Frasa Ajektif dalam Cerita Fiksi

0
4473

Salam buat ananda generasi gemilang dan sahabat yang baik. Semoga Anda sukses selalu, diberi kesehatan, dan semoga pula salam saya melalui postingan ini, dapat membantu kita dalam  memahami frasa ajektif dalam cerita fiksi sebagai bahan agar kita memiliki kompetensi berbahasa Indonesia untuk berbagai keperluan dalam kegiatan sosial yang sesungguhnya.

Suatu hal yang menarik dari cerita fiksi adalah penggunaan frasa ajektif. Penggunaan frasa ajektif dalam cerita fiksi biasanya dapat menimbulkan kesan lebih menarik.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat non predikatif, misalnya gunung tinggi.

Sedangkan makna adjektiva adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya adjektiva dan modifikatornya adverbia. Adjektiva atau kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau keadaan nomina.

Jadi frasa ajektif dapat diartikan kelompok kata atau gabungan dua kata atau lebih yang unsur intinya berupa kelas kata sifat dan hanya mempunyai satu jabatan/fungsi (sebagai Subjek, Predikat, atau Objek)

Misalnya:

Laut biru: unsur intinya berupa kelas kata sifat yaitu biru.

Meja bundar: unsur intinya berupa kelas kata sifat yaitu bundar.

Sangat pintar: unsur intinya berupa kelas kata sifat yaitu pintar.

Tidak bodoh: unsur intinya berupa kelas kata sifat yaitu bodoh.

Pikiran jernih: unsur intinya berupa kelas kata sifat yaitu jernih.

Frasa sifat atau frasa ajektif mempunyai inti yang berupa kata sifat, yakni unsur yang diterangkan oleh unsur lain yang berfungsi sebagai unsur yang menerangkan.

Di dalam kata sifat, terdapat beberapa ciri sebagai berikut :

  1. Kata sifat (adjektiva) dapat ditambahkan atau diberikan dengan kata keterangan pembanding yang menggunakan kata seperti:
  • Paling; misalnya paling banyak, paling murah, paling bagus.
  • Lebih; misalnya lebih unggul, lebih cerdas, lebih tampan.
  • Kurang; misalnya kurang tinggi, kurang cepat, kurang giat.
  1. Kata sifat dapat ditambahkan kata keterangan penguat seperti:
  • Benar; misalnya indah benar
  • Sekali; misalnya indah sekali
  • Terlalu; misalnya terlalu indah
  • Amat; misalnya amat indah
  • Sangat; misalnya sangat indah
  1. Kata sifat bisa ditambah dengan kata ingkar tidak; misalnya tidak bodoh.
  2. Kata sifat bisa diulang dengan awalan se- dan akhiran –nya; misalnya, sebaik-baiknya, seburuk-buruknya, sepintar-pintarnya.
  3. Dalam kata-kata tertentu, kata sifat dapat diberi akhiran. Misalnya: honorer, manusiawi, ilmiah, konsumtif, struktural.

Perhatikan bacaan berikut!

Hukuman Manis Buat Arya

oleh: Lestari Danardana

Arya berdiri di ruang makan. Sebentar-sebentar dia mengintip ke ruang kerja ayahnya. Di ruangan itu tersimpan buku-buku koleksi ayahnya. Ruangan itu dialasi tikar lampit Kalimantan. Sangat nyaman. Arya dan Astri betah berlama-lama membaca di situ.

Ibu Arya yang seorang guru, juga sering mengoreksi soal-soal ulangan di situ. Sekarang ini lampu ruangan itu mati. Ayah belum sempat menggantikan dengan lampu baru.

Arya mengintip sekali lagi. Namun, ia tidak bisa melihat jelas karena ruangan itu agak gelap. Sore itu idak ada seorang pun di rumah kecuali Arya. Ayah dan ibu mengantar Astri ke dokter gigi. Arya mulai gelisah. Ia ingin sekali masuk ke ruangan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh dering telepon. Ternyata dari Dani, teman sekelasnya.

”Kalau kamu tidak bisa menemukannya, berarti kamu ingkar janji. Dasar pengecut!” kata Dani dengan suara keras.

”Tapi Dan…” jawab Arya gugup.

Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, telepon sudah ditutup Dani. Arya lalu berjalan menuju ruang belajar. Besok Ibu akan memberi ulangan matematika. Di ruang itulah biasanya Ibu mempersiapkan soal-soal ulangan.

Perlahan-lahan dibukanya pintu ruangan itu. Berkas sinar lampu dari ruang makan menerobos masuk.

”Itu dia!” gumam Arya gembira. Sebuah buku tergeletak di meja. Tampak ada sehelai kertas terselip di dalamnya. Arya tahu benar bahwa mengintip soal sebelum ulangan adalah perbuatan curang. Namun, ejekan Dani terngiang-ngiang di telinganya.

Arya menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri, ”Aku bukan pengecut. Aku harus mengambilnya!”

Dengan gemetar, diambilnya kertas itu dari atas meja. Lega rasanya begitu melihat bahwa kertas itu benar-benar soal ulangan matematika. Rasa takut kembali muncul di hatinya. ”Pengecut, pengecut!” Mengingat kata-kata Dani itu, Arya menjadi nekat membawa kertas itu keluar. Secepat kilat ia lari ke ruang keluarga menelepon Dani.

”Hebat!” teriak Dani. Arya lalu membacakan soal matematika itu dan Dani mencatatya.

”Terima kasih, Arya. Besok kutraktir es krim Mas Doto deh!” seru Dani riang.

Arya tertegun sejenak. Dia lalu lari ke ruang belajar dan menyimpan kembali kertas soal itu.

Baru saja Arya hendak menutup pintu ruang belajar, terdengar suara mobil Ayah di depan rumah. ”Hmmm, untung sudah beres,” gumamnya perlahan.

Keesokkan harinya ulangan Matematika berlangsung sesuai jadwal. ”Ya ampun, soalnya persis sekali!” seru Arya dalam hati. Dani berhasil menyelesaikan soal ulangan dalam waktu dua puluh menit. Ketika ia menyerahkan lembar jawaban, semua anak memandang keheranan padanya. Arya tersenyum dan Dani membalas dengan mengedipkan sebelah matanya.

”Kau adalah sahabatku yang paling baik di dunia!” ucap Dani saat mereka menikmati es krim di bawah pohon. Arya tersipu.

Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, telepon sudah ditutup Dani.

Arya lalu  berjalan menuju ruang belajar. Besok Ibu akan memberi ulangan matematika.  Di ruang itulah biasanya Ibu mempersiapkan soal-soal ulangan.

Perlahan-lahan dibukanya pintu ruangan itu. Berkas sinar lampu dari ruang makan menerobos masuk.

”Itu  dia!”  gumam  Arya  gembira.  Sebuah  buku  tergeletak  di  meja.  Tampak  ada  sehelai kertas terselip di dalamnya. Arya tahu benar bahwa mengintip soal sebelum  ulangan adalah perbuatan curang.  Namun,  ejekan  Dani terngiang-ngiang di telinganya.

Arya menarik napas panjang dan berkata pada dirinya sendiri, ”Aku bukan pengecut. Aku harus mengambilnya!”

Dengan  gemetar,  diambilnya  kertas  itu  dari  atas  meja.  Lega  rasanya  begitu melihat  bahwa kertas itu benar-benar soal ulangan matematika. Rasa takut  kembali  muncul  di  hatinya. ”Pengecut,  pengecut!” Mengingat kata-kata Dani itu, Arya menjadi nekat membawa kertas itu keluar. Secepat kilat ia lari ke ruang keluarga menelepon Dani.

”Hebat!” teriak Dani. Arya lalu membacakan soal matematika itu dan Dani mencatatya.

”Terima kasih, Arya. Besok kutraktir es krim Mas Doto deh!” seru Dani riang.

Arya  tertegun  sejenak.  Dia  lalu  lari  ke  ruang  belajar  dan  menyimpan  kembali  kertas soal itu.

Baru saja Arya hendak menutup pintu ruang belajar, terdengar suara mobil Ayah di depan rumah. ”Hmmm, untung sudah beres,” gumamnya perlahan.

Keesokkan  harinya  ulangan Matematika  berlangsung  sesuai  jadwal.  ”Ya  ampun, soalnya persis sekali!” seru Arya dalam hati. Dani berhasil menyelesaikan soal  ulangan  dalam  waktu  dua  puluh  menit.  Ketika  ia  menyerahkan  lembar  jawaban, semua anak memandang keheranan padanya. Arya tersenyum dan Dani membalas dengan mengedipkan sebelah matanya.

”Kau  adalah  sahabatku  yang  paling  baik  di  dunia!”  ucap  Dani  saat  mereka menikmati es krim di bawah pohon. Arya tersipu.

Sore harinya, saat Arya pulang ke rumah,

”Arya, Ibu punya kejutan buatmu!” seru Ibu gembira.

” Wo w,   chicken pie!” teriak Arya. ”Makasih, Bu!” seru Arya lagi.

Saat makan malam tiba, dengan bangga Ibu menceritakan kehebatan anaknya.

”Ayah, Arya mendapat nilai Matematika paling tinggi di kelas, lo!” seru Ibu. ”Wah hebat! Anak istimewa harus mendapat hadiah istimewa!” timpal Ayah.

”Aku juga mau kasih Mas Arya hadiah. Tapi rahasia!” ucap Astri, adik Arya.

Arya menutup mulut dengan tangannya. Alisnya agak terangkat. Ia menjadi salah tingkah. Ia malu dan merasa sangat bersalah. Arya akhirnya menunduk dan berkata lirih,

”Maaf, Bu. Saya membaca soal ulangan Matematika itu tadi malam,” air mata menggenang di pelupuk matanya.

