Mereka Memandang Azab Itu Mustahil

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ma'arij Ayat 4-7

0
822

Kajian Tafsir:  Surah Al-Ma’arij Ayat 4-7, Sikap melampaui batas orang-orang kafir dan bagaimana mereka mengolok-olok peringatan dan azab yang diancamkan. Mereka memandang azab itu mustahil.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ -٤- فَاصْبِرْ صَبْراً جَمِيلاً -٥- إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيداً -٦- وَنَرَاهُ قَرِيباً -٧

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik. Mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). (Q.S. Al-Ma’arij : 4-7)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Ta‘rujul malā-ikatu war rūhu (malaikat-malaikat dan ar-Ruh naik), yakni malaikat-malaikat dan Jibril naik.

Ilaihi (kepada-Nya), yakni kepada Allah Ta‘ala.

Fī yauming kāna miqdāruhū (dalam sehari yang ukurannya), yakni ukuran naik untuk selain malaikat.

Khamsīna alfa sanah (adalah lima puluh ribu tahun). Menurut satu pendapat, azab tersebut datang dari Allah Ta‘ala menimpa orang-orang kafir dalam sehari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Ada yang berpendapat, andaikata penghisaban seluruh makhluk diserahkan kepada selain Allah Ta‘ala, niscaya hal itu tidak akan selesai dalam kurun waktu lima puluh ribu tahun.

Fashbir (maka bersabarlah kamu) dalam menghadapi gangguan mereka, hai Muhammad ﷺ.

Shabraη jamīlā (dengan kesabaran yang baik), yakni tanpa berkeluh kesah dan melontarkan kata-kata kotor. Menurut yang lain, menghindarlah dari mereka dengan cara yang baik, tanpa berkeluh kesah dan melontarkan kata-kata kotor. Sesudah itu barulah beliau diperintahkan untuk berperang.

Innahum (sesungguhnya mereka), yakni orang-orang kafir Mekah.

Yaraunahū (memandang hal itu), yakni memandang azab pada hari kiamat.

Ba‘īdā (jauh), yakni tidak akan terjadi.

Wa narāhu qarībā (sedangkan Kami memandang hal itu dekat), sebab segala sesuatu yang akan terjadi, adalah dekat.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Para malaikat dan Jibril[6] naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun[7].

[6] Ar Ruh di ayat ini ada yang menafsirkan dengan malaikat Jibril, dan ada pula yang menafsirkan dengan semua ruh, baik ruh orang baik maupun ruh orang jahat, yaitu ketika wafat. Ruh orang-orang yang baik naik kepada Allah, lalu ia diizinkan melewati langit yang satu ke langit berikutnya dan seterus sampai ke langit yang di sana ada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Adapun ruh orang-orang kafir, maka ia naik ke atas langit sampai di langit pertama ternyata tidak diizinkan untuk melewati langit tersebut dan dilepaslah ruhnya oleh para malaikat yang membawanya sehingga ia jatuh dari langit seperti yang difirmankan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala, “Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Terj. Al Hajj: 31)

[7] Maksudnya, para malaikat dan ruh jika menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’aala memakan waktu satu hari yang apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu lima puluh ribu tahun. Ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya adalah hari Kiamat yang Allah jadikan bagi orang-orang kafir seukuran lima puluh ribu tahun, berbeda dengan orang-orang mukmin yang hanya sebentar.

Syaikh As Sa’diy berkata, “Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan jarak yang ditempuh para malaikat dan ruh ketika menghadap Allah, dan bahwa mereka naik dalam sehari dengan sebab dan bantuan yang Allah berikan kepada mereka berupa kehalusan, ringan dan cepat bergerak, padahal jarak tersebut biasanya ditempuh lamanya seukuran lima puluh ribu tahun dari mulai naik sampai tiba di tempatnya yang ditentukan untuknya dan menjadi tempat terakhir penghuni langit yang tinggi. Ini adalah kerajaan yang besar, alam yang besar, baik bagian atas maupun bawahnya; semuanya diurus ciptaan dan pengaturannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala Yang Maha Tinggi. Dia mengetahui keadaan mereka yang tampak maupun yang tersembunyi, mengetahui tempat menetap (dunia) dan tempat penyimpanannya (akhirat), Dia menyampaikan kepada mereka rahmat-Nya, kebaikan-Nya dan rezeki-Nya yang merata dan menyeluruh kepada mereka serta memberlakukan hukum qadari-Nya terhadap mereka, hukum syar’inya dan hukum jaza’i(pembalasan)nya. Maka sungguh sengsara mereka yang tidak mengetahui keagungan-Nya, tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya sehingga mereka meminta disegerakan azab sambil melemahkan dan hendak menguji coba, dan Mahasuci Allah Yang Mahasantun yang menunda mereka dan tidak membiarkan, mereka menyakiti-Nya namun Dia sabar terhadap mereka, menjaga mereka dan mengaruniakan rezeki. Ini adalah salah satu tafsir terhadap ayat yang mulia tersebut, sehingga naik ke atas ini maksudnya di dunia karena susunan yang pertama menunjukkan demikian. Bisa juga maksudnya, bahwa hal ini pada hari Kiamat dan bahwa Allah Tabaaraka wa Ta’aala pada hari Kiamat memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya di antara keagungan dan kebesaran-Nya yang menjadi dalil terbesar untuk mengenal-Nya karena mereka menyaksikan naiknya para malaikat dan ruh ke atas dan ke bawah dengan pengaturan ilahi dan urusan-urusan terhadap makhluk, pada hari itu yang ukurannya lima puluh ribu tahun karena lama dan dahsyatnya, akan tetapi Allah Subhaanahu wa Ta’aala meringankannya untuk orang mukmin.”

  1. Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik[8].

[8] Yakni bersabarlah dalam mendakwahi kaummu dengan kesabaran yang baik yang tidak ada sikap bosan di sana. Tetaplah di atas perintah Allah dan ajaklah manusia mentauhidkan-Nya dan janganlah menghalangimu untuk berdakwah sikap mereka tidak mau tunduk terhadap dakwahmu karena bersabar terhadapnya terdapat kebaikan yang besar.

  1. Mereka memandang (azab) itu[9] jauh (mustahil)[10].

[9] Bisa juga dhamir (k. ganti nama) pada kata “huu” di ayat tersebut kembalinya kepada kebangkitan, dimana pada saat itu terjadi azab terhadap orang-orang yang memintanya itu.

[10] Keadaan mereka adalah keadaan orang-orang yang mengingkarinya sehingga menganggap jauh apa yang ada di hadapannya berupa kebangkitan, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’aala memandangnya dekat karena Dia Mahalembut, Mahasantun dan tidak cepat-cepat, dan Dia mengetahui bahwa hal itu pasti terjadi dan sesuatu yang pasti terjadi adalah dekat.

  1. Sedang Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).

.

Tafsir Jalalain

  1. (Naiklah) dapat dibaca ta`ruju dan ya`ruju (malaikat-malaikat dan Jibril) Malaikat Jibril (kepada-Nya) kepada tempat turun bagi perintah-Nya di langit (dalam sehari) lafal fii yaumin bertaalluq kepada lafal yang tidak disebutkan, azab menimpa orang-orang kafir pada hari kiamat (yang kadarnya lima puluh ribu tahun) ini menurut apa yang dirasakan oleh orang kafir, karena penderitaan dan kesengsaraan yang mereka temui di hari itu. Adapun orang yang beriman merasakan hal itu amat pendek, bahkan lebih pendek daripada satu kali salat fardu yang dilakukan sewaktu di dunia. Demikianlah menurut keterangan yang disebutkan di dalam hadis.
  2. (Maka bersabarlah kamu) ayat ini diturunkan sebelum ada perintah berperang (dengan sabar yang baik) sabar yang tidak disertai dengan gelisah.
  3. (Sesungguhnya mereka memandangnya) memandang azab itu (jauh) artinya mustahil akan terjadi.
  4. (Sedangkan Kami memandangnya dekat) pasti terjadi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaSehari Setara dengan Lima Puluh Ribu Tahun
Berita berikutnyaSikap Melampaui Batas Orang-orang Kafir