Bacalah Apa yang Mudah dari Al-Qur’an

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Muzzammil Ayat 20

0
1036

Kajian Tafsir:  Surah Al-Muzzammil Ayat 20, bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang lain berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an (Q.S. Al-Muzzammil : 20)

.

Tafsir Ibnu Abbas

‘Alima aη sayakūnu mingkum mardlā (Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kalian itu orang-orang yang sakit), yakni orang-orang yang terluka yang tidak sanggup melaksanakan shalat malam.

Wa ākharūna yadlribūna (dan yang lainnya bepergian), yakni mengadakan perjalanan.

Fil ardli (di bumi) dalam rangka berdagang dan lain-lain.

Yabtaghūna miη fadllillāhi (mencari sebagian Karunia Allah), yakni sebagian rezeki Allah Ta‘ala dan lain sebagainya, sehingga membuat mereka kesulitan untuk menunaikan shalat malam.

Wa ākharūna yuqātilūna (dan yang lainnya lagi yang berperang), yakni berjihad.

Fī sabīlillāhi (di Jalan Allah), yakni dalam rangka taat kepada Allah Ta‘ala, sehingga mereka pun mengalami kesulitan untuk menunaikan shalat malam.

Faq ra-ū mā tayassara (maka bacalah apa yang mudah) bagi kalian.

Minhu (darinya), yakni dari (ayat-ayat) Al-Qur’an ketika shalat.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-29


Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

20. [18]Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit[19], dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah[20]; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an[21]

[18] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sebagian sebab mengapa diberi keringanan.

[19] Dimana mereka kesulitan melakukan shalat duapertiga malam, separuhnya atau sepertiganya. Oleh karena itu, hendaknya ia melakukan shalat yang dirasakannya mudah dan ia pun tidak diperintahkan shalat sambil berdiri ketika sulit melakukannya, bahkan kalau ia kesulitan melakukan shalat sunat, maka ia boleh meninggalkannya dan ia akan mendapatkan pahala seperti yang dilakukannya ketika sehat.

[20] Dengan berdagang dan lainnya agar mereka tidak meminta-minta kepada manusia. Mereka (orang-orang musafir) sangat layak diberikan keringanan. Oleh karena itu, ia boleh mengqashar (mengurangi) shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat dan boleh menjama’(menggabung)nya dalam satu waktu.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan dua keringanan: (1) Keringanan untuk orang yang sehat lagi mukim (tidak safar) dengan memperhatikan waktu semangatnya tanpa ditentukan batasnya, dan sebaiknya ia memilih waktu shalat yang utama yaitu sepertiga malam. (2) Keringanan untuk orang yang sakit atau musafir baik safarnya untuk berdagang atau beribadah seperti berperang atau berjihad, berhaji atau berumrah dsb. maka ia memperhatikan keadaan yang tidak membebaninya. Segala puji bagi Allah karena Dia tidak menjadikan kesempitan dalam agama ini, bahkan Dia memudahkan syariat-Nya, memperhatikan keadaan hamba, maslahat agama, badan dan dunia mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang lain berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. (Al-Muzzammil: 20)

Yakni Allah mengetahui bahwa di antara umat ini ada orang-orang mempunyai ‘uzur dalam meninggalkan qiyamul lail, seperti karena sakit hingga tidak mampu mengerjakannya, juga orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan di muka bumi karena mencari sebagian dari karunia Allah dengan bekerja dan berdagang, dan orang-orang yang lainnya sedang sibuk dengan urusan yang lebih penting bagi mereka, yaitu berjihad di jalan Allah Swt. Ayat ini dan bahkan surat ini secara keseluruhan adalah Makkiyyah. dan saat itu peperangan masih belum disyariatkan. Dan hal ini merupakan salah satu dari bukti kenabian yang paling besar, yaitu menyangkut pemberitaan kejadian yang akan datang. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (AL-Muzzammil: 20) Artinya, kerjakanlah shalat dengan membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an bagimu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Abu Raja alias Muhammad yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan, “‘Hai Abu Sa’id, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang hafal Al-Qur’an di luar kepalanya, lalu ia tidak membacanya dalam salat malam hari kecuali hanya salat fardu saja?” Al-Hasan menjawab, “Berarti ia menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bantal tidurnya, semoga Allah melaknat orang yang seperti itu.” Al-Hasan melanjutkan, bahwa Allah telah berfirman sehubungan dengan seorang hamba yang saleh: Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Yusuf: 68) Dan firman Allah Swt.: padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya). (Al-An’am: 91) Aku bertanya, “Hai Abu Sa’id, Allah telah berfirman: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Al-Hasan menjawab, “Benar, sekalipun hanya lima ayat.”

Ini jelas menggambarkan pendapat Al-Hasan, bahwa dia mempunyai pendapat yang mewajibkan bagi orang yang hafal Al-Qur’an membacanya dalam qiyamullail, sekalipun hanya dengan beberapa ayat darinya. Karena itulah disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai seseorang yang tidur sampai pagi hari. Maka beliau ﷺ menjawab:

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنِهِ

Dia adalah orang yang setan telah mengencingi telinganya.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud dari hadits ini ialah orang yang meninggalkan shalat fardu karena bangun kesiangan. Menurut pendapat yang lain, karena meninggalkan qiyamul lail, Di dalam kitab sunan disebutkan:

أَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ

Shalat witirlah, hai ahli Al-Qur’an!

Di dalam hadits yang lain disebutkan:

مَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa yang tidak shalat witir, bukan termasuk golongan kami.

Dan yang lebih aneh dari semuanya itu adalah sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Bakar ibnu Abdul Aziz, salah seorang yang bermazhab Hambali, ia mengatakan bahwa qiyam bulam Ramadan hukumnya wajib; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sa’id Farqadul Hadrad, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad alias Muhammad ibnu Yusuf Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Tawus (salah seorang putra Tawus), dari ayahnya, dari Tawus, dari Ibnu Abbas, dari Nabi sehubungan dengan makna firman-Nya: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Maka Nabi ﷺ bersabda:

مِائَةُ آيَةٍ

Seratus ayat.

Hadis ini garib sekali, kami belum pernah melihatnya selain dalam mu’jam Imam Tabrani rahimahullah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaBerikanlah Kepada Allah Pinjaman yang Baik
Berita berikutnyaKeringanan dalam Melakukan Qiyamullail