Akhlak dan Sifat Kaum Munafik

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Munafiqun

0
747

Kajian Tafsir: Surah Al-Munafiqun (Orang-Orang Munafik). Surah ke-63. 11 ayat. Madaniyyah. Turun sesudah Surah Al-Hajj. Ayat 1-2, Akhlak dan sifat kaum munafik, persekongkolan yang mereka lakukan terhadap Nabi ﷺ dan kaum mukmin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (١) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢)

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Munafiqun : 1-2)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Idzā jā-akal munāfiqūna (apabila orang-orang munafik datang kepadamu), yakni apabila datang kepadamu kaum munafikin penduduk Madinah, yaitu ‘Abdullah bin Ubay, Mu‘tab bin Qusyair, dan Jadd bin Qais. Mereka berasal dari Bani ‘Ammin.

Qālū nasyhadu (mereka berkata, Kami bersaksi), yakni kami bersumpah dengan Nama Allah Ta‘ala.

Innaka (bahwa sesungguhnya kamu) hai Muhammad!

La rasūlullāhi (adalah benar-benar Rasulullah), yakni kami mengetahui hal itu dan hati kecil kami pun mengakuinya.

Wallāhu ya‘lamu innaka la rasūluhū (dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu adalah benar-benar Rasul-Nya), yakni sekalipun tanpa kesaksian orang-orang munafik.

Wallāhu yasyhadu innal munāfiqīna la kādzībūn (dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik benar-benar para pendusta) dalam sumpahnya. Sebenarnya mereka tidak mengetahui hal itu dan hati kecil mereka pun tidak mengakuinya.

Ittakhadzū aimānahum (mereka menjadikan sumpah mereka), yakni sumpah (yang mereka ucapkan) atas Nama Allah Ta‘ala.

Junnatan (sebagai perisai) dari pembunuhan.

Fa shaddū ‘aη sabīlillāh (kemudian mereka menghalang-halangi dari Jalan Allah), yakni kemudian secara sembunyi-sembunyi mereka berupaya memalingkan orang-orang dari Agama Allah Ta‘ala dan dari ketaatan kepada-Nya.

Innahum sā-a mā kānū ya‘malūn (sungguh amatlah buruk apa yang senantiasa mereka perbuat itu), yakni amatlah buruk apa yang senantiasa mereka perbuat dalam kekafiran dan kemunafikan mereka, seperti tipu daya, pengkhianatan, dan upaya memalingkan orang-orang (dari Agama Allah).


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-28


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1] [2]Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata[3], “Kami mengakui, bahwa engkau adalah rasul Allah[4].” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta[5].

[1] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Zaid bin Arqam ia berkata, “Aku berada dalam pasukan perang, lalu aku mendengar Abdullah bin Ubay berkata, “Janganlah kamu berinfak kepada orang-orang yang berada di dekat Rasulullah ﷺ sehingga mereka bubar (meninggalkan Rasulullah ﷺ). Sungguh, jika kita pulang dari sisi Beliau, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana.” Maka aku ceritakan hal itu kepada pamanku atau ke Umar, lalu dia menceritakannya kepada Nabi ﷺ, kemudian Beliau memanggilku dan aku menceritakan kepadanya, maka Rasulullah ﷺ mengirimkan orang kepada Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, lalu mereka bersumpah bahwa mereka tidak berkata demikian, sehingga Rasulullah ﷺ menganggapku dusta dan membenarkannya, sehingga aku merasakan kesedihan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun duduk di rumah, lalu pamanku berkata kepadaku, “Engkau tidak ingin Rasulullah ﷺ mendustakanmu dan membencimu,” maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad),…dst.” Lalu Nabi ﷺ mengirim orang kepadaku untuk membacakan ayat dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah membenarkan kamu wahai Zaid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, jumlah kaum muslimin di Madinah cukup banyak dan Islam pun semakin kuat di sana, maka di antara penduduknya yang belum memeluk Islam menampakkan keimanan di luar dan menyembunyikan kekafiran di batinnya agar kedudukannya tetap terjaga, darahnya tetap terpelihara dan harta mereka dapat terjaga, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sifat mereka agar diketahui sehingga kaum mukmin dapat bersikap waspada terhadap mereka dan berada di atas pengetahuan.

