Hendaklah Manusia Itu Memperhatikan Makanannya

Tafsir Al-Qur’an: Surah ‘Abasa Ayat 24-32

0
716

Kajian Tafsir:  Surah ‘Abasa Ayat 24-32, Bukti-bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala di alam semesta. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَى طَعَامِهِ -٢٤- أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاء صَبّاً -٢٥- ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقّاً -٢٦- فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبّاً -٢٧- وَعِنَباً وَقَضْباً -٢٨- وَزَيْتُوناً وَنَخْلاً -٢٩- وَحَدَائِقَ غُلْباً -٣٠- وَفَاكِهَةً وَأَبّاً -٣١- مَّتَاعاً لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ -٣٢

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.  Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,  lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma. dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. (Q.S. ‘Abasa : 24-32)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fal yaηzhuril iηsānu (maka hendaklah manusia merenungkan), yakni maka hendaklah orang kafir, yaitu ‘Utbah bin Abi Lahb merenungkan.

Ilā tha‘āmih (makanannya), yakni rezeki yang dimakannya, bagaimana ia berubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya hingga bisa dimakan. Kemudian Allah Ta‘ala menjelaskan perubahan itu dengan Firman-Nya:

Annā shababnal mā-a shabbā (sesungguhnya Kami telah mencurahkan air dengan benar-benar), yakni Kami telah mencurahkan hujan ke bumi dengan benar-benar mencurah.

Tsumma syaqaqnā (kemudian Kami merekahkan), yakni membelah.

Al-ardla syaqqā (tanah dengan sebaik-baiknya), yakni terbelah dengan tumbuh-tumbuhan.

Fa ambatnā fīhā (lalu Kami tumbuhkan padanya), yakni pada tanah itu.

habbā (biji-bijian), yakni segala macam biji-bijian.

Wa ‘inaban (anggur), yakni pohon anggur.

Wa qadlbā (dan sayur-mayur yang segar), yakni dan pohon qatt. Menurut yang lain, pohon rathbah.

Wa zaitūnan (dan zaitun), yakni pohon zaitun.

Wa nakhlā (serta kurma), yakni pohon kurma.

Wa hadā-iqa (dan kebun-kebun) yang dikelilingi pepohonan dan pohon kurma.

Ghulbā (yang lebat), yakni yang rimbun menjulang.

Wa fākihatan (dan buah-buahan), yakni dan aneka macam buah-buahan.

Wa abbā (serta rerumputan). Menurut yang lain, jerami.

Matā‘al lakum (untuk kesenangan kalian), yakni manfaat biji-bijian dan lain sebagainya adalah untuk kalian.

Wa li an‘āmikum (dan ternak-ternak kalian) berupa rerumputan.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz ‘Amma (Juz ke-30)


Tafsir Jalalain

  1. (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan) dengan memasang akalnya (kepada makanannya) bagaimanakah makanan itu diciptakan dan diatur untuknya?
  2. (Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air) dari awan (dengan sebenar-benarnya.)
  3. (Kemudian Kami belah bumi) dengan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari dalamnya (dengan sebaik-baiknya.)
  4. (Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu) seperti biji gandum dan biji jawawut.
  5. (Anggur dan sayur-sayuran) atau sayur-mayur.
  6. (Zaitun dan pohon kurma),
  7. (dan kebun-kebun yang lebat) yakni kebun-kebun yang banyak pepohonannya.
  8. (Dan buah-buahan serta rumput-rumputan) yaitu tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan binatang ternak; tetapi menurut suatu pendapat “Abban” artinya makanan ternak yang berasal dari tangkai atau bulir gandum atau padi dan lain sebagainya yang sejenis.
  9. (Untuk kesenangan) sebagai kesenangan atau untuk menyenangkan, penafsirannya sebagaimana yang telah disebutkan tadi pada surat sebelumnya (bagi kalian dan bagi binatang-binatang ternak kalian) penafsirannya sama dengan yang terdahulu pada surat sebelumnya.

.

Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [22]Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya,

[22] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengarahkan manusia agar memperhatikan dan memikirkan makanannya, dan bagaimana makanan itu sampai kepadanya setelah melalui banyak tahapan karena kemudahan-Nya.

  1. Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit),
  2. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
  3. lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian,
  4. dan anggur dan sayur-sayuran,
  5. dan zaitun dan pohon kurma[23],

[23] Disebutkan secara lebih khusus nama-nama tanaman itu karena banyak faedah dan manfaatnya.

  1. dan kebun-kebun (yang) rindang,
  2. dan buah-buahan[24] serta rerumputan[25],

[24] Untuk dimakan dengan nikmat oleh manusia.

[25] Untuk dimakan hewan ternak mereka.

  1. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu[26].

[26] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menciptakan semua itu dan menundukkannya untukmu. Oleh karena itu, hendaknya kamu bersyukur kepada Allah, membenarkan berita-berita yang disampaikan-Nya serta rela mengorbankan pikiran dan tenagamu untuk menjalankan perintah-perintah-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.

maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. (‘Abasa: 24)

Ini mengandung penyebutan nikmat Allah dan sekaligus menjadi bukti yang menunjukkan bahwa jasad-jasad ini setelah menjadi tulang belulang yang hancur dimakan tanah dan bercerai-berai akan dihidupkan kembali. Hal tersebut diutarakan melalui analogi dihidupkan-Nya tetumbuhan dari tanah yang mati. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). (‘Abasa: 25)

Yakni Kami turunkan hujan dari langit ke bumi.

kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. (‘Abasa: 26)

Maksudnya, Kami tempatkan air itu dalam bumi dan masuk melalui celah-celahnya, kemudian meresap ke dalam biji-bijian yang telah disimpan di dalam tanah. Maka tumbuhlah biji-bijian itu menjadi tetumbuhan yang muncul di permukaan bumi, lalu meninggi.

lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran. (‘Abasa: 27-28)

Al-habb artinya biji-bijian, al-inab artinya anggur. sedangkan al-qadb artinya sejenis sayuran yang dimakan oleh ternak dengan mentah-mentah. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Qatadah, Ad-Dahhak. dan As-Saddi. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa al-qadb artinya makanan ternak.

dan zaitun. (‘Abasa: 29)

Buah zaitun cukup dikenal dan dapat dijadikan sebagai lauk, begitu pula minyaknya. Bahkan minyaknya dapat digunakan untuk meminyaki tubuh dan juga sebagai bahan bakar penerangan.

dan buah kurma. (‘Abasa: 29)

yang dapat dimakan dalam keadaan gemading, ataupun sudah masak; dapat pula dijadikan sale, dan perasannya dapat dibuat minuman dan cuka.

kebun-kebun (yang) lebat. (‘Abasa: 30)

Yakni kebun-kebun yang rindang.

Al-Hasan dan Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan gulban ialah pohon kurma yang besar-besar lagi rindang-rindang.

Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pepohonan yang lebat dan banyak.

Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa gulban artinya pohon yang dapat dijadikan naungan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: kebun-kebun (yang) lebat. (‘Abasa: 30) Yaitu yang tinggi-tinggi. Ikrimah mengatakan bahwa gulban artinya yang besar bagian tengahnya.

Di dalam riwayat lain disebutkan besar lehernya, tidakkah engkau lihat seseorang itu apabila memiliki leher yang besar dan keras disebut dia adalah seorang yang aglab. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir mengutip kata-kata Farazdaq dalam salah satu bait syairnya yang menunjukkan bahwa seorang yang berleher gempal dan besar adalah orang yang kuat dan diserupakan dengan harimau.

Firman Allah Swt:

dan buah-buahan dan rumput-rumputan. (‘Abasa: 31)

Yang dimaksud dengan fakihah ialah semua jenis buah-buahan yang dimakan untuk bersenang-senang.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa fakihah adalah buah yang dimakan dalam keadaan segar, sedangkan al-abb artinya tetumbuhan yang hanya dimakan oleh binatang ternak dan tidak dimakan oleh manusia. Menurut riwayat lain yang bersumber darinya, disebutkan rerumputan untuk hewan temak.

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair serta Abu Malik mengatakan bahwa al-abb artinya rumput-rumputan.

Diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, Qatadah dan ibnu Zaid, bahwa al-abb bagi hewan sama dengan buah-buahan bagi manusia.

Dan diriwayatkan dari Ata, bahwa segala sesuatu yang tumbuh di permukaan tanah disebut al-abb (semua tumbuh-tumbuhan).

Ad-Dahhak mengatakan bahwa segala sesuatu yang ditumbuhkan oleh bumi selain dari buah-buahan disebut al-abb.

Ibnu Idris telah meriwayatkan dari’ Asim ibnu Kulaib dari ayahnya dari Ibnu Abbas, bahwa al-abb adalah tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh hewan dan tidak dimakan oleh manusia.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan hal ini melalui tiga jalur dari Ibnu Idris. Kemudian ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Abus Sa’ib, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Tbnu Idris, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa Ibnu Abbas mengatakan al-abb artinya tetumbuhan yang dimakan oleh ternak. Ini menurut lafaz Abu Kuraib, dan Abus Sa’ib dalam riwayatnya mengatakan bahwa al-abb artinya tetumbuhan yang dimakan oleh manusia dan juga oleh ternak.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-abb ialah rumput dan ilalang. Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Ibnu Zaid serta selain mereka yang bukan hanya seorang.

Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam ibnu Hausyab, dari Ibrahim At-Taimi yang menceritakan bahwa sahabat Abu Bakar pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: dan buah-buahan serta rumput-rumputan. (‘Abasa: 31) Maka Abu Bakar As-Siddiq menjawab, “Langit siapakah yang menaungiku, dan bumi siapakah yang menjadi tempat berpijakku bila aku mengatakan terhadap Kitabullah hal yang tidak aku ketahui?” Tetapi asar ini munqati’ antara Ibrahim At-Taimi dan Abu Bakar As-Siddiq r.a., yakni ada mata rantai perawi yang terputus di antara keduanya.

Menurut’riwayat Ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas yang mengatakan bahwa Umar r.a. membaca firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. (‘Abasa: 1) Ketika bacaannya sampai pada firman-Nya: dan buah-buahan dan rumput-rumputan. (‘Abasa: 31) Lalu ia berkata, “Kami telah mengetahui apa yang dimaksud dengan fakihah (buah-buahan), tetapi apakah yang dimaksud dengan al-abb?” Ia berkata kepada dirinya sendiri, lalu ia melanjutkan, “Demi usiamu, hai Ibnul Khattab, sesungguhnya ini benar-benar merupakan takalluf (memaksakan diri, bila kamu tidak mengetahuinya).” Sanad asar ini sahih, bukan hanya seorang ulama telah meriwayatkannya dari Anas dengan sanad yang sama.

Hal ini mengandung takwil bahwa Ibnul Khattab r.a. bermaksud untuk mengetahui bentuk, jenis dan barangnya; karena sesungguhnya dia dan semua orang yang membaca ayat ini mengetahui bahwa al-abb adalah sejenis tumbuh-tumbuhan, sebab dalam konteksnya disebutkan oleh firman-Nya: lalu Kami tumbuhkan biji-bijian dl bumi itu, anggur, dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat dan buah-buahan serta rumput-rumputan. (‘Abasa: 27-31)

Adapun Firman Allah Swt.:

untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian. (‘Abasa: 32)

Yakni untuk makanan pokok kalian dan binatang ternak kalian dalam kehidupan dunia ini sampai hari kiamat nanti.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here