Anehnya Mereka Ingin Masuk Surga

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ma'arij Ayat 36-39

0
614

Kajian Tafsir:  Surah Al-Ma’arij Ayat 36-39. Membicarakan tentang orang-orang kafir yang mengolok-olok Rasulullah ﷺ dan anehnya mereka ingin masuk surga.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ -٣٦- عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ -٣٧- أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَن يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ -٣٨- كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّمَّا يَعْلَمُونَ -٣٩

Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad), Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan? Tidak mungkin! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa mālil ladzīna kafarū (lalu mengapakah orang-orang kafir), yakni mengapakah orang-orang kafir Mekah dan orang-orang yang mengolok-olok.

Qibalaka (ke arahmu), yakni ke sekitarmu.

Muh thi‘īn (bersegera datang), yakni memandang ke arahmu dalam keadaan tercerai berai, tetapi mereka tidak mau mendekat.

‘Anil yamīni wa ‘anisy syimāli ‘izīn (dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok), yakni kelompok demi kelompok.

A yathma‘u kullumri-im minhum ay yudkhala jannata na‘īm (apakah tiap-tiap orang dari orang-orang kafir mengharapkan dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan).

Kallā (sekali-kali tidak). Ungkapan ini merupakan penyangkalan terhadap mereka.

Innā khalaqnāhum (sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka), yakni orang-orang kafir Mekah.

Mimmā ya‘lamūn (dari bahan yang mereka ketahui), yakni dari nutfah.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1]Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad),

[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menerangkan tentang tertipunya orang-orang kafir.

  1. dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok[2]?

[2] Dengan merasa bangga terhadap apa yang ada pada mereka. Menurut keterangan sebagian ahli tafsir, ayat ini berhubungan dengan peristiwa ketika Rasulullah ﷺ shalat dan membaca Al-Qur’an di dekat ka’bah lalu orang-orang musyrik berkumpul berkelompok-kelompok di hadapannya sambil mengejek dan mengatakan, “Jika orang-orang mukmin benar-benar akan masuk surga sebagaimana kata Muhammad ﷺ, tentu kita yang akan masuk lebih dahulu.” Maka turunlah ayat 38.

  1. Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan[3]?

[3] Sebab apa yang membuat mereka berkeinginan demikian? Bukankah yang mereka siapkah hanya kekafiran dan mengingkari Rabbul ‘aalamiin.

  1. Tidak mungkin![4] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui[5].

[4] Keadaannya tidaklah sesuai dengan harapan mereka dan mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan meskipun mereka kerahkan kemampuan mereka.

[5] Yang dimaksud dengan ayat ini ialah, bahwa mereka (orang-orang kafir) diciptakan Allah dari air mani untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan Rasul. Jika mereka tidak beriman dan bertakwa, maka mereka tidak berhak masuk surga. Atau maksudnya, karena mereka diciptakan dari air mani sehingga mereka lemah tidak berkuasa apa-apa untuk memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan bahaya, tidak berkuasa mematikan, menghidupkan dan membangkitkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mengapakah orang-orang kami itu ke arahmu) menuju kepadamu (dengan bersegera) lafal muhthi`iina berkedudukan sebagai hal atau kata keterangan keadaan, yakni mereka selalu menatapkan pandangannya ke arahmu secara terus-menerus.
  2. (Dari kanan dan dari kiri) dari sebelah kananmu dan sebelah kirimu (dengan berkelompok-kelompok) secara bergerombol dan membentuk lingkaran di sekitarmu. Mereka berbuat demikian seraya mengatakan dengan nada mengejek, “Sungguh jika mereka, yakni orang-orang yang beriman, masuk ke dalam surga, niscaya kami benar-benar akan masuk ke dalamnya sebelum mereka.” Maka Allah berfirman:
  3. (“Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan?”)
  4. (Sekali-kali tidak!) kalimat ini merupakan sanggahan terhadap mereka yang ingin masuk surga, padahal mereka kafir.

(Sesungguhnya Kami ciptakan mereka) sama dengan selain mereka (dari apa yang mereka ketahui) yakni dari air mani; maka tidak cukup hanya dengan itu mereka mengharapkan surga, karena sesungguhnya surga itu hanya dapat diharapkan bagi orang-orang yang bertakwa.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. mengingkari sikap orang-orang kafir yang semasa dengan Nabi ﷺ padahal mereka menyaksikan Nabi ﷺ dan juga petunjuk yang diamanatkan oleh Allah kepadanya untuk menyampaikannya, dan mukjizat-mukjizat yang jelas lagi cemerlang yang diberikan oleh Allah kepadanya untuk menguatkan kerasulannya. Kemudian dengan adanya semua itu mereka masih juga lari darinya dan bubar meninggalkannya, ada yang ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri dengan berkelompok-kelompok, semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فَما لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ

Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. (Al-Muddatstsir: 49-51)

Ayat-ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam surat ini, karena Allah Swt. berfirman:

Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. (Al-Ma’arij: 36)

Yakni mengapa orang-orang kafir itu bersegera meninggalkanmu, hai Muhammad. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa muhti’in artinya pergi.

Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma’arij: 37)

Bentuk tunggalnya ialah ‘izah, yakni berkelompok-kelompok. Ini merupakan kata keterangan keadaan dari lafaz muhti’in, yakni saat mereka bubar darinya berkelompok-kelompok karena tidak setuju dan menentangnya. Imam Ahmad telah mengatakan sehubungan dengan para penghamba nafsu, bahwa mereka selalu menyimpang dari Al-Qur’an, dan menentangnya serta sepakat untuk menentangnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Mengapa orang-orang kafir itu bersegera bubar dari arahmu. (Al-Ma’arij: 36) Yakni mereka mengarahkan pandangannya ke arahmu. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok, (Al-Ma’arij: 37) Bahwa ‘iz’in artinya berkelompok-kelompok, ada yang dari arah kanan dan ada yang dari arah kiri, berpaling darinya seraya memperolok-olok dia.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Qurrah, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dari kanan dan dari kiri membubarkan dirinya (Al-Ma’arij: 37) Yaitu bubar meninggalkan dia, ada yang ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri seraya mengatakan, “Apa yang dikatakan lelaki ini?” dengan nada mencemoohkan.

Qatadah mengatakan bahwa muhti’in artinya sengaja datang. Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (Al-Ma’arij: 37) Yakni membuat kelompok-kelompok di sekeliling Nabi ﷺ, tetapi bukan kerena menyukai Kitabullah dan bukan pula Nabi-Nya.

As-Sauri, Syu’bah, Absar ibnul Qasim, Aisy ibnu Yunus, Muhammad ibnu Fudail, Waki’, Yahya Al-Qattan, dan Abu Mu’awiyah, semuanya telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Al-Musayyab ibnu Rati’, dari Tamim ibnu Tarfah, dari Jabir ibnu Samurah, bahwa Rasulullah ﷺ keluar menemui para sahabat, sedangkan para sahabat saat itu sedang duduk berkelompok-kelompok. Maka beliau bertanya, “Mengapa kalian kulihat berkelompok-kelompok?”

Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Al-A’masy dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Mu’ammal, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ Keluar menemui para sahabatnya, sedangkan mereka dalam keadaan berkelompok-kelompok membentuk lingkaran-lingkaran, maka beliau ﷺ bertanya,

مَا لِي أَرَاكُمْ عِزِينَ؟

“Mengapa kulihat kalian berkelompok-kelompok?”

Sanad hadis ini jayyid (baik), tetapi kami tidak menemukan pada suatu kitab-pun dari kitab Sittah yang meriwayatkannya dari jalur ini.

Firman Allah Swt.:

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! (Al-Ma’arij: 38-39)

Maksudnya, apakah mereka yang keadaannya seperti itu, yakni lari dari Rasul dan anti pati terhadap perkara hak, dapat memasuki surga-surga yang penuh dengan kenikmatan? Sekali-kali tidak, bahkan tempat kembali mereka adalah neraka Jahanam. Selanjutnya Allah Swt. berfirman, menyatakan bahwa hari kiamat itu pasti terjadi dan azab akan menimpa mereka yang mengingkari kejadiannya dan menganggapnya sebagai kejadian yang mustahil. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. dengan membuktikan terhadap mereka bahwa Dialah Yang Menciptakan mereka dari semula; maka mengembalikan penciptaan itu jauh lebih mudah bagi-Nya daripada memulainya, padahal mereka mengakui hal ini. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). (Al-Ma’arij: 39)

Yaitu dari air mani yang lemah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ ماءٍ مَهِينٍ

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. (Al-Mursalat: 20)

Dan firman Allah Swt.:

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ ماءٍ دافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرائِبِ إِنَّهُ عَلى رَجْعِهِ لَقادِرٌ يَوْمَ تُبْلَى السَّرائِرُ فَما لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلا ناصِرٍ

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. (At-Tariq: 5-10)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKebangkitan dan Pembalasan Adalah Hak
Berita berikutnyaSifat Orang-orang Mukmin dan Balasannya