Perumpamaan Orang Musyrik dan Orang Mukmin

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al Mulk Ayat 20-23

0
1087

Kajian Tafsir: Surah Al Mulk Ayat 20-23, perumpamaan orang musyrik dan orang mukmin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَمَّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ -٢٠- أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ -٢١- أَفَمَن يَمْشِي مُكِبّاً عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّن يَمْشِي سَوِيّاً عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ -٢٢- قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ -٢٣

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? Katakanlah, “Dialah Yang menciptakan dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kamu.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (Q.S. Al-Mulk : 20-23)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Amman hādzal ladzī huwa juηdul lakum (atau siapakah ia yang menjadi tentara bagi kalian), yakni yang menjadi pembela-pembela bagi kalian.

Yaηshurukum (yang akan menolong kalian), yakni yang akan membela kalian.

Min dūnir rahmān (selain dari [Allah] Yang Maha Pengasih), yakni dari Azab (Allah) Yang Maha Pengasih.

Inil kāfirūna illā fī ghurūr (tiadalah orang-orang kafir itu melainkan dalam keadaan tertipu), yakni tertipu dengan kebatilan-kebatilan dunia dan kesiasiaannya.

Amman hādzal ladzī yarzuqukum (atau siapakah ia yang dapat memberi kalian rezeki) dari langit berupa hujan dan dari bumi berupa tumbuh-tumbuhan.

In amsaka rizqahū (jika Allah Menahan Rezeki-Nya), maka siapakah yang dapat memberi kalian rezeki.

Bal lajjū (mereka malah bersikukuh), yakni terus-menerus.

Fī ‘utuwwin (dalam kesombongan), yakni dalam penolakan terhadap kebenaran.

Wa nufūr (dan semakin menjauh), yakni semakin menjauh dari iman.

A fa may yamsyī mukibban ‘alā wajhihī (maka apakah orang yang berjalan tertelungkup pada mukanya), yakni terbalik dalam kesesatan dan kekafirannya. Orang tersebut adalah Abu Jahl bin Hisyam.

Ahdā (lebih mendapat petunjuk), yakni lebih benar agamanya.

Ammay yamsyī sawiyyan (ataukah orang yang berjalan tegap) lurus.

‘Alā shirāthim mustaqīm (di atas jalan yang lurus), yakni di atas agama lurus yang Dia ridai, yaitu Islam. Dialah Nabi Muhammad ﷺ

Qul huwal ladzī aηsya-akum (katakanlah, Dia-lah yang telah menjadikan kalian), yakni yang telah menciptakan kalian.

Wa ja‘ala lakumus sam‘a (serta memberi kalian pendengaran), supaya kalian dapat mendengar kebenaran dan petunjuk.

Wal abshāra (penglihatan), supaya kalian dapat melihat kebenaran dan petunjuk.

Wal af-idata (dan hati), supaya kalian dapat memahami kebenaran dan petunjuk.

Qalīlam mā tasykurūn (amatlah sedikit kalian bersyukur), yakni amat sedikit rasa syukur kalian terhadap apa yang telah Dia Berikan kepada kalian. Menurut yang lain, tiadalah kalian bersyukur baik sedikit maupun banyak.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [21]Atau siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat membelamu selain (Allah) Yang Maha Pengasih?[22] Orang-orang kafir itu hanyalah dalam (keadaan) tertipu[23].

[21] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman kepada orang-orang yang sombong, yang lari dari perintah-Nya dan berpaling dari kebenaran.

[22] Yang dapat menghindarkan kamu dari azab-Nya, tentu tidak ada. Menurut Syaikh As Sa’diy, maksud ayat ini adalah, siapakah yang menolongmu terhadap musuhmu selain Allah Yang Maha Pengasih? Karena sesungguhnya Allah Ta’ala, Dialah yang menolong, yang memuliakan dan menghinakan, sedangkan selain-Nya adalah makhluk, dimana jika mereka semua berkumpul untuk menolong seorang hamba, maka mereka tidak dapat melakukannya. Oleh karena itu, tetap terusnya orang-orang kafir di atas kekafiran mereka setelah mereka mengetahui bahwa tidak ada yang dapat menolong mereka selain Allah Yang Maha Pengasih merupakan kebodohan dan keadaan yang tertipu.

[23] Setan menipu mereka bahwa azab tidak akan turun menimpa mereka.

  1. Atau siapakah yang dapat memberi kamu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya?[24] Bahkan mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).

[24] Yakni tidak ada yang dapat memberimu rezeki selain Dia. Hal itu, karena rezeki semuanya berasal dari Allah, jika Dia menahan rezeki-Nya dari kamu, siapakah yang dapat memberimu rezeki selain-Nya? Sedangkan makhluk tidak dapat memberi rezeki terhadap diri mereka, lalu bagaimana mereka memberi rezeki kepada selain mereka. Dengan demikian, Allah Yang memberi rezeki dan nikmat, dimana tidak ada satu pun nikmat yang diperoleh hamba kecuali dari-Nya, maka Dialah yang berhak diibadahi saja. Akan tetapi, orang-orang kafir sebagaimana diterangkan dalam lanjutan ayat di atas tetap berada di atas kesombongan dan menjauhkan diri dari kebenaran.

  1. Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup[25] yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus[26]?

[25] Ini adalah perumpamaan untuk orang-orang yang kafir.

[26] Ini adalah perumpamaan untuk orang-orang mukmin. Maksud ayat ini adalah siapakah di antara kedua orang ini yang lebih mendapatkan petunjuk? Apakah orang yang berada dalam kesesatan, tenggelam dalam kekafiran, terbalik hatinya sehingga kebenaran menurutnya batil dan kebatilan menurutnya benar ataukah orang yang mengetahui kebenaran, mengutamakannya, mengamalkannya, berjalan di atas jalan yang lurus dalam ucapan, perbuatan dan dalam semua keadaannya? Dengan memperhatikan dua orang ini sudah dapat diketahui perbedaan di antara keduanya, siapakah yang mendapat petunjuk dan siapakah yang sesat? Sesungguhnya keadaan merupakan saksi terbesar daripada perkataan.

  1. [27]Katakanlah, “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu[28].” (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.

[27] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menerangkan bahwa Dia yang berhak disembah satu-satunya dan mengajak hamba-hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya serta mengesakan-Nya dalam ibadah.

[28] Yakni Dialah yang mengadakan kamu dari yang sebelumnya tidak ada tanpa ada yang membantu-Nya. Ketika Dia menciptakan kamu, maka Dia sempurnakan wujudmu dengan pendengaran, penglihatan dan hati, dimana anggota badan tersebut adalah anggota yang paling bermanfaat. Akan tetapi, setelah diberikan nikmat yang besar itu, sedikit sekali di antara manusia yang bersyukur.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Atau siapakah) berkedudukan menjadi mubtada (dia) menjadi khabar dari mubtada (yang) menjadi badal dari lafal haadza (menjadi tentara) yakni penolong-penolong (kalian) berkedudukan menjadi shilah dari lafal alladzii (yang akan menolong kalian) menjadi sifat dari lafal jundun (selain daripada Allah Yang Maha Penyayang) yang dapat menolak datangnya azab bagi kalian; yakni tiada seseorang pun yang dapat menolong kalian (tidak lain) tiadalah (orang-orang kafir itu hanyalah dalam keadaan tertipu) mereka tertipu oleh setan, bahwasanya azab tidak akan turun atas mereka.
  2. (Atau siapakah dia yang memberi kalian rezeki jika Dia menahan) yakni Allah Yang Maha Penyayang menahan (rezeki-Nya) yakni hujan-Nya terhadap kalian. Jawab syaratnya tidak disebutkan, karena dapat disimpulkan dari kalimat sebelumnya. Lengkapnya, siapakah yang dapat memberi kalian rezeki? Tentu tiada seorang pun yang dapat memberikan rezeki kepada kalian selain-Nya. (Tetapi mereka terus-menerus) berkelanjutan (di dalam kesombongan) dalam kesombongannya (dan menjauhkan diri) dari kebenaran.
  3. (Maka apakah orang yang berjalan terjungkal) yakni terbalik (di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap) yakni secara wajar dengan kakinya (di atas jalan) tuntunan (yang lurus) khabar dari mubtada yang kedua tidak disebutkan karena cukup hanya ditunjukkan oleh makna yang terkandung di dalam khabar yang pertama, yakni lebih banyak mendapat petunjuk. Perumpamaan ini menggambarkan tentang keadaan orang yang kafir pada permintaan yang pertama, dan orang yang beriman pada perumpamaan yang kedua, yakni manakah di antara keduanya yang lebih banyak mendapat petunjuk?
  4. (Katakanlah! “Dialah Yang menjadikan kalian) yakni yang telah menciptakan kalian (dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati”) atau kalbu. (Tetapi amat sedikit kalian bersyukur) huruf maa adalah huruf zaidah, dan jumlah kalimat ini merupakan jumlah isti’naf atau kalimat baru yang memberitakan tentang syukur mereka yang amat sedikit terhadap nikmat-nikmat tersebut.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman kepada orang-orang musyrik yang menyembah Dia bersama dengan yang lain-Nya, yang mereka mintai pertolongan dan rezekinya seraya mengingkari keyakinan mereka yang demikian itu, dan memberitahukan kepada mereka bahwa apa yang mereka angan-angankan dari selain Allah itu tidak akan mereka dapatkan. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari Allah Yang Maha Pemurah? (Al-Mulk: 20)