Ibu  memeluknya  dengan  lembut  dan  berkata,  ”Hmm,  Ibu  senang  akhirnya  kamu mengaku. Tapi mengapa kau lakukan itu? Ada yang menyuruhmu?” desak Ibu lembut.

”Ti…tidak, Bu!” sahut Arya cepat, tetap menunduk.

”Memang serbasalah jadi anak guru, ya?” Ibu menyelidik halus.

”Mmm…sebetulnya  kalau  aku  berani,  hal  ini  tidak  akan  terjadi,  Bu,”  jawab  Arya memberanikan diri.

Ibu  tersenyum  mendengar  jawaban  anaknya.  ”Sebenarnya  Ibu  curiga  sejak tadi malam. Kau tidak menyelipkan kembali soal matematika itu pada halaman semula,”  jelas  Ibu  bijak.  ”Dan  Ibu  tambah  curiga  melihat  gerak-gerik  Dani  saat  menyerahkan  soal.  Tapi  sudahlah,  kamu  kan  sudah  mengakui  kesalahanmu,”  ucap Ibu lagi.

”Jadi, sebetulnya Ibu sudah tahu sejak tadi malam?” Arya keheranan.

Ibu tersenyum mengangguk.

”Lo… mengapa  Mas  Arya  tidak  langsung  dimarahi,  Bu?”  tanya  Astri.  Ayah  tertawa sambil mengacak-acak rambut Astri,

”Kamu tuh paling suka kalau Mas Arya dihukum!”

”Menghukum  seseorang  itu  tidak  harus  selalu  dengan  marah-marah!”  Ibu menjelaskan.

”Bu, Arya lebih baik dimarahi habis-habisan daripada diperlakukan dengan baik begini,” sergah Arya.

”Akh,  kamu!  Sudah  salah  malah  nawar-nawar!”  sahut  Ayah  sambil  tertawa.

Arya menghela napasnya. Tiba-tiba Ayah menyeletuk, ”Astri, sini chicken pie-nya.

Ayah habiskan saja deh!” Astri dan Arya serentak lari menuju lemari makan, dan berteriak,

”Jangan dooong!” Ayah dan Ibu tertawa melihat tingkah kedua anaknya.

(Bobo)*

 

Kegiatan 9.8

Secara berdiskusi, buktikanlah bahwa frasa di bawah ini bersifat ajektif !

  1. sunyi senyap
  2. halus sekali
  3. begitu kusam
  4. tidak halus
  5. sangat pandai
  6. tidak lama
  7. mudah sekali
  8. putih bersih
  9. hitam legam
  10. panjang labar

Tunjukkanlah frasa ajektif dalam paragraf berikut!

Acara lain yang sangat menarik adalah acara ”Dari Desa ke Desa”. Dalam acara ini bisa menyaksikan wajah desa yang hijau, tenang, dan jauh dari hirup  pikuk.  Perilaku  orang-orang  desa  yang  polos  murni  sepatutnya  dicontoh oleh orang-orang kota. Kecantikan alam desa selalu menggugah rasa, ingin kita mengunjunginya. Sekaligus kita pun sangat bangga, betapa beragamnya  tanah  air  tercinta  ini.  Memang  benar  acara  ini  semakin  menebalkan rasa cinta dan bangga akan negeri sendiri.

Frasa ajektif dalam paragraf tersebut adalah ….

Mereka tetap mempertahankan warna album yang berlirik puitis. Album yang  digarap  sejak  Februari  itu  memang  berbeda  dengan  album  Padi  sebelumnya yang penuh dinamika. Lagu ”Seandainya Bisa Memilih” dan ”Semua Tak Sama,” misalnya, sangat membantu kemampuan vokal Fadly dalam  menyesuaikan  tempo  musik  yang  berubah-ubah.  Nuansa  harpa dari  Maya  Hassan  begitu  memukau  dan  harmonis.  Begitu  pun  dengan  paduan  suara  Ingimto  Trisakti  Choir,  turut  memperkaya  kesan  orkestra  musik mereka.

.

Frasa ajektif dalam paragraf tersebut adalah ….

Tugas Individu

Temukanlah  contoh-contoh  kata  sifat  yang  lain  dalam  buku-buku  agama,  sejarah, ekonomi, fisika, biologi, dan buku-buku pelajaran lainnya. Tunjukkanlah inti dari frasa-frasa tersebut.

Demikian, semoga ada manfaatnya.

Salam literasi.

BACA JUGA : Materi Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 7 Semester 1

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VIII Edisi Revisi 2017.

 

 

Berita sebelumyaRPP B. Indonesia Kelas 8 K13 Revisi 2017 (9.D.1)
Berita berikutnyaUnsur-unsur Menarik Lainnya dalam Buku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here