Peniupan Sangkakala dan Hancurnya Alam Semesta

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Haaqqah Ayat 13-18

0
1266

Kajian Tafsir:  Surah Al-Haaqqah Ayat 13-18, Kejadian hari Kiamat, peniupan sangkakala dan hancurnya alam semesta.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ -١٣- وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً -١٤- فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ -١٥- وَانشَقَّتِ السَّمَاء فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ -١٦- وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ -١٧- يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ -١٨

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy (Singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Q.S. Al-Haqqah : 13-18)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa idzā nufikhā fish shūri nafkhatuw wāhidah (maka bila sangkakala ditiup sekali tiup), tidak dua kali. Itulah tiupan kebangkitan.

Wa humilatil ardlu wal jibālu (dan diangkatlah bumi serta gunung-gunung). Menurut satu pendapat, dan diangkatlah segala apa yang ada di muka bumi, seperti bangunan dan gunung.

Fa dukkatā dakkataw wāhidah (lalu keduanya dibenturkan sekali bentur), yakni lalu keduanya dihancurkan sekali hancur.

Fa yauma-idzin (maka pada hari itu), yakni pada hari ketika langit dan bumi itu diangkat.

Waqa‘atil wāqi‘ah (terjadilah kiamat).

Waηsyaqqatis samā-u (dan terbelahlah langit) karena Keagungan (Allah) Yang Maha Pengasih dan turunnya para malaikat.

Fa hiya yauma-idziw wāhiyah (karena pada hari itu langit menjadi lemah), yakni menjadi terpecah belah dan lemah.

Wal malaku (dan malaikat), yakni malaikat-malaikat.

‘Alā arjā-ihā (berada di segala penjuru langit), yakni berada di seluruh pelosok, sudut, arah, dan sisi.

Wa yahmilu ‘arsya rabbika (dan menjunjung Arasy Rabb-mu), yakni menjunjung Singgasana Rabb-mu.

Fauqahum (di atas mereka), yakni di atas pundak mereka.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat itu.

Tsamāniyah (delapan [malaikat]), yakni delapan rombongan malaikat. Setiap malaikat memiliki empat muka: muka manusia, muka elang, muka singa, dan muka lembu. Menurut satu pendapat lain, delapan saf malaikat. Ada pula yang berpendapat, delapan bagian (kelompok) pemuka malaikat, yaitu malaikat penghuni langit ke tujuh.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat itu.

Tu‘radlūna (kalian akan dihadapkan), sesudah tiupan kedua untuk kebangkitan, kalian semua akan dihadapkan. Kalian akan digiring ke Padang Mahsyar, kemudian dihadapkan untuk menerima kitab-kitab (catatan amal), selanjutnya kalian dihadapkan ke Mizan.

Lā takhfā mingkum khāfiyah (tak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari kalian), yakni tak secuil pun amal kalian yang tersembunyi dari Allah Ta‘ala.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1]Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup[2],

[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tindakan-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan para rasul-Nya, bagaimana Dia membalas mereka dan menyegerakan hukuman untuk mereka di dunia, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyelamatkan Rasul dan para pengikut mereka, dimana hal ini menjadi pengantar untuk menerangkan balasan di akhirat dan penyempurnaan balasan, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan perkara-perkara dahsyat yang akan terjadi pada hari Kiamat yang diawali dengan peniupan sangkakala.

[2] Yaitu tiupan yang pertama yang menghancurkan alam semesta. Setelah itu, ditiuplah tiupan kedua, maka manusia bangkit menghadap Allah Rabbul ‘aalamiin.

  1. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan[3].

[3] Maka semuanya menjadi rata, tidak tampak tempat tinggi dan tidak tampak tempat rendah. Inilah yang dilakukan terhadap bumi. Ada pun terhadap langit, maka ia akan terbelah dan berubah warnanya dan menjadi lemah setelah sebelumnya kuat. Hal itu tidak lain karena perkara yang dahsyat yang membuatnya terbelah dan huru-hara yang besar yang membuatnya lemah.

  1. Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat,
  2. dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.
  3. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit[4]. Pada hari itu delapan malaikat[5] menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka[6].

[4] Dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada keagungan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[5] Yang sangat kuat.

[6] Ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala datang untuk memberikan keputusan di antara manusia dengan keadilan dan karunia-Nya.

  1. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu)[7], tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah)[8].

[7] Untuk dihisab.

[8] Baik badanmu, amalmu maupun sifatmu, karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala Maha mengetahui yang gaib dan yang nyata. Ketika itu, manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan dalam keadaan belum disunat dan berada di atas tanah yang rata, dimana seruan akan terdengar oleh mereka dan mereka dapat terlihat semua. Ketika itulah, Allah Subhaanahu wa Ta’aala membalas mereka sesuai yang mereka kerjakan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup) yaitu, untuk tiupan yang kedua kalinya, sebagai pemula untuk dijalankannya peradilan di antara semua makhluk.
  2. (Dan diangkatlah) diangkatlah ke atas (bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya) diadukan (sekali bentur.)
  3. (Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat) yakni hari terakhir.
  4. (Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah) melemah.
  5. (Dan malaikat-malaikat) lafal al-malaku adalah bentuk jamak dari lafal malaa’ikah, artinya malaikat-malaikat (berada di penjuru-penjuru langit) berada di seantero langit. (Dan diangkatlah Arasy Rabbmu di atas mereka) oleh malaikat-malaikat tersebut (pada hari itu yang jumlahnya ada delapan malaikat) ada delapan malaikat atau delapan barisan malaikat.
  6. (Pada hari itu kalian dihadapkan) untuk menjalani hisab (tiada yang tersembunyi) dapat dibaca laa takhfaa dan laa yakhfaa (dari keadaan kalian barang sedikit pun) yaitu dari hal-hal yang kalian rahasiakan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan perihal huru-hara yang terjadi di hari kiamat, yang hal ini terjadi pada tiupan pertama yang mengagetkan. Kemudian diiringi dengan tiupan kematian, saat itulah semua makhluk yang ada di langit dan di bumi mati semuanya kecuali orang yang dikehendaki olah Allah. Kemudian dilakukanlah tiupan kebangkitan untuk menghadap kepada Tuhan semesta alam, maka bangkit dan hidup kembalilah semua makhluk. Dan itu terjadi pada tiupan yang disebutkan dalam ayat di atas yang diungkapkan dengan lafaz yang dikukuhkan, yaitu bahwa tiupan ku sekali; karena perintah Allah tidak dapat ditentang, tidak dapat dicegah, dan tidak perlu adanya ulangan atau pengukuhan. Menurut Ar-Rabi’, terjadinya peristiwa tersebut adalah pada tiupan yang terakhir. Tetapi pendapat yang jelas adalah seperti apa yang kami sebutkan pada permulaan. Karena itulah disebutkan dalam ayat ini:

dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. (Al-Haqqah: 14)

Yakni bumi digelarkan sebagaimana digelarkan kulit yang dijajakan di pasar ‘Ukaz, lalu bumi ini diganti dengan bumi lainnya.

Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. (Al-Haqqah: 15)

Maksudnya, mulai terjadi hari kiamat.

dan terbelahlah langit, karena langit pada hari itu menjadi lemah. (Al-Haqqah: 16)

Sammak telah meriwayatkan dari seorang syekh, dari Bani Asad, dari Ali yang mengatakan bahwa langit terbelah mulai dari bagian atasnya; demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa ayat ini semakna dengan firman-Nya:

وَفُتِحَتِ السَّماءُ فَكانَتْ أَبْواباً

dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. (An-Naba’: 19)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa langit berlubang dan ‘Arasy tepat berada di atasnya.

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. (Al-Haqqah: 17)

Al-Malak adalah isim jenis, yakni para malaikat berada di semua penjuru langit.’ Menurut Ibnu Abbas, mereka berada di bagian langit yang tidak lemah, yakni di semua pinggirannya. Hal yang sama dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair dan Al-Auza’i. Ad-Dahhak mengatakan bahwa Arja-iha artinya pinggiran-pinggirannnya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, makna yang dimaksud ialah beradadi pintu-pintunya.

Ar-Rabi’ ibnu Anas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. (Al-Haqqah: 17) Yakni berada di atas bagian langit yang terbelah untuk melihat penduduk bumi.

Firman Allah Swt.:

Dan pada hari itu ada delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al-Haqqah: 17)

Yaitu di hari kiamat ‘Arasy dipikul oleh delapan malaikat. ;Arasy atau singgasana ini dapat diartikan ‘Arasy yang terbesar, atau ‘Arasy yang diletakkan di bumi pada hari kiamat nanti untuk memutuskan peradilan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Di dalam hadis Abdullah ibnu Umairah, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib sehubungan dengan mereka yang memikul ‘Arasy, disebutkan bahwa mereka terdiri dari delapan ekor kijang jantan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id alias Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Abus Samah Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Abu Qil alias Huyay ibnu Hani’; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa para malaikat pemikul ‘Arasy ada delapan, jarak antara kedua sudut mata seseorang dari mereka sama dengan jarak perjalanan seratus tahun (saking besarnya).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku yang mengatakan bahwa Ahmad ibnu Hafs ibnu Abdullah An-Naisaburi menulis surat kepadanya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibnu Tuhman, dari Musa ibnu Uqbah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

أذنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَكُمْ عَنْ مَلَكٍ مِنْ حَمَلة الْعَرْشِ: بُعْدُ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ وَعُنُقِهِ بِخَفْقِ الطَّيْرِ سَبْعُمِائَةِ عَامٍ

Telah diizinkan bagiku untuk menceritakan kepada kamu tentang malaikat-malaikat pemikul ‘Arasy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke lehernya sama dengan jarak yang ditempuh burung terbang selama tujuh ratus tahun.

Sanad hadis ini jayyid, semua perawinya siqat.

Imam Abu Daud telah meriwayatkannya di dalam Kitabus Sunnah, bagian dari kitab sunannya:

telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hafs ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Tuhman, dari Musa ibnu Uqbah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ: أَنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ

Telah diizinkan bagiku untuk menceritakan tentang seorang malaikat dari para malaikat pemikul ‘Arasy Allah Swt., bahwa jarak antara daun telinganya sampai kepundaknya sama dengan jarak perjalanan tujuh ratus tahun,

Ini menurut lafaz Imam Abu Daud.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Asy’as, dari Ja’far, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan pada hari itu ada delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al-Haqqah: 17) Bahwa makna yang dimaksud ialah delapan baris malaikat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dari Asy-Sya’bi, Ikrimah, Ad-Dahhak, dan Ibnu Juraij. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah delapan baris malaikat. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas. Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa mereka adalah Malaikat Karubiyyun, terdiri dari delapan bagian; setiap bagian (golongan) dari mereka sama banyaknya dengan bilangan manusia, jin, setan, dan para malaikat lainnya.

Firman Allah Swt.:

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Al-Haqqah: 18)

Yakni kalian akan dihadapkan kepada Tuhan Yang mengetahui rahasia dan pembicaraan rahasia, Yang tiada sesuatu pun dari keadaanmu tersembunyi bagi-Nya. Bahkan Dia mengetahui semua yang nyata dan semua yang tersembunyi dan semua rahasia serta yang terkandung di dalam hati. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Al-Haqqah: 18)

Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ja’far ibnu Barqan, dari Sabit Al-Hajjaj yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab pernah mengatakan, “‘Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab, timbanglah perbuatanmu sendiri sebelum amal perbuatanmu ditimbang. Karena sesungguhnya cara ini lebih meringankan hisabmu di kemudian hari, bila kamu menghisab dan menimbang amalmu sendiri di hari sekarang untuk menghadapi hari hisab yang besar.”

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Al-Haqqah: 18)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Rifa’ah, dari Al-Hasan, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

يُعْرَضُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَ عَرَضَاتٍ، فَأَمَّا عَرْضَتَانِ فجدالٌ ومعاذيرُ، وَأَمَّا الثَّالِثَةُ فَعِنْدَ ذَلِكَ تَطِيرُ الصُّحُفُ فِي الْأَيْدِي، فَآخِذٌ بِيَمِينِهِ وَآخِذٌ بِشِمَالِهِ

Kelak manusia dihadapkan kepada Tuhan mereka pada hari kiamat sebanyak tiga kali; pada penampilan yang pertama dan yang kedua terjadi perdebatan dan alasan-alasan. Sedangkan pada penampilan yang ketiga saat itu beterbanganlah semua buku catatan amal perbuatan di terima di tangan masing-masing; maka ada yang menerimanya dari sebelah kanannya, dan ada pula yang menerimanya dari sebelah kirinya.

Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki’. Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Abu Kuraib, dari Waki’, dari Ali ibnu Ali, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah dengan lafaz yang sama.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Mujahid ibnu Musa, dari Yazid, dari Sulaim ibnu Hayyan, dari Marwan Al-Asgar, dari Abu Wa-il, dari Abdullah yang mengatakan bahwa manusia ditampilkan ke hadapan Tuhan mereka sebanyak tiga kali di hari kiamat; pada penampilan yang pertama dan yang kedua terjadi ungkapan alasan-alasan dan perdebatan, sedangkan pada penampilan yang ketiga kitab-kitab catatan amal perbuatan beterbangan diterima di tangan masing-masing dari mereka; ada yang menerimanya dari sebelah kanannya, ada pula yang menerimanya dari sebelah kirinya.

Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkannya dari Qatadah secara mursal dengan lafaz yang semisal.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Pada ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan cara pembalasan.

 

Berita sebelumyaDiberi Catatan Amal dengan Tangan Kanannya
Berita berikutnyaHukuman Bagi yang Mendustakan Hari Kiamat