Artinya, tiada bagi kalian selain dari-Nya seorang penolong pun dan tiada pula seorang pelindung pun dan tiada pula seorang pembela pun bagi kalian selain Allah Swt. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. (Al-Mulk: 20)

Kemudian disebutkan oleh firman-Nya:

Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? (Al-Mulk: 21)

Yaitu siapakah orangnya yang dapat memberimu rezeki selain dari Allah, apabila Dia memutuskannya darimu. Dengan kata lain, tiada seorang pun yang dapat memberi, mencegah, menciptakan, memberi rezeki, dan yang menolong selain dari Allah Swt. semata, tiada sekutu bagi-Nya. Mereka mengetahui hal ini, tetapi mereka menyembah selain-Nya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Sebenarnya mereka terus-menerus. (Al-Mulk: 21)

Yakni bahkan mereka tetap berkesinambungan dalam sikap mereka yang melampaui batas, tenggelam ke dalam kedustaan dan kesesatannya.

dalam kesombongan dan menjauhkan diri. (Al-Mulk: 21)

Yaitu dalam keingkaran, keangkuhan, dan anti pati mereka terhadap perkara yang hak; mereka tidak mau mendengarkannnya dan tidak mau pula mengikutinya. Selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:

Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (Al-Mulk: 22)

Ini merupakan perumpamaan yang menggambarkan tentang keadaan orang mukmin dan orang kafir. Perumpamaan orang kafir dalam kesesatannya sama dengan seseorang yang berjalan dengan kepala terjungkir ke bawah dalam keadaan tubuh yang terbalik. Yakni dia pasti tidak dapat mengetahui ke mana jalan yang ditempuhnya dan bagaimana ia harus melangkah maju, bahkan dia dalam keadaan sesat dan kebingungan. Lalu apakah orang yang keadaannya demikian lebih mendapat petunjuk.

ataukah orang yang berjalan tegap. (Al-Mulk: 22)

Maksudnya, jalan dengan tegak, tidak terjungkal.

di atas jalan yang lurus? (Al-Mulk: 22)

Yaitu di jalan yang jelas lagi terang, sedangkan dia sendiri dalam keadaan tegak dan jalan yang ditempuhnya lurus. Demikianlah perumpamaan mereka (orang-orang mukmin) dalam kehidupan di dunia dan demikian pula keadaan mereka di akhirat nanti. Orang mukmin digiring dengan berjalan secara tegap di atas sirat yang akan mengantarkannya ke surga yang mahaluas. Adapun orang kafir, maka ia digiring dengan terjungkal alias kepala di bawah menuju ke neraka Jahanam. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْواجَهُمْ وَما كانُوا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلى صِراطِ الْجَحِيمِ

(kepada para malaikat diperintahkan), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (Ash-Shaffat: 22-23)

Yang dimaksud dengan istilah azwaj dalam ayat ini ialah orang-orang yang serupa dengan mereka.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَير، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ نُفَيع قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى وُجُوهِهِمْ؟ فَقَالَ: أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِمْ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Nafi’ yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ada orang-orang yang digiring dengan muka di bawah?” Rasulullah Saw. menjawab: Tuhan yang membuat mereka dapat berjalan dengan kaki mereka mampu membuat mereka berjalan dengan muka di bawah.

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain melalui satu jalur periwayatan.

Firman Allah Swt:

Katakanlah, “Dialah Yang Menciptakan kamu.” (Al-Mulk: 23)

Yaitu Yang Menciptakan kamu dari permulaan yang pada sebelumnya kamu bukanlah apa-apa, yakni tiada.

dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kamu. (Al-Mulk: 23)

Yang dimaksud dengan absar ialah akal, dan yang dimaksud dengan af-idah ialah pemahaman.

 (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (Al-Mulk: 23)

Yakni sedikit sekali kamu gunakan kemampuan dan kekuatan yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kalian untuk ketaatan kepada-Nya dan untuk mengerjakan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaHakikat Kebangkitan, Datang Secara Mendadak
Berita berikutnyaBukti di Alam Semesta Tentang Kekuasaan Allah