Contoh Komentar dengan Disertai Ringkasan

0
5254

Materi ini dikembangkan berdasarkan kompetensi dasar 4.16 Menyajikan tanggapan terhadap isi buku fiksi nonfiksi yang dibaca.

Aktivitas pembelajaran pada bagian ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi kita dalam mengamati komentar tentang buku fiksi dan nonfksi yang dibaca dengan disertai ringkasan.

Lihat: LKPD Komentar dengan Disertai Ringkasan

Bahan Bacaan

Buku : Anak Rembulan (Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari) Anak Rembulan: Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari

Penulis Djokolelono

Penerbit Mizan (Mizan Fantasi)

Cetakan I, Agustus 2011

Tebal 350 halaman ISBN 978-979-433-637-3

Tokoh utama Nono, digambarkan sesuai stereotipe novel Djokolelono, yang saya temukan sejak novel Getaran (Balai Pustaka, mungkin? Tahun jebot lah), yaitu sosok smart Boy, tipikal juara kelas, atau ketua kelas, kebanggaan ortu, dan memiliki kemandirian yang mengalahkan evenmahasiswa jaman sekarang. Nggak percaya? Well, For starter, Nono yang kelas 5 SD sudah dibolehkan dan mampu naik kereta api sendirian pulang kampung. Dan kemampuan karatenya cukup mumpuni untuk melawan empat preman kelas standar, bahkan bisa mengajari seorang kesatria di era time-travelnya!

Kalo nggak gitu, bukan bukunya Djokolelono, hehehehe!

Kemampuan yang berlebihan ini, memang cukup standar di masa-masa 70an. Selain level kemandirian seorang anak di masa lalu memang lebih tinggi daripada anak-anak sekarang yang terbiasa hidup enak, tahun 70an adalah juga masa di mana kebudayaan menerima konsep: anything is possible! Manusia bisa mendarat di bulan. Superhero membanjir di benak kultur pop, negara-negara juragan baru bermunculan, seiring minyak menjadi komoditi utama yang menjanjikan kemakmuran, keberlimpahan. Masa-masa optimistis, tak heran konsep bocah jagoan bisa diterima.

Untuk zaman sekarang, memang agak kurang realistis. Apalagi trend 90-an ke sini, di tengah depresi ekonomi dunia dan ancaman ‘kiamat-kian-dekat’, sosok protagonis banyak muncul dalam konsep anti-hero.

Dan satu lagi ciri masa lalu yang dibawa kembali ke masa kini oleh sang Maestro, adalah penggunaan tokoh utama kanak-kanak. Di novel ini, ada empat tokoh sentral yang dimainkan anak-anak, yaitu Nono, Saarce, Trimo, dan Sang Ratu Merah dari Kerajaan Tlaga Harum. Coba tengok, gak usah jauh-jauh, di fikfanindo ini, ada berapa buku fantasy yang tokohnya anak-anak? Hanya segelintir. Kebanyakan fikfan lokal bertokoh pemuda atau pemudi dengan range usia 17 sampai 20-an tahun, kira-kira sesuai rentang usia penulisnya.

Di buku ini, aroma petualangan yang sangat kuat. Di kehidupan nyatanya, Nono gemar bertualang naik sepeda pamannya, menjelajah, mampir sana-sini. Pengarang jadi banyak kesempatan untuk menguraikan berbagai elemen petualangan itu, sampai soal pabrik tahu segala bisa diceritakannya.

Ngelantur? Syukurnya tidak. Semua pada porsi yang pas dan cukup diperlukan untuk menghidupkan cerita.

Contoh komentar novel

Identitas Buku

Judul buku           : Tenun Biru

Pengarang           : Ugi Agustono J.

Penerbit               : Nuansa Cendikia

Alamat penerbit   : Komplek Sukup Baru No. 23 Ujungberung

Kota terbit           : Bandung

Jumlah halaman   : 362 halaman

Ukuran                : 14,5 x 21 x 2 cm

Cetakan I            : November 2012

Ratna terlahir dari keluarga mampu, punya pendidikan yang bagus, pekerjaan mapan serta selalu peduli dengan sekitarnya. Sedangkan Janus menjadi orang mapan dan punya segalanya karena nasib. Mereka harus menjalani kebersamaan memasuki tempat-tempat kumuh hingga pedalaman Indonesia: Dayak di Kalimantan, Karimunjawa, Kota Tua, Bali, Toraja dan Desa Rawa Sampih.

Novel ini banyak menceritakan segala detail pelosok-pelosok negeri kita. Salah satu keberhasilan penulis adalah mampu menggambarkan secara rinci tempat, lokasi, barang, bangunan kejadian yang ada di novel tersebut. Ini memang novel fiksi, tetapi lingkungan yang dibentuk di novel ini sangat nyata sekali.

Terbuai, mungkin itu kata yang cocok ketika membaca novel Tenun Biru. Keindahan dalam negeri disajikan dalam satu karya yang sangat bagus. Membangun kisah romantis, penulis hadirkan Janus yang kurang mencintai Indonesia walau dia adalah orang Indonesia.

Misi Ratna untuk membuat Janus cinta Indonesia merupakan kisah romantis yang membuat pembaca terbawa. Novel ini membuat kisah antara Ratna dan Janus menjadi romantis namun tidak berlebihan. Penulis lebih senang menggambarkan tempat-tempat yang ada di Indonesia. Penulis ingin masyarakat Indonesia cinta terhadap negaranya sendiri karena begitu banyak keindahan dan keunikan yang ada di Indonesia. Termasuk suku budaya yang beragam. Jadi kita tidak perlu keluar negeri bila ingin menikmati keindahan alam atau alasan ingin mengenal budaya lain.

Mengarungi perjalanan yang sulit. Berdua menggali nilai-nilai peradaban, bertemu dan berbagi ragam ilmu dengan anak-anak pelosok yang terpinggirkan. Terkadang harus mempertaruhkan keselamatan. Kisah di dalamnya membungkus kecantikan Indonesia dalam derap irama naluri dan nurani-sekalipun tanpa harus teriakt pada komitmen.

Dialog-dialog antar tokoh juga sangat menarik, apalgi dialog Ratna dan Janus yang sangat alami. Beberapa dialog kecil mengundang tawa lucu dari pembaca.

Cerita tentang sahabat Ratna yang telah berkeluarga juga menghiasi sebagian dari isi novel ini. Adi, sahabat lama Ratna dan Nurul, yang datang menjadi orang ketiga antara hubungan Ratna dan Janus. Berbagai pengetahuan dan informasi yang diajarkan kepada anak-anak pedalaman membuat novel ini semakin istimewa.

Kelemahan dari novel ini adalah alur cerita yang kurang banyak dipahami oleh pembaca. Hal ini terlihat dari subbab “Kisah dari Gang Kumuh” yang menceritakan ceirta kecil masa lalu tentang Ratna dan Janus. Dari sana akan timbul pertanyaan bagi pembaca apakah maksud dari subbab tersebut.

Melihat dari judul, Tenun Biru, bukanlah menggambarkan isi novel ini. Judul ini membuat rasa ingin tahu pembaca menjadi muncul, apalagi membaca subjudul, seperti tidak nyambung dengan judul utama.

Dari sekian banyak cerita dalam novel ini, sajian cerita yang dipaparkan sangatlah menarik, mengundang tawa, sedih, haru, bahagia dan rasa romantis menjadi satu. Novel ini dapat dibaca dan menjadi motivasi bagi seluruh kalangan dan usia terutama yang kurang mencintai Indonesia dan haus akan ragam budaya dari berbagai pelosok negeri.

Demikian, semoga ada manfaatnya.

Lihat Materi: Bahasa Indonesia Kelas 7 SMP Semester Genap

Sumber:

Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VII. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. Cetakan ke-4, 2017 (Edisi Revisi)

Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VII. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. Cetakan ke-4, 2017 (Edisi Revisi)

Berita sebelumyaMembuat Komentar Isi Buku
Berita berikutnyaMenelaah Penggunaan Kata pada Surat Dinas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here