Penggunaan Kata Sifat dalam Teks Drama

0
14266

Salam buat ananda generasi gemilang dan sahabat yang baik. Semoga Anda sukses selalu, diberi kesehatan, kelancaran dalam semua urusan dan semoga pula salam saya melalui postingan ini, dapat membantu kita dalam  memahami penggunaan kata sifat dalam teks drama sebagai bahan agar kita memiliki kompetensi berbahasa Indonesia untuk berbagai keperluan dalam kegiatan sosial yang sesungguhnya.

Sahabat, salah satu ciri kebahasaan teks drama adalah banyak menggunakan kata sifat. Kata tersebut digunakan terutama untuk  menggambarkan  tokoh,  tempat,  atau  suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, cantik, kecil, kuning, dingin, dan lain-lain.

Contoh:

  1. Ia cantik, tidak banyak mengeluh, dan selalu tenang dalam menghadapi persoalan hidup.
  2. Kotak kecil ini harganya tidak seberapa, namun perhatian kami begitu besar terhadapnya.
  3. Jembatan kuning itu baru saja diresmikan oleh Bapak Bupati.
  4. Secangkir kopi dapat menghangatkan suasana pagi yang dingin.

Kata sifat cantik pada kalimat nomor 1, memberikan penambahan makna pada seorang tokoh (ia) yang menggambarkan sifat bahwa ia memiliki paras yang cantik.

Kata sifat kecil pada kalimat nomor 2, memberikan penambahan makna pada suatu benda (kotak) yang menerangkan sifat bahwa kotak tersebut berukuran kecil.

Kata sifat kuning pada kalimat nomor 3, memberikan penambahan makna pada suatu tempat (jembatan) yang menerangkan sifat bahwa tempat tersebut diberi nama sesuai dengan warnanya yaitu jembatan yang berwarna kuning.

Kata sifat dingin pada kalimat nomor 4, memberikan penambahan makna pada suasana pagi hari yang dingin.

Kata sifat dapat memberi pengaruh dan penjelasan terhadap suatu obyek, sehingga memiliki karakter yang lebih spesifik berupa:

  • Kualitas dan intensitas yang bercorak fisik atau mental: aman, lancar, terkendali.
  • Ukuran yaitu menyatakan kualitas yang dapat diukur dengan ukuran kuantitatif: banyak, sedikit.
  • Warna yaitu menyatakan berbagai warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, unggu.
  • Waktu yaitu mengacu pada masa/waktu berlangsung: sebentar, lama, segera.
  • Jarak yaitu mengacu pada ruang antara dua benda atau tempat: jauh, dekat.
  • Sikap batin yaitu mengacu pada suasana hati atau perasaan: bahagia, sedih, senang, malu.
  • Cerapan yaitu mengacu pada sesuatu yang dapat dirasakan oleh indera: terang, berisik, harum.
  • Tak bertaraf yang menyatakan keanggotaan dalam suatu golongan: abadi, bundar.

Dari contoh-contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud kata sifat adalah kata yang digunakan untuk menjelaskan sifat, watak, keadaan dari obyek yang diikutinya sehingga dapat menambah arti yang lebih spesifik. Hal yang dijelaskan oleh kata sifat dapat mencakup kualitas, ukuran, warna, waktu, jarak, sikap batin, cerapan, dan penekanan terhadap kata itu sendiri.

Berdasarkan proses pembentukannya, Kata sifat dikategorikan ke dalam beberapa jenis, yaitu:

Kata Sifat Dasar, yaitu kata sifat yang belum mengalami proses penambahan imbuhan apapun.

Contoh : banyak, sedikit, besar, kecil, benar, salah, cepat, lambat, cantik, culun, cerdas, bodoh, cukup, lebih, dekat, jauh, ganjil, genap, hitam, putih, hemat, boros, indah, istimewa, kurang, kesal, lama, sebentar, malas, rajin, sepi, ramai, kotor, bersih, sopan, tenang, dan lain-lain.

Kata Sifat Jadian, yaitu kata sifat yang terbentuk dari proses penambahan imbuhan, seperti:

  • Awalan (prefis) : se- dan ter-.

Contoh : sebaik – terbaik, sebagus – terbagus, sejelek – terjelek, sepandai – terpandai, sekuat – terkuat, selemah – terlemah, sebersih – terbersih, sekotor – terkotor, secepat – tercepat, secantik – tercantik, seindah – terindah, dan lain-lain.

  • Sisipan (infiks) : -em- (gemetar, gemuruh), -el- (gelegar).

Kata Sifat Serapan, yaitu kata sifat yang terbentuk dari proses serapan bahasa asing.

  • Sufiks -i, Contoh: hewani, alami.
  • Sufiks -iah, Contoh: islamiah, amaliah, insaniah.
  • Sufiks –wi, Contoh: kimiawi, manusiawi.
  • Sufiks -if, Contoh: kreatif, inovatif, efektif, produktif, relatif, kondusif.
  • Sufiks -al, Contoh: legal, illegal, amoral.
  • Sufiks -is. Contoh : egois, kapitalis, ekonomis, feodalis, praktis.

Kata Sifat Reduplikasi, yaitu kata sifat yang terbentuk dari proses reduplikasi atau pengulangan  kata.

