinya permadani yang sangat baik. Dan menurut Mujahid Al-Abqari artinya sutra.

Al-Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang makna firman-Nya: dan permadani-permadani yang indah. (Ar-Rahman: 76) Maka ia menjawab, “Itu adalah hamparan ahli surga, celakalah kalian, carilah ia.” Dan menurut riwayat lain yang bersumber dari Al-Hasan yaitu sarana. Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa permadani itu ada yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Al-Ala ibnu Zaid pernah ditanya tentang makna ‘abqari, maka ia menjawab bahwa al- abqari adalah permadani yang berada di atas hamparan.

Abu Hirzah alias Ya’qub ibnu Mujahid mengatakan bahwa al-‘abqari adalah suatu jenis dari pakaian ahli surga, tiada seorang pun yang mengenalnya. Abul Aliyah mengatakan bahwa ‘abqari ialah hamparan yang tipis. Al-Qaisi mengatakan bahwa abqari adalah tiap-tiap pakaian yang dihiasi dengan bordiran, menurut orang Arab. Abu Ubaidah mengatakan, nama ‘abqari dinisbatkan kepada nama tempat yang membuat bordiran kain.

Imam Khalil ibnu Ahmad mengatakan bahwa segala sesuatu yang sangat berharga, baik berupa benda maupun manusia yang genius, dinamakan orang Arab dengan sebutan abqari. Sebagai dalilnya ialah antara lain sabda Nabi ﷺ tentang Umar r.a.:

فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا يَفْرِي فَرِيَّهُ

Aku belum pernah melihat seorang genius yang begitu cemerlang (selain dari Umar).

Pada garis besarnya semua pendapat di atas menunjukkan bahwa gambaran tentang kedua surga yang pertama lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang dimiliki oleh kedua surga berikutnya. Karena sesungguhnya sehubungan dengan kedua surga yang pertama, Allah Swt. telah berfirman:

Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. (Ar-Rahman: 54)

Allah Swt. hanya menyebutkan sifat bagian dalamnya saja, tidak menyebutkan sifat bagian luarnya, karena sudah dianggap cukup hanya dengan menyebutkan kemewahan bagian dalamnya, yang sudah barang tentu bagian luarnya tidak terperikan keindahan dan kemewahannya. Dan sifat ini diakhiri dengan firman-Nya yang menyebutkan:

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar-Rahman: 60)

Para penghuninya disebutkan sebagai orang-orang yang ihsan; dan ini merupakan predikat yang tertinggi, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Jibril, tatkala dia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, lalu iman, kemudian ihsan. Demikianlah segi-segi keutamaan yang dimiliki oleh kedua surga yang pertama atas kedua surga berikutnya. Dan kita memohon kepada Allah Swt. semoga Dia menjadikan kita termasuk penghuni-penghuni kedua surga yang pertama.

Amin.

 

Artikulli paraprakPujian bagi Allah Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
Artikulli tjetërSelain dari Dua Surga Itu Ada Dua Surga Lagi