Bagaimanakah Puasa Tanpa Didahului Niat?

0
1021

Puasa tanpa didahului dengan niat, hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Ia hanya menahan nafsu (makan, dan minum) tanpa tujuan yang jelas. Untuk apa puasa itu dilakukan? Untuk manfaat apa ia diaplikasikan? Puasa harus didahului dengan syahadat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian dilanjutkan dengan shalat dalam urutan rukun islam, barulah kemudian ibadah puasa dilakukan. Artinya, ia harus memahami seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya, serta makna shalat sesungguhnya sebelum melakukan puasa. Jadi puasa tidak berdiri sendiri, namun merupakan satu kesatuan dari keseluruhan rukun iman dan rukun islam. (Ary Ginanjar Agustian dalam ESQ)

Rasulullah ﷺ bersabda,

إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Sesungguhnya semua amalan itu hanyalah dengan niat, dan bagi setiap orang mendapatkan apa yang telah ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.

Hadits ini merupakan salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Baihaqi, dan lain-lain berkata, “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat di dalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih.” Sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.

Hadits di atas menjelaskan beberapa hal, di antaranya:

Niat adalah kemauan hati untuk melakukan sesuatu. Tempatnya adalah dalam hati dan tidak ada hubungannya dengan lidah. Dr. Ahmad Farid menyatakan, “Niat bukanlah sekedar ucapan seseorang, ‘Aku berniat …’ akan tetapi niat adalah dorongan hati yang berjalan sesuai kehendak Allah.

Pada sebagian kondisi, niat menjadi mudah, namun pada kondisi yang lain ia menjadi sulit. Menghadirkan niat dalam banyak kondisi akan mudah bagi orang-orang yang hatinya didominasi urusan agama. Karena secara keseluruhan hatinya cenderung pada pokok kebaikan, sehingga mendorongnya untuk melakukan secara hati-hati.”

Dalam hadits di atas Rasulullah ﷺ menganalogikan terhadap amal perbuatan yang sejenis, tetapi berbeda dalam hal baik dan buruknya. Kalimat menunjukkan sebab terjadinya amal perbuatan. Bahwasanya segala bentuk perbuatan pasti didorong oleh niat untuk melakukannya. Setiap amalan orang berakal yang mempunyai ikhtiar pasti terjadi karena adanya niat. Mustahil ada seorang waras yang berwudhu’, berangkat untuk shalat, bertakbir, dan melaksanakan shalat, tetapi dikatakan bahwa ia tidak atau belum berniat. Sedangkan ia melakukan semua itu dari dorongan keinginan hatinya, itulah yang disebut dengan niat.  Sehingga sebagian ulama mengatakan, “Seandainya Allah membebani kita untuk beramal tanpa niat, sungguh itu adalah suatu beban yang tidak akan sanggup dipikul.”

Sedangkan makna adalah hasil atau balasan yang diperoleh seseorang dari amalnya bergantung pada niat. Apakah amalan tersebut dilakukan secara ikhlas hanya karena Allah, atau karena riya’, sum’ah, atau untuk tujuan dunia lainnya. Walaupun seseorang mengucapkan lafadz niat dengan lisannya tetapi hatinya tertuju kepada selain Allah, maka yang akan dihitung adalah yang tersirat dalam hatinya. Hadits tersebut di atas adalah dalil yang menunjukkan bahwa niat yang ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amalan shaleh.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (Q.S. Al-Bayyinah : 5)

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al Kahfi : 28)

Mengharap keridhaan-Nya, bukan mengharapkan perhiasan dunia. Mereka ini adalah para sahabat Rasulullah ﷺ yang fakir. Dalam ayat ini terdapat perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik meskipun mereka dianggap rendah oleh manusia atau keadaannya miskin.

Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Karena hal itu berbahaya dan tidak bermanfaat serta memutuskan maslahat agama, di mana di dalamnya terdapat ketergantungan hati kepada dunia, sehingga pikiran dan perhatian tertuju kepadanya dan hilang dari hatinya cinta kepada akhirat. Yang demikian karena keindahan dunia sangat menakjubkan bagi orang yang memandangnya, mempengaruhi akalnya, sehingga membuat hati lalai dari mengingat Allah, dan akhirnya ia akan mendatangi kelezatan dunia dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya, waktunya pun menjadi sia-sia dan keadaannya menjadi tidak terkendali, sehingga ia menjadi orang yang rugi dan menyesal selama-lamanya.

Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, yakni dari Al Qur’an atau dari mengingat Allah. Hal itu karena ia lupa kepada Allah, maka Allah hukum dengan melalaikan hatinya dari mengingat-Nya.

Janganlah menuruti keinginan (hawa nafsu)nya dan adalah keadaannya itu melewati batas yakni maslahat agama dan dunianya menjadi sia-sia. Orang yang seperti ini dilarang Allah untuk diituruti, karena menurutinya akan membuatnya terus mengikuti. Bahkan yang layak diikuti adalah orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Allah, mengikuti keridhaan-Nya, di mana ia mendahulukan keridhaan Allah di atas hawa nafsunya, sehingga ia dapat menjaga waktunya dan keadaannya pun menjadi baik, perbuatannya istiqamah serta mengajak manusia kepada nikmat yang dikaruniakan Allah itu kepadanya. Dalam ayat ini terdapat anjuran berdzikr, berdoa dan beribadah di penghujung siang (pagi dan petang), karena Allah memuji mereka karena perbuatan itu, dan setiap perbuatan yang dipuji Allah menunjukkan bahwa Allah mencintainya, dan jika perbuatan itu dicintai-Nya, maka berarti Dia memerintahkan dan mendorongnya.

Tentang puasa tanpa niat, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ اَلْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ اَلصِّيَامَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَمَالَ النَّسَائِيُّ وَاَلتِّرْمِذِيُّ إِلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ, وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ. وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ:  لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنَ اَللَّيْلِ

Dari Hafshah Ummul Mukminin bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” Riwayat Imam Lima. Tirmidzi dan Nasa’i lebih cenderung menilainya hadits mauquf. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya shahih secara marfu’. Menurut riwayat Daruquthni,  “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak meniatkan puasa wajib semenjak malam.” (Bulughul Maram : Hadits No. 675)

Malam hari adalah sejak matahari terbenam sampai terbit fajar, dalam tenggang waktu sebelum terbit fajar itulah niat di’azamkan. Sedangkan puasa baru dimulai setelah terbit fajar, jelas tidak berkumpul dengan niat. Jadi niat tersebut bukanlah rukun dari puasa, tetapi syarat puasa.

Sungguh tidak ada alasan untuk memiliki rasa was-was apalagi sampai harus membatalkan puasa bagi mereka yang bermaksud puasa untuk esok hari. Bahkan ia bangun dan makan sahur. Kemudian karena ia lupa, tidak mengucapkan “Nawaitu shouma ghodin…” pada malam hari tadi. Ia menganggap puasanya itu tidak sah. Sesungguhnya keragu-raguan itu datangnya dari syetan.

Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu katanya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tiada seorang hambapun yang berpuasa sehari dengan niat fi-sabilillah, yakni semtata-mata menuju kepada ketaatan kepada Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya, yakni dirinya karena puasanya tadi, sejauh perjalanan tujuh puluh tahun dari neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Wallahu a’lam.


BACA JUGA: Hal-hal Tentang Ibadah Puasa


Demikianlah, Taqobbalallaahu minna wa minkum shiyaamanaa wa shiyaamakum.

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

Artikulli paraprakMakan dan Minum Karena Lupa di Bulan Ramadhan
Artikulli tjetërBerbuka/ Meninggalkan Puasa Tanpa Alasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini