Belajar Menghindari Kata Mubazir

0
1593

Sifat berlebihan bukan hanya larangan agama saja. tetapi dalam berbahasa pun, terutama dalam bahasa resmi, kita tidak boleh menggunakan kata yang mubazir. Mubazir diartikan: (1) menjadi sia-sia atau tidak berguna, terbuang-buang (karena berlebihan), (2) berlebihan (3) bersifat memboroskan, berlebihan, royal (4) orang yang berlaku boros, pemboros. Yang dimaksud kata mubazir di sini ialah kata berlebih yang tidak diperlukan, karena kalau dihilangkan pun tidak mengganggu makna yang disampaikan.

Contoh kata mubazir:

  1. Para siswa-siswa mendapatkan pembelajaran bahwa bila tidak bisa memberi, jangan mengambil yang bukan haknya.
  2. Banyak ibu-ibu baru menyadari bahwa mengasihi memang terlalu sulit, tetapi mereka berusaha untuk tidak membenci.

Kata para adalah salah satu bentuk kata yang dapat digunakan untuk menyatakan pengertian jamak. Siswa-siswa dan ibu-ibu adalah kata yang mengalami perulangan. Dalam bahasa Indonesia kata yang telah mengalami perulangan bisa menyatakan jamak pula. Jadi, contoh (1) kalimat di atas menggunakan dua bentuk jamak, yaitu para dan siswa-siswa (banyak siswa). Kalimat tersebut termasuk kalimat mubazir. Seharusnya salah satunya dihilangkan menjadi para siswa atau siswa-siswa. Begitu pun pada kalimat (2) sebaiknya salah satunya dibuang menjadi banyak ibu atau ibu-ibu.

Persoalan kemudian muncul apabila kata para disandingkan dengan kata hadirin atau ulama yang dalam bahasa Arab bermakna jamak. Hal yang harus diingat bahwa Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk jamak dan tunggal seperti dalam bahasa Inggris atau arab. Kata hadirin, ulama, data, dan alumni diperlakukan sebagai bentuk netral sehingga bisa mengandung pengertian tunggal dan dapat pula mengandung pengertian jamak sesuai konteks kalimatnya.  Oleh karena itu, pemakaian kata para hadirin dan para ulama tidak dapat dikatakan mubazir. Contoh:

  1. Salah seorang hadirin mengatakan, “Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih.” (bermakna tunggal).
  2. Hadirin, bila tak mampu meringankan beban orang lain, jangan mempersulit! (bermakna jamak).
  3. Para hadirin, bila tak bisa menghargai, jangan menghina! (bermakna jamak)
  4. Menurut ulama yang memberikan ceramah kemarin, Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat! (bermakna tunggal).
  5. Banyak data bahwa sebagian orang berpandangan, “Kalau bisa bayar, kenapa mengambil yang gratis? Sebagian lagi berpandangan, kalau bisa gratis, kenapa harus beli?

Penggunaan kata yang bersinonim secara bersama-sama dapat juga mengakibatkan mubazir.

Contoh: Kita perlu sering berlatih agar supaya mental kita kuat.

Kata agar supaya salah satunya mubazir. Karena kedua kata itu memiliki makna yang sama.

Ada lagi beberapa contoh kalimat berikut:

  1. Kegiatan itu akan dilaksanakan mulai (hari) Senin mendatang.
  2. Terhitung mulai (tanggal) 5 Agustus jamaah haji mulai diberangkatkan.
  3. Setiap (bulan) Januari ia mengadakan ulang tahun.
BACA JUGA : Materi Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 7 Semester 1

Kata hari, tanggal, dan bulan pada contoh di atas kalau dihilangkan tidak akan mengubah informasi. Pemakaiannya tidak terlalu diperlukan/ mubazir. Berbeda dengan kalimat yang didahului kata depan seperti, Mereka akan tiba di Madinah pada hari Jumat. Maka penggunaan kata hari sangat diperlukan, karena memiliki nilai informatif yang tinggi.

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Berita sebelumyaCerita Hantu di Kampung Terdekat
Berita berikutnyaSeruan Melaksanakan Ibadah Haji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here