Jin Menceritakan Perihal Diri Mereka

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Jinn Ayat 11-13

0
648

Kajian Tafsir:  Surah Al-Jinn Ayat 11-13, Jin menceritakan perihal diri mereka. Jin menempuh jalan yang berbeda-beda, di antara mereka ada yang saleh dan di antara mereka ada pula yang tidak demikian halnya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَداً -١١- وَأَنَّا ظَنَنَّا أَن لَّن نُّعجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَن نُّعْجِزَهُ هَرَباً -١٢- وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَن يُؤْمِن بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْساً وَلَا رَهَقاً -١٣

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari-Nya) dengan lari. Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (Q.S. Al-Jinn : 11-13)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa annā minnash shālihūna (dan bahwasanya di antara kami ada kaum yang saleh), yakni kaum yang bertauhid. Mereka adalah kaum yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa minnā dūna dzālika (dan di antara kami ada pula) yang tidak demikian halnya), yakni yang kafir. Mereka adalah kaum kafirin bangsa jin.

Kunnā tharā-iqa qidadā (adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda), yakni mengikuti hawa nafsu yang berbeda-beda, ada yang beragama Yahudi dan ada pula yang beragama Nasrani sebelum kami beriman kepada Allah Ta‘ala.

Wa annā zhanannā (dan bahwasanya kami mengetahui) dan meyakini.

Al lan nu‘jizallāha fil ardli (bahwa kami sekali-kali tidak akan bisa melepaskan diri dari Allah di bumi), yakni bahwa kami tidak bisa luput dari Allah Ta‘ala di bumi ini. Di mana pun kami berada, pastilah Dia akan menemukan kami.

Wa lan nu‘jizahū harabā (dan kami sekali-kali tidak pula bisa melepaskan diri dari-Nya dengan melarikan lari), yakni kami tidak akan dapat luput dari-Nya dengan melarikan diri.

Wa annā lammā sami‘nal hudā (dan bahwasanya kami, ketika mendengar petunjuk), yakni bacaan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad ﷺ.

āmannā bih (kami pun beriman kepadanya), yakni kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad ﷺ.

Fa may yu’mim bi rabbihī fa lā yakhāfu bakhsan (barangsiapa beriman kepada Rabb-nya, maka ia tidak akan takut dengan pengurangan pahala), yakni tidak akan takut dengan pengurangan amalnya barang sedikit pun.

Wa lā rahaqā (dan tidak pula dengan penambahan dosa), yakni tidak akan takut dengan pembebanan di luar batas kemampuannya.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Dan sesungguhnya di antara kami (jin)[16] ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya[17]. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda[18].

[16] Setelah mendengarkan Al-Qur’an.

[17] Yakni yang fasik dan yang kafir.

[18] Ada yang muslim dan ada yang kafir.

  1. Dan sesungguhnya kami (jin) telah menduga, bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya[19].

[19] Yakni bahwa sekarang jelaslah bagi kami sempurnanya kekuasaan Allah dan sempurnanya kelemahan kami, dan bahwa ubun-ubun kami di Tangan Allah; kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya meskipun kami telah berusaha meloloskan diri. Oleh karena itu, tidak ada tempat perlindungan bagi kami selain kembali kepada-Nya.

  1. Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. [20]Maka barang siapa beriman kepada Tuhan[21], maka tidak perlu lagi ia takut rugi[22] atau dizalimi[23].

[20] Selanjutnya mereka menyebutkan sesuatu yang mendorong manusia melakukannya.

[21] Dengan iman yang sebenarnya.

[22] Seperti dikurangi kebaikannya.

[23] Seperti ditambah keburukannya. Ada pula yang mengartikan ‘rahaqaa’ dengan mendapatkan gangguan dan keburukan. Apabila seseorang selamat dari keburukan, maka ia akan memperoleh kebaikan. Dengan demikian, iman merupakan sebab untuk memperoleh semua kebaikan dan terhindar dari semua keburukan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh) sesudah mendengarkan Alquran ini (dan di antara kami ada pula yang tidak demikian halnya) ada kaum yang tidak saleh. (Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda) terdiri dari golongan yang berbeda-beda; ada yang muslim dan ada pula yang kafir.
  2. (Dan sesungguhnya kami yakin, bahwa) huruf an ini adalah bentuk takhfif dari anna, asalnya annahu (kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri, dari kekuasaan, Allah di muka bumi, dan sekali-kali tidak pula dapat melepaskan diri daripada-Nya dengan lari) maksudnya, kami tidak akan dapat menyelamatkan diri daripada-Nya, apakah kami berada di bumi atau kami lari dari bumi menuju ke langit.
  3. (Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk) yakni Alquran (kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak usah takut) sesudah lafal yakhaafu diperkirakan adanya lafal huwa (akan kekurangan) pengurangan pahala kebaikannya (dan tidak pula takut akan dizalimi) diperlakukan secara zalim, yaitu dengan penambahan kesalahan dan dosanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. (Al-Jin: 11)

Yakni tidak saleh.

Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al-Jin: 11)

Maksudnya, berbeda-beda pendapat dan jalannya serta berpecah belah. Ibnu Abbas dan Mujahid serta bukan hanya seorang yang lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Adalah kami menempuhjalan yang berbeda-beda. (Al-Jin: 11) Yaitu di antara kami ada yang beriman dan ada pula yang kafir.

Ahmad ibnu Sulaiman An-Najjad di dalam kitab Amali-nya. mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Aslam ibnu Sahl Bahasyal, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sulaiman alias Abusy Sya’sa Al-Hadrami guru Imam Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-A’masy mengatakan bahwa pernah ada jin datang kepada kami, lalu aku bertanya kepadanya, “Makanan apakah yang paling engkau sukai?” Jin itu menjawab, “Nasi.” Maka aku suguhkan kepadanya nasi, dan aku melihat suapan nasi diangkat, tetapi aku tidak melihat sesosok tubuh pun. Dan aku bertanya pula kepadanya, “Apakah di kalangan kalian terdapat aliran-aliran seperti yang ada pada kami?” Jin itu menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Lalu siapakah kalangan Rafidah di antara kalian?” Jin menjawab, “Yang paling terburuk di antara kami.”

Aku kemukakan sanad asar ini kepada guru kami Al-Hafiz Abul Hajjaj Al-Muzani, maka ia menjawab bahwa sanad ini sahih sampai kepada Al-A’masy.

Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam biografi Al-Abbas ibnu Ahmad Ad-Dimasyqi menyebutkan bahwa Al-Abbas pernah mendengar jin mendendangkan syair berikut di malam hari ketika ia berada di rumahnya, yaitu sebagai berikut:

قُلوبٌ بَرَاها الْحُبُّ حَتى تعلَّقت … مَذَاهبُها فِي كُلّ غَرب وشَارقِ …

تَهيم بِحُبِّ اللَّهِ، واللهُ رَبُّها … مُعَلَّقةٌ بِاللَّهِ دُونَ الخَلائقِ

Hati ini telah dipenuhi oleh rasa cinta sehingga terbelenggu ke mana pun pergi, baik ke arah barat maupun ke arah timur, karena tergila-gila dengan cinta kepada Allah, padahal Allah adalah Tuhannya; hati ini bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk.

Firman Allah Swt.:

Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi, dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari-Nya) dengan lari. (Al-Jin: 12)

Yakni kami mengetahui bahwa kekuasaan Allah menguasai diri kami dan sesungguhnya kami tidak dapat menyelamatkan diri di bumi ini dari kekuasaan Allah, sekalipun kami lari dengan sekuat kami. Karena sesungguhnya Dia berkuasa atas kami, tiada seorang pun yang dapat menghalang-halangi-Nya dari kami.

Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. (Al-Jin: 13)

Mereka merasa bangga dengan keimanan mereka, dan memang hal ini merupakan kebanggaan dan penghormatan yang tinggi serta sifat baik yang dimiliki mereka. Mengenai ucapan mereka yang disebutkan oleh firman berikutnya:

Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 13)

Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan selain keduanya, dia tidak akan merasa takut pahalanya dikurangi atau dibebankan kepadanya dosa orang lain. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

فَلا يَخافُ ظُلْماً وَلا هَضْماً

maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (Thaha: 112)

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaJin Ada yang Mukmin Ada yang Kafir
Berita berikutnyaKeadaan Jin yang Mencuri Berita dari Langit