Thawaf Mengelilingi Ka’bah dan Macamnya

0
976

Thawaf ialah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali, di mana Ka’bah selalu berada di sebelah kirinya dimulai dan diakhiri pada arah sejajar dengan Hajar Aswad. Tidak setiap orang yang masuk Mesjidil Haram harus melakukan thawaf, hanya saja apabila memungkinkan dapat melaksanakan thawaf sebagai pengganti shalat sunat Tahiyyatul Masjid. Setiap orang yang melakukan thawaf harus suci dari hadas besar dan hadas kecil.

Jamaah haji yang batal wudhunya wajib berwudhu kembali dan tidak perlu mengulangi thowafnya yang sudah dilakukan. Setelah berwudhu melanjutkan putaran thawafnya dari arah sejajar Hajar Aswad/ mulai thawaf. Apabila datang waktu shalat wajib yang dilakukan berjamaah, maka bagi yang thawaf harus menghentikan thawafnya untuk mengikuti shalat jamaah lebih dahulu dan putaran thawaf yang masih tersisa diteruskan setelah selesai shalat dari tempat dimana ia mulai niat memasuki shaf shalat.

Menghadap sepenuh badan ke Ka’bah ketika akan memulai thawaf tidak wajib, tetapi disunatkan apabila keadaan memungkinkan. Jika tidak memungkinkan cukup dengan memiringkan badan dan menghadap muka kearah Ka’bah serta melambaikan tangan dan mengecupnya sambil mengucapkan: Bismillahi Wallahu Akbar.

Disunatkan istilam Rukun Yamani dan tangannya tidak usah dikecup seperti istilam pada Hajar Aswad. Ramai (lari-lari) bagi pria pada putaran thawaf ke 1 s.d 3 disunatkan bila situasinya memungkinkan.

Shalat sunat thawaf ialah shalat dua rakaat yang dilakukan setelah selesai thawaf. Shalat sunat thawaf dilakukan di belakang Maqam Ibrahim. Bila tidak mungkin, maka dilakukan di mana saja, baik di dalam maupun di luar Masjidil Haram, dan baik di Tanah Haram maupun di luar tanah Haram. Tidak semua thawaf  harus diikuti dengan sa’i seperti thawaf sunat.

Ada tiga macam thowaf yang diikuti sa’i, yaitu:

  1. Thowaf ifadah, yakni thawaf Rukun Haji bagi Haji Tamattu dan bagi Haji Ifrad atau Haji Qiran yang belum sa’i pada waktu thawaf qudum.
  2. Thowaf qudum bagi Haji Ifrad atau Haji Qiran, dimana tidak perlu lagi sa’i pada waktu Thawaf ifadah.
  3. Thowaf Umrah, yakni setiap thawaf umrah diikuti dengan sa’i.

Sedangkan thowaf ada 4 (empat) macam, yaitu:

  1. Thowaf Qudum
  2. Thowaf Rukun (Ifadah dan Umrah)
  3. Thowaf Sunat
  4. Thowaf Wada.

Thowaf Qudum adalah thawaf yang dilakukan oleh orang yang baru tiba di Makkah sebagai penghormatan terhadap Ka’bah. Seorang yang baru tiba di Makkah disunatkan shalat sunat thowaf qudum, namun bagi yang melakukan haji tamattu thowaf qudumnya sudah termasuk dalam thowaf umrahnya.

Thowaf ifadah adalah thowaf rukun haji, dikenal juga dengan thawaf sadr (inti) atau thawaf ziarah. Hukumnya adalah sebagai salah satu rukun haji dan apabila  tidak dikerjakan, maka tidak sah hajinya. Thawaf ifadah dikerjakan setelah lewat tengah malam hari nahar (tanggal 10 Dzulhijjah sampai kapan saja, tetapi dianjurkan di hari-hari tasyriq atau masih dalam bulan Dzulhijjah, bahkan bagi seorang yang karena ada halangan tertentu dapat melaksanakan kapan saja tidak ada batas waktunya. Orang yang telah selesai semua amalan hajinya kecuali thawaf ifadah dapat dikatakan baru tahallul awal, belum tahallul tsani, sehingga masih terkena larangan bersetubuh.

Thowaf umrah ialah thawaf yang dikerjakan setiap melakukan umrah wajib atau umrah sunat.

Thowaf sunah ialah thowaf yang dilakukan setiap saat ketika seseorang berada dalam Masjidil haram tidak diikuti sa’i dan yang bersangkutan menggunakan pakaian biasa.

Thowaf wada adalah thawaf pamitan yang dilakukan oleh setiap orang yang telah selesai melakukan ibadah haji/umrah dan akan meninggalkan kota Makkah. Hukum thawaf wada adalah wajib bagi setiap orang yang akan meninggalkan kota Makkah, menurut pendapat Imam Malik hukumnya mustahab (dianjurkan). Thawaf wada dilakukan setelah selesai melaksanakan ibadah haji/umrah pada waktu akan meninggalkan kota Makkah, baik akan pulang ke tanah air atau akan ziarah ke Madinah yang tidak akan kembali lagi ke Makkah.

(Sumber: Do’a dan Dzikir Tanya Jawab Manasik Haji dan Umrah, Kementerian Agama RI).

Syarat sah thowaf mengelilingi Ka’bah ada tiga belas: 1) islam, 2) berakal, 3) niat tertentu, 4) masuknya waktu thawaf, 5) menutup aurat bagi yang mampu, 6) suci dari hadats kecuali anak kecil, 7) melengkapi tujuh keliling dengan yakin, 8) memposisikan Ka’bah di sebelah kiri, dan mengulangi putaran yang salah, 9) tidak kembali dengan berjalan kakinya (tidak balik arah ketika thawaf), 10) berjalan kaki bagi yang mampu, 11) antara satu putaran dengan putaran lain berkesinambungan, 12) thawaf dikerjakan di dalam Masjid, 13) memulai thawaf dari Hajar Aswad.

Sunat-sunat thowaf : mengusap Hajar Aswad dan menciumnya serta bertakbir saat mengusapnya, mengusap Rukun Yamani, menyelempangkan kain ihram, berlari kecil dan berjalan pada tempat/saatnya, berdo’a dan berdzikir sepanjang thawaf, mendekat ke Ka’bah, shalat dua rakaat setelah thawaf di belakang maqam (batu tempat berdiri) Nabi Ibrahim as.

(Sumber: Tafsir Al-Usyr Al-Akhir dari Al-Qur’an Al-Karim disertai Hukukm-hukum Penting Bagi Seorang Muslim).

Berikut ini kutipan hadits dari Bulughul Maram:

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: ( أَنَّهُ كَانَ يُقَبِّلُ اَلْحَجَرَ اَلْأَسْوَدَ وَيَسْجُدُ عَلَيْهِ )  رَوَاهُ اَلْحَاكِمُ مَرْفُوعًا, وَالْبَيْهَقِيُّ مَوْقُوفًا

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ia pernah mencium Hajar Aswad dan meletakkan dahi padanya. Diriwayatkan oleh Hakim dengan marfu’ dan Baihaqi dengan mauquf.

وَعَنْهُ قَالَ: أَمَرَهُمْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( أَنْ يَرْمُلُوا ثَلَاثَةَ أَشْوَاطٍ وَيَمْشُوا أَرْبَعًا, مَا بَيْنَ اَلرُّكْنَيْنِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Mereka diperintahkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam agar berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran antara dua rukun (Hajar Aswad dan rukun Yamani). Muttafaq Alaihi

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا أَنَّهُ كَانَ إِذَا طَافَ بِالْبَيْتِ الطَّوَافَ اْلأَوَّلَ خَبَّ ثَلاَثًا وَ مَشَى أَرْبَعًا وَفِى رِوَايَةٍ : (رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ إِذَا طَافَ فِى الْحَجِّ أَوْ الْعُمْرَةْ أَوَّلَ مَا يَقْدُمُ فَإِنَّهُ يَسْعَى ثَلاَثَةَ أَطْوَافٍ بِالْبَيْتِ وَيَمْشِيْ أَرْبَعَةً) متفق عليه

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa apabila ia melakukan thowaf di Baitullah pada thowaf pertama, ia berjalan cepat tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran. Dalam suatu riwayat: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila melakukan thowaf dalam haji atau umrah pada kedatangan pertama, beliau berjalan cepat tiga kali keliling dan berjalan biasa empat kali keliling. Muttafaq Alaihi.

وَعَنْهُ قَالَ: ( لَمْ أَرَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَلِمُ مِنْ اَلْبَيْتِ غَيْرَ اَلرُّكْنَيْنِ اَلْيَمَانِيَيْنِ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyentuh bagian Ka’bah kecuali dua rukun Yamani. Riwayat Muslim.

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه ( أَنَّهُ قَبَّلَ اَلْحَجَرَ ] اَلْأَسْوَدَ [ فَقَالَ: إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ, وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Umar bahwa ia mencium Hajar Aswad dan berkata: Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menciummu, aku tidak akan menciummu. Muttafaq Alaihi.

وَعَنْ أَبِي اَلطُّفَيْلِ رضي الله عنه قَالَ: ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَيَسْتَلِمُ اَلرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ مَعَهُ, وَيُقْبِّلُ اَلْمِحْجَنَ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu al-Thufail berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berthowaf di Ka’bah, beliau menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat yang dibawanya, dan mencium tongkat tersebut. Riwayat Muslim

وَعَنْ يَعْلَى بْنَ أُمَيَّةَ رضي الله عنه قَالَ: ( طَافَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُضْطَبِعًا بِبُرْدٍ أَخْضَرَ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

Ya’la Ibnu Umayyah berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam thowaf berselendangkan kain hijau. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i, dan dinilai shahih oleh Tirmidzi.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهَا: ( طَوَافُكِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ اَلصَّفَا وَاَلْمَرْوَةِ يَكْفِيكَ لِحَجِّكِ وَعُمْرَتِكِ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padanya: “Thowaf-mu di Baitullah dan sa’imu antara Shofa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu.” Riwayat Muslim.

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( لَمْ يَرْمُلْ فِي اَلسَّبْعِ اَلَّذِي أَفَاضَ فِيهِ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اَلتِّرْمِذِيَّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak berlari-lari kecil dalam tujuh putaran pada thowaf ifadlah. Riwayat Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim.


BACA JUGA : Perihal Shalat, Zakat, dan Ibadah Haji


وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( أُمِرَ اَلنَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرَ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ, إِلَّا أَنَّهُ خَفَّفَ عَنِ الْحَائِضِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang diperintahkan agar akhir dari ibadah haji mereka adalah thowaf di Baitullah, tetapi diberikan kelonggaran bagi perempuan haid. Muttafaq Alaihi.

Demikian. semoga bermanfaat.

 

Berita sebelumyaSa’i dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah
Berita berikutnyaHadits Tentang Mabit, Hari Tasyrik dan Lainnya