[3] Dengan lisan mereka yang berbeda dengan hatinya.

[4] Persaksian dari kaum munafik ini adalah dusta dan nifak, padahal untuk memperkuat Rasul-Nya tidak dibutuhkan persaksian mereka.

[5] Dalam ucapan dan dakwaan mereka.

  1. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai[6], lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan[7].

[6] Mereka bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga diri dan harta mereka agar jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya.

[7] Karena menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, bersumpah berada di atas keimanan dan memberikan kesan bahwa mereka benar dalam sumpahnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata) dengan mulut mereka mengenai hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ada dalam hati mereka (“Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan) yakni mengetahui (bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta) yakni isi hati mereka berbeda dengan apa yang mereka katakan.
  2. (Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai) maksudnya untuk melindungi harta benda mereka dan jiwa mereka (lalu mereka menghalangi) melalui sumpah itu (jalan Allah) artinya mereka menghalangi manusia untuk berjihad melawan mereka. (Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal orang-orang munafik, bahwa mereka hanya mengakui Islam dengan mulutnya saja, bila datang kepada Nabi ﷺ. Adapun di dalam batin mereka adalah kebalikannya dan tidaklah seperti apa yang dilahirkan oleh mereka. Untuk itulah maka Allah Swt. berfirman:

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” (Al-Munafiqun: 1)

Yakni apabila mereka datang kepadamu dan menghadapimu dengan pengakuan tersebut, serta menampakkan hal itu kepadamu, kenyataannya tidaklah seperti apa yang mereka katakan. Karena itulah maka dalam ayat ini diletakkan kalimat sisipan yang memberitahukan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ adalah utusan Allah, yaitu:

Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. (Al-Munafiqun: 1)

Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al-Munafiqun: 1)

Yaitu dalam pemberitaan mereka, sekalipun pada lahiriahnya mereka menampakkan hal yang sungguhan, karena sesungguhnya mereka tidak meyakini kebenaran dari apa yang mereka ucapkan dan tidak pula membenarkannya dalam hati mereka. Karena itulah maka mereka didustakan berdasarkan keyakinan yang tersimpan dalam hati mereka.

Firman Allah Swt.:

Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (Al-Munafiqun: 2)

Artinya, mereka melindungi diri mereka dengan sumpah yang palsu lagi berdosa agar lawan bicara mereka percaya kepada apa yang mereka katakan, dan teperdayalah oleh mereka orang-orang yang tidak mengetahui hakikat perkara mereka, sehingga menyangka mereka sebagai orang-orang Islam. Adakalanya mereka dijadikan panutan dalam perbuatannya, dan ucapannya dibenarkan, padahal sesungguhnya keadaan mereka dalam batinnya sama sekali tidak memperhatikan kepentingan Islam dan para pemeluknya. Dengan demikian, maka sikap mereka yang demikian itu menimpakan kemudaratan yang besar kepada kebanyakan orang. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman Allah Swt.:

lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Munafiqun: 2)

Karena itulah maka Ad-Dahhak ibnu Muzahim membaca ayat ini dengan bacaan berikut:

اتَّخَذُوا إيمَانَهُمْ جُنَّةً

Mereka itu menjadikan iman mereka sebagai perisai. (Al-Munafiqun: 2)

dengan membaca aimanahum menjadi Imanahum, yakni pembenaran yang mereka lahirkan dijadikan oleh mereka sebagai perisai untuk melindungi diri agar jangan dibunuh. Tetapi jumhur ulama membacanya aimanahum bentuk jamak dari yamin.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaAgar Berhati-hati Terhadap Kaum Munafik
Berita berikutnyaPeringatan Agar Tidak Tersibukkan Perdagangan