Binasalah Orang-orang yang Membuat Parit

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al Buruuj ayat 4-9

0
910

Kajian Tafsir:  Surah Al Buruuj ayat 4-9. Orang-orang yang menindas kaum mukmin akan binasa dan di sana terdapat isyarat bahwa Orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ juga akan mengalami kehancuran sebagaimana yang dialami umat-umat terdahulu yang menentang rasul-rasul mereka. Disebutkan Binasalah orang-orang yang membuat parit.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ -٤- النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ -٥- إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ -٦- وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ -٧- وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ -٨- الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ -٩

Binasalah orang-orang yang membuat parit.  Yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar.  ketika mereka duduk di sekitarnya. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.   (Q.S. Al-Buruj : 4-9)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qutila ash-hābul ukhdūd (terkutuklah para pemilik parit itu).

An-nāri dzātil waqūd ([parit] api yang berbahan bakar) minyak tanah, ter, dan kayu bakar. Menurut satu pendapat, mereka telah dilaknat. Menurut yang lain, mereka adalah orang-orang kafir yang telah membunuh kaum Mukminin dengan api yang menyala-nyala , dan menggunakan minyak tanah, ter, dan kayu bakar sebagai bahan bakarnya.

Idz hum (ketika mereka), yakni orang-orang kafir.

‘Alaihā (di atasnya), yakni di atas parit itu. Ada yang berpendapat, di atas kursi-kursi.

Qu‘ūd (duduk), yakni duduk-duduk ketika Allah Ta‘ala membakar mereka dengan api.

Wa hum ‘alā mā yaf‘alūna bil mu’minīna syuhūd (sementara mereka menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap kaum Mukminin), yakni menghadirinya. Ada yang berpendapat, mereka memberi kesaksian terhadap kaum Mukminin, dengan mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah kaum yang sesat.

Wa mā naqamū minhum (dan tiadalah orang-orang kafir menyiksa mereka), yakni menyiksa kaum Mukminin dan tidak pula menyakiti mereka.

Illā ay yu’minū billāhi (kecuali karena mereka beriman kepada Allah), yakni kecuali karena keimanan mereka kepada Allah.

Al-‘azīzi (Yang Maha Perkasa) menimpakan siksaan kepada siapa pun yang tidak beriman kepada-Nya.

Al-hamīd (lagi Maha Memuji) orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Alladzī lahū mulkus samāwāti (Yang Memiliki kerajaan langit), yakni semua perbendaharaan langit, yaitu hujan.

Wal ardl (dan bumi), yakni tumbuh-tumbuhan.

Wallāhu ‘alā kulli syai-iη syahīd (dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu), yakni semua amal mereka.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz ‘Amma (Juz ke-30)


Tafsir Jalalain

  1. (Telah dibinasakan) telah dilaknat (orang-orang yang memiliki Ukhdud) artinya orang-orang yang menggali parit.
  2. (Yaitu api) lafal An-Naari berkedudukan sebagai Badal Isytimal dari lafal Al-Ukhduud (yang dinyalakan) dengan kayu bakar.
  3. (Ketika mereka berada di sekitarnya) yaitu berada di sekitar tepi parit-parit itu seraya di atas kursi-kursi (mereka duduk.)
  4. (Sedangkan mereka terhadap apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman) kepada Allah, menyiksa mereka dengan cara melemparkan mereka ke dalam parit yang penuh dengan api itu, jika mereka tidak mau kembali murtad dari imannya (menyaksikan) artinya hadir menyaksikan penyiksaan itu. Menurut suatu riwayat, bahwasanya Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman yang dilemparkan ke dalam parit berapi itu, yaitu dengan mencabut nyawa mereka terlebih dahulu sebelum mereka jatuh ke dalam api. Kemudian api itu keluar dari dalam parit dan membakar orang-orang yang berada di sekitarnya, sehingga mereka yang menyaksikan penyiksaan itu mati terbakar.
  5. (Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya. (lagi Maha Terpuji) lafal Al-Hamiid bermakna Al-Mahmuud, artinya Maha Terpuji.
  6. (Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu) yakni Dia menyaksikan, bahwa tiadalah orang-orang kafir itu ingkar kepada orang-orang yang beriman melainkan karena orang-orang yang beriman itu beriman kepada Allah.

.

Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Binasalah orang-orang yang membuat parit[5],

[5] Ibnu Katsir berkata, “(Ayat) ini merupakan berita tentang orang-orang kafir yang mendatangi orang-orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla di dekat mereka, mereka memaksa orang-orang yang beriman agar murtad dari agamanya, namun mereka menolak, maka mereka (orang-orang kafir) membuat parit di bumi dan menyalakan api di dalamnya serta menyiapkan kayu bakar untuk menyalakannya, lalu mereka meminta orang-orang yang beriman (untuk murtad), namun mereka (orang-orang yang beriman) menolak, maka dimasukkanlah mereka ke dalamnya.”

Hal ini merupakan sikap mengadakan perlawanan kepada Allah dan golongan-Nya yaitu kaum mukmin. Oleh karennya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala melaknat dan membinasakan mereka serta mengancam mereka. Dia berfirman, “Binasalah orang-orang yang membuat parit.”

  1. Yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar,
  2. ketika mereka duduk di sekitarnya,
  3. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin[6].

[6] Yaitu memasukkan orang-orang mukmin ke dalam api jika mereka tidak mau murtad dari agamanya. Mereka yang menyiksa orang-orang mukmin ini telah menggabung antara kafir kepada ayat-ayat Allah, menentangnya, memerangi para wali-Nya serta menyiksa mereka dengan siksaan itu, ditambah lagi dengan tidak adanya rasa kasihan dalam hati mereka, sampai-sampai mereka menyaksikan penyiksaan yang kejam itu.

  1. Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa[7] lagi Maha Terpuji[8] [9],

[7] Yang dengan keperkasaan-Nya Dia tundukkan segala sesuatu.

[8] Dia Maha Terpuji dalam ucapan-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya.

[9] Ibnu Katsir menerangkan, bahwa para mufassir berbeda pendapat tentang siapakah mereka ini? Menurut ‘Ali, bahwa mereka adalah penduduk Persia ketika Raja mereka bermaksud menghalalkan pernikahan dengan mahramnya, maka para ulama mereka menentangnya, maka Raja pun membuatkan parit serta melemparkan ke dalamnya orang-orang yang menentangnya. Menurut Ibnu Abbas, bahwa mereka adalah orang-orang dari Bani Israil yang membuat parit di bumi lalu menyalakan api di situ, kemudian mereka hadapkan kaum laki-laki dan wanita ke parit itu. Menurutnya, bahwa mereka itu adalah Danial dan kawan-kawannya. Ada pula yang berpendapat selain ini.

  1. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi[10]. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu[11].

[10] Semuanya makhluk dan hamba-Nya, Dia bertindak terhadap mereka dengan tindakan Raja terhadap kerajaannya.

[11] Dia mengetahui, mendengar dan melihat segala sesuatu. Oleh karena itu, tidakkah mereka yang menentang-Nya takut jika Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa menyiksa mereka dengan siksaan yang keras? Tidakkah mereka mengetahui bahwa mereka semua adalah milik-Nya? Atau apakah samar bagi mereka, bahwa Dia meliputi amal mereka dan akan membalas perbuatan mereka?

 .

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. (Al-Buruj: 4)

Yakni terkutuklah para pembuat parit itu. Ukhdud bentuk jamaknya adalah akhadid. yang artinya galian. Hal ini menceritakan perihal suatu kaum yang kafir. Mereka dengan sengaja menangkap orang-orang mukmin yang ada di kalangan mereka; orang-orang mukmin itu lalu mereka paksa untuk murtad dari agamanya, tetapi orang-orang mukmin menolaknya. Untuk itu kaum kafir tersebut membuat suatu galian buat orang-orang mukmin yang mereka tangkap itu, kemudian mereka nyalakan di dalamnya api yang besar, dan mereka menyediakan kayu bakar yang cukup untuk membuat api itu tetap bergejolak. Setelah itu mereka membawa orang-orang mukmin yang mereka tangkap itu ke dekat galian, lalu ditawarkan kepada mereka untuk murtad, tetapi ternyata orang-orang mukmin itu menolak dan tidak mau menerimanya. Akhirnya orang-orang mukmin itu dilemparkan ke dalam parit yang ada apinya itu. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. (Al-Buruj:4-7)

Yaitu mereka menyaksikan apa yang dilakukan terhadap orang-orang mukmin itu.

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Al-Buruj: 8)

Orang-orang mukmin itu tidak mempunyai salah terhadap mereka kecuali hanya karena iman mereka kepada Allah Yang Mahaperkasa yang tidak akan tersia-sia orang yang berlindung di bawah naungan-Nya yang sangat kokoh, lagi Dia Maha Terpuji dalam semua perbuatan dan ucapan-Nya. dan dalam syariat dan takdir-Nya. Sekalipun Dia telah menakdirkan atas hamba-hamba-Nya yang beriman itu berada di tangan kekuasaan orang-orang kafir yang memberlakukan terhadap mereka seperti apa yang disebutkan di atas, maka Dia tetap Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, walaupun penyebab hal itu tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Kemudian Allah Swt. berfirman:

Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. (Al-Buruj:9)

Termasuk sifat Allah yang sempurna ialah Dia memiliki semua alam langit dan alam bumi berikut apa yang ada di antara keduanya dan juga yang ada di dalam keduanya.

dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al-Buruj:9)

Yakni tiada sesuatu pun yang tidak kelihatan bagi-Nya di langit dan di bumi, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai orang-orang yang disebutkan dalam kisah ayat ini, siapakah mereka sebenarnya? Disebutkan dari sahabat Ali r.a. bahwa mereka adalah penduduk negeri Persia ketika raja mereka ingin menghalalkan kawin dengan mahram, lalu ulama mereka menentang kehendak raja itu. Maka dengan sengaja si raja membuat parit dan melemparkan ke dalamnya setiap orang yang menentang keinginannya dari kalangan mereka; dan akhirnya menghalalkan kawin dengan mahram terus berlangsung sampai sekarang.

Menurut riwayat lain yang juga dari Ali, mereka adalah suatu kaum di negeri Yaman. Orang-orang mukmin dari kalangan mereka berperang dengan orang-orang musyriknya. maka pada mulanya orang-orang mukmin menang atas orang-orang kafir, kemudian selang beberapa masa pertempuran di antara mereka kembali berkobar, dan kali ini orang-orang kafirlah yang menang atas orang-orang mukmin. Lalu orang-orang kafir membuat parit-parit dan para tawanan kaum mukmin dimasukkan ke dalamnya, kemudian dibakar di dalam parit itu. Diriwayatkan pula dari Ali, bahwa mereka adalah penduduk negeri Habsyah (Etiopia sekarang).

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. (Al-Buruj: 4-5) Bahwa mereka adalah segolongan orang-orang dari kaum Bani Israil yang membuat parit-parit, kemudian dinyalakanlah api di dalam parit itu. Kemudian mereka membawa kaum laki-laki dan wanita yang beriman ke pinggir parit itu dan mereka dipaksa untuk kafir, tetapi mereka menolak, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya. Menurut pendapat ulama, mereka adalah Nabi Danial dan para pengikutnya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim; menurut pendapat yang lainnya lagi menyebutkan selain itu.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Artikulli paraprakKisah Seorang Raja dan Seorang Pemuda
Artikulli tjetërSumpah dengan Langit dan Hari Kiamat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini