Asbabun Nuzul Surah Adh-Dhuhaa

Tafsir Al-Qur’an

0
659

Kajian Tafsir: Berikut merupakan Asbabun Nuzul Surah Adh-Dhuhaa dan perintah membaca takbir setelah khatamkan surahnya.

Syaikhain atau Imam Bukhari dan Imam Muslim serta selain keduanya, semuanya mengetengahkan sebuah hadits melalui Jundab yang menceritakan, bahwa Nabi ﷺ mengalami sakit, karena itu beliau tidak melakukan shalat malam selama satu atau dua malam.

Lalu datang kepadanya seorang wanita seraya berkata, “Hai Muhammad! Aku tidak berpendapat lain kecuali aku yakin bahwasanya setanmu itu telah meninggalkanmu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Demi waktu Dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi. Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.” (Q.S. Adh Dhuhaa 1-3).

Imam Sa’id bin Manshur dan Imam Faryabi kedua-duanya mengetengahkan sebuah hadits melalui Jundab yang menceritakan, bahwa malaikat Jibril sudah cukup lama tidak muncul kepada Nabi ﷺ Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Muhammad telah ditinggalkan.” Lalu turunlah ayat tadi.

Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadits melalui Zaid bin Arqam r.a. yang menceritakan, bahwa Rasulullah ﷺ tinggal selama beberapa hari tanpa ada wahyu yang turun kepadanya. Maka Umu Jamil istri Abu Lahab mengatakan, “Aku tiada berpendapat melainkan bahwa temanmu itu (yakni malaikat Jibril) telah meninggalkanmu dan membencimu.” Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Demi waktu Dhuha…” (Q.S. Adh Dhuhaa 1, dan beberapa ayat berikutnya).

Imam Thabrani dan Imam Ibnu Abu Syaibah di dalam kitab Musnad, juga Imam Wahidi serta lain-lainnya, semuanya mengetengahkan sebuah hadits dengan sanad yang di dalamnya terdapat seseorang perawi yang identitasnya masih belum dikenal. Hadits ini diketengahkan melalui Hafsh bin Masirah Al Qurasyi, kemudian Hafsh menerimanya dari ibunya, ibu Hafsh menerimanya dari ibunya yang bernama Khaulah. Khaulah ini menjadi pelayan Rasulullah ﷺ; ia telah menceritakan, bahwa ada seekor anak anjing memasuki rumah Nabi ﷺ lalu anak anjing itu memasuki kolong ranjang beliau, dan anjing itu mati di situ.

Maka Nabi ﷺ tinggal selama empat malam tanpa ada suatu wahyu pun yang turun kepadanya. Nabi ﷺ berkata, “Hai Khaulah! Apakah gerangan yang telah terjadi di dalam rumah Rasulullah, Jibril sudah cukup lama tidak berkunjung kepadaku?” Kemudian aku berkata di dalam hati, “Seandainya aku bersihkan terlebih dahulu rumah ini alangkah baiknya.” Segera aku menyapu rumah, lalu aku membungkukkan badanku untuk membersihkan bawah kolong ranjang dengan sapu, lalu aku mengeluarkan bangkai anak anjing dari kolong ranjangnya.

Ketika Nabi ﷺ datang, tiba-tiba tubuhnya bergetar sehingga pakaian jubah yang disandangnya pun ikut bergetar. Sesungguhnya Nabi ﷺ apabila turun wahyu kepadanya, maka tubuhnya tampak gemetar, lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Demi waktu Dhuha…” (Q.S. Adh Dhuhaa, 1) sampai dengan firman-Nya, .”..lalu (hati) kamu menjadi puas.” (Q.S. Adh Dhuhaa, 5).

Sehubungan dengan hadits di atas Hafiz Ibnu Hajar memberikan komentarnya bahwa, kisah mengenai terlambatnya malaikat Jibril disebabkan adanya anak anjing, hadits mengenai kisah ini sudah terkenal, hanya saja keadaan hadits tersebut kalau dianggap sebagai Asbabun Nuzul ayat ini, maka hal ini garib yakni, aneh bahkan Syadz dan ditolak karena ada bukti yang menyanggahnya di dalam kitab sahih.

Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadits melalui Abdullah bin Syaddad, bahwa Siti Khadijah berkata kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya aku melihat bahwa tiada lain Rabbmu telah meninggalkan kamu.” Lalu turunlah ayat tersebut. Imam Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadits lainnya melalui Urwah yang menceritakan, bahwa malaikat Jibril terlambat datang kepada Nabi ﷺ, maka Nabi ﷺ merasa sangat berduka cita.

Selanjutnya Siti Khadijah berkata, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Rabbmu membencimu karena sikapmu yang selalu kelihatan berduka cita itu”, lalu turunlah ayat tersebut. Kedua hadits tersebut perawinya adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan predikat kedua hadits tersebut sama-sama mursal.

Hafiz Ibnu Hajar memberikan komentarnya, menurut pendapat yang kuat ialah bahwa masing-masing dari Umu Jamil dan Siti Khadijah benar-benar mengatakan hal tersebut. Hanya saja Umu Jamil mengatakannya atas dorongan kebencian, sedangkan Siti Khadijah mengatakannya karena ikut berduka cita.


Di sini Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz ‘Amma (Juz ke-30)


Membaca Takbir

Telah diriwayatkan kepada kami melalui jalur Abul Hasan alias Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abu Buzzah Al-Muqri yang mengatakan bahwa ia pernah belajar membaca Al-Qur’an dari Ikrimah ibnu Sulaiman, dan ia menceritakan kepadaku bahwa ia pernah belajar kepada Ismail ibnu Qustantin dan Syibl ibnu Abbad. Ketika qiraahnya sampai pada surat Adh-Dhuha, keduanya mengatakan kepadanya, “Bertakbirlah sampai kamu khatamkan surahnya dan juga pada akhir tiap surat lainnya.” Karena sesungguhnya kami belajar qiraat pada Ibnu Kasir, dan ternyata dia memerintahkan hal tersebut kepada kami.

Ibnu Katsir telah menceritakan kepada kami bahwa dia belajar qiraat dari Mujahid, dan ternyata Mujahid memerintahkan kepadanya untuk melakukan hal itu (takbir), dan Mujahid menceritakan kepadanya bahwa ia belajar qiraat kepada Ibnu Abbas, maka ternyata ia memerintahkan kepadanya untuk melakukan hal itu, dan Ibnu Abbas menceritakan kepadanya bahwa ia pernah belajar qiraat kepada Ubay ibnu Ka’b, dan Ubay memerintahkan kepadanya untuk melakukan hal itu. Dan Ubay menceritakan kepadanya bahwa ia pernah belajar qiraat kepada Rasulullah ﷺ dan ternyata beliau memerintahkan kepadanya untuk melakukan hal itu.

Ini merupakan sunnah yang dikemukakan oleh Abul Hasan alias Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Abdullah Al-Buzzi, salah seorang putra Al-Qasim ibnu Abu Buzzah secara munfarid (tunggal); dia adalah seorang Imam dalam ilmu qiraat.

Adapun dalam ilmu hadis ia dinilai daif oleh Abu Hatim Ar-Razi, yang telah mengatakan bahwa ia tidak mau meriwayatkan hadits darinya. Hal yang semisal dikatakan oleh Abu Ja’far Al-Uqaili yang mengatakan bahwa Abul Hasan ini haditsnya tidak terpakai.

Tetapi Syekh Syihabud Din Abu Syamah di dalam syarah Asy-Syatibi telah meriwayatkan dari Asy-Syafii, bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki mengucapkan takbir ini dalam shalatnya, maka Imam Syafii mengatakan, “Kamu baik dan sesuai dengan tuntunan sunnah.” Hal ini memberikan pengertian bahwa hadits ini berpredikat sahih.

Kemudian para ulama ahli qiraat berbeda pendapat mengenai tempat dilakukannya takbir ini dan juga mengenai sigat-nya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa hendaknya seseorang mengucapkan takbir dimulai dari akhir surat Al-Lail (hingga surat-surat berikutnya). Dan sebagian yang lainnya mengatakan takbir dimulai dari akhir surat Adh-Dhuha.

Mengenai bentuk takbir ini menurut sebagian dari mereka ialah hendaknya seseorang mengucapkan, “Allah Maha Besar, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar”.

Ulama ahli qiraat sehubungan dengan topik membaca takbir mulai dari akhir surat Adh-Dhuha ini menyebutkan bahwa ketika wahyu datang terlambat kepada Rasulullah ﷺ dan beliau mengalami kesenjangan di masa fatrah wahyu itu, kemudian datanglah Malaikat (Jibril) dengan membawa wahyu firman-Nya:

Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. (Adh-Dhuha: 1-2), hingga akhir surat.

Maka Nabi ﷺ mengucapkan takbir karena gembira dan senang kepada wahyu yang datang lagi. Tetapi hadits ini tidak diriwayatkan melalui sanad yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihan atau ke-daif-annya; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaBersumpah dengan Waktu Dhuha
Berita berikutnyaPahala Bagi Orang Mukmin yang Ikhlas