Bacalah Al-Qur’an Itu dengan Perlahan-lahan

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Muzzammil Ayat 4

0
1361

Kajian Tafsir:  Surah Al-Muzzammil Ayat 4, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً -٤

Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Q.S. Al-Muzzammil : 4)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Au zid ‘alaihi (atau lebihkan darinya), yakni dari seperdua menjadi dua pertiga. Allah Ta‘ala memberikan kebebasan memilih kepada beliau dalam melaksanakan shalat malam.

Wa rattilil qur-āna tartīlā (dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan), yakni bacalah Al-Qur’an dengan perlahan, lancar, hati-hati, dan tenang. Kamu baca Al-Qur’an satu, dua, atau tiga ayat, demikian seterusnya hingga kamu berhenti.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Atau lebih dari (seperdua) itu[4], dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan[5].

[4] Seperti dua pertiga.

[5] Hal itu, karena membaca Al-Qur’an dengan tartil dapat membantu untuk mentadabburi dan memikirkan maknanya, menggerakkan hati, dapat beribadah dengan ayat-ayatnya dan dapat menjadikan diri bersiap-siap secara sempurna (fokus) kepadanya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Atau lebih dari seperdua) hingga mencapai dua pertiganya; pengertian yang terkandung di dalam lafal au menunjukkan makna boleh memilih. (Dan bacalah Al-Qur’an itu) mantapkanlah bacaannya (dengan perlahan-lahan.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Al-Muzzammil: 4)

Maksudnya, bacalah Al-Qur’an dengan tartil (perlahan-lahan) karena sesungguhnya bacaan seperti ini membantu untuk memahami dan merenungkan makna yang dibaca, dan memang demikianlah bacaan yang dilakukan oleh Nabi Saw. Sehingga Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi ﷺ bila membaca Al-Qur’an yaitu perlahan-lahan sehingga bacaan beliau terasa paling Iama dibandingkan dengan orang Lain.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui sahabat Anas r.a., bahwa ia pernah ditanya tentang bacaan yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Maka ia menjawab, bahwa bacaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh beliau panjang. Bila beliau membaca: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Al-Fatihah: 1) Maka beliau memanjangkan bismillah, dan memanjangkan Ar-Rahman dan juga memanjangkan bacaan Ar-Rahim.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ummu Salamah r.a., bahwa ia pernah ditanya tentang qiraat Rasulullah ﷺ. Maka Ummu Salamah menjawab bahwa beliau membaca Al-Qur’an ayat demi ayat yang setiap ayatnya berhenti:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. (Al-Fatihah: 1-4)

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud serta Imam Turmuzi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وارْقَ، ورَتِّل كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Sufyan, dari Asim, dari Zar, dari Abdullah ibnu Amr, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, “Bacalah dengan suara indah dan perlahan-lahan sebagaimana engkan membacanya dengan tartil sewaktu di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu berada di akhir ayat yang kamu baca!”

Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini kalau tidak hasan, sahih.

Dalam pembahasan yang terdahulu pada permulaan tafsir telah disebutkan hadis-hadis yang menunjukkan anjuran membaca Al-Qur’an dengan bacaan tartil dan suara yang indah, seperti hadis berikut:

زَيِّنوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian!

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an.

Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda setelah mendengar suara Abu Musa Al-Asy’ari membaca Al-Qur’an:

لَقَدْ أُوتِيَ هذا مزمار مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

Sesungguhnya orang ini telah dianugerahi suara yang indah seperti suara seruling keluarga Daud.

Maka Abu Musa menjawab, “Seandainya aku mengetahui bahwa engkau mendengarkan bacaanku, tentulah aku akan melagukannya dengan lagu yang terindah untukmu.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia telah mengatakan, “Janganlah kamu membacanya dengan bacaan seperti menabur pasir, jangan pula membacanya dengan bacaan tergesa-gesa seperti membaca puisi (syair). Berhentilah pada hal-hal yang mengagumkan, dan gerakkanlah hati untuk meresapinya, dan janganlah tujuan seseorang dari kamu hanyalah akhir surat saja.” Diriwayatkan oleh Al-Bagawi.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Murrah; ia pernah mendengar Abu Wa-il mengatakan, bahwa seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, lalu berkata, “Tadi malam aku telah membaca surat Al-Mufassal (surat-surat yang pendek) dalam satu rakaat.” Maka Ibnu Mas’ud menjawab, “Berarti bacaanmu seperti bacaan terhadap syair (tergesa-gesa). Sesungguhnya aku telah mengetahui surat-surat yang bacaannya digandengkan oleh Rasulullah ﷺ di antara surat-surat Al-Mufassal itu.” Lalu Ibnu Mas’ud menyebutkan dua puluh surat dari surat Al-Mufassal, dua surat tiap rakaatnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKami Akan Menurunkan Perkataan yang Berat
Berita berikutnyaMempersiapkan Mental Agar Siap Berdakwah