Contoh : sebaik-baiknya, sejelek-jeleknya, sepandai-pandainya, sebodoh-bodohnya, sebersih-bersihnya, sekotor-kotornya, sejauh-jauhnya, sedekat-dekatnya, serajin-rajinnya, semalas-malasnya, segalak-galaknya, seramah-ramahnya, secantik-cantiknya, sehalus-halusnya, sekeras- kerasanya, sesusah-susahnya, dan lain-lain.

Kata Sifat Majemuk, yaitu kata sifat yang terbentuk dari gabungan kata yang membentuk makna baru.

  • Gabungan sinonim atau antonim, Contoh : cantik rupawan, cerah ceria, gembira ria, baik buruk.
  • Gabungan morfem terikat, Contoh : serba guna, adidaya
  • Gabungan morfem bebas, Contoh : rendah hati, berjiwa besar, lapang dada, bunga desa, kepala dingin, berjiwa bersih, berpikiran jernih, , berpikiran maju.

Fungsi Kata Sifat

  • Atributif yaitu berfungsi sebagai pelengkap atau sebagai penjelas subjek.

Contoh : Pot kecil menghiasi meja guru tersebut.

  • Predikatif yaitu berfungsi sebagai predikat.

Contoh : Ruangannya luas sesuai fungsi untuk menyimpan benda-benda bersejarah.

  • Substantif yaitu berfungsi sebagai pelengkap yang mendampingi subjek utama dan terletak di depan subjek.

Contoh : Segarnya udara pedesaan menambah betah para pengunjung.

 

Ciri – Ciri Kata Sifat

  1. Kata sifat (adjektiva) dapat ditambahkan atau diberikan dengan kata keterangan pembanding yang menggunakan kata seperti:
  • Paling; misalnya paling banyak, paling murah, paling bagus.
  • Lebih; misalnya lebih unggul, lebih cerdas, lebih tampan.
  • Kurang; misalnya kurang tinggi, kurang cepat, kurang giat.
  1. Kata sifat dapat ditambahkan kata keterangan penguat seperti:
  • Benar; misalnya indah benar
  • Sekali; misalnya indah sekali
  • Terlalu; misalnya terlalu indah
  • Amat; misalnya amat indah
  • Sangat; misalnya sangat indah
  1. Kata sifat bisa ditambah dengan kata ingkar tidak; misalnya tidak bodoh.
  2. Kata sifat bisa diulang dengan awalan se- dan akhiran –nya; misalnya, sebaik-baiknya, seburuk-buruknya, sepintar-pintarnya.
  3. Dalam kata-kata tertentu, kata sifat dapat diberi akhiran. Misalnya: honorer, manusiawi, ilmiah, konsumtif, struktural.

Contoh penggunaan kata sifat dalam teks drama:

Pengembara: “Aku pengembara biasa. Namaku Theo. Kudengar, Pangeran sedang bingung memilih calon istri?”

Pangeran Arthur: “Ya,  aku  bingung  sekali.  Semua  wanita  yang  dikenalkan  padaku, tidak ada yang menarik hati. Ada yang cantik, tapi berkulit  hitam.  Ada  yang  putih,  tetapi  bertubuh  pendek. Ada  yang  bertubuh  semampai,  berwajah  cantik, tetapi tidak bisa membaca. Aduuh!”

Pengembara: “Wahai, Nelayan! Mengapa engkau memilih  istri  yang  bertubuh pendek?”

Nelayan: (Tersenyum). “Aku mencintainya. Lagi pula, walau tubuhnya pendek, hatinya sangat baik. Ia pun pandai memasak.”

Pengembara: “Pak Tani yang baik hati. Mengapa kau memilih istri yang gemuk?”

Pak Tani: (Tersenyum). “Ia adalah wanita yang rajin. Lihatlah, rumahku bersih  sekali,  bukan?  Setiap  hari  ia  membersihkannya  dengan teliti. Lagipula, aku sangat mencintainya.”

Pengembara: “Pelayan, mengapa kau mau beristrikan wanita sebawel dia?”

Pelayan: ”Walaupun bawel, dia sangat memperhatikanku. Dan aku sangat mencintainya.”

Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk). ”Kini aku mengerti.  Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan calon istriku. Yang penting, aku mencintainya dan hatinya baik.”

Pengembara: (Bernapas lega, lalu membuka rambutnya yang ternyata palsu.  Rambut aslinya ternyata panjang dan keemasan. Ia juga membuka kumis dan jenggot palsunya. Kini di hadapan Pangeran ada seorang puteri yang cantik jelita.) “Pangeran, sebenarnya aku Puteri Rosa dari negeri tetangga. Ibunda Pangeran  mengundangku ke sini.  Dan menyuruhku melakukan semua hal  tadi. Mungkin ibundamu ingin menyadarkanmu.”

Pangeran Arthur: (Sangat terkejut). ”Akhirnya aku dapat menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istriku.”

Pangeran Arthur dan Puteri Rosa akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.

BACA JUGA : Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 8 Semester 1

Sumber:

Buku Bahasa Indonesia Kelas VIII Revisi 2017 yang disadur dari cerita Sa’adutul Hurriyah dalam Bobo, No. 8/XXVIII)

 

 

Artikulli paraprakPenggunaan Kalimat Langsung dalam Teks Drama
Artikulli tjetërPenggunaan Kata Kerja dalam Teks Drama

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini