Jiwa Hampa Raga (Bagian Kesembilan)

0
6287

Jiwa Hampa Raga: Disambut Monyet

Setelah makan-makan, Rohamy mencari air untuk mencuci tangan. Dia menemukan jalan yang pernah dikenalnya. Ketika itu Tiryad dan Auwal ikut juga ke danau dengan menjelajahi memasuki hutan melalui jalan tersebut.

“Wal, ke sini! panggil Rohamy kepada Auwal.

“Bentar…. Ada apa?” tanya Auwal.

“Kamu kenal nggak sungai itu?” tanya Rohamy sambil menunjuk ke arah bawah.

“Itu dekat pohon waru. Masih ingat nggak kamu pernah apa di sana?” tanya Rohamy kembali.

 Auwal tersenyum mengingat kejadian ketika ia tak kuat menahan sesuatu yang tidak selayaknya ditahan-tahan di dalam perutnya

“Iya aku ingat.” Jawab Auwal.

“Betul ya kita pernah ke sini?” tanya Rohamy.

 “Betul My.” jawab Auwal sambil meninggalkan tempat itu.

Di bawah pohon nangka itu Rohamy menjelaskan bahwa di seberang sana adalah jalan yang pernah dilaluinya.

“Tir, coba lihat barisan pohon itu?” itu jalan yang telah kita lalui pada liburan tahun kemarin.” kata Rohamy.

“Iya, aku juga sedang melihat-lihat sekitar sini. Pohon nangka ini pernah aku lihat dari arah sana. Aku menduga di sana adalah jalan menuju danau.” jelas Tiryad.

“Di sana kita pernah menunggu Auwal yang sedang kebelet.”  Kata Rohamy.

“Iya… ya… ya… sebentar lagi kita memasuki hutan. Masukkan semua barang ke dalam ransel. Jangan ada yang di luar. Nanti akan memancing monyet untuk merebut makanan yang kita bawa.”  kata Tiryad.

Mereka siap-siap melanjutkan perjalanan. Badan sudah terasa segar kembali. Mereka menelusuri jalan yang pernah dilalui. Aroma kesegaran hutan mulai terasa. Beberapa pohon tumbang dan lapuk menghalangi jalan. Sesekali mereka mencari jamur kuping untuk dimasak nanti. Mereka kadang pula bercanda gurau. Pahlevo yang belum pernah berjalan ke tempat itu paling banyak bertanya.

“Katanya di sini banyak monyet? tanya Pahlevo.

“Udahlah jangan menyebut monyet!, apalagi matamu sambil melirik ke aku.” Protes Alfayedo

“Oh, maaf aku salah melihat.” Kata Pahlevo.

“Iya jangan melihat ke aku. Tuh lihatlah ke sana!” Jelas Alfayedo sambil menunjukkan ke arah ranting-ranting di kejauhan yang bergoyang-goyang.

Alfayedo dan Rohamy terus saja berjalan. Sementara Pahlevo masih memperhatikan barisan pohon bergerak yang ditunjukkan Alfayedo.

“Apakah di pohon itu ada monyet?” tanya Pahlevo yang masih konsentrasi terhadap gerakan ranting pohon yang jauh.

“Hey, lihat ke samping kananmu, itu ada empat ekor.” Bentak Tiryad dengan suara yang sangat keras.

Pahlevo kaget. Ada empat ekor monyet di depan matanya, beberapa ekor lagi sedang menuju ke arah yang sama.

Pahlevo berlari hendak mendekati Tiryad. Tetapi Tiryad pun sudah dikelilingi monyet-monyet. Tepat di atas kepala mereka, ada lima monyet yang menunjukkan gigi-giginya sambil menggoyang-goyangkan pohon. Satu di antaranya terlihat besar sekali. Ia hilir mudik seolah-olah sedang memperhatikan dan memberi komando kepada monyet-monyet yang lainnya.

Pahlevo berlari mendekati Tiryad dan Rohamy.

“Jangan lari Lev!” teriak Tiryad.

Tiryad takut kalau lari justru monyet-monyet akan menyerangnya.

Tiryad mencoba mengambil ranting dengan harapan agar monyet itu sedikit takut dan menjauh dari mereka.

“Hah… i…i… itu semakin banyak monyet menuju ke sini.” kata Rohamy dengan gemetar.

Tiryad dan Rohamy melihat mereka sudah dikelilingi monyet-monyet yang terlihat marah. Giginya menyeringai. Kini tak terhitung monyet yang menaiki pohon runtuh sambil menggoyang-goyang batang pohon. Matanya terus melotot ke arah Tiryad dan kawan-kawan. Mereka ketakutan. Mau berlari, jalan sudah dipagar oleh monyet-monyet.  Mereka melemparkan makanan ke arah monyet. Tak ada satu pun yang tertarik dengan makanan yang dilemparkan. Mereka duduk sambil berteriak meminta tolong.

Terdengar di bawah ada serombongan orang yang ngobrol.

“Pak tolong pak…, tolong pak…,” teriak Tiryad.

“Tolong Pak…” kata Rohamy.

“Aduh Pak too…long. Di sini banyak monyet.” teriak Pahlevo.

Orang-orang yang diminta tolong tak menjawab apa pun. Sampai akhirnya tak terdengar lagi obrolan bapak-bapak itu. Mereka bertiga duduk merapat. Bibirnya gemeteran. Bola matanya memperhatikan setiap gerak monyet yang menghalangi jalan.

Sementara Alfayedo dan Auwal kaget melihat teman-temannya tidak ada dalam rombongan.

Alfayedo dan Auwal segera mencari. Sampai di suatu tempat mereka melihat segerombolan monyet bergerak ke arah puncak yang dipenuhi bebatuan. Alfayedo melihat Tiryad, Pahlevo, dan Rohamy duduk di atas batu-batu yang dikepung segerombolan monyet.

“Hai Tir cepat turun!” perintah Alvayedo kepada teman-temannya.

“Nggak bisa Alf… Semua jalan sudah dikepung monyet.” jawab Tiryad.

“Kamu bisa turun Tir. Coba lihat ke samping! Di balik batu itu ada akar yang bisa kamu gunakan untuk turun.” Alfayedo mencoba memberi petunjuk.

Mereka langsung melihat ke arah yang ditunjukkan Alfayedo. Betul di sana ada akar sebesar tambang yang biasa digunakan latihan meluncur. Akar tersebut seperti sengaja dipasang bagi orang yang ingin turun dari atas batu yang ketinggiannya hampir delapan meter.

Tiryad dan rekan-rekannya mencoba bergerak ke arah akar. Sementara Alfayedo dan Auwal mengambil ranting untuk menghadang monyet yang mendekati Tiryad dan kawan-kawan. Sekarang mereka semua sudah berada di dekat akar. Monyet-monyet semakin bersemangat seolah hendak mengusir mereka. Dan mereka pun hampir berebut memegang akar. Siapa cepat, ia yang turun duluan. Yang lambat, ya… harus sabar dimarahi monyet-monyet.

Akhirnya, “Keup… keup… keup…” berurutan ketiga pasang tangan memegang akar. “Sreee….t, Sreee….t, Sreee….t, mereka bertiga turun seperti orang yang sangat terlatih. Dada-dada mereka memerah setelah bergesekan dengan akar. Lutut dan paha pun ikut lecet. Tak perduli dengan segala luka, mereka mengambil langkah seribu menjauhi tempat itu. Alfayedo dan Auwal pun ikut mengambil langkah seribu. Hanya beberapa puluh meter saja mereka lari pontang-panting. Mereka sadar monyet-monyet itu tidak mengejar, malah hilang tak terlihat jejaknya.

“My, mengapa kamu berada di atas bebatuan?” tanya Alfayedo.

“Kan Kami mengikuti Kamu.” jawab Rohamy.

“Haah… ngikuti aku?” tanya Alfayedo heran.

“Aku bersama Auwal dari tadi mencabuti jamur kuping di pohon itu.

“Tapi… Alhamdulillah kita sudah berada di bawah batu. Lain kali jangan pernah naik ke atas batu itu.” jelas Alfayedo.

Mereka bersyukur karena telah selamat dari kepungan monyet.

BACA JUGA Jiwa Hampa Raga (Bagian Kesepuluh)

 

Berita sebelumyaJiwa Hampa Raga (Bagian Kesepuluh)
Berita berikutnyaLKPD Komentar dengan Disertai Ringkasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here