Bimbinglah Aku dan Harapanku

0
1050

Bimbinglah Aku

Ya Allah ….

Waktu dulu, kemarin, hari ini, dan seterusnya.

Aku ingin mengatakan:

Bahwa Dia Yang Maha Esa.

Bahwa Dia yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Bahwa Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakan

Bahwa tidak ada seorangpun yang setara dengan-Dia.

Ya Allah ….

Perintah-Mu, “Katakanlah!”

Perintah yang mudah.

Aku pernah diperintah Bu guru, : “Katakan Ibu!”

Spontan aku mengucapkan, : “ Ibu.”

Engkau memerintahkan, “Katakanlah!”

Mengapa jadi banyak berpikir?

Padahal mulut ini milik-Mu.

Kepunyaan-Mu apa-apa yang ada ditubuh..

Kepunyaan-Mulah apa-apa yang ada di langit dan di bumi.

Ya Allah ….

Tanamkan di hatiku keikhlasan.

Lancarkanlah lisanku agar senantiasa mengatakan-Mu.

Jauhkan penghalang-penghalang kekhusyuanku.

Bimbinglah dan berilah aku pemahaman.

 Kecilnyaaku

Mengadu Kepada Allah Merupakan Kemuliaan, Harapan dan Kekuatan
Harapanku

 

Selama ini, saya sering berharap. Ingin agar semua do’a yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah Swt. Sesuai sabdanya, “Aku akan mengabulkan do’a-do’a hambaku, apabila mereka berdo’a kepada-Ku.” Saya mohon ampun kepada-Mu Ya Allah. Memang seperti itu, saya selalu tetap ingin do’a terkabul. Walau di mata-Mu saya ini sangat hina, tidak bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Mu.

Saya masih banyak harapan, karena Engkau Maha Pengasih Maha Penyayang, Maha Pemberi, Maha Agung, Maha Bijaksana. Walaupun saya sadar, jangankan seperti saya. Seorang ahli ibadah saja yang selama tujuh puluh tahun terus-menerus beribadah, doa’anya sulit dikabulkan. Tetapi, tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti berharap, pasti banyak celah yang bisa dilakukan.

Sebagai pedoman saya, saya tafakuri kutipan Imam Al-Ghazali berikut:

Wahab mengatakan, “Dahulu kala, ada seorang ahli ibadah, berpuasa selama tujuh puluh tahun. Hanya seminggu ia tidak puasa. Kemudia ia berdo’a memohon dikabulkan kebutuhannya. Namun ternyata permohonannya itu tidak dikabulkan oleh Allah Swt. Selanjutnya ia menyalahkan dirinya sendiri. Dan berkata, “Semua itu salahku sendiri. Sekiranya aku termasuk orang baik, tentu permohonanku dikabulkan oleh Allah.

Maka Allah memerintahkan malaikat agar mengatakan kepada ahli ibadah itu, “Waktu yang hanya sesaat itu, yakni menyalahkan diri sendiri adalah lebih baik dibanding ibadahnya yang tujuh puluh tahun.

Semoga saya bisa mengambil manfaat dari kisah tersebut.

Amien ….

kecilnyaaku

 

 

Berita sebelumyaBetapa Mulia Sosok Seorang Guru
Berita berikutnyaSeorang Bocah dan Sang Pemuda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here