Perbedaan Kata Sapaan dan Kata Acuan

0
2620

Sahabat, pada postingan yang lalu kita telah membahas tentang kata ganti. Kali ini kita akan mencoba mengulas tentang perbedaan kata sapaan dan kata acuan.

Bagi sahabat yang masih duduk di bangku sekolah, pembahasan mengenai kata sapaan dan kata acuan ini banyak kita temui. Misalnya dalam teks drama, bahwa di antara kaidah kebahasaan yang sering kita temui dalam teks tersebut adalah penggunaan kata ganti, kata sapaan, dan kata acuan.

Kata  ganti  orang  ketiga  pada  teks drama banyak kita temui pada bagian  prolog  atau epilognya.  Karena  melibatkan  banyak  pelaku  (tokoh),  kata  ganti  yang  lazim  digunakan adalah mereka. Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama dan kedua.

Tentang kata sapaan dan kata acuan, ada baiknya kita cermati kalimat berikut!

  1. Ibu berkata kepada anaknya, “Ananda, ketahuilah bahwa apapun yang menimpamu adalah takdir dan tidak dapat dicegah. Dan apapun yang telah ditakdirkan tidak mungkin dapat terhindar darinya.”
  2. Selamat pagi Nek, Nekaku masih penasaran dengan cerita Nenek tentang kehebatan dan keberanian luar biasa yang dimiliki kaum wanita waktu itu, yang mungkin sekarang ini hal tersebut sudah jarang dimiliki oleh kaum laki-laki.
  3. Apakah Bapak setuju dengan pernyataan bahwa tanpa usaha dan susah payah, sesuatu yang tidak ada nilainya pun tidak akan didapat, apalagi ilmu yang tidak ternilai harganya?
  4. Pak Ustadz, doakan kepada Allah agar aku diberi kesabaran, perlindungan, dan kebekahan rezeki!
  5. Seorang cucu biasanya mengadukan kesulitan kepada kakeknya termasuk mengadukan sedihnya perpisahan antara bapak dengan anaknya.
  6. Tidak ada keraguan apa yang dikisahkan Pak Guru, bahwa perjalanan hidup mereka mengandung nilai kebenaran yang hakiki serta mengandung pelajaran bagi kita semua.
  7. Tanteku mengetahui bahwa bibinya senantiasa menyibukkan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, sehingga kebiasaan-kebiasaan jeleknya lambat laun menjadi hilang.
  8. Sebenarnya ayah sangat ingin agar Hasan dapat mengajari adik-adiknya tentang ilmu agama.

Pada kalimat-kalimat di atas terdapat kata-kata: Ibu, anaknya, Ananda, Nek, nenek,  pamanmu, kaum wanita,  kaum laki-laki, Bapak, Pak Ustadz, cucu, kakeknya, anaknya, Pak Guru, tanteku, bibinya, ayah, Hasan, dan adik-adiknya. Sesuai dengan konteks kalimatnya, kata-kata tersebut dapat disebut kata sapaan, dapat pula disebut kata acuan.

Kata sapaan dan kata acuan memang mempunyai kemiripan, yaitu keduanya sama-sama menggunakan kata benda dan berkaitan dengan istilah kekerabatan seperti: bapak, ibu, kakak, saudara, dan nama jabatan serta pangkat, seperti profesor, dokter, atau kapten. Tetapi kata sapaan mempunyai fungsi yang berbeda dengan kata acuan.

Perbedaan fungsi tersebut adalah, kalau kata sapaan digunakan untuk menyapa, menegur atau mengajak bercakap-cakap dengan menghormati orang yang diajak bicara (orang kedua). Sedangkan kata acuan adalah kata benda yang berfungsi untuk menjelaskan orang yang mengacu atau merujuk kepada orang yang dibicarakan atau orang yang berbicara.

Mari kita analisis kalimat pertama contoh di atas!

Ibu berkata kepada anaknya, “Ananda, ketahuilah bahwa….”

Kata Ibu dan anaknya merupakan kata acuan, yakni kata yang digunakan untuk menyebut orang ketiga (orang yang dibicarakan). Saya sebagai penulis (Orang kesatu) berusaha menjelaskan kepada Anda (Orang kedua) tentang apa yang dilakukan seorang ibu (pengganti dia) terhadap  anaknya (orang ketiga).

Kata Ananda merupakan kata sapaan, karena untuk menyapa orang kedua (orang yang diajak berbicara) dan yang menyapa atau yang mengajak berbicaranya adalah seorang ibu (dalam kalimat langsung).

Kata lain yang termasuk kata sapaan adalah: Nek/Nenek pada kalimat kedua, Bapak pada kalimat ketiga, dan Pak Ustadz pada kalimat keempat.

Sedangkan kata kaum wanita, kaum laki-laki pada kalimat kedua, Seorang cucu, kakeknya, bapak, dan anaknya pada kalimat kelima, Pak Guru, mereka, dan kita semua pada kalimat keenam, tanteku dan bibinya pada kalimat ketujuh, ayah, Hasan, dan adik-adiknya pada kalimat kedelapan, semua itu merupakan kata acuan yakni untuk menyebut orang ketiga (orang yang dibicarakan).

Aku pada contoh kalimat kedua yang digunakan untuk menyebut orang pertama (orang yang berbicara) termasuk kata acuan juga.

Penulisan kata sapaan diawali dengan huruf kapital. Perhatikan kata Ananda pada kalimat kesatu,  Nek/Nenek pada kalimat kedua, Bapak pada kalimat ketiga, dan Pak Ustadz pada kalimat keempat.

Penulisan kata acuan menggunakan huruf kecil, kecuali kalau kata acuan tersebut adalah unsur nama orang, termasuk julukan, unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang dan unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu.

Jenis-jenis Kata Sapaan

  1. Kata sapaan kekerabatan : Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Paman, Bibi, Abang, Kakak, Adik, Ananda,  Mas, Mbak, dsb.
  2. Kata sapaan nama, seperti Tuan, Nyonya, Nona, atau sayang.
  3. Kata sapaan nama diri : Agra, Ahsan, Ido, Ruli.
  4. Kata sapaan nama pelaku, seperti: Penonton, Peserta, Pendengar, atau Hadirin.
  5. Kata sapaan kata ganti : Kamu, Engkau, Saudara, Anda,
  6. Kata ganti/ kerabat diikuti nama : Saudara Hasan, Bapak Susanto, Ibu Amir.
  7. Kata sapaan jabatan/gelar kepangkatan/profesi: Jenderal, Profesor, Dokter, Suster, Guru, sopir, ketua, Bupati, Camat, Lurah.
  8. Kata sapaan hormat : Paduka Yang Mulia, Yang Terhormat
  9. Kata sapaan biasa : Rul (Ruli), San (Ahsan), Do (Ido).
  10. Kata sapaan kasar : Botak, Gendut.
BACA JUGA : Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 8 Semester 1

Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat-istiadat, adat kesantunan, serta situasi dan kondisi percakapan. Oleh sebab itu, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya.

 

Berita sebelumyaPentingnya Penggunaan Kata Ganti
Berita berikutnyaRPP B. Indonesia Kelas 8 K13 Revisi 2017 (8.C